Cerpen: AKAR YANG MENAHAN LUBANG TAMBANG

banner 120x600

Bukit Rengganis pernah menjadi luka panjang bagi Desa Wanarengga. Setelah kebakaran besar, tanah retak seperti kulit tua, sumur mengering, dan warga hidup dari air kiriman. Di tengah ejekan, seorang kakek bernama Mbah Rasmadi menjual kambing terakhirnya demi membeli bibit beringin. Ia menanamnya selama puluhan tahun, sendirian, hingga bukit itu berubah menjadi hutan yang melahirkan mata air.

Pada tahun ketika Bukit Rengganis terbakar, langit Desa Wanarengga tidak pernah benar benar bersih. Asap menempel di daun daun pisang, membuat embun pagi berbau arang. Tanah di lereng bukit menghitam seperti bekas periuk gosong, sementara batu batu retak seolah ikut mengeluh. Warga hanya bisa menatap dari kejauhan, menunggu hujan yang tidak datang, sambil menyimpan takut bahwa kemarau berikutnya akan memakan segalanya.

Kemarau itu datang lebih cepat dari biasanya. Sumur sumur mulai surut, air di parit mengecil, dan sawah menganga seperti mulut yang kering. Di warung kopi dekat jalan desa, orang orang menghabiskan hari dengan mengutuk cuaca dan menuduh nasib. Mereka berbicara tentang cara pindah ke kota, tentang menjual tanah, tentang menyerah sebelum tubuh benar benar habis. Di antara suara keluhan itu, nama Mbah Rasmadi tidak pernah disebut sebagai harapan.

Mbah Rasmadi tinggal di rumah bambu yang dindingnya selalu berderit ketika angin lewat. Ia bukan orang terpandang, tidak punya sawah luas, tidak pula punya keluarga besar yang disegani. Yang ia punya hanya seekor kambing jantan yang bulunya putih bersih dan sering jadi bahan candaan anak anak desa. Namun pada suatu pagi, Mbah Rasmadi menyerahkan tali kambing itu kepada pedagang keliling, seolah melepas bagian terakhir dari hidupnya.

Orang orang menertawakannya ketika melihat ia pulang membawa karung kain kecil. Karung itu bukan berisi beras atau uang, melainkan bibit beringin yang ukurannya belum lebih besar dari jari tangan. Seorang lelaki di warung bahkan tertawa sambil menepuk meja dan berkata, “Kakek itu sudah kehilangan akal, bukit mati kok ditanami pohon angker.” Yang lain menimpali bahwa beringin hanya cocok jadi tempat makhluk halus, bukan tempat menanam harapan.

Malamnya, gosip makin tajam dan berubah menjadi ketakutan. Ada yang mengatakan Mbah Rasmadi ingin menjadikan Bukit Rengganis sarang ilmu hitam. Ada yang bersumpah pernah melihat bayangan besar bergerak di lereng bukit, seolah ada penjaga yang dipanggil oleh bibit bibit itu. Beberapa ibu melarang anaknya bermain dekat bukit, bukan karena takut jatuh, melainkan karena takut pulang membawa sial. Semua orang sibuk menambah cerita, sementara Mbah Rasmadi tidur seperti orang yang tidak punya urusan dengan dunia.

Pagi berikutnya, ia mulai mendaki bukit. Ia memanggul cangkul tua dan seember air yang ia ambil dari sungai kecil di lembah. Nafasnya berat, tapi langkahnya seperti sudah hafal jalur, seolah ia pernah menempuhnya dalam mimpi selama bertahun tahun. Ia menggali lubang, memasukkan bibit beringin, lalu menimbun tanah dengan tangan yang pelan seperti menutup luka.

Hari demi hari, ia kembali. Kadang ia hanya membawa air setengah ember karena sungai pun semakin kecil, namun ia tetap menyiram bibit bibit itu dengan kesungguhan yang sama. Tangan tuanya pecah pecah, kuku hitam oleh tanah, dan punggungnya basah oleh keringat. Ketika ia turun menjelang sore, warga menatapnya seperti menatap orang yang kalah sebelum bertarung. Tidak ada yang menawarkan bantuan, karena mereka yakin itu pekerjaan sia sia.

Pada tahun pertama, hampir semua bibit mati. Daunnya layu, batangnya mengering, dan tanah menelannya kembali seperti menelan serpihan mimpi. Warga merasa kemenangan itu pantas dirayakan, sebab kegilaan Mbah Rasmadi dianggap sudah terbukti. Beberapa orang bahkan sengaja lewat sambil menendang tanah di sekitar bibit yang masih hidup, seolah ingin mempercepat kekalahan. Namun Mbah Rasmadi tidak berhenti, ia membeli bibit baru dengan uang yang entah dari mana, lalu menanamnya lagi.

BERITA TERKAIT  Dimanakah Setan Bertumbuh Dalam Diri

Suatu sore, ketika ia sedang menggali lubang, seorang pemuda desa bernama Raka mendekatinya. Raka menatap bibit beringin itu dengan ragu, lalu berkata dengan nada mengejek namun masih menyisakan rasa ingin tahu. “Mbah, apa yang panjenengan cari di sini, air sudah tidak ada, tanah sudah mati.” Mbah Rasmadi menatap tanah di tangannya, lalu menjawab pelan, “Yang mati itu bukan tanah, Nak, yang mati itu kesabaran manusia.”

Raka tertawa kecil, tapi tawa itu tidak sekeras yang ia kira. Ia pergi sambil menggeleng, namun kata kata Mbah Rasmadi menempel di kepalanya seperti debu yang sulit dibersihkan. Di warung, Raka menceritakan percakapan itu dan orang orang kembali menertawakan. Mereka bilang Mbah Rasmadi hanya pandai bicara seperti orang tua yang ingin dihormati. Akan tetapi, tawa itu tidak mengubah apa pun di bukit, karena setiap pagi bibit baru terus muncul.

Tahun kelima, beberapa batang kecil mulai bertahan. Daunnya masih tipis, namun hijau itu terlihat jelas dari kejauhan seperti garis harapan yang baru lahir. Burung burung kecil mulai datang, dan serangga yang lama hilang kembali memenuhi udara. Tanah yang dulu retak mulai menahan lembab lebih lama setelah hujan singkat turun. Tetapi warga tetap menganggapnya kebetulan, bukan hasil kerja seseorang.

Pada tahun ketujuh, Mbah Rasmadi jatuh sakit. Tubuhnya demam tinggi, dan ia terbaring tiga hari tanpa sanggup berdiri. Anak perempuannya memohon agar ia berhenti, karena usia tidak bisa diajak berunding. “Mbah, bukit itu tidak memberi makan, tidak memberi uang, tidak memberi apa apa,” katanya dengan suara putus asa. Mbah Rasmadi hanya menatap langit dari celah atap bambu, lalu menjawab lirih, “Kalau aku berhenti, bukit itu akan diambil orang lain.”

Kalimat itu membuat anaknya terdiam. Ia tidak mengerti siapa yang dimaksud, tetapi suara Mbah Rasmadi terdengar seperti orang yang sedang menjaga sesuatu yang tidak terlihat. Ketika tubuhnya sedikit membaik, ia kembali naik ke bukit dengan langkah lebih pelan, seolah setiap gerak adalah taruhan. Ia membawa bibit bibit baru dan menanamnya di sela sela batang lama. Warga melihatnya lewat, namun tidak ada yang bertanya lebih jauh, karena bagi mereka bukit itu hanya tempat orang tua membuang umur.

Pada tahun kesepuluh, Bukit Rengganis mulai berubah bentuk. Pepohonan beringin tumbuh lebih rapat, rantingnya seperti tangan yang saling menggenggam, dan bayangannya menutup tanah yang dulu terbakar. Udara di lereng bukit menjadi lebih dingin, bahkan ketika matahari sedang tinggi. Warga mulai merasa aneh, sebab bukit yang dulu panas seperti bara kini memiliki angin yang menenangkan. Tetapi mereka tetap tidak mengakui bahwa itu hasil kerja Mbah Rasmadi, karena gengsi lebih keras dari batu.

Lalu datang kemarau besar yang menguji semua mulut yang pernah menertawakan. Sumur sumur desa mengering sampai dasar, dan parit parit hanya menyisakan lumpur hitam yang bau. Anak anak menangis karena haus, sementara orang dewasa mulai bertengkar soal jatah air. Truk tangki dari kota datang seminggu sekali, dan warga berebut seperti orang berebut hidup. Pada malam hari, suara doa terdengar lebih sering, tetapi suara putus asa lebih keras daripada doa itu sendiri.

Dalam kemarau itu, seorang bocah bernama Nara hilang setengah hari. Ibunya panik, mengira ia jatuh ke jurang atau tersesat di kebun. Menjelang sore, Nara muncul dari arah bukit dengan baju basah dan wajah yang berseri. Ia berteriak bahwa ia menemukan air di tengah hutan beringin, air yang dingin seperti air sumur lama. Warga awalnya tidak percaya, tetapi Nara terus menarik tangan mereka, memaksa orang orang mengikuti jejaknya.

Mereka mendaki bukit dengan langkah tergesa. Di antara pepohonan yang rimbun, mereka merasakan sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan selama bertahun tahun, yaitu sejuk yang menenangkan dada. Di balik semak, di antara akar beringin yang mencengkeram batu, air merembes pelan dan membentuk aliran kecil. Air itu bening, tidak berbau, dan terasa seperti hadiah yang jatuh dari langit. Orang orang menunduk, mencuci wajah, lalu meneguknya sambil menangis tanpa suara.

BERITA TERKAIT  Cerpeh: Subuh, Kapur Barus, dan Nama Saya

Sejak hari itu, bukit menjadi tujuan baru. Warga membawa jerigen dan ember, lalu membuat saluran sederhana dari bambu agar air bisa turun ke desa. Dalam beberapa bulan, mata air lain muncul di titik titik berbeda, seolah tanah yang lama tidur akhirnya terbangun. Sawah yang hampir mati kembali hijau, dan ladang jagung mulai tumbuh dengan lebih percaya diri. Anak anak kembali bermain tanpa takut kehausan, sementara orang tua mulai menatap bukit itu dengan mata yang berbeda.

Nama Mbah Rasmadi tiba tiba menjadi pembicaraan hangat. Mereka yang dulu menertawakan kini memanggilnya pahlawan, bahkan ada yang sengaja datang membawa makanan sebagai tanda hormat. Kepala desa yang selama ini jarang muncul, mulai sering naik bukit sambil membawa rombongan. Ia berkata bahwa desa harus berterima kasih kepada Mbah Rasmadi, karena tanpa beliau, air bersih tidak akan kembali. Orang orang mengangguk, seolah mereka selalu berada di pihak yang benar.

Suatu hari, pemerintah daerah mengirim wartawan dan kamera. Mereka membuat panggung kecil di kaki bukit dan mengundang warga berkumpul. Spanduk dipasang, pengeras suara diuji, dan semua orang sibuk menyiapkan kata kata yang terdengar indah. Mereka ingin kisah ini menjadi berita besar, kisah tentang seorang kakek yang menanam pohon selama puluhan tahun demi desa. Warga menunggu Mbah Rasmadi naik panggung, seperti menunggu tokoh suci berbicara.

Ketika Mbah Rasmadi berdiri di depan mikrofon, tubuhnya tampak lebih kecil dibanding pepohonan yang ia tanam. Suaranya pelan, namun cukup untuk membuat semua orang diam. Ia berkata bahwa ia tidak butuh uang, tidak butuh penghargaan, karena upah terbesar baginya adalah melihat warga tidak lagi kesulitan air saat kemarau. Tepuk tangan meledak, beberapa orang bahkan meneteskan air mata. Kamera menyorot wajah Mbah Rasmadi, mencari kalimat yang bisa dijadikan kutipan.

Namun di belakang kerumunan, seorang perempuan tua berdiri dengan tangan gemetar. Namanya Bu Sarlina, tetangga yang dulu paling sering menyebut Mbah Rasmadi gila. Ia membawa map lusuh yang warnanya hampir sama dengan tanah kering. Wajahnya pucat, seolah ia sedang menahan sesuatu yang sudah terlalu lama disimpan. Saat tepuk tangan mulai reda, ia melangkah maju dengan keberanian yang seperti dipaksa oleh rasa bersalah.

Bu Sarlina menyerahkan map itu kepada petugas kecamatan. Petugas itu membukanya sekilas, lalu wajahnya berubah tegang seperti orang yang baru membaca vonis. Ia segera memanggil kepala desa dan berbisik cepat, membuat kepala desa membeku seperti patung. Wartawan yang tadinya tersenyum mulai menurunkan kamera, tetapi telinganya tetap tajam. Kerumunan menjadi sunyi, karena semua orang bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Bu Sarlina akhirnya bicara, suaranya serak seperti daun kering yang digesek angin. Ia berkata bahwa sebelum kebakaran besar terjadi, Bukit Rengganis pernah menjadi incaran orang orang kota. Mereka datang membawa peta dan janji uang, menawarkan pembukaan tambang batu yang katanya akan membuat desa kaya. Beberapa warga menandatangani persetujuan, termasuk kepala desa lama, karena mereka tergiur oleh angka yang belum pernah mereka pegang. Tetapi ada satu orang yang menolak keras dan memohon agar bukit tidak dijual, yaitu Mbah Rasmadi.

Kerumunan mulai berbisik, namun Bu Sarlina melanjutkan tanpa berhenti. Ia mengaku bahwa kebakaran besar itu bukan sekadar musibah, melainkan api yang sengaja diciptakan agar bukit dianggap tidak bernilai. Setelah bukit hangus, rencana tambang akan lebih mudah masuk karena tidak ada lagi hutan yang bisa dibela. Bu Sarlina berkata ia tahu hal itu karena suaminya dulu menjadi salah satu orang yang ikut membuka jalan bagi para tamu kota. Dan ia menyimpan dokumen itu selama bertahun tahun karena takut, sekaligus karena malu.

BERITA TERKAIT  REVITALISASI SEKOLAH BERBASIS DATA DEMI MUTU PENDIDIKAN

Orang orang menatap map itu seperti menatap dosa yang dibuka di depan mata. Di dalamnya ada salinan surat izin lama, peta wilayah, dan daftar tanda tangan warga yang pernah setuju menjual bukit. Ada juga foto foto bukit sebelum terbakar, lengkap dengan stempel kantor kecamatan yang sudah pudar. Beberapa nama yang tercantum membuat warga menunduk, karena mereka adalah orang orang yang paling keras memuji Mbah Rasmadi hari ini. Hening yang turun terasa lebih berat daripada suara kebakaran di masa lalu.

Kepala desa mencoba bicara, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Ia tidak tahu apakah harus membantah atau mengaku, karena bukti itu terlalu jelas untuk disangkal. Wartawan kembali menyalakan kamera, bukan untuk memuji, melainkan untuk menangkap retak yang baru muncul. Warga mulai saling menatap dengan wajah merah, seolah semua tawa lama berubah menjadi batu yang menimpa dada. Di tengah kekacauan itu, Mbah Rasmadi turun dari panggung dengan langkah pelan.

Ia mendekati Bu Sarlina, lalu mengambil map itu dengan tangan yang penuh bekas luka. Mbah Rasmadi menutupnya kembali, seolah menutup luka yang sudah terbuka terlalu lebar. Ia tidak marah, tidak juga mengucapkan kata kasar, hanya menatap warga satu per satu dengan mata yang tenang. Ketika seseorang bertanya dengan suara gemetar mengapa ia tidak pernah bicara soal tambang, Mbah Rasmadi menghela napas panjang seperti orang yang menahan beban puluhan tahun.

“Aku tidak menanam beringin hanya untuk air,” katanya akhirnya.

Semua orang terdiam, bahkan burung burung di atas hutan seolah ikut menahan suara. Mbah Rasmadi menatap batang batang beringin yang besar, lalu menatap tanah yang kini lembab oleh mata air. Ia mengangkat tangannya, menyentuh kulit pohon yang kasar, seolah menyentuh tubuh seseorang yang ia cintai. Kemudian ia berkata dengan suara yang lebih rendah, namun lebih tajam dari pisau.

“Aku menanam akar, supaya bukit ini tidak mudah dicabut,” ucapnya. “Kalau tambang itu kembali, mereka harus berhadapan dengan hutan, bukan dengan warga yang mudah dibeli.”

Kata kata itu jatuh seperti petir tanpa suara. Warga mendadak sadar bahwa hutan ini bukan hanya penghijauan, melainkan benteng yang dibangun dari kesabaran. Mata air yang mereka nikmati ternyata hanya hadiah sampingan dari perang sunyi yang tidak pernah mereka ketahui. Mereka menatap pepohonan itu dengan perasaan campur aduk, antara kagum dan malu, antara syukur dan takut. Dan pada saat itu, mereka mengerti bahwa Mbah Rasmadi tidak sedang membungkam ejekan, melainkan membungkam keserakahan yang pernah hidup di diri mereka sendiri.

Mbah Rasmadi lalu berjalan pelan menuju lereng, meninggalkan panggung, meninggalkan kamera, meninggalkan tepuk tangan yang kini terasa hambar. Di belakangnya, daun beringin gugur satu per satu, jatuh di atas map lusuh yang berisi tanda tangan masa lalu. Air terus mengalir dari sela batu, dingin dan jernih, seperti doa yang tidak pernah meminta balasan. Warga berdiri kaku, menyadari bahwa hutan ini bukan sekadar cerita tentang seorang kakek, melainkan tentang dosa satu desa yang akhirnya dikalahkan oleh akar.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *