Rezeki Adalah Nikmat Yang Luas

banner 120x600

Banyak manusia memandang rezeki hanya dari satu sisi, yaitu uang, harta, jabatan, dan kemewahan yang tampak di mata. Akibatnya, ketika melihat orang lain memiliki sesuatu yang tidak dimilikinya, muncul rasa iri, dengki, bahkan hasad yang menggerogoti hati. Padahal rezeki Allah sangat luas, beragam bentuknya, dan tidak selalu berupa materi. Memahami hakikat rezeki akan melahirkan syukur, ketenangan, dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan.

Di antara penyakit hati yang paling berbahaya adalah hasad. Hasad membuat seseorang tidak nyaman melihat kebahagiaan orang lain. Ia merasa gelisah ketika orang lain memperoleh nikmat, bahkan berharap nikmat itu hilang dari saudaranya. Padahal sikap seperti ini hanya akan menyiksa dirinya sendiri. Hatinya tidak tenang, pikirannya dipenuhi prasangka, dan hidupnya habis untuk membandingkan diri dengan orang lain.

Syaikh Abdullah Al-Fauzan menjelaskan bahwa rezeki adalah segala sesuatu yang bermanfaat bagi makhluk yang menerimanya. Dengan pemahaman ini, rezeki ternyata jauh lebih luas daripada sekadar uang dan harta benda. Setiap kebaikan yang Allah karuniakan kepada seorang hamba termasuk rezeki yang patut disyukuri.

Seseorang yang memiliki pasangan hidup yang saleh atau salehah sesungguhnya sedang menikmati rezeki yang sangat besar. Banyak orang memiliki kekayaan berlimpah, namun rumah tangganya penuh pertengkaran. Ada pula yang memiliki jabatan tinggi, tetapi tidak merasakan kedamaian bersama keluarganya. Karena itu, pasangan yang baik akhlaknya merupakan karunia yang tidak ternilai harganya.

Anak-anak yang saleh juga merupakan rezeki yang luar biasa. Tidak sedikit orang yang diberi kelapangan harta, namun diuji dengan anak yang sulit diarahkan, durhaka, atau jauh dari agama. Sebaliknya, ada yang hidup sederhana tetapi dikaruniai anak-anak yang berbakti, mencintai Al-Qur’an, dan menjadi penyejuk hati bagi kedua orang tuanya.

BERITA TERKAIT  Mengadili Tuduhan Menguji Demokrasi di Ruang Digital

Tetangga yang baik adalah rezeki. Teman yang saleh adalah rezeki. Lingkungan yang mendukung kebaikan adalah rezeki. Kemudahan dalam beribadah adalah rezeki. Tubuh yang sehat adalah rezeki. Hati yang tenang adalah rezeki. Bahkan kesempatan untuk bertaubat sebelum ajal menjemput juga merupakan rezeki yang sangat besar.

Karena itu, seseorang tidak akan mudah hasad apabila memahami keluasan makna rezeki. Ketika melihat orang lain memiliki mobil mewah, ia menyadari bahwa mungkin dirinya diberi kesehatan yang lebih baik. Ketika melihat orang lain memiliki rumah besar, ia sadar bahwa mungkin dirinya dianugerahi keluarga yang lebih harmonis. Ketika melihat orang lain memiliki kedudukan tinggi, ia sadar bahwa mungkin dirinya diberi ketenangan hidup yang tidak dimiliki orang tersebut.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾

Artinya: “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-‘Ankabut: 62)

Ayat ini mengajarkan bahwa pembagian rezeki berada di tangan Allah Yang Maha Mengetahui. Tidak ada satu pun pembagian-Nya yang sia-sia. Semua diberikan berdasarkan ilmu, hikmah, dan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

Boleh jadi seseorang memperoleh suami yang kaya dan penyayang, tetapi belum dikaruniai anak. Ada yang memiliki rumah tangga harmonis, namun menghadapi ujian dari lingkungan keluarganya. Ada yang sukses dalam pekerjaan, tetapi kesehatannya terganggu. Ada yang memiliki harta melimpah, namun sulit merasakan ketenangan. Ada yang hidup sederhana, tetapi tidur nyenyak setiap malam dan hatinya dipenuhi rasa syukur.

BERITA TERKAIT  Sahabat Cermin Hati Yang Setia

Karena itulah manusia tidak pernah mengetahui keseluruhan kehidupan orang lain. Yang tampak di hadapan mata hanyalah sebagian kecil dari nikmat yang Allah berikan. Sementara ujian yang mereka tanggung sering kali tidak diketahui oleh siapa pun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ»

Artinya: “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi obat yang sangat ampuh untuk menghilangkan hasad. Ketika seseorang terbiasa melihat nikmat yang dimilikinya dan mengingat keadaan orang yang lebih berat ujiannya, maka rasa syukur akan tumbuh dalam hatinya.

Hasad bukan hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga merusak amal kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ»

Artinya: “Jauhilah oleh kalian sifat hasad, karena hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)

Betapa meruginya seseorang yang sepanjang hari memikirkan nikmat orang lain. Malamnya sulit tidur karena iri. Siangnya lelah karena terus memperhatikan kehidupan orang yang dihasadinya. Ia menunggu kabar buruk menimpa saudaranya agar merasa puas. Padahal orang yang dihasadinya mungkin hidup tenang tanpa memikirkan dirinya sedikit pun.

Sebaliknya, orang yang bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk bahagia. Ia melihat kesehatan sebagai nikmat. Ia melihat keluarga sebagai nikmat. Ia melihat kesempatan beribadah sebagai nikmat. Ia melihat setiap kebaikan kecil sebagai karunia dari Allah. Hatinya lapang karena fokus pada apa yang dimiliki, bukan pada apa yang belum dimiliki.

BERITA TERKAIT  Cerpen: AKAR YANG MENAHAN LUBANG TAMBANG

Allah Ta’ala berfirman:

﴿لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ﴾

Artinya: “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7)

Maka ketika melihat keberhasilan orang lain, doakanlah keberkahan untuknya. Ketika melihat nikmat yang Allah berikan kepada saudara kita, pujilah Allah yang telah melimpahkan karunia-Nya. Yakinlah bahwa Allah tidak pernah salah dalam membagikan rezeki. Dia mengetahui apa yang baik bagi setiap hamba-Nya.

Boleh jadi jika kita diberi kekayaan sebesar orang lain, kita justru menjadi sombong. Boleh jadi jika kita diberi popularitas, kita menjadi lalai. Boleh jadi jika semua keinginan kita dikabulkan saat ini, kita justru semakin jauh dari Allah. Karena itu, apa yang Allah tetapkan untuk kita adalah pilihan terbaik menurut ilmu-Nya yang sempurna.

Marilah kita mengisi hari-hari dengan syukur, bukan hasad. Dengan doa, bukan dengki. Dengan ridha, bukan keluhan. Sebab setiap hamba memiliki bagian rezekinya masing-masing. Tidak ada yang tertukar dan tidak ada yang terlewat. Apa yang Allah tetapkan untuk kita pasti akan datang pada waktunya, dan apa yang bukan bagian kita tidak akan pernah menjadi milik kita. Ketika keyakinan ini tertanam kuat dalam hati, maka hidup akan terasa lebih tenang, lebih ringan, dan lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *