Sidoarjo (busernasional.com) – Kemerdekaan Republik Indonesia yang diraih pada 17 Agustus 1945 bukanlah hadiah cuma-cuma, melainkan buah dari keringat, darah, dan air mata perjuangan seluruh elemen bangsa. Di balik tegaknya Sang Saka Merah Putih, tersimpan peran besar para ulama, kiai, umaroh, serta santri yang mengorbankan jiwa dan raga demi terlepas dari belenggu penjajahan.
Salah satu kawah candradimuka lahirnya para pejuang tangguh tersebut adalah Pondok Pesantren Al-Khosiny yang terletak di Buduran, Sidoarjo.
Berdiri di kisaran tahun 1915 hingga 1920, pesantren bersejarah ini telah lama menjadi benteng pertahanan moral sekaligus pusat pendidikan Islam yang menanamkan jiwa nasionalisme dan cinta tanah air. Di masa-masa perjuangan kemerdekaan, dari balik dinding-dinding pesantren inilah lahir barisan pejuang tangguh yang gigih melawan kolonialisme demi kedaulatan bangsa.
Mutiara Perjuangan dari Buduran
Hingga saat ini, jejak perjuangan tersebut terus dijaga dan dilestarikan. Pondok Pesantren Al-Khosiny yang kini diasuh oleh pengasuh karismatik KH. Abd. Salam Mujib bertempat di Jl. KHR. Moh. Abbas, Buduran, Sidoarjo.
Keberadaan pesantren ini menjadi bukti nyata bahwa kaum santri dan ulama tidak pernah tinggal diam ketika ibu pertiwi memanggil. Fatwa-fatwa jihad, semangat pantang menyerah, serta doktrin kebangsaan yang diajarkan para kiai di masa lalu berhasil membakar semangat perlawanan rakyat terhadap penjajah.
“Kemerdekaan Indonesia adalah monumen sejarah yang dibangun atas dasar keimanan, persatuan, dan pengorbanan para ulama serta santri. Pondok Pesantren Al-Khosiny adalah salah satu saksi bisu sejarah bagaimana santri ikut ambil bagian dalam memperebutkan dan mempertahankan kemerdekaan,” ujar Syamsul Arifin, jurnalis Buser Nasional yang membedah rekam jejak sejarah ini.
Menjaga Warisan Kemerdekaan
Melalui napak tilas sejarah ini, diharapkan generasi muda, khususnya para santri dan masyarakat luas di Sidoarjo, senantiasa mengenang jasa para pendahulu. Nilai-nilai kejuangan, keikhlasan, dan nasionalisme yang ditanamkan oleh para ulama terdahulu harus terus dihidupkan dalam mengisi kemerdekaan saat ini.
Pewarta: Syamsul Arifin (Majalah/Buser Nasional)














