Meneladani Kebenaran Bukan Figur

banner 120x600

BuserNasional.my.id — Di tengah kehidupan yang penuh dengan berbagai ujian, godaan, dan perubahan zaman, seorang muslim harus memiliki pijakan yang kokoh dalam beragama. Pijakan itu bukanlah ketokohan seseorang, bukan pula popularitas seorang dai, ulama, pemimpin, atau tokoh yang dikagumi, melainkan wahyu Allah dan tuntunan Rasulullah ﷺ. Siapapun yang masih hidup tidak memiliki jaminan aman dari fitnah, kesalahan, dan penyimpangan. Karena itu, seorang mukmin wajib mencintai orang-orang saleh, menghormati para ulama, mengambil manfaat dari ilmu mereka, namun tetap mengikat dirinya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber kebenaran yang tidak pernah berubah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah memberikan nasihat yang sangat berharga agar kaum muslimin tidak menjadikan kebenaran terikat kepada figur tertentu. Nasihat ini lahir dari pemahaman mendalam terhadap hakikat manusia. Betapapun tinggi ilmunya seseorang, betapapun besar jasanya dalam dakwah, tetap saja ia adalah manusia yang tidak luput dari kemungkinan salah. Oleh sebab itu, ukuran benar dan salah bukanlah siapa yang mengatakannya, tetapi apakah perkataan dan perbuatannya sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Pemahaman ini telah diajarkan oleh para sahabat Rasulullah ﷺ. Di antara ucapan yang sangat masyhur adalah perkataan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

مَنْ كَانَ مُسْتَنًّا فَلْيَسْتَنَّ بِمَنْ مَاتَ، فَإِنَّ الْحَيَّ لَا تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ

“Barangsiapa yang ingin mencari teladan, maka hendaklah ia meneladani orang yang telah meninggal, karena orang yang masih hidup tidak ada jaminan aman dari fitnah.”

Ucapan ini bukan berarti kita tidak boleh mengambil ilmu dari orang yang masih hidup. Maksudnya adalah jangan menggantungkan seluruh keyakinan kepada individu tertentu sehingga ketika orang tersebut berubah, tergelincir, atau melakukan kesalahan, kita ikut terseret dalam kesalahannya. Kebenaran harus tetap berdiri tegak meskipun manusia datang dan pergi.

BERITA TERKAIT  Menghargai Keahlian Dan Menjaga Kerendahan Hati

Salah satu sebab penting mengapa kebenaran tidak boleh diikat kepada figur adalah karena setiap manusia berpotensi tergelincir. Tidak ada seorang pun yang memiliki jaminan mutlak akan selamat dari fitnah selama ia masih hidup. Hati manusia berada di antara jari-jari Allah Yang Maha Pengasih. Allah membolak-balikkan hati sesuai kehendak-Nya. Karena itu, Rasulullah ﷺ yang merupakan manusia paling mulia pun sering berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

(HR. At-Tirmidzi)

Jika Rasulullah ﷺ yang telah dijamin kemuliaannya saja memohon keteguhan hati kepada Allah, maka bagaimana dengan manusia biasa yang penuh kekurangan dan kelemahan? Oleh sebab itu, tidak pantas seseorang merasa aman dari penyimpangan dan tidak pantas pula pengikutnya menganggap dirinya mustahil salah.

Alasan kedua adalah karena setiap manusia pasti akan meninggal dunia. Tidak ada seorang pun yang akan hidup selamanya. Tokoh yang hari ini dihormati, ulama yang hari ini menjadi rujukan, dan pemimpin yang hari ini diikuti, semuanya akan kembali kepada Allah. Yang tetap hidup hanyalah ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

“Dan Kami tidak menjadikan kekal seorang manusia pun sebelum engkau (Muhammad). Maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?”

BERITA TERKAIT  Makanan Sehat Menguatkan Ekologi Kehidupan Bersama

(QS. Al-Anbiya’ : 34)

Ayat ini mengingatkan bahwa kematian adalah ketetapan yang pasti bagi seluruh manusia. Bahkan Rasulullah ﷺ pun wafat. Maka sungguh keliru apabila agama seseorang dibangun di atas kecintaan berlebihan kepada individu tertentu. Ketika figur itu meninggal, sebagian orang kehilangan arah, bingung, bahkan meninggalkan jalan kebenaran karena selama ini yang mereka ikuti adalah sosoknya, bukan dalilnya.

Alasan ketiga adalah bahwa manusia dapat tertipu oleh pujian dan penghormatan yang berlebihan. Ketika seseorang terus-menerus dipuji, dimuliakan, dan dianggap selalu benar, bisa jadi setan menyusupkan penyakit ujub dan kesombongan ke dalam hatinya. Ia mulai merasa dirinya istimewa, merasa pendapatnya tidak mungkin salah, dan menganggap setiap langkahnya pasti benar. Inilah awal kebinasaan yang sering tidak disadari.

Karena itulah Rasulullah ﷺ sangat berhati-hati terhadap pujian yang berlebihan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ketika seseorang memuji orang lain di hadapan beliau, Rasulullah ﷺ bersabda:

وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ

“Kasihan dirimu, engkau telah memenggal leher saudaramu.”

Dalam riwayat lain beliau bersabda:

قَطَعْتَ ظَهْرَ صَاحِبِكَ

“Engkau telah mematahkan punggung saudaramu.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Makna hadis ini bukan larangan memuji secara mutlak, tetapi peringatan agar tidak berlebihan dalam memuji seseorang sehingga menimbulkan kesombongan, ujub, dan perasaan dirinya lebih mulia dibandingkan orang lain.

Sejarah Islam memberikan banyak pelajaran tentang pentingnya mengikat diri kepada dalil, bukan kepada manusia. Para imam besar seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad rahimahumullah tidak pernah meminta umat untuk mengikuti mereka secara membabi buta. Justru mereka mengajarkan agar setiap pendapat ditimbang dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka sadar bahwa mereka hanyalah manusia yang mungkin benar dan mungkin pula salah.

BERITA TERKAIT  Doa Sapu Jagat Penuntun Hidup

Sikap seorang mukmin yang benar adalah mencintai ulama karena ilmu dan ketakwaannya, mendoakan mereka, menghormati jasa-jasa mereka, namun tidak mengkultuskan mereka. Ketika seorang ulama benar, ia diikuti karena dalilnya. Ketika ia keliru, kesalahannya tidak diikuti. Dengan demikian, penghormatan kepada manusia tetap berada dalam batas syariat dan tidak berubah menjadi fanatisme yang membutakan hati.

Pada akhirnya, keselamatan seorang hamba terletak pada kesungguhannya mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Figur akan berganti, generasi akan berlalu, dan zaman akan terus berubah. Namun Al-Qur’an dan Sunnah akan tetap menjadi cahaya yang menerangi jalan kehidupan hingga hari kiamat. Maka janganlah menjadikan agama bergantung kepada manusia yang bisa berubah, tergelincir, dan wafat. Jadikanlah kebenaran sebagai tujuan, dalil sebagai pegangan, dan keridhaan Allah sebagai orientasi hidup. Dengan demikian, ketika fitnah datang silih berganti, hati akan tetap teguh, langkah akan tetap lurus, dan iman akan tetap terjaga sampai menghadap Allah Ta’ala dalam keadaan husnul khatimah.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *