Cerpen  

Cerpen: SENJA TERAKHIR DI PESISIR SAMUDRA

banner 120x600

Kereta malam meluncur pelan membelah hujan yang menggantung di sepanjang jalur selatan. Dari balik kaca jendela yang buram oleh embun, Nadira memandangi lampu lampu kecil desa yang berkelebat seperti kunang kunang kelelahan. Ia baru saja menerima penugasan mendadak untuk menyelidiki kasus keracunan massal di sebuah kota pesisir bernama Samudraloka. Banyak media mengaitkan kasus itu dengan kunjungan pejabat negara yang dilakukan pada hari yang sama, tetapi Nadira memilih memandang semuanya sebagai pekerjaan biasa. Namun jauh di dalam dirinya, ada rasa gelisah yang tak bisa dijelaskan sejak namanya dipanggil dalam rapat mendadak tiga malam lalu.

Sudah hampir dua tahun Nadira tidak turun langsung ke lapangan. Sejak kegagalannya menangani kasus keracunan di kota lain yang menyebabkan seorang anak meninggal, ia lebih banyak bekerja di balik meja sambil menyiapkan materi pelatihan keamanan pangan. Ia masih sering terbangun tengah malam mengingat wajah bocah kecil yang tubuhnya membiru di ruang IGD. Rasa bersalah itu tidak pernah benar benar pergi meski semua orang mengatakan bahwa ia sudah bekerja sesuai prosedur. Karena itulah ketika atasannya menunjuk dirinya untuk investigasi di Samudraloka, Nadira sempat ingin menolak.

Kereta berhenti di Stasiun Karangwedi menjelang tengah malam. Udara asin langsung menyergap begitu pintu gerbong terbuka. Di ujung peron berdiri tiga pemuda dengan jaket abu abu dan wajah lelah seolah belum tidur berhari hari. Salah satunya memperkenalkan diri sebagai Damar sambil menundukkan kepala dengan sopan. Tatapannya terlihat gugup, tetapi di matanya Nadira menangkap sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kecemasan seorang panitia.

“Maaf harus menjemput ibu malam malam begini,” ucap Damar lirih sambil membantu membawa koper. “Kami takut ibu kesulitan kalau datang sendiri.”

Sepanjang perjalanan menuju penginapan, jalanan kota tampak lengang dan basah oleh hujan yang baru reda. Sesekali mobil melewati warung tenda yang masih buka dengan aroma ikan bakar menguar hingga ke jalan raya. Damar dan dua rekannya berusaha mencairkan suasana dengan bercerita tentang pantai dan kuliner khas daerah mereka, tetapi nada bicara mereka terdengar dipaksakan. Nadira diam sambil memperhatikan jemari Damar yang terus bergerak gelisah di atas lututnya. Ada sesuatu yang sedang disembunyikan pemuda itu.

Pukul enam pagi investigasi langsung dimulai di dapur pusat pelayanan makanan masyarakat. Tempat itu jauh lebih bersih daripada dugaan Nadira. Lantai dapur kering, bahan makanan tertata rapi, dan semua pekerja menggunakan perlengkapan lengkap. Bahkan suhu pendingin bahan pangan dicatat setiap dua jam dengan disiplin yang jarang ia temui di daerah lain. Semakin lama memeriksa, semakin besar rasa aneh yang muncul di kepalanya.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Burung Emas Dan Luka Keserakahan

Kalau dapur ini sebersih ini, lalu dari mana keracunan itu berasal?

Nadira memeriksa laporan medis para korban sambil duduk di ruangan kecil belakang dapur. Sebagian besar mengalami muntah hebat dan gangguan saraf ringan, gejala yang biasanya muncul akibat kontaminasi bahan tertentu. Namun tidak satu pun sampel makanan utama menunjukkan kandungan berbahaya. Ia mulai membolak balik dokumen distribusi dengan rasa curiga yang tumbuh perlahan seperti api kecil di dalam dada.

Siang harinya kepala daerah Samudraloka datang menemui Nadira secara langsung. Perempuan bernama Ratih Maheswari itu tampil sederhana tanpa pengawalan berlebihan. Cara bicaranya tenang, tetapi sorot matanya tajam seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan beban. Ia meminta Nadira melakukan investigasi sejujur mungkin tanpa takut tekanan politik apa pun. Sebelum pergi, Ratih sempat menatap Nadira cukup lama lalu berkata pelan.

“Kota ini sedang sakit, Bu Nadira. Saya harap ibu bisa menemukan bagian mana yang mulai membusuk.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala Nadira sepanjang sore.

Malamnya, Damar dan para relawan mengajak Nadira makan di warung seafood di pinggir pantai. Ombak memukul batu pemecah dengan suara berat yang terdengar seperti napas panjang. Lampu lampu kapal nelayan tampak berkelip di kejauhan, sementara angin laut membawa aroma garam bercampur asap ikan bakar. Untuk pertama kalinya sejak datang ke Samudraloka, Nadira melihat para relawan itu tertawa lepas meski mata mereka tetap menyimpan kelelahan.

“Kami cuma ingin program makanan gratis ini tetap jalan, Bu,” kata Damar pelan setelah obrolan mulai sepi. “Banyak anak kecil yang makan layak cuma dari sini.”

Nadira menatap wajah pemuda itu lama. Ada ketulusan yang sulit dipalsukan.

Hari berikutnya Nadira memberikan pelatihan kepada para koordinator dapur dan penjamah makanan. Aula sederhana itu penuh sesak oleh orang orang yang datang bahkan sebelum matahari terbit. Mereka mencatat setiap penjelasan dengan serius, seolah ilmu kecil yang dibagikan Nadira adalah sesuatu yang sangat berharga. Seorang ibu paruh baya sampai menangis ketika Nadira menjelaskan bagaimana kesalahan kecil dalam pengolahan makanan dapat merenggut nyawa anak anak.

Saat sesi berakhir, para peserta berdiri memberi tepuk tangan panjang. Nadira tersenyum tipis, tetapi di dalam hatinya justru tumbuh rasa takut. Orang orang ini terlalu tulus untuk dijadikan kambing hitam.

BERITA TERKAIT  Cerpen:Alamat Yang Selalu Berpindah

Malam kedua investigasi, Nadira memutuskan memeriksa ulang jalur distribusi makanan secara detail. Hujan turun deras di luar penginapan sementara lampu kamar berkedip beberapa kali akibat listrik yang tidak stabil. Di tengah tumpukan dokumen, ia menemukan satu data pengiriman yang tidak lengkap. Ada kode distribusi tanpa tanda penerima resmi, tetapi jumlah paketnya sangat besar dan dikirim tepat pada hari kejadian keracunan.

Jantung Nadira berdetak lebih cepat.

Ia segera menghubungi Damar dan meminta pemuda itu datang malam itu juga.

Ketika Damar tiba, wajahnya langsung pucat melihat dokumen di meja. Jemarinya kembali bergerak gelisah seperti malam pertama mereka bertemu. Beberapa kali ia mencoba bicara, tetapi kata katanya terhenti di tenggorokan. Tepat saat suasana menjadi semakin tegang, telepon Nadira berdering dari nomor tidak dikenal.

“Berhenti menyelidiki kalau masih ingin pulang hidup hidup.”

Suara laki laki itu terdengar berat lalu sambungan langsung terputus.

Ruangan mendadak terasa dingin.

Damar menunduk dalam diam. Bahunya bergetar pelan seperti menahan sesuatu yang selama ini ia kubur sendirian.

“Ada distribusi ilegal, Bu,” katanya akhirnya dengan suara pecah. “Bukan dari dapur utama. Ada pihak luar yang menitip paket makanan tambahan tanpa pemeriksaan. Saya pernah mencoba melapor, tapi mereka mengancam semua relawan.”

Nadira terdiam. Potongan potongan teka teki mulai tersusun perlahan di kepalanya.

Pagi berikutnya Nadira menemui Ratih Maheswari membawa seluruh temuan sementara. Ia mengira kepala daerah itu akan terkejut, tetapi perempuan tersebut justru terlihat sangat tenang. Dengan tangan gemetar tipis, Ratih membuka laci mejanya lalu mengeluarkan sebuah map merah tua yang sudah kusam di bagian sudutnya.

“Saya menunggu ibu menemukan itu,” katanya lirih.

Isi map merah itu membuat darah Nadira seperti berhenti mengalir. Selama dua bulan terakhir Ratih ternyata diam diam mengumpulkan bukti keterlibatan sejumlah pejabat dan pemasok pangan dalam permainan distribusi ilegal. Mereka sengaja menyelundupkan makanan murah berkualitas buruk demi memotong anggaran dalam jumlah besar. Ketika keracunan terjadi, seluruh kesalahan diarahkan kepada relawan dapur agar kasus berhenti di level bawah.

Dan yang paling mengejutkan, salah satu nama utama dalam laporan itu adalah wakil kepala daerah sendiri.

Sore harinya rapat koordinasi digelar di gedung tua dekat pantai. Langit di luar mulai berubah jingga ketika Nadira berdiri di depan seluruh peserta rapat membawa map merah di tangannya. Para relawan, pejabat, dan petugas kesehatan duduk dalam diam dengan wajah tegang. Damar terlihat pucat di kursi belakang, tetapi matanya tak lagi dipenuhi ketakutan seperti sebelumnya.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Doa Ibu di Balik Pintu Kamar

Dengan suara mantap, Nadira menjelaskan hasil investigasi secara rinci. Aula menjadi gaduh ketika nama nama pejabat mulai disebut satu per satu. Beberapa orang mencoba menyangkal, sebagian lagi memilih keluar ruangan dengan wajah panik. Namun sebelum kericuhan semakin besar, Ratih Maheswari berdiri dan meminta semua orang diam.

“Kalian ingin tahu siapa orang pertama yang berani membongkar ini?” katanya dengan suara bergetar. “Bukan saya. Bukan Bu Nadira.”

Ratih menoleh ke arah Damar.

“Dia.”

Seluruh ruangan mendadak sunyi.

Damar perlahan berdiri dengan mata berkaca kaca. Ia mengaku sejak awal mengetahui permainan distribusi ilegal itu karena kakaknya sendiri bekerja untuk salah satu pemasok. Kakaknya sempat mencoba menghentikan praktik tersebut, tetapi ditemukan meninggal dalam kecelakaan misterius tiga bulan lalu. Sejak saat itu Damar diam diam mengumpulkan bukti sambil berpura pura menjadi relawan biasa.

Nadira tercekat mendengar pengakuan itu.

Tiba tiba ia teringat alasan mengapa Damar selalu tampak ketakutan setiap kali investigasi berkembang lebih jauh.

Bukan karena ia takut dipenjara.

Melainkan karena ia takut bernasib sama seperti kakaknya.

Matahari perlahan tenggelam di balik laut Samudraloka ketika rapat berakhir ricuh. Dari kejauhan terdengar sirene kendaraan aparat mendekati gedung pertemuan. Angin pantai bertiup kencang menerbangkan beberapa lembar dokumen dari meja rapat hingga berserakan di lantai seperti potongan dosa yang akhirnya terbuka satu per satu.

Nadira berdiri di tepi pantai sambil memandang senja yang perlahan padam. Di sampingnya, Damar menangis tanpa suara sambil menggenggam map merah peninggalan kepala daerah yang kini dibawa aparat untuk pemeriksaan lanjutan. Ombak terus datang dan pergi seperti waktu yang tak pernah berhenti menghapus jejak manusia.

Dan saat langit benar benar gelap, Nadira akhirnya memahami satu hal yang paling menyakitkan dari semua perjalanan ini.

Keracunan massal itu memang nyata.

Tetapi racun sesungguhnya bukan berada di dalam makanan.

Racun itu telah lama hidup di dalam keserakahan manusia.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *