OPINI  

Istikharah Saat Hati Bimbang

banner 120x600

Ketika dua pilihan sama-sama tampak menjanjikan, manusia sering terjebak dalam kebimbangan. Menerima pekerjaan baru atau bertahan, melanjutkan usaha atau berhenti, pindah atau tetap tinggal, semua membutuhkan keputusan yang matang. Namun seorang mukmin tidak hanya mengandalkan perhitungan akal dan perasaan, karena Allah mengetahui apa yang belum diketahuinya dan menentukan kebaikan yang kadang tersembunyi dari pandangan manusia.

Dalam kehidupan, ada saat ketika seseorang berdiri di persimpangan pilihan. Sebuah tawaran pekerjaan datang dengan gaji lebih besar, tetapi menuntut waktu dan tanggung jawab yang lebih berat. Pekerjaan lama terasa aman, tetapi hati mulai kehilangan semangat. Ada pula keputusan untuk pindah rumah, memilih pasangan, memulai usaha, menerima amanah, atau meninggalkan sesuatu yang selama ini telah dijalani. Pada saat seperti itu, manusia sering bertanya kepada dirinya sendiri berulang kali, “Mana yang terbaik?” Masalahnya, kemampuan manusia melihat masa depan sangat terbatas. Kita hanya mengetahui apa yang tampak hari ini, sedangkan Allah mengetahui seluruh rangkaian akibat dari keputusan yang akan kita ambil.

Karena itu Islam mengajarkan istikharah. Istikharah bukan sekadar doa untuk mendapatkan tanda tertentu, bukan pula cara meminta Allah memperlihatkan masa depan melalui mimpi. Istikharah adalah bentuk penghambaan yang mengakui keterbatasan manusia sekaligus mengakui kesempurnaan ilmu dan kekuasaan Allah. Seorang hamba berusaha menggunakan akalnya, mengumpulkan informasi, meminta nasihat kepada orang yang terpercaya, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 216:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

” Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Ayat ini menjadi fondasi penting dalam memahami istikharah. Sesuatu yang sangat kita inginkan belum tentu menjadi kebaikan bagi kehidupan kita. Sebaliknya, sesuatu yang kita hindari belum tentu merupakan keburukan. Penilaian manusia sering berhenti pada apa yang terlihat dalam waktu dekat, sedangkan Allah mengetahui akibat yang jauh, dampak yang tersembunyi, serta seluruh perkara yang tidak mampu dijangkau oleh pengetahuan manusia.

Ketika seseorang mengucapkan dalam doa istikharah, “Engkaulah Yang Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui,” sesungguhnya ia sedang meletakkan dirinya pada posisi seorang hamba. Ia tidak lagi memaksakan kehendak kepada Allah. Ia tidak berkata, “Ya Allah, wujudkan apa yang sudah aku putuskan.” Sebaliknya, ia berkata dalam makna yang lebih dalam, “Ya Allah, jika pilihan ini baik bagi agamaku, kehidupanku, dan akibat urusanku, mudahkanlah. Jika buruk, jauhkanlah aku darinya dan jauhkanlah ia dariku.”

Doa istikharah yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kepada para sahabat adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ، فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ، فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ أَرْضِنِي بِهِ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan yang terbaik kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kemampuan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu sebagian dari karunia-Mu yang agung. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak berkuasa, Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha Mengetahui segala perkara gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibat urusanku, atau dalam urusan yang segera maupun yang akan datang, maka takdirkanlah perkara itu bagiku, mudahkanlah ia bagiku, kemudian berkahilah aku di dalamnya. Jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibat urusanku, atau dalam urusan yang segera maupun yang akan datang, maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya. Takdirkanlah kebaikan bagiku di mana pun kebaikan itu berada, kemudian jadikanlah aku ridha dengannya.”

BERITA TERKAIT  Belajar Ikhlas Menjaga Yang Tersisa

Hadis tentang istikharah ini diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma. Imam Al-Bukhari meriwayatkannya dalam Shahih Al-Bukhari, di antaranya pada nomor 1166 dan 6382. Dalam hadis tersebut Jabir menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan istikharah kepada para sahabat sebagaimana beliau mengajarkan suatu surah dari Al-Qur’an.

Pelajaran penting dari hadis tersebut adalah bahwa istikharah bukan kebiasaan tambahan yang tidak memiliki dasar, melainkan sunnah Nabi yang memiliki tuntunan yang jelas. Istikharah dilakukan ketika seseorang menghadapi perkara yang mubah dan membutuhkan pilihan. Adapun perkara yang sudah jelas diwajibkan oleh syariat tidak membutuhkan istikharah untuk menentukan apakah akan dikerjakan atau tidak. Salat lima waktu, misalnya, bukan pilihan yang boleh ditinggalkan karena hasil istikharah. Demikian pula perkara haram tidak menjadi halal hanya karena seseorang merasa memperoleh ketenangan setelah beristikharah.

Istikharah juga tidak berarti seseorang boleh mengabaikan ikhtiar. Justru doa dan usaha harus berjalan bersama. Allah berfirman:

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

QS. Ali Imran ayat 159 menunjukkan adanya rangkaian yang sehat dalam mengambil keputusan: musyawarah, pertimbangan, tekad, kemudian tawakal. Seorang muslim tidak boleh menjadikan tawakal sebagai alasan untuk malas berpikir. Tawakal bukan meninggalkan sebab, melainkan menggunakan sebab yang benar sambil menggantungkan hati kepada Allah.

Maka jika seseorang mendapatkan tawaran pekerjaan, jangan hanya melakukan istikharah lalu menunggu mimpi. Periksa perusahaan atau lembaganya, lihat sistem kerjanya, pertimbangkan penghasilannya, lingkungan kerjanya, waktu yang tersedia untuk keluarga dan ibadah, peluang pengembangan diri, serta kemungkinan mudaratnya. Tanyakan kepada orang yang berpengalaman dan dapat dipercaya. Setelah informasi cukup, lakukan istikharah dan ambillah keputusan dengan hati yang berserah diri kepada Allah.

Allah juga berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”

Tawakal berarti hati tidak menggantungkan keselamatannya kepada pilihan itu sendiri. Pekerjaan bukan pemberi rezeki. Perusahaan bukan pemilik masa depan. Jabatan bukan sumber kemuliaan. Manusia hanya menjalankan sebab, sedangkan Allah adalah Pengatur seluruh sebab dan akibat.

Allah berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”

QS. At-Talaq ayat 3.

Ayat ini mengajarkan ketenangan yang sangat dalam. Ketika seorang hamba telah berusaha dengan cara yang benar, bermusyawarah, berdoa, dan beristikharah, ia tidak perlu menghukum dirinya sendiri karena keputusan yang ternyata tidak sesuai harapan. Bisa jadi pilihan yang dahulu tampak sebagai kehilangan justru menjadi jalan keselamatan. Bisa jadi pintu yang tertutup merupakan perlindungan dari sesuatu yang belum diketahuinya.

BERITA TERKAIT  Belajar Ikhlas Menjaga Yang Tersisa

Di sinilah istikharah mendidik hati agar tidak berlebihan mencintai keinginan sendiri. Banyak manusia merasa bahwa kebahagiaan hanya akan datang jika keinginannya terwujud. Padahal kebahagiaan seorang mukmin bukan sekadar memperoleh apa yang diinginkan, tetapi mampu menerima keputusan Allah dengan keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah dalam menentukan takdir bagi hamba-Nya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika memperoleh kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya.”

HR. Muslim.

Hadis ini tidak berarti setiap kejadian otomatis menyenangkan. Kesedihan tetap terasa sebagai kesedihan, kehilangan tetap terasa sebagai kehilangan, dan kegagalan tetap dapat menyakitkan. Namun iman mengubah cara seorang hamba memandang semuanya. Ia percaya bahwa di balik sesuatu yang belum dipahaminya terdapat ilmu Allah yang sempurna.

Karena itu, jangan menjadikan istikharah sebagai sarana mencari tanda-tanda mistis. Tidak ada keharusan bahwa setelah istikharah seseorang harus mendapatkan mimpi berwarna tertentu, melihat simbol tertentu, atau merasakan sesuatu yang luar biasa. Tuntunan hadis tidak menjadikan mimpi sebagai syarat sah atau tanda wajib dari istikharah. Yang diajarkan adalah memohon kepada Allah agar perkara yang baik dimudahkan dan diberkahi, sedangkan perkara yang buruk dipalingkan dari diri kita dan diri kita dipalingkan darinya.

Bila setelah istikharah seseorang memilih suatu pekerjaan dan kemudian menemukan kemudahan, tetaplah bersyukur tanpa merasa pasti bahwa semua kemudahan itu merupakan “tanda khusus”. Jika ternyata muncul berbagai hambatan, ia juga tidak boleh terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah pasti melarangnya. Keputusan tetap perlu dinilai berdasarkan syariat, fakta, maslahat, dan pertimbangan yang sehat. Istikharah membimbing hati, bukan menggantikan akal.

Dalam mengambil keputusan, seorang muslim juga perlu memahami bahwa doa istikharah mengandung permohonan yang sangat indah: “ثم أرضني به”, “kemudian jadikanlah aku ridha dengannya.” Inilah bagian yang sering terlupakan. Kita sering meminta agar Allah memberikan apa yang kita inginkan, tetapi jarang meminta agar Allah membuat kita ridha terhadap apa yang Dia pilihkan.

Padahal bisa jadi kebaikan terbesar bukan terletak pada terwujudnya keinginan, melainkan pada kemampuan hati menerima keputusan Allah. Seorang hamba yang benar-benar beristikharah seharusnya bersedia mengatakan, “Ya Allah, aku mempunyai keinginan, tetapi aku lebih membutuhkan pilihan-Mu. Aku mempunyai rencana, tetapi Engkau mengetahui akibatnya. Aku mempunyai pengetahuan, tetapi pengetahuan-Mu tidak terbatas.”

Itulah sebabnya istikharah bukan hanya doa untuk menentukan pekerjaan. Ia adalah pendidikan jiwa agar manusia tidak sombong terhadap pikirannya sendiri. Ia mengajarkan bahwa kecerdasan harus ditemani kerendahan hati, perencanaan harus ditemani tawakal, dan keputusan harus ditemani doa.

Ketika menghadapi pilihan besar, jangan hanya bertanya, “Mana yang paling menguntungkan?” Tanyakan pula, “Mana yang lebih baik bagi agamaku? Mana yang lebih menjaga keluargaku? Mana yang lebih mendekatkanku kepada Allah? Mana yang lebih aman bagi akhiratku? Mana yang lebih memungkinkan aku hidup dengan halal dan bermartabat?”

BERITA TERKAIT  Belajar Ikhlas Menjaga Yang Tersisa

Sebab pekerjaan yang menghasilkan banyak uang tetapi menjauhkan seseorang dari kewajiban agama belum tentu merupakan keberhasilan. Jabatan yang tinggi tetapi menghancurkan keluarga belum tentu merupakan kemuliaan. Kesempatan yang tampak besar tetapi membawa seseorang kepada perkara haram bukanlah rezeki yang patut dikejar.

Allah berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”

QS. At-Talaq ayat 2–3.

Maka ketika berada di persimpangan hidup, jangan terlalu lama menyiksa diri dengan pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh kemampuan manusia. Lakukan ikhtiar sebaik-baiknya. Cari informasi. Bermusyawarah. Periksa halal dan haramnya. Pertimbangkan maslahat dan mudaratnya. Beristikharahlah kepada Allah. Kemudian ambillah keputusan dengan tawakal.

Jika akhirnya pintu itu terbuka, masuklah dengan bismillah dan jangan lupa bersyukur. Jika pintu itu tertutup, jangan buru-buru menganggap hidup sedang menghukummu. Bisa jadi Allah sedang menyelamatkanmu dari sesuatu yang belum engkau ketahui. Jika pilihan yang engkau ambil ternyata membawa kesulitan, bersabarlah dan evaluasilah dengan jernih. Jika ternyata membawa kebaikan, jangan lupa bahwa kemampuan memilih pun merupakan pertolongan Allah.

Pada akhirnya, istikharah bukan tentang memastikan hidup tanpa masalah. Istikharah adalah cara seorang hamba menghadapi ketidakpastian dengan iman. Kita tidak pernah mengetahui seluruh masa depan, tetapi kita mengenal Allah yang mengetahui seluruh masa depan. Kita tidak mampu mengendalikan seluruh keadaan, tetapi kita dapat memilih untuk berserah diri kepada Zat Yang Mahakuasa.

Karena itu, jika hari ini engkau sedang bertanya, “Ambil tawaran kerja ini atau tidak? Bertahan atau resign? Melanjutkan atau berhenti?” jangan biarkan seluruh pertanyaan itu berputar sendirian di dalam kepala. Hadapkan kegelisahan itu kepada Allah. Gunakan akal untuk menilai, gunakan musyawarah untuk memperoleh pandangan, gunakan istikharah untuk memohon pilihan terbaik, lalu gunakan tawakal untuk menerima keputusan.

Boleh jadi sesuatu yang sangat engkau kejar bukanlah bagian terbaik dari hidupmu. Boleh jadi sesuatu yang engkau lepaskan justru menjadi awal dari keselamatanmu. Dan boleh jadi jawaban terbaik bukanlah apa yang paling sesuai dengan keinginanmu, melainkan apa yang paling sesuai dengan ilmu Allah tentang dirimu.

Manusia hanya melihat hari ini. Allah mengetahui kemarin, hari ini, dan seluruh hari yang belum kita jalani. Manusia menghitung kemungkinan. Allah mengetahui seluruh akibat. Manusia berencana. Allah menentukan. Maka setelah ikhtiar dilakukan dengan benar, tenangkan hati dengan doa dan tawakal.

Sebab dalam istikharah terdapat sebuah pengakuan yang sangat agung: “Engkau mengetahui, sedangkan aku tidak mengetahui.” Dan ketika pengakuan itu benar-benar hidup dalam hati, keputusan yang kita ambil tidak lagi sekadar keputusan seorang manusia yang sedang takut salah, tetapi keputusan seorang hamba yang telah berusaha memilih sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.

Penulis: Dwi Taufan HidayatEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *