Sebelum Indonesia Raya Menjadi Suara Kemerdekaan

banner 120x600

BuserNasional.my.id – Tujuh tahun sebelum Proklamasi, seorang komponis muda mengembuskan napas terakhir di Surabaya. Tubuhnya kalah oleh penyakit dan tekanan kolonial, tetapi gagasannya justru melampaui kematian. Melalui biola dan lagu, Wage Rudolf Supratman telah ikut menanamkan kesadaran bahwa Indonesia bukan sekadar nama wilayah jajahan, melainkan cita-cita sebuah bangsa yang kelak berdiri sebagai negara merdeka.

Pertengahan Agustus 1938. Di Jalan Mangga, Tambaksari, Surabaya, seorang lelaki berusia 35 tahun menjalani hari-hari terakhirnya. Tubuhnya telah lama melemah. Di rumah sederhana itu, perjalanan hidup Wage Rudolf Supratman perlahan mendekati ujung. Namun ada sesuatu yang tetap hidup di luar tubuhnya: sebuah lagu yang telah lebih dahulu berjalan menuju masa depan Indonesia.

ANTARA Jawa Timur dalam laporan 11 November 2018 mencatat bahwa rumah di Jalan Mangga menjadi tempat tinggal Supratman sebelum ia meninggal pada 17 Agustus 1938. Rumah tersebut kemudian menjadi museum dan menyimpan sejumlah benda peninggalannya, termasuk biola dan pakaian yang pernah dikenakannya ketika mengikuti Kongres Pemuda 28 Oktober 1928.

Biola itu penting bukan hanya sebagai benda sejarah. Ia merupakan simbol perjalanan sebuah gagasan. Dengan instrumen sederhana itulah Supratman memperdengarkan Indonesia Raya dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, ketika Indonesia belum menjadi negara dan pemerintah kolonial masih berkuasa.

Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud dalam tulisan yang diterbitkan 28 Oktober 2017 mencatat bahwa Indonesia Raya dimainkan Supratman untuk pertama kalinya dalam Kongres Pemuda II di Gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106, Batavia. Karena situasi politik dan kekhawatiran terhadap represi kolonial, lagu itu dimainkan tanpa lirik.

Di situlah letak salah satu keistimewaan Indonesia Raya. Ia lahir sebelum republik lahir. Lagu itu tidak menunggu negara mempunyai konstitusi, pemerintahan, bendera resmi, dan perangkat kekuasaan. Ia lebih dahulu hadir sebagai suara dari sebuah bangsa yang sedang mencari bentuk dirinya.

Supratman bukan seorang penguasa. Ia bukan pejabat kolonial yang mempunyai kekuatan administratif. Ia seorang wartawan dan pencipta lagu yang bekerja dengan perangkat yang jauh lebih sederhana: tulisan, musik, dan keberanian.

Justru karena itu, kisahnya memperlihatkan bahwa perjuangan kebangsaan tidak hanya berlangsung di medan politik. Ada perjuangan melalui kebudayaan. Ada perlawanan melalui bahasa. Ada pembentukan kesadaran melalui musik.

Sebuah bangsa harus lebih dahulu dapat membayangkan dirinya sebagai satu kesatuan sebelum mampu membangun negara yang menyatukan wilayah dan penduduknya.

Indonesia Raya ikut mengerjakan pekerjaan itu.

BERITA TERKAIT  Satria Dananjaya: HUT RI ke-81 Momentum Bank Jatim Semakin Kuat, Tumbuh, dan Dipercaya Masyarakat

Lagu tersebut kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar daripada karya seorang komponis. Ia menjadi bagian dari ingatan kolektif pergerakan. Direktorat Jenderal Kebudayaan melalui artikel “Lagu Indonesia Raya dalam Lintasan Sejarah Penciptaannya” menjelaskan bahwa penyebaran rekaman lagu tersebut juga membuat pemerintah kolonial bereaksi. Piringan hitam versi keroncong bahkan disita setelah Indonesia Raya mulai dikenal luas.

Reaksi penguasa kolonial itu memperlihatkan sebuah hal sederhana: lagu dapat menjadi persoalan politik ketika ia berhasil menyatukan perasaan banyak orang.

Penguasa dapat mengawasi rapat. Mereka dapat membatasi organisasi. Mereka dapat mengontrol ruang publik. Tetapi gagasan yang sudah masuk ke dalam ingatan manusia jauh lebih sulit dikendalikan.

Nada dapat diingat.

Lirik dapat dihafalkan.

Dan gagasan persatuan dapat diwariskan.

Itulah sebabnya Indonesia Raya tidak berhenti sebagai komposisi musik. Ia berkembang menjadi simbol. Direktorat Jenderal Kebudayaan dalam tulisan yang diterbitkan 15 Agustus 2017 menjelaskan bahwa lagu tersebut pada awalnya memiliki tiga stanza dengan kandungan gagasan mengenai tanah air, rakyat, keselamatan, kemajuan negeri, dan Indonesia Raya.

Namun perjalanan penciptanya tidak berlangsung mudah.

Pada awal Agustus 1938, Supratman kembali berhadapan dengan aparat kolonial. ANTARA Jawa Timur dalam laporan “Akhir hayat pencipta Indonesia Raya” yang diterbitkan 16 Agustus 2020 mencatat bahwa ia meninggal pada 17 Agustus 1938 di Surabaya, dalam usia 35 tahun, dan tidak sempat menyaksikan Indonesia merdeka.

Museum Sumpah Pemuda juga mencatat bahwa pada 7 Agustus 1938 Supratman ditangkap berkaitan dengan lagu Matahari Terbit. Penahanan tersebut terjadi ketika kondisi kesehatannya sudah memburuk. Beberapa hari kemudian ia kembali ke lingkungan keluarganya di Jalan Mangga.

Di sini sejarah sebaiknya tidak ditambahi dialog yang tidak dapat diverifikasi. Kita tidak memiliki rekaman autentik mengenai percakapan terakhir Supratman dengan keluarganya. Karena itu, kisah hari-hari terakhirnya lebih baik disampaikan melalui fakta yang tersedia daripada melalui kalimat dramatis yang belum terbukti.

Faktanya sudah cukup kuat.

Seorang pencipta lagu berusia 35 tahun meninggal pada 17 Agustus 1938. Ia meninggalkan sebuah karya yang belum sempat dinikmatinya sebagai lagu kebangsaan negara merdeka.

Biolanya berhenti berbicara.

Tetapi lagunya tidak.

Tujuh tahun kemudian, tanggal yang sama memperoleh makna yang berbeda.

17 Agustus 1945.

Di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sekretariat Negara dalam tulisan “Membuka Catatan Sejarah: Detik-Detik Proklamasi, 17 Agustus 1945” yang diterbitkan 17 Agustus 2019 mencatat bahwa setelah Proklamasi dibacakan, acara dilanjutkan dengan pengibaran Merah Putih. Ketika bendera dinaikkan, para hadirin secara spontan menyanyikan Indonesia Raya.

BERITA TERKAIT  CV Dwi Jaya Malang Sampaikan Ucapan Selamat HUT ke-60 PT Berdikari (Persero)

Adegan itu memiliki bobot sejarah yang luar biasa.

Tujuh tahun sebelumnya, Supratman meninggal di sebuah rumah sederhana di Surabaya. Tujuh tahun kemudian, lagu ciptaannya dinyanyikan di hadapan bangsa yang baru saja menyatakan kemerdekaannya.

Sekretariat Negara juga mencatat bahwa bendera yang dikibarkan di Pegangsaan Timur 56 adalah bendera yang dijahit Fatmawati dan dinaikkan oleh Latief Hendraningrat bersama S. Suhud. Indonesia Raya mengiringi pengibaran itu secara spontan.

Pada saat itulah lagu yang dahulu dimainkan dalam suasana kolonial memperoleh ruang yang sama sekali berbeda.

Ia tidak lagi terdengar sebagai lagu yang lahir di bawah bayang-bayang kekuasaan asing.

Ia terdengar sebagai suara sebuah bangsa yang sedang menyatakan dirinya merdeka.

Inilah bagian paling menarik dari perjalanan Indonesia Raya: penciptanya tidak sempat melihat perubahan status lagu tersebut. Ia tidak hadir ketika Proklamasi dibacakan. Ia tidak berdiri di Pegangsaan Timur. Ia tidak menyaksikan Merah Putih naik ke tiang. Ia tidak mendengar rakyat menyanyikan karyanya sebagai bagian dari lahirnya republik.

Namun karya itu hadir.

Dan sejarah sering kali bekerja dengan cara seperti itu. Tidak semua orang yang menanam sempat menyaksikan panen. Tidak semua orang yang memulai perjalanan memperoleh kesempatan mencapai tujuan.

Ada manusia yang hidupnya berhenti sebelum cita-cita selesai diwujudkan, tetapi gagasannya justru menjadi bagian dari pencapaian generasi berikutnya.

Supratman adalah salah satunya.

Karena itu, mengenang Supratman tidak cukup hanya dengan menyebutnya sebagai pencipta Indonesia Raya. Sebutan itu benar, tetapi terlalu kecil untuk menjelaskan arti sejarahnya.

Ia membantu menunjukkan bahwa kemerdekaan mempunyai dimensi kebudayaan.

Sebelum Indonesia mempunyai negara, ia membutuhkan kesadaran sebagai bangsa. Sebelum mempunyai pemerintahan, ia membutuhkan rasa memiliki terhadap tanah air. Sebelum memiliki simbol-simbol kenegaraan, ia membutuhkan imajinasi tentang persatuan.

Indonesia Raya tumbuh di dalam proses tersebut.

Kekuatan sebuah lagu kebangsaan bukan hanya terletak pada melodinya. Kekuatan sesungguhnya berada pada kemampuan lagu itu menghubungkan manusia dengan pengalaman bersama. Ketika dinyanyikan, seseorang tidak hanya menyanyikan kata-kata. Ia sedang menempatkan dirinya di dalam sebuah cerita yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Itulah sebabnya Indonesia Raya tetap relevan.

Setiap kali lagu itu berkumandang, kita sesungguhnya sedang berhadapan dengan warisan sebuah generasi yang pernah hidup ketika kemerdekaan belum menjadi kenyataan. Mereka bekerja dengan ketidakpastian. Mereka menghadapi risiko. Mereka belum mengetahui kapan perjuangan akan berhasil.

BERITA TERKAIT  CV Dwi Jaya Malang Sampaikan Ucapan Selamat HUT ke-60 PT Berdikari (Persero)

Namun mereka tetap menanam.

Di sinilah kisah Supratman menjadi relevan bagi Indonesia hari ini. Bukan karena kita harus mengulang masa lalu, melainkan karena sebuah bangsa selalu membutuhkan orang-orang yang bersedia bekerja untuk sesuatu yang hasilnya mungkin baru terlihat jauh setelah pekerjaan itu selesai.

Kebangsaan tidak berhenti ketika Proklamasi dibacakan.

Kemerdekaan politik bukan garis akhir dari perjalanan sebuah bangsa. Ia justru membuka pekerjaan yang lebih panjang: membangun keadilan, menjaga persatuan, memperluas pendidikan, memajukan kebudayaan, dan memastikan bahwa kemerdekaan mempunyai arti nyata dalam kehidupan rakyat.

Karena itu, Indonesia Raya tidak semestinya hanya menjadi lagu yang dinyanyikan ketika upacara dimulai.

Ia seharusnya menjadi pertanyaan setelah upacara selesai.

Apakah Indonesia yang kita jalani hari ini masih memiliki keberanian untuk memelihara cita-cita yang dahulu diperjuangkan dengan begitu mahal?

Pertanyaan itu membawa kita kembali kepada sebuah rumah sederhana di Jalan Mangga.

Di sana, pada 17 Agustus 1938, seorang lelaki muda meninggal sebelum menyaksikan republik yang ia bayangkan.

Tujuh tahun kemudian, pada tanggal yang sama, bangsa yang dicintainya berdiri sebagai negara merdeka.

Di antara dua tanggal itu terdapat jarak tujuh tahun. Tetapi di antara keduanya terdapat perjalanan panjang sebuah cita-cita.

Supratman tidak sempat mendengar Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan negara merdeka.

Namun setiap kali Indonesia Raya berkumandang, sejarah seperti mengembalikan suaranya.

Bukan suara seorang lelaki yang meminta dikenang.

Melainkan suara sebuah generasi yang mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak lahir dari ruang kosong.

Ada gagasan yang ditanam.

Ada keberanian yang dipertaruhkan.

Ada karya yang ditinggalkan.

Dan ada orang-orang yang memilih percaya kepada masa depan, bahkan ketika mereka sendiri tidak akan sempat melihatnya.

Biola Supratman akhirnya menjadi benda sejarah.

Tetapi Indonesia Raya tetap menjadi suara.

Dan mungkin, di situlah pengabdian menemukan bentuknya yang paling sunyi sekaligus paling panjang: ketika seseorang telah tiada, tetapi gagasannya masih membuat sebuah bangsa berdiri tegak.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *