Di antara keindahan syariat Islam adalah kesederhanaannya. Banyak ibadah yang telah dijelaskan secara rinci oleh Rasulullah ﷺ, namun pelaksanaannya tetap berada dalam bingkai kemudahan dan jauh dari sikap berlebih-lebihan. Demikian pula dalam masalah sutrah ketika shalat. Seorang muslim dituntunkan untuk menjaga kekhusyukan dan adab shalatnya dengan menggunakan sutrah, namun tanpa memberatkan diri dengan sesuatu yang tidak pernah dicontohkan oleh generasi terbaik umat ini.
Shalat adalah ibadah yang menjadi tiang agama dan sarana terbesar seorang hamba untuk bermunajat kepada Rabb-nya. Oleh karena itu, syariat memberikan berbagai tuntunan agar kekhusyukan dalam shalat dapat terjaga. Salah satunya adalah anjuran menggunakan sutrah, yaitu sesuatu yang berada di depan orang yang sedang shalat sebagai pembatas antara dirinya dengan orang yang melintas.
Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan perkara ini. Dalam sebuah hadis disebutkan:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا
Artinya:
“Apabila salah seorang di antara kalian shalat, maka hendaklah ia shalat menghadap sutrah dan mendekat kepadanya.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menunjukkan bahwa penggunaan sutrah termasuk sunnah yang memiliki tujuan mulia, yaitu menjaga kekhusyukan shalat dan mencegah orang lewat di depan orang yang sedang shalat. Akan tetapi, ketika memahami sunnah, seorang muslim harus memperhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ dan para sahabat mempraktikkannya.
Para sahabat رضي الله عنهم adalah generasi yang paling memahami agama. Mereka menyaksikan langsung bimbingan Nabi ﷺ dan menjadi teladan dalam mengamalkan syariat. Karena itu, cara mereka beribadah merupakan petunjuk penting bagi umat setelahnya.
Dalam penjelasan para ulama disebutkan bahwa para sahabat dahulu berlomba-lomba mencari tiang-tiang masjid untuk dijadikan sutrah ketika melaksanakan shalat sunnah. Mereka memanfaatkan apa yang telah tersedia di dalam masjid, seperti tiang dan dinding. Mereka tidak mencari-cari cara baru yang lebih rumit, padahal mereka adalah orang-orang yang paling semangat dalam mengikuti sunnah.
Pernyataan yang dinukil dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah menjelaskan bahwa tidak diketahui adanya riwayat dari para sahabat yang sengaja memasang papan-papan kayu di hadapan mereka sebagai sutrah ketika berada di dalam masjid. Mereka cukup menghadap ke dinding atau tiang masjid yang sudah ada.
Pelajaran penting dari penjelasan ini adalah bahwa tidak semua perkara yang dianggap baik harus dilakukan jika tidak memiliki landasan dari praktik generasi salaf. Islam mengajarkan keseimbangan antara semangat beribadah dan sikap ittiba’, yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ serta para sahabatnya.
Allah Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya:
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat ini mengingatkan bahwa ukuran kebaikan bukan semata-mata berdasarkan logika atau perasaan manusia, tetapi berdasarkan kesesuaian dengan petunjuk Rasulullah ﷺ. Jika suatu amalan dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana sesuai sunnah, maka itulah yang lebih utama.
Sering kali seseorang memiliki niat yang baik, tetapi karena kurang memahami tuntunan syariat, ia justru membebani dirinya dengan berbagai hal yang tidak diperlukan. Dalam masalah sutrah misalnya, ada yang merasa harus selalu membawa papan khusus, meja kecil, atau benda tertentu ke dalam masjid, padahal di hadapannya sudah tersedia dinding, tiang, rak, atau benda lain yang dapat berfungsi sebagai sutrah.
Islam tidak menyukai sikap ghuluw atau berlebih-lebihan dalam agama. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ
Artinya:
“Jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)
Karena itu, ketika seseorang masuk masjid dan hendak melaksanakan shalat sunnah, cukup baginya mencari tempat yang di depannya terdapat tiang, dinding, lemari, rak mushaf, atau benda lain yang dapat berfungsi sebagai sutrah. Ia tidak perlu menyibukkan diri dengan membawa papan khusus yang justru dapat mengganggu dirinya maupun jamaah lain.
Perlu dipahami pula bahwa tujuan utama sutrah adalah menjaga ketertiban dan kekhusyukan shalat, bukan menjadikan bentuk atau jenis sutrah sebagai tujuan tersendiri. Selama maksud syariat telah tercapai dengan cara yang sederhana dan sesuai sunnah, maka itulah yang lebih dekat kepada petunjuk Nabi ﷺ.
Dalam hadis yang sangat terkenal, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ
Artinya:
“Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama melainkan ia akan dikalahkan olehnya.” (HR. Al-Bukhari)
Hadis ini selaras dengan nasihat para ulama dalam fatwa tersebut. Syariat dibangun di atas kemudahan, bukan kesulitan. Semakin seseorang berusaha memaksakan perkara-perkara yang tidak dituntunkan, semakin besar kemungkinan ia merasa berat dalam menjalankan agama.
Maka, hukum memposisikan papan atau meja sebagai bahan sutrah pada asalnya boleh apabila memang dibutuhkan dan tidak ada benda lain yang dapat dijadikan sutrah. Namun menjadikannya sebagai kebiasaan tetap di masjid, seolah-olah itu bagian yang harus selalu ada dalam shalat, bukanlah praktik yang dikenal dari para sahabat رضي الله عنهم. Yang lebih sesuai dengan petunjuk mereka adalah memanfaatkan dinding, tiang, atau benda yang telah tersedia tanpa takalluf dan tanpa memberatkan diri.
Seorang muslim hendaknya selalu berusaha meneladani generasi terbaik umat ini. Semangat ibadah harus berjalan bersama ilmu. Kecintaan kepada sunnah harus dibarengi dengan pemahaman yang benar terhadap praktik Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Dengan demikian, ibadah yang dilakukan tidak hanya penuh semangat, tetapi juga benar di sisi Allah Ta’ala.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa mengikuti sunnah Nabi ﷺ dengan ilmu, hikmah, dan keseimbangan. Semoga Dia menjaga hati kita dari sikap berlebih-lebihan serta memberikan taufik untuk mengamalkan agama yang mulia ini dengan penuh ketundukan, kemudahan, dan keikhlasan. Aamiin.














