Cerpen  

Cerpen: Burung Emas Dan Luka Keserakahan

banner 120x600

Kabut turun perlahan di desa tua yang dikelilingi bukit batu dan pohon pohon liar. Di ujung desa itu berdiri rumah kayu reyot milik Harits, lelaki pemburu yang hidup sendirian sejak musim paceklik merenggut istri dan anaknya beberapa tahun silam. Setiap pagi ia berjalan ke hutan membawa jebakan dan pisau kecil di pinggangnya, lalu pulang menjelang malam dengan wajah muram dan langkah berat. Orang orang mengenalnya sebagai lelaki yang jarang berbicara dan terlalu lama hidup bersama penyesalan.

Sore itu langit tampak kusam seperti kain tua yang belum sempat dijemur setelah hujan panjang. Harits berjalan menyusuri sungai dangkal sambil memeriksa perangkap yang dipasangnya sejak pagi. Perutnya melilit lapar karena seharian ia tidak mendapatkan apa apa selain beberapa ranting basah dan daun kering. Ketika membuka jebakan terakhir di dekat batu sungai, ia menemukan seekor burung kecil berbulu keemasan terperangkap di dalamnya.

Burung itu mengepak lemah saat Harits menggenggam tubuh mungilnya. Jemari kasar lelaki itu menekan sayap kecil yang bergetar ketakutan. Harits memandangi burung tersebut sambil membayangkan kuah tipis untuk makan malamnya. Walau tubuh burung itu kecil, setidaknya ia tidak perlu tidur dengan perut kosong malam ini.

Saat Harits mengangkat pisaunya, suara lirih tiba tiba terdengar dari dalam genggamannya. “Apa yang akan kau lakukan kepadaku?” suara itu kecil namun jelas seperti bisikan yang langsung masuk ke kepala. Harits membeku. Matanya membesar sementara napasnya tertahan di tenggorokan. Selama hidupnya, ia belum pernah mendengar seekor burung berbicara seperti manusia.

“Aku akan menyembelihmu,” jawab Harits pelan setelah berhasil menguasai diri. Burung itu justru tertawa kecil, seolah sedang memandangi kebodohan seorang anak kecil. Angin sore bergerak di antara pepohonan dan membawa suara daun yang saling bergesekan. Sungai kecil di samping mereka mengalir tenang seperti tidak peduli pada apa pun yang sedang terjadi.

“Tubuhku terlalu kecil untuk mengenyangkanmu,” kata burung itu. “Tetapi jika kau melepaskanku, aku akan memberimu tiga nasihat yang nilainya jauh lebih berharga daripada dagingku.” Harits mengernyit curiga, namun rasa penasarannya perlahan mengalahkan lapar di perutnya. Sudah terlalu lama ia hidup sendirian hingga suara seekor burung pun terasa seperti teman bicara yang datang dari dunia lain.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Doa Ibu di Balik Pintu Kamar

“Nasihat pertama akan kusampaikan saat aku masih berada di tanganmu,” lanjut burung itu. “Nasihat kedua saat aku berada di atas pohon. Dan nasihat ketiga ketika aku hinggap di atas batu sungai itu.” Burung kecil itu mengarahkan matanya ke batu hitam besar di tengah aliran sungai. Harits mengikuti arah pandangnya lalu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

“Katakan nasihat pertama,” ucap Harits.

“Jangan terus menerus menyesali sesuatu yang telah hilang darimu.”

Kalimat itu membuat tangan Harits melemah. Ia teringat pada malam ketika anaknya meninggal karena kelaparan sementara ia tidak mampu membawa pulang makanan. Ia juga teringat wajah istrinya yang pucat sebelum mengembuskan napas terakhir di rumah kayu yang dingin itu. Bertahun tahun ia hidup hanya untuk memelihara rasa bersalah yang tidak pernah selesai.

Perlahan Harits membuka genggamannya. Burung emas itu segera terbang ke cabang pohon tua yang menjulur di atas sungai. Bulunya memantulkan cahaya senja hingga tampak seperti bara kecil di antara ranting gelap. Harits mendongak sambil mengusap wajahnya yang dipenuhi keringat dan debu.

“Katakan nasihat kedua,” serunya.

Burung itu memiringkan kepala kecilnya sebelum berkata pelan, “Jangan percaya pada sesuatu yang mustahil terjadi.” Harits menghela napas panjang. Ia tidak sepenuhnya memahami maksud kalimat itu, tetapi kata kata tersebut terasa seperti batu kecil yang dilemparkan ke dalam pikirannya. Riaknya perlahan menyebar ke mana mana.

Burung emas itu lalu terbang menuju batu besar di tengah sungai dan hinggap di atasnya. Cahaya matahari yang hampir tenggelam membuat bulunya terlihat semakin terang dibanding langit yang mulai gelap. Suasana di sekitar sungai mendadak terasa sangat sunyi hingga suara air terdengar seperti bisikan panjang dari kejauhan.

“Wahai manusia malang,” kata burung itu lantang, “seandainya tadi kau menyembelihku, kau akan menemukan mutiara seberat dua puluh mitsqal di dalam tembolokku.”

Mata Harits langsung membelalak. Dadanya terasa dipukul sesuatu yang keras. Ia membayangkan mutiara sebesar itu bisa mengubah hidupnya untuk selamanya. Dengan harta sebanyak itu, ia dapat membeli ladang, makanan, ternak, bahkan meninggalkan desa miskin yang selama ini ia benci.

“Bodoh sekali aku,” gumam Harits sambil memukul dahinya sendiri. Ia jatuh berlutut di tanah basah lalu menggigit bibirnya kuat kuat. Nafasnya memburu dan wajahnya dipenuhi lumpur saat membayangkan kekayaan besar yang baru saja terbang meninggalkannya. Penyesalan kembali datang seperti luka lama yang mendadak dibuka paksa.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Doa Ibu di Balik Pintu Kamar

“Sekarang katakan nasihat ketiga,” pinta Harits dengan suara gemetar. “Aku berjanji akan mendengarkannya baik baik.”

Burung itu tertawa kecil. “Bagaimana mungkin aku memberimu nasihat ketiga sementara kau sudah melupakan dua nasihat sebelumnya?” Harits terdiam. Angin petang berembus dingin melewati tubuhnya yang penuh lumpur dan keringat. Ia merasa seperti seseorang yang baru saja ditampar berkali kali oleh kenyataan.

“Tadi aku berkata agar kau tidak menyesali sesuatu yang telah hilang darimu,” lanjut burung itu. “Namun kau langsung meratap setelah melepaskanku.” Burung itu mengepakkan sayapnya perlahan lalu menatap Harits dengan mata tajam. “Aku juga berkata agar kau tidak percaya pada sesuatu yang mustahil. Berat tubuhku saja bahkan tidak mencapai dua puluh mitsqal bersama tulang dan buluku. Bagaimana mungkin ada mutiara sebesar itu di dalam tubuhku?”

Harits menunduk tanpa suara. Untuk pertama kalinya ia merasa benar benar melihat dirinya sendiri dengan jelas. Ia teringat bagaimana selama ini hidupnya dipenuhi ketakutan kehilangan sesuatu yang sebenarnya belum tentu ia miliki. Ketamakan membuat pikirannya selalu lapar, bahkan ketika tubuhnya sudah kenyang.

“Masalahmu bukan kemiskinan,” kata burung itu pelan. “Masalahmu adalah hatimu yang tidak pernah merasa cukup.”

Kalimat itu menghantam Harits lebih keras dibanding semua penghinaan yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya. Ia menatap kedua tangannya yang kasar dan penuh luka. Tangan yang selama ini lebih sering menggenggam daripada memberi. Tangan yang pernah mengusir adiknya sendiri karena berebut sepetak tanah peninggalan ayah mereka.

Malam mulai turun ketika Harits masih duduk diam di tepi sungai. Ia mendengar suara jangkrik dari balik rumput dan percikan air kecil yang menghantam batu batu sungai. Dalam keheningan itu, ia merasa seluruh hidupnya seperti jebakan yang dipasangnya sendiri. Semakin ia berusaha mengejar sesuatu, semakin dalam ia terperosok ke dalam ketakutan kehilangan.

“Aku ingin berubah,” bisiknya lirih.

Burung emas itu memandangnya beberapa saat sebelum berkata, “Kalau begitu, pulanglah dan bukalah peti tua di bawah tempat tidurmu.”

Harits terkejut. Tidak ada seorang pun di desa yang mengetahui keberadaan peti kayu peninggalan ayahnya itu. Selama bertahun tahun peti tersebut hanya menjadi benda berdebu yang tidak pernah ia sentuh. Dengan langkah tergesa, Harits berlari meninggalkan sungai menuju rumah kayunya yang gelap.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Doa Ibu di Balik Pintu Kamar

Lampu minyak di rumah itu menyala redup ketika Harits membuka peti tua tersebut. Di dalamnya hanya ada kitab lusuh, kain usang, dan sepucuk surat dari ayahnya. Dengan tangan gemetar, Harits membuka surat itu lalu membacanya perlahan.

Isi surat itu membuat dadanya sesak.

Ayahnya menulis bahwa keluarga mereka sebenarnya menyimpan harta yang dikubur di belakang rumah. Namun harta itu hanya boleh dimiliki jika Harits telah belajar mengendalikan keserakahan dan kemarahannya. Sang ayah percaya bahwa kekayaan di tangan orang yang rakus hanya akan berubah menjadi bencana.

Harits segera berlari ke belakang rumah sambil membawa cangkul tua. Ia menggali tanah di dekat pohon mangga dengan napas memburu. Semakin dalam ia menggali, semakin besar harapannya menemukan peti berisi emas atau perhiasan. Lumpur memenuhi tangan dan wajahnya, namun lubang itu tetap kosong.

Tidak ada apa apa di sana.

Harits menggali semakin liar hingga tanah di sekitarnya berhamburan. Dadanya naik turun dan matanya memerah penuh amarah serta kecewa. Tepat ketika ia hendak kembali menggali, suara tawa kecil terdengar dari atas pohon mangga.

Burung emas itu hinggap di salah satu dahannya sambil memandang Harits dalam diam.

“Kini kau mengerti nasihat ketigaku,” katanya pelan.

Harits mematung. Dalam sekejap ia sadar bahwa bahkan setelah memahami dua nasihat pertama, ia masih mudah diperdaya oleh harapan akan harta. Keserakahan di dalam dirinya ternyata jauh lebih besar dibanding kemiskinan yang selama ini ia salahkan.

Burung itu mengepakkan sayapnya perlahan sebelum terbang menuju langit malam yang gelap.

Dan saat itulah Harits akhirnya memahami sesuatu yang paling menyakitkan dalam hidupnya.

Burung itu tidak pernah datang untuk memberinya kekayaan.

Burung itu datang untuk memperlihatkan bahwa selama ini dirinya sendirilah perangkap terbesar bagi hidupnya sendiri.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *