Cerpen  

Cerpen: Mercusuar Yang Menunggu Di Ujung Pantai

banner 120x600

Sore itu angin laut bertiup pelan membawa aroma garam dan kayu basah ke beranda warung kopi tua di tepi pelabuhan. Seorang lelaki berambut putih duduk sendirian di kursi paling ujung sambil memandangi mercusuar yang berdiri jauh di seberang teluk. Tiga anak muda yang baru selesai melaut mengenalnya sebagai orang yang sering membantu biaya sekolah anak anak nelayan. Mereka menghampirinya, lalu meminta kisah tentang alasan lelaki itu selalu menatap mercusuar setiap senja seolah menunggu seseorang yang tidak pernah datang.

Lelaki tua itu tersenyum tipis dan mengusap bibir cangkir kopinya yang telah dingin. Keriput di wajahnya bergerak perlahan seperti ombak yang menyimpan rahasia panjang. Ia berkata bahwa laut selalu mengajarkan satu hal penting kepada manusia. Orang yang meninggalkanmu di tengah badai tidak pernah benar benar mengetahui seperti apa caramu bertahan hidup.

Anak anak muda itu saling berpandangan. Mereka mengira lelaki tua itu sedang mengutip petuah yang sering beredar di media sosial. Namun tatapan matanya terlalu jauh untuk sekadar mengulang kalimat orang lain. Ada sesuatu yang masih hidup di balik sorot matanya, sesuatu yang tampak seperti luka yang telah lama sembuh tetapi belum pernah benar benar hilang.

Bertahun tahun sebelumnya ada seorang pemuda bernama Trisno yang percaya bahwa persahabatan lebih kuat daripada darah. Ia membangun usaha pengolahan hasil laut bersama tiga sahabat yang telah dikenalnya sejak kecil. Mereka adalah Rendra yang selalu paling cerdas, Bayu yang pandai membuat semua orang tertawa, dan Malik yang paling sering mengingatkan tentang doa serta kejujuran. Bagi Trisno, ketiganya bukan sekadar sahabat melainkan saudara yang dipilih oleh kehidupan.

Mereka memulai usaha dari gudang kecil yang atapnya bocor ketika hujan turun. Siang hari mereka bekerja mengangkut ikan, malam hari mereka menghitung keuntungan sambil makan mi instan dan tertawa tentang mimpi menjadi pengusaha besar. Mereka pernah bersumpah bahwa siapa pun yang jatuh akan ditarik kembali oleh tiga tangan lainnya. Saat itu Trisno percaya bahwa janji yang diucapkan di tengah perjuangan akan bertahan lebih lama daripada usia manusia.

Kesempatan besar datang ketika sebuah perusahaan menawarkan kerja sama dalam jumlah yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya. Mereka membutuhkan modal besar untuk memenuhi pesanan dan semua orang sepakat mengambil pinjaman. Trisno bahkan menggadaikan rumah peninggalan ayah ibunya karena tiga sahabatnya berkata bahwa keberanian selalu menjadi harga dari kesuksesan. Ia menandatangani semua dokumen tanpa rasa takut karena percaya penuh kepada orang orang yang berdiri di sampingnya.

Malam sebelum pembayaran pertama jatuh tempo, Trisno mencoba menghubungi Rendra karena ada beberapa berkas yang harus diselesaikan. Teleponnya tidak aktif. Ia menghubungi Bayu dan hanya mendengar suara operator. Ketika ia menelepon Malik, nomor itu pun tidak dapat dihubungi.

Dengan perasaan gelisah Trisno mendatangi rumah Rendra. Rumah itu kosong dan pagar depannya terbuka. Tetangga mengatakan keluarga Rendra pindah semalam tanpa pamit kepada siapa pun.

Trisno berlari menuju rumah Bayu. Rumah itu juga kosong. Di halaman hanya tersisa pot bunga yang telah pecah dan bekas jejak ban mobil yang masih terlihat di tanah basah.

Rumah terakhir adalah milik Malik. Lelaki yang paling sering berbicara tentang amanah itu pun telah menghilang. Seorang tetangga tua berkata bahwa mereka pergi sebelum fajar dan membawa semua barang mereka.

Trisno berdiri di pinggir jalan dengan tubuh gemetar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasakan bagaimana rasanya dilempar ke tengah laut tanpa perahu. Bukan karena ia kehilangan uang, melainkan karena orang orang yang paling ia percaya ternyata memilih menyelamatkan diri sendiri.

Utang yang menumpuk datang seperti ombak besar yang tidak memberi kesempatan untuk bernapas. Penagih utang berdatangan hampir setiap hari. Rumah warisan orang tuanya disita dan semua yang pernah ia banggakan hilang dalam waktu singkat. Banyak orang yang dahulu memujinya kini memandangnya dengan tatapan iba atau bahkan jijik.

Pada minggu pertama setelah rumahnya disita, Trisno tidur di gudang pelabuhan. Ia hanya memiliki dua potong pakaian dan uang yang tidak cukup untuk membeli makanan selama tiga hari. Ketika lapar mulai terasa menyakitkan, ia meminum air putih berkali kali agar perutnya terasa penuh. Di malam hari ia menangis diam diam karena tidak ingin siapa pun melihat kehancurannya.

Ibunya jatuh sakit tidak lama kemudian. Perempuan yang selama ini selalu tersenyum itu terlihat semakin kurus setiap kali Trisno datang menjenguk. Trisno bekerja sebagai buruh angkut ikan sejak dini hari demi membeli obat sederhana. Setiap peti yang ia angkat terasa seperti hukuman atas kepercayaannya sendiri.

Pelabuhan mengubah Trisno sedikit demi sedikit. Ia bertemu seorang nelayan yang kehilangan anaknya karena badai tetapi tetap melaut demi memberi makan keluarganya. Ia melihat seorang janda tua menjual ikan kecil sambil tersenyum kepada semua orang meski hidupnya dipenuhi kesedihan. Dari mereka Trisno belajar bahwa penderitaan tidak pernah memilih siapa yang akan disinggahinya.

Suatu malam badai besar menghantam pelabuhan. Trisno membantu para nelayan mengikat kapal agar tidak hanyut terbawa ombak. Ketika semua orang berlari menyelamatkan diri, matanya tertuju pada sebuah perahu tua yang hampir tenggelam di ujung dermaga. Perahu itu rusak, lapuk, dan ditinggalkan pemiliknya karena dianggap tidak lagi berguna.

Entah mengapa Trisno merasa perahu itu sangat mirip dengan dirinya. Sama sama rusak dan sama sama ditinggalkan. Ia membeli perahu itu dengan sisa uang yang dimilikinya lalu memperbaikinya sedikit demi sedikit setiap malam. Setelah berbulan bulan bekerja, ia memberi nama perahu itu Mercusuar.

Bagi Trisno, mercusuar bukanlah bangunan yang menyelamatkan kapal. Mercusuar hanya menunjukkan bahwa masih ada arah ketika semua orang kehilangan jalan pulang. Keyakinan itu membuatnya terus melaut meski berkali kali pulang dengan jaring kosong. Ia hampir tenggelam lebih dari sekali, tetapi setiap kali berhasil kembali ke pantai, ia merasa menang melawan dirinya sendiri.

Tahun demi tahun berlalu. Perahu tua itu berkembang menjadi armada kecil. Usahanya semakin besar dan ia mulai mempekerjakan para nelayan yang kesulitan mencari pekerjaan. Tidak ada pekerja yang dibiarkannya kelaparan karena ia masih ingat bagaimana rasanya tidur dengan perut kosong.

Trisno juga mendirikan yayasan pendidikan bagi anak anak nelayan. Ia tidak pernah memasang namanya di papan yayasan itu. Baginya, kebaikan yang paling indah adalah kebaikan yang tidak membutuhkan tepuk tangan.

Lima belas tahun kemudian, tiga mobil mewah berhenti di depan kantornya. Dari mobil itu turun tiga lelaki yang wajahnya sangat dikenalnya. Rambut mereka telah memutih sebagian dan usia meninggalkan banyak garis di wajah mereka. Namun Trisno tetap mengenali Rendra, Bayu, dan Malik.

Mereka meminta maaf dengan suara bergetar. Mereka mengaku ketakutan saat itu dan memilih melarikan diri karena tidak sanggup menghadapi utang. Rendra berkata bahwa rasa bersalah telah menghantuinya selama bertahun tahun. Bayu menangis sambil mengatakan bahwa tidak ada satu malam pun ia bisa tidur nyenyak.

Malik adalah orang terakhir yang berbicara. Dengan mata berkaca kaca ia berkata bahwa Tuhan telah menghukumnya dengan kehidupan yang penuh penyesalan. Ia meminta Trisno memberikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya.

Trisno tidak marah. Ia juga tidak meninggikan suara. Ia hanya mengajak mereka berjalan menuju ujung dermaga ketika matahari hampir tenggelam.

Di sana berdiri mercusuar yang sejak tadi dipandangnya dari kejauhan. Ombak memukul batu batu karang di bawahnya dengan suara yang berat dan berulang. Trisno memandang laut cukup lama sebelum akhirnya berbicara.

“Kalian meninggalkanku di tengah lautan,” katanya pelan. “Kalian tidak pernah melihat hiu hiu yang datang setelah itu. Kalian tidak tahu berapa kali aku hampir tenggelam. Dan kalian tidak berhak mengetahui bagaimana aku akhirnya sampai ke pantai.”

Tidak ada kemarahan dalam suaranya. Justru ketenangan itulah yang terasa jauh lebih menyakitkan. Ketiga lelaki itu menundukkan kepala karena menyadari bahwa beberapa luka memang bisa sembuh, tetapi tidak semua luka harus mengizinkan orang yang melukainya untuk kembali masuk.

Trisno kemudian menyerahkan sebuah amplop kepada Malik. Tangan Malik gemetar ketika membukanya. Di dalamnya terdapat dokumen pendirian yayasan pendidikan yang selama ini membantu ratusan anak anak nelayan.

Pada bagian nama pendiri tertulis empat nama.

Trisno.

Rendra.

Bayu.

Malik.

Ketiganya terdiam tidak percaya.

“Aku tidak pernah menghapus nama kalian,” kata Trisno sambil menatap mercusuar. “Aku hanya menghapus hak kalian untuk mengetahui bagaimana aku bertahan.”

Anak anak muda di warung kopi mendengarkan kisah itu tanpa berkedip. Mereka mengira kisah tersebut hanyalah cerita tentang seseorang bernama Trisno. Hingga lelaki tua itu mengeluarkan foto usang dari saku bajunya.

Di foto itu terlihat seorang pemuda berdiri di depan perahu tua bersama tiga sahabatnya. Pada bagian belakang foto terdapat tulisan yang mulai pudar.

Untuk Trisno, jika suatu hari kami meninggalkanmu, semoga kau tetap menemukan jalan pulang.

Lelaki tua itu tersenyum tipis sambil memandang mercusuar di kejauhan. “Aku memang menemukan jalan pulang,” katanya pelan. “Tetapi ternyata pulang tidak selalu berarti kembali kepada orang yang pernah meninggalkan kita.”

Penulis: Dwi Taufan HidayatEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *