Pesan itu datang selepas tengah malam ketika Arga baru selesai menghitung sisa uang di dompetnya. Di kamar kontrakan sempit yang dindingnya mulai lembap, ia duduk bersandar di kasur tipis sambil mendengar bunyi kipas tua yang berdecit pelan. Hujan turun sejak magrib dan udara di kota itu terasa dingin menusuk tulang. Saat layar ponselnya menyala, nama istrinya muncul bersama empat pesan pendek yang membuat dadanya mendadak berat.
“Mas.”
“Aku tadi lewat perumahan baru.”
“Harganya mulai tiga ratus juta.”
“Kita gak akan pernah punya rumah ya?”
Arga membaca pesan itu berkali kali tanpa segera membalas. Jemarinya hanya diam di atas layar, sementara pikirannya sibuk menghitung angka yang sebenarnya sudah terlalu sering ia hitung. Gaji empat juta rupiah terasa habis bahkan sebelum bulan berganti. Biaya kontrakan, uang susu anak, kiriman untuk ibunya di kampung, cicilan motor, dan kebutuhan sehari hari selalu datang beriringan seperti antrean panjang yang tak pernah selesai.
Ia memandangi plafon kamar yang menguning karena rembesan hujan. Di sudut ruangan, koper biru tempat ia menyimpan pakaian masih tergeletak setengah terbuka sejak seminggu lalu. Hidupnya selama bertahun tahun seperti koper itu, tidak pernah benar benar menetap di mana pun. Setiap kali masa kontrakan habis atau harga sewa naik, ia kembali mengemas barang dan mencari tempat baru yang lebih murah.
Arga akhirnya mengetik balasan pendek.
“Insyaallah nanti kita punya.”
Setelah pesan terkirim, ia justru merasa seperti baru saja berbohong kepada orang yang paling ia cintai. Kalimat itu terdengar baik, tetapi kosong. Ia tahu istrinya tidak sedang meminta janji manis. Perempuan itu hanya lelah hidup berpindah pindah.
Malam makin larut, tetapi Arga belum bisa tidur. Dari jendela kecil kamarnya, lampu kota tampak redup terkena hujan. Sesekali suara kendaraan melintas di jalan raya dekat kontrakan, lalu kembali hilang ditelan sunyi. Di kepalanya terbayang wajah anak perempuannya yang baru berusia lima tahun dan sering bertanya kenapa rumah mereka selalu berbeda.
Pertanyaan itu dulu terdengar lucu, tetapi sekarang terasa seperti tamparan kecil yang datang berulang ulang.
Keesokan paginya Arga kembali bekerja di toko bangunan tempat ia menjadi staf gudang selama tujuh tahun terakhir. Sejak pagi ia sudah mengangkat sak semen, menyusun keramik, dan mencatat barang masuk sambil menahan pegal di pinggangnya. Debu semen menempel di lengan dan wajahnya, sementara udara gudang terasa panas dan pengap. Kadang ia berpikir hidupnya aneh karena setiap hari membantu membangun rumah orang lain, tetapi tidak mampu membangun rumah untuk keluarganya sendiri.
Menjelang siang, seorang pembeli datang bersama anak laki lakinya yang masih kecil. Bocah itu berlari kecil di antara tumpukan keramik sambil bertanya warna cat untuk kamar tidurnya nanti. Ayahnya tertawa sambil menunjukkan katalog cat tembok kepada sang anak. Arga yang sedang mencatat barang tiba tiba terdiam beberapa saat melihat pemandangan sederhana itu.
Ia membayangkan anaknya sendiri belum pernah memilih warna dinding kamar karena mereka tidak pernah benar benar memiliki kamar tetap.
Saat jam istirahat tiba, Arga makan nasi bungkus di belakang gudang bersama dua rekan kerjanya. Obrolan mereka tidak jauh dari harga kebutuhan yang terus naik. Salah seorang temannya mengeluh karena cicilan kontrakan kembali naik bulan depan. Yang lain tertawa pahit sambil berkata bahwa rumah sekarang hanya cocok untuk orang yang punya warisan atau orang yang berani berutang sampai tua.
Arga ikut tertawa kecil, tetapi setelah itu suasana mendadak hening. Mereka seperti sama sama sadar bahwa candaan itu terlalu dekat dengan kenyataan.
Malam harinya, istrinya menelepon dari kampung. Suaranya terdengar pelan karena tidak ingin membangunkan anak mereka yang sudah tidur. Perempuan itu bercerita bahwa atap kontrakan bocor lagi setelah hujan deras sore tadi. Ember dan baskom terpaksa diletakkan di beberapa sudut rumah untuk menampung air.
“Tadi Naila nanya lagi,” ujar istrinya lirih.
“Nanya apa?”
“Kapan kita punya rumah yang alamatnya gak berubah ubah.”
Arga menunduk sambil memijat pelipisnya perlahan. Di luar kamar kontrakan, suara televisi dari kamar sebelah terdengar samar bercampur bunyi hujan yang belum reda. Ia ingin menjawab sesuatu, tetapi tenggorokannya terasa sempit.
“Aku capek pindah pindah terus, Mas,” lanjut istrinya pelan.
Kalimat itu terus terngiang bahkan setelah sambungan telepon berakhir. Malam itu Arga duduk lama di depan kamar kontrakannya sambil memandangi lorong sempit yang dipenuhi jemuran penghuni lain. Bau got bercampur asap rokok memenuhi udara. Tiba tiba ia merasa hidupnya berjalan di tempat selama bertahun tahun.
Beberapa hari kemudian, pemilik kontrakan datang menagih uang sewa sambil mengatakan harga kamar akan naik bulan depan. Nada bicaranya sebenarnya biasa saja, tetapi bagi Arga, kabar itu terasa seperti batu tambahan di pundaknya. Setelah pemilik kontrakan pergi, ia membuka aplikasi perbankan di ponselnya dan melihat angka tabungannya yang bahkan belum cukup untuk uang muka rumah subsidi.
Malam itu ia berjalan sendirian menyusuri jalan dekat perumahan baru yang sempat diceritakan istrinya. Gerbang besar berdiri megah dengan spanduk bertuliskan cicilan ringan untuk keluarga muda. Dari luar pagar, rumah rumah kecil bercat terang tampak rapi dan tenang. Lampu teras menyala hangat, sementara beberapa anak bermain sepeda di jalan kompleks.
Arga berdiri cukup lama di depan gerbang itu. Untuk sesaat ia membayangkan dirinya pulang kerja lalu disambut anak dan istrinya di rumah kecil sederhana. Namun lamunan itu buyar ketika satpam perumahan menutup gerbang sambil memandangnya singkat.
Arga pulang dengan langkah lambat. Sesampainya di kamar kontrakan, ia membuka koper birunya dan mulai melipat pakaian satu per satu. Bukan karena ingin pindah, tetapi karena ia tiba tiba sadar hidupnya selama ini memang tidak pernah jauh dari kegiatan mengemas barang.
Saat sedang merapikan isi koper, ia menemukan sebuah amplop lusuh terselip di antara tumpukan dokumen lama. Amplop itu ternyata berisi surat tulisan tangan dari ayahnya yang sudah meninggal tiga tahun lalu. Arga baru ingat ayahnya pernah menitipkan surat itu sambil berkata agar dibaca ketika ia benar benar merasa lelah.
Dengan perasaan aneh, Arga membuka surat tersebut perlahan.
Tulisan ayahnya tampak sedikit gemetar.
“Ga, kalau suatu hari kamu merasa gagal karena belum punya rumah, jangan buru buru menyalahkan dirimu sendiri. Ayah dulu juga hidup berpindah pindah. Bukan karena malas bekerja, tapi karena hidup kadang lebih mahal daripada kemampuan manusia.”
Arga membaca surat itu dengan napas tertahan.
“Ayah pernah berpikir rumah adalah bangunan yang harus dimiliki. Tapi setelah bertahun tahun, ayah sadar rumah bukan cuma soal tembok dan sertifikat. Rumah adalah tempat seseorang tetap ingin pulang meski hidupnya berantakan.”
Tangan Arga mulai gemetar pelan.
“Kalau nanti kamu belum bisa membeli rumah, jangan sampai kehilangan keluargamu hanya karena merasa kalah dari dunia.”
Di bagian paling bawah, ada satu kalimat yang membuat mata Arga panas.
“Anakmu mungkin tidak akan ingat luas rumah yang pernah kalian tempati, tapi dia akan ingat apakah ayahnya tetap pulang dengan hati yang utuh.”
Arga menunduk lama setelah selesai membaca surat itu. Suara hujan kembali terdengar di luar kontrakan, menetes pelan dari atap seng ke genangan air di lorong. Untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun, ia menangis tanpa berusaha menahannya.
Keesokan harinya, Arga mengajukan mutasi kerja ke cabang toko bangunan yang lebih dekat dengan kampung istrinya meski gajinya sedikit lebih kecil. Rekan kerjanya heran karena banyak orang justru berlomba pindah ke kota besar demi penghasilan lebih tinggi. Namun Arga hanya tersenyum tipis tanpa menjelaskan apa apa.
Dua bulan kemudian, mereka pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggir kota dekat sekolah anaknya. Rumah itu sempit dan cat temboknya mulai kusam, tetapi ada halaman kecil di depan rumah yang cukup untuk menaruh dua pot bunga. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, mereka makan malam bersama setiap hari.
Suatu sore, anaknya berlari kecil di halaman sambil memanggil Arga yang baru pulang kerja.
“Yah, nanti aku mau cat kamar warna kuning.”
Arga tertawa kecil sambil mengusap kepala putrinya. Di belakang mereka, istrinya sedang menyapu teras sambil tersenyum pelan.
Lalu tiba tiba Arga sadar sesuatu.
Selama ini ia terlalu sibuk mengejar rumah yang dianggap layak oleh dunia, sampai lupa bahwa keluarganya hanya ingin satu hal sederhana, yaitu hidup tanpa terus merasa ditinggalkan.
Dan sore itu, di kontrakan kecil yang bahkan belum tentu mereka tempati tahun depan, Arga akhirnya merasa benar benar pulang.














