Kehilangan sering membuat hati terpaku pada sesuatu yang telah pergi, sampai kita lupa bahwa Allah masih menitipkan begitu banyak nikmat yang layak dijaga. Kesedihan bukan tanda lemahnya iman, tetapi jangan biarkan kesedihan menutup mata dari karunia yang tersisa. Dalam Islam, kehilangan mengajarkan sabar, syukur, tawakal, dan keikhlasan agar hati tetap hidup serta mampu memandang masa depan dengan harapan kepada Allah.
Manusia mudah menghitung apa yang hilang dan lupa menghitung apa yang masih ada. Ketika satu dari tiga hal yang kita miliki pergi, perhatian sering seluruhnya tertuju kepada kehilangan itu. Dua hal yang tersisa terasa kecil. Padahal, yang hilang boleh ditangisi, sedangkan yang tersisa tetap amanah Allah yang harus disyukuri dan dijaga.
Islam tidak meminta manusia menjadi batu yang tidak memiliki rasa. Air mata bukan dosa. Yang harus dijaga adalah arah hati. Kesedihan jangan sampai berubah menjadi putus asa, membuat kita mencela takdir, atau menjadikan kita lupa bahwa Allah masih memberikan nikmat.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 155 sampai 157:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ١٥٥ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ١٥٦ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ١٥٧
Artinya: Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Mereka itulah yang memperoleh keberkahan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Ayat ini mengajarkan bahwa kehilangan adalah bagian dari ujian. Musibah tidak otomatis berarti Allah membenci kita. Ia dapat membersihkan hati, menguatkan iman, dan mengingatkan bahwa apa pun yang kita miliki hanyalah titipan. Ketika sebagian titipan kembali kepada-Nya, kita belajar menerima dengan sabar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى
Artinya: Sesungguhnya kesabaran itu adalah pada saat pertama kali tertimpa musibah.
Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim ini tidak berarti orang sabar tidak boleh menangis. Sabar adalah kemampuan mengendalikan reaksi agar tetap berada dalam batas yang diridai Allah. Mata boleh basah, hati boleh terluka, tetapi lisan tidak mencela Allah dan takdir-Nya. Kesedihan boleh hadir, namun iman harus tetap menjadi penunjuk jalan.
Karena itu, kehilangan satu bukan berarti kehilangan seluruh kehidupan. Jika kehilangan pekerjaan, mungkin masih ada kesehatan, keluarga, ilmu, dan kesempatan. Jika kehilangan seseorang yang dicintai, mungkin masih ada orang-orang yang menyayangi dan kesempatan mendekat kepada Allah. Jika kehilangan harta, mungkin masih ada iman, keterampilan, tenaga, serta pintu rezeki yang belum terbuka.
Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ٥ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ٦
Artinya: Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Surah Asy-Syarh ayat 5 sampai 6 memberi harapan bahwa kesulitan tidak berdiri sendirian. Allah dapat menghadirkan kemudahan yang belum terlihat. Kita sering menilai masa depan berdasarkan rasa sakit hari ini, padahal Allah mengetahui jalan yang belum kita lihat.
Allah juga berfirman:
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.
Surah Al-Baqarah ayat 216 menanamkan kerendahan hati dalam menerima takdir. Kita tidak mengetahui seluruh akibat sebuah peristiwa. Sesuatu yang hari ini kita tangisi bisa jadi kelak kita pahami sebagai jalan menuju kebaikan. Maka ikhlas bukan berarti berhenti mencintai. Ikhlas berarti menerima bahwa tidak semua yang kita cintai harus selamanya berada dalam genggaman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya: Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh orang beriman. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya.
Hadis riwayat Muslim mengajarkan bahwa iman mengubah cara kita mengolah keadaan. Saat mendapat nikmat, kita bersyukur; saat mendapat kesulitan, kita bersabar. Keduanya dapat menjadi jalan kebaikan.
Syukur adalah kemampuan melihat nikmat yang masih tersisa. Jika masih memiliki keluarga, muliakan mereka. Jika masih memiliki kesehatan, gunakan tubuh untuk kebaikan. Jika masih memiliki waktu, jangan habiskan semuanya untuk meratapi masa lalu. Jika masih memiliki ilmu, ajarkan. Jika masih memiliki kesempatan bertobat, jangan ditunda.
Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Artinya: Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.
Hadis riwayat Al-Bukhari mengingatkan agar kita tidak menunggu kehilangan untuk belajar menghargai. Jangan sampai kita menangisi satu nikmat yang pergi, sementara nikmat lain yang masih berada di tangan justru kita sia-siakan.
Maka jika hari ini ada sesuatu yang hilang, berdukalah secukupnya. Menangislah jika perlu. Berdoalah. Setelah itu, lihat kembali apa yang masih Allah titipkan. Masih ada iman, keluarga, kesehatan, waktu, ilmu, kesempatan beramal, dan harapan. Jangan biarkan satu kehilangan menghapus kesadaran atas banyak karunia.
Allah berfirman:
لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ
Artinya: Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Potongan ayat dari Surah Az-Zumar ayat 53 ini mengajarkan agar kehilangan tidak menjadi alasan menutup pintu harapan. Selama hidup masih berlangsung, kesempatan memperbaiki diri masih terbuka. Masa lalu boleh dikenang, tetapi jangan dijadikan tempat tinggal hati. Yang telah pergi kita doakan, yang masih ada kita rawat, dan yang akan datang kita hadapi dengan tawakal.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang memiliki semuanya sekaligus. Hidup adalah tentang menerima apa yang Allah berikan, menjaga apa yang masih dititipkan, dan melepaskan apa yang harus dikembalikan kepada-Nya. Yang pergi kita ikhlaskan. Yang tersisa kita syukuri. Yang akan datang kita ikhtiarkan. Seluruh hasilnya kita serahkan kepada Allah.
Semoga kehilangan membuat kita semakin dekat kepada Allah, bukan semakin jauh. Semoga kesedihan membuat kita lebih lembut, dan air mata mengajarkan kita berdoa. Semoga kita tidak hanya pandai menghitung apa yang hilang, tetapi juga mampu mengenali, mensyukuri, dan menjaga nikmat yang masih Allah sisakan. Sebab bisa jadi, sesuatu yang hari ini kita anggap biasa adalah sesuatu yang kelak paling kita rindukan.
Belajar Ikhlas Menjaga Yang Tersisa

Baca Juga
Rekomendasi untuk kamu

Oleh: Yusuf Blegur -Direktur Eksekutif Institute for Public Policy Strategic (IPPS) SEPERTI ketapel, sebuah mainan…

Selama berminggu-minggu, Ferry Irwandi mengaku melihat sebuah mobil yang menurutnya terus mengikuti pergerakannya. Ia tidak…

Tepuk tangan pecah ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan Menteri Keuangan sudah…

Jangan meremehkan dosa hanya karena tampak kecil. Bahayanya bukan semata pada ukuran kesalahan, tetapi ketika…

Dulu, ukuran keberhasilan sering tampak dari apa yang dikenakan, dikendarai, dimakan, dan dibawa pulang dari…







