Sampai sekarang aku masih mengingat seorang nenek yang pernah menawar donat daganganku sampai membuatku kesal. Waktu itu aku mengira ia sekadar pembeli yang ingin mendapatkan harga semurah mungkin, sampai sebuah kejadian kecil membuat penilaianku berubah. Yang paling membuatku malu bukan karena telah menolak tawarannya, melainkan karena ternyata aku tidak pernah benar benar tahu untuk siapa tiga puluh donat itu dibelinya.
Pagi itu pasar kampung belum terlalu ramai ketika aku menata donat di atas nampan. Aroma mentega, gula, dan cokelat bercampur dengan bau gorengan dari kios sebelah yang baru membuka dagangan. Sejak subuh aku sudah berkutat dengan adonan, minyak panas, dan topping sederhana yang kubuat sendiri. Harga jualku lima ribu rupiah untuk empat donat, dan menurutku itu sudah cukup murah untuk ukuran dagangan rumahan.
Aku tidak sedang mencari keuntungan besar. Yang penting modal kembali, ada sedikit uang untuk kebutuhan rumah, dan besok aku masih bisa membeli bahan untuk membuat donat lagi. Beberapa pelanggan tetap bahkan sering mengatakan hargaku terlalu murah. Karena itu, ketika seorang nenek datang dan berkata ingin membeli banyak, aku langsung membayangkan daganganku akan cepat habis sebelum tengah hari.
Nenek itu berjalan pelan sambil membawa tas kain berwarna cokelat. Pakaiannya sederhana, kerudungnya sudah agak pudar, dan sandal yang dikenakannya meninggalkan sedikit debu di lantai pasar. Ia berhenti di depan meja, memandangi donat satu per satu, lalu bertanya dengan senyum ramah, “Mbak, donatmu piroan? Soale ape tak borong.” Aku ikut tersenyum dan menjawab, “Lima ribu dapat empat biji, Bu. Mau beli berapa?”
“Akeh, Mbak,” jawabnya. Ia menghitung sebentar dengan jari, lalu berkata, “Sewu an ya? Tak tuku telung puluh biji gawe acara arisan.” Aku sempat mengira pendengaranku keliru, sebab harga yang dimintanya kurang dari separuh harga jualku. “Seribu per biji, Bu?” tanyaku lagi, berharap ia sedang bercanda.
Nenek itu mengangguk tanpa merasa sedang meminta sesuatu yang aneh. Aku menarik napas sambil menghitung dalam hati biaya tepung, telur, minyak, gula, cokelat, gas, dan kemasan. “Hehehe, mboten saget, Bu,” kataku pelan. “Ngapunten, harganya sudah murah. Lima ribu dapat empat.”
Nenek itu tidak membantah. Ia hanya memandang donat di depannya beberapa saat, lalu mengangguk kecil. “Gak sido, Mbak,” katanya sebelum berbalik meninggalkan lapakku. Aku memandangi punggungnya yang semakin jauh, lalu tanpa sadar bergumam dalam hati bahwa donatku sudah murah, tetapi masih saja ditawar.
Aku kembali melayani pembeli lain. Seorang ibu membeli delapan, seorang bapak mengambil empat, lalu dua anak sekolah membeli masing masing dua karena uang saku mereka terbatas. Perlahan rasa kesalku kepada nenek tadi hilang tertutup kesibukan. Namun sebelum pasar benar benar ramai, aku melihat sesuatu tertinggal di sudut meja.
Sebuah kertas kecil terlipat dua.
Aku membukanya karena mengira itu mungkin catatan pesanan. Isinya hanya angka angka yang ditulis dengan tinta biru, tiga puluh baris pendek tanpa keterangan yang jelas. Di beberapa baris terdapat tanda kecil seperti centang, sedangkan sebagian lainnya masih kosong. Aku sempat ingin membuangnya, tetapi entah mengapa kertas itu kusimpan di bawah nampan.
Sekitar pukul sepuluh, seorang anak laki laki datang ke lapakku. Usianya mungkin sepuluh tahun, mengenakan pakaian koko putih dan celana panjang gelap. Ia berdiri agak ragu sambil menggenggam uang sepuluh ribuan yang sudah kusut. “Mbak, boleh beli sepuluh donat?”
Aku menghitung uang di tangannya lalu melihat donat di meja. “Sepuluh donat sepuluh ribu?” tanyaku. Anak itu mengangguk. “Iya, Mbak.” Aku sebenarnya ingin menjelaskan bahwa harga normalnya lebih mahal, tetapi wajah anak itu membuatku urung.
Aku mengambil sepuluh donat dan memasukkannya ke kantong plastik. Setelah menyerahkan uang, anak itu tidak langsung pergi. Ia menatapku beberapa saat lalu bertanya, “Mbak, tadi nenek jadi beli donatnya tidak?” Tanganku berhenti di atas meja.
“Nenek yang mana?” tanyaku.
Anak itu menunjuk jalan kecil di belakang pasar. “Nenek yang tadi di sini. Katanya mau beli banyak.” Setelah menjawab, ia pergi sambil membawa kantong donat di dadanya. Aku memperhatikannya sampai menghilang di antara orang orang yang berjalan menuju masjid.
Aku kembali membuka kertas yang tadi kutemukan.
Tiga puluh baris.
Tiga puluh nama.
Aku baru menyadari bahwa tulisan kecil di samping beberapa nama bukan angka, melainkan tanda penerima. Di bagian paling bawah terdapat tulisan yang hampir pudar, “Jangan sampai ada yang belum kebagian.” Aku membaca kalimat itu dua kali. Untuk pertama kalinya sejak pagi, aku merasa ada sesuatu yang tidak kuketahui tentang nenek tadi.
Aku mencoba bertanya kepada penjual sayur di sebelah. Ia mengenal nenek tersebut, tetapi hanya tahu bahwa perempuan tua itu sering datang ke pasar setiap Minggu pagi. “Namanya Mbah Sari,” katanya sambil menimbang cabai. “Kenapa?” Aku menggeleng dan mengatakan tidak ada apa apa.
Aku tidak menceritakan soal tawaran harga tadi. Entah mengapa, setelah melihat kertas tersebut, aku mulai merasa tidak nyaman mengingat kalimatku sendiri. Lima ribu dapat empat memang harga jualku, dan aku tidak salah karena menolaknya. Tetapi tiba tiba aku bertanya tanya, apakah tiga puluh ribu yang dimiliki nenek itu memang uang untuk acara arisan.
Menjelang siang, pasar mulai sepi. Donatku tinggal sebelas biji. Aku memasukkan sebagian uang hasil penjualan ke dalam dompet, kemudian tanpa sadar kembali memandangi jalan yang tadi dilalui nenek. Aku berharap ia datang lagi, bukan karena ingin menjual donat, tetapi karena ada pertanyaan yang mulai mengganjal.
Tak lama kemudian, seorang perempuan muda datang dengan napas tergesa gesa. Ia melihat sekeliling pasar seperti sedang mencari seseorang. Setelah bertanya kepada penjual sayur, ia berjalan menuju lapakku. “Mbak, tadi ada nenek saya ke sini?”
Aku langsung berdiri. “Mbah Sari?” tanyaku.
Perempuan itu mengangguk. “Iya. Dia bilang mau membeli tiga puluh donat.” Aku mengangguk pelan, kemudian mengambil kertas yang tadi kutemukan. “Apakah ini punya nenekmu?”
Wajah perempuan itu berubah ketika melihat kertas tersebut. Ia mengambilnya dengan kedua tangan dan membacanya perlahan. “Ini daftar anak anak yang biasa diberi makanan nenek.” Suaranya mengecil. “Setiap Minggu, kalau ada uang, nenek membelikan jajanan untuk mereka.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Tiga puluh nama,” lanjutnya. “Tiga puluh anak.”
Aku memandang meja yang masih menyisakan sebelas donat. Tiba tiba angka tiga puluh yang sejak pagi kupandang sebagai jumlah pesanan berubah menjadi sesuatu yang lain. Bukan tiga puluh donat yang harus dijual, melainkan tiga puluh anak yang sedang menunggu bagian mereka.
“Terus acara arisan itu?” tanyaku.
Perempuan tersebut tersenyum tipis. “Nenek bilang arisan karena malu kalau harus menjelaskan bahwa uangnya tidak cukup.”
Aku menunduk.
“Uangnya memang cuma tiga puluh ribu,” katanya. “Itu uang yang disisihkan sedikit demi sedikit dari belanja harian. Kalau bisa dapat seribu satu, dia bisa membagikan satu kepada masing masing anak.”
Aku terdiam cukup lama.
Semua perhitunganku tentang modal, keuntungan, dan harga jual masih benar. Aku memang tidak salah menetapkan harga. Tetapi sejak pagi aku telah membuat kesimpulan tentang seseorang hanya dari satu percakapan singkat. Aku mengira nenek itu ingin mendapatkan keuntungan dari kebaikanku, padahal ia sedang berusaha membuat uang yang sedikit menjadi cukup untuk banyak orang.
Perempuan itu kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan uang tiga puluh ribu rupiah. “Ini uang nenek. Dia bilang kalau Mbak tidak bisa memberi harga seribu, tidak usah dipaksakan.” Ia meletakkan uang itu di meja. “Nenek tidak mau meminta gratis. Dia cuma berharap ada yang mau memahami.”
Aku menatap uang tersebut.
Kemudian aku menatap sebelas donat yang tersisa.
“Di mana nenek sekarang?” tanyaku.
Perempuan itu menunjuk ke arah masjid.
Aku membawa semua donat yang tersisa dan berjalan ke sana. Di halaman masjid, aku melihat Mbah Sari duduk di bangku panjang. Di sekelilingnya ada beberapa anak yang sedang menunggu. Ketika melihatku, ia langsung berdiri dan terlihat salah tingkah.
“Mbak,” katanya, “maaf tadi menawar.”
Aku justru merasa lebih malu.
“Tidak apa apa, Bu.”
“Saya memang tidak punya uang lebih.”
Aku menggeleng. “Saya yang minta maaf.”
Nenek itu memandangku heran. Aku menyerahkan kantong donat kepadanya. “Ini ada sebelas. Besok saya buat lagi. Kalau Ibu masih butuh, datang saja.”
Ia tidak segera menerima kantong itu. “Berapa?”
“Tidak usah.”
Nenek itu menggeleng. “Jangan begitu, Mbak. Saya tetap mau bayar.”
Aku tersenyum. “Kalau begitu, bayar semampunya.”
Ia memandangku beberapa detik, kemudian menerima kantong tersebut. Anak anak mulai mendekat. Nenek membagikan donat satu per satu dengan teliti, memastikan tidak ada yang mendapatkan dua sebelum semua memperoleh bagian. Wajah anak anak itu membuat suasana halaman masjid terasa berbeda dari pasar yang baru saja kutinggalkan.
Aku hendak pergi ketika salah seorang anak menghampiri nenek sambil membawa selembar kertas. “Mbah, yang ini belum.”
Nenek mengambil kertas itu dan memeriksa daftar nama. Ia menghela napas kecil.
“Siapa?”
“Raka.”
“Raka belum datang?”
Anak itu menggeleng.
Nenek memasukkan satu donat terakhir ke dalam kantong kecil, lalu menyimpannya di samping tas kainnya. “Kalau Raka datang, berikan ini. Jangan sampai dia tidak kebagian.”
Aku memandangi donat terakhir itu.
Tiba tiba aku teringat anak laki laki yang pagi tadi membeli sepuluh donat dengan uang sepuluh ribu. Mungkin ia bukan membeli untuk dirinya sendiri. Mungkin ia hanya sedang membantu neneknya memastikan sebagian anak tetap mendapatkan makanan.
Aku kembali ke lapak dengan langkah pelan.
Hari itu aku tidak mendapatkan keuntungan sebanyak yang kuharapkan. Namun sesampainya di meja, aku mengambil papan harga dan menulis sesuatu di bawah tulisan lama.
Lima ribu dapat empat.
Aku berhenti sebentar.
Kemudian kutambahkan satu kalimat kecil.
“Kalau untuk dibagikan, bilang saja.”
Seminggu kemudian, Mbah Sari datang lagi.
Ia berdiri di depan meja sambil memegang tas kain yang sama. Matanya menatap donat yang baru saja kutata. Setelah tersenyum, ia bertanya, “Mbak, piroan?”
Aku pura pura berpikir.
“Lima ribu dapat empat, Bu.”
Ia mengangguk.
“Kalau tiga puluh?”
Aku mengambil kantong plastik terbesar.
“Bawa pulang saja, Bu.”
Nenek itu tertawa kecil. “Bayarnya?”
Aku menunjuk papan harga yang baru.
“Lihat sendiri.”
Mbah Sari membaca tulisan itu cukup lama. Kemudian ia mengeluarkan uang tiga puluh ribu dari tasnya dan meletakkannya di meja.
“Ini tetap dibayar,” katanya.
Aku hendak menolak, tetapi ia lebih dulu berkata, “Kalau Mbak tidak menerima, saya tidak bisa datang lagi.”
Aku akhirnya mengambil uang tersebut.
Hari itu aku mengerti sesuatu yang tidak pernah diajarkan dalam menghitung modal. Harga sebuah donat memang lima ribu untuk empat, tetapi ada hal yang tidak bisa ditulis di papan harga. Dan sejak pagi ketika Mbah Sari pertama kali menawar seribu rupiah, ternyata bukan harga donat yang sedang ia tawar.
Aku yang sedang ditawar oleh keadaan.













