Cerpen  

Cerpen: Poster Lusuh Yang Menjaga Mata Air Harapan

banner 120x600

Aku pertama kali bertemu Salim pada suatu sore yang muram, ketika hujan baru saja berhenti membasahi sebuah desa di pinggir rawa. Lelaki tua itu duduk di beranda rumah kayunya sambil memandang sebuah kolam terpal yang airnya tenang tanpa riak. Di dinding belakangnya tergantung selembar poster kusam tentang bantuan budidaya ikan air tawar yang warnanya hampir hilang. Ketika aku bertanya mengapa ia menyimpan benda itu, ia hanya tersenyum dan berkata bahwa hidupnya pernah diselamatkan oleh sesuatu yang mungkin tidak pernah ada.

Ia memintaku duduk dan menyuguhkan teh hangat yang aromanya bercampur dengan bau tanah basah. Matanya yang mulai redup memandang jauh ke arah kolam, seolah sedang mencari bayangan seseorang yang telah lama pergi. Setelah beberapa saat terdiam, ia berkata bahwa semua orang di desa mengenal kisah keberhasilannya, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui cerita yang sebenarnya. Menurutnya, setiap keberhasilan selalu memiliki rahasia yang tidak sanggup ditanggung oleh banyak telinga.

Bertahun tahun silam, Salim hanyalah buruh tani yang hidup dari upah harian. Sawah tempat ia bekerja sering gagal panen karena kemarau panjang dan hujan yang datang tidak menentu. Dua anaknya mulai besar, sedangkan biaya sekolah dan kebutuhan rumah tangga terus bertambah. Hampir setiap malam ia mendengar istrinya menangis pelan karena tidak tahu bagaimana mereka akan menjalani hari esok.

Di sudut rumahnya ada sebuah halaman sempit yang dipenuhi rumput liar. Ayahnya pernah berkata bahwa tanah itu terlalu keras untuk ditanami apa pun. Setiap kali memandang halaman itu, Salim merasa sedang melihat nasib keluarganya sendiri, tandus dan sepi. Ia tidak pernah membayangkan bahwa tempat yang dianggap tidak berguna itu kelak akan menjadi pusat kehidupan seluruh desanya.

Suatu sore ia singgah di warung kopi setelah bekerja. Seorang pemuda yang belum pernah ia kenal duduk di sampingnya sambil memegang telepon genggam. Pemuda itu menunjukkan gambar sebuah poster yang menawarkan bantuan budidaya ikan air tawar berupa bibit ikan, pakan, dan kolam terpal untuk masyarakat kecil. Sebelum pergi, pemuda itu berkata bahwa kadang kadang harapan datang hanya untuk menguji apakah manusia masih mau berpikir.

Salim tidak langsung percaya. Ia pernah beberapa kali tertipu oleh janji yang terdengar indah. Dulu ia pernah membeli pupuk dengan cara berutang karena percaya pada seorang pedagang yang mengaku memiliki barang terbaik. Akibatnya, sawah tempat ia bekerja justru rusak dan ia membutuhkan waktu bertahun tahun untuk melunasi utang itu.

Malam itu ia memperlihatkan poster tersebut kepada istrinya. Perempuan itu membaca setiap kalimat dengan perlahan, lalu menyimpannya di bawah lampu minyak yang redup. Mereka tidak berbicara lama karena sama sama takut berharap terlalu tinggi. Akan tetapi, sebelum tidur istrinya berbisik bahwa lebih baik kecewa setelah berusaha daripada menyesal karena tidak pernah mencoba.

BERITA TERKAIT  Cerpen:Sol Sepatu Pada Hari Terakhirnya

Keesokan harinya Salim pergi ke kantor desa untuk mencari penjelasan. Beberapa warga ternyata memiliki rasa ingin tahu yang sama. Perangkat desa mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh menyerahkan uang kepada siapa pun yang mengatasnamakan bantuan. Penjelasan itu membuat sebagian orang tenang, tetapi sebagian lain merasa kesempatan emas sedang dipersulit.

Tidak lama kemudian muncul beberapa orang yang mengaku sebagai perantara. Mereka menawarkan proses cepat dengan syarat membayar biaya administrasi. Kata kata mereka terdengar meyakinkan dan penuh janji kesejahteraan. Banyak warga mulai mengumpulkan tabungan untuk mengikuti tawaran itu.

Salim hampir ikut menyerahkan uang. Ia bahkan sudah menggenggam hasil penjualan kambing satu satunya yang tersisa. Namun ketika hendak berangkat, anak bungsunya bertanya apakah ikan bisa hidup jika airnya keruh. Pertanyaan sederhana itu membuat Salim terdiam, sebab ia merasa pikirannya sendiri sedang keruh oleh rasa takut kehilangan kesempatan.

Ia membatalkan niatnya dan memilih pergi ke kantor penyuluh perikanan di kecamatan. Perjalanan itu sangat melelahkan karena ia harus berjalan kaki melewati jalan berlumpur. Sesampainya di sana, seorang penyuluh tua menyambutnya dengan ramah dan menjelaskan bahwa bantuan apa pun harus melalui jalur resmi. Lelaki tua itu juga berkata bahwa ilmu sering kali lebih mahal daripada bantuan.

Salim pulang membawa banyak catatan kecil. Ia belajar tentang cara memilih bibit ikan yang sehat, menjaga kualitas air, dan mengelola kolam sederhana. Pengetahuan itu membuatnya sadar bahwa keberhasilan tidak pernah jatuh dari langit. Ia mulai percaya bahwa harapan harus dibangun dengan kerja dan kesabaran.

Sementara itu, banyak warga memilih jalan yang berbeda. Mereka menyerahkan uang kepada para perantara yang menjanjikan bantuan cepat. Beberapa bahkan menjual ternak dan meminjam uang dari kerabat. Mereka percaya bahwa hidup akan berubah dalam waktu singkat.

Sebulan kemudian para perantara itu menghilang. Nomor telepon mereka tidak lagi aktif dan tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan mereka. Desa yang biasanya ramai mendadak dipenuhi wajah muram. Orang orang saling menyalahkan, sementara tabungan yang dikumpulkan bertahun tahun lenyap begitu saja.

Salim ikut merasakan luka itu. Ia melihat seorang tetangga tua duduk di depan rumah sambil memegang buku tabungan kosong. Lelaki itu tidak menangis, tetapi pandangannya membuat Salim merasa seperti melihat pohon tua yang patah diterpa badai. Malam itu ia tidak bisa tidur karena merasa seandainya ia tidak mencari kebenaran, mungkin nasibnya akan sama.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Langkah Sunyi Di Balik Kebaikan

Keesokan harinya ia mengumpulkan beberapa warga yang masih memiliki semangat. Mereka sepakat membuat kolam sederhana dengan bahan yang ada. Terpal bekas dijahit kembali, bambu dari kebun dipotong, dan ember tua dijadikan tempat penampungan air. Mereka bekerja bukan karena yakin akan berhasil, tetapi karena tidak ingin menyerah.

Penyuluh perikanan yang pernah ditemuinya datang membantu. Ia mengajarkan banyak hal tanpa meminta imbalan. Anak anak desa ikut membawa air dengan ember kecil, sedangkan para perempuan menyiapkan makanan untuk para pekerja. Di tengah kesulitan itu, gotong royong tumbuh seperti mata air yang lama tersembunyi.

Hari demi hari kolam itu mulai dipenuhi kehidupan. Bibit ikan yang dibeli secara patungan tumbuh sehat dan lincah. Anak anak sering duduk di pinggir kolam sambil menghitung jumlah ikan yang muncul ke permukaan. Suara tawa mereka membuat desa yang semula muram perlahan menjadi hangat.

Ketika panen pertama tiba, hasilnya memang tidak besar. Akan tetapi, uang yang diperoleh cukup untuk membantu beberapa keluarga membeli kebutuhan pokok. Salim tidak menggunakan bagian hasilnya untuk dirinya sendiri. Ia memilih membeli bibit ikan tambahan agar usaha bersama itu terus berkembang.

Perubahan kecil itu akhirnya menarik perhatian banyak orang. Beberapa petugas datang untuk melihat usaha warga desa. Mereka kagum karena masyarakat mampu bangkit setelah mengalami penipuan yang menyakitkan. Dukungan pelatihan dan pendampingan mulai diberikan agar usaha tersebut semakin kuat.

Bertahun tahun berlalu dan kolam sederhana itu berubah menjadi sentra budidaya ikan air tawar. Banyak pemuda yang sebelumnya merantau memilih pulang untuk bekerja di desa sendiri. Anak anak yang dahulu bermain di pinggir kolam kini menjadi orang orang yang mengelola usaha tersebut. Nama Salim mulai dikenal sebagai tokoh yang berhasil mengubah keadaan.

Aku memandang wajah lelaki tua itu dan bertanya apa yang paling ia syukuri dari semua perjalanan tersebut. Ia tidak menjawab dengan kata kata. Tangannya hanya menunjuk poster lusuh yang masih tergantung di dinding. Matanya tampak berkaca kaca ketika ia berdiri dan menurunkan poster itu.

Ia menyerahkan poster tersebut kepadaku. Aku memperhatikan setiap bagiannya dan merasa ada sesuatu yang aneh. Tidak ada alamat, tidak ada nomor telepon, tidak ada lambang lembaga, dan tidak ada petunjuk apa pun yang biasanya terdapat pada sebuah pengumuman resmi. Seolah olah poster itu memang tidak pernah dibuat untuk mengajak orang mencari bantuan.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Menunggu Janji Dari Empat Generasi

Salim kemudian membalik poster itu. Pada bagian belakang terdapat tulisan tangan yang sudah memudar. Tulisan itu hanya terdiri atas satu kalimat pendek.

“Jika engkau datang mencari bantuan, pulanglah. Jika engkau datang mencari keberanian, lanjutkanlah langkahmu.”

Aku bertanya siapa yang menulis kalimat itu. Salim hanya menggeleng dan mengatakan bahwa ia tidak pernah tahu. Pemuda yang pertama kali menunjukkan poster itu tidak pernah lagi terlihat. Orang orang di warung kopi bahkan mengaku tidak pernah melihat lelaki asing datang ke tempat mereka.

Aku mengira kisah itu sudah selesai sampai keesokan paginya. Saat hendak meninggalkan desa, aku kembali ke rumah Salim untuk mengembalikan poster tersebut. Namun dinding tempat poster itu tergantung telah kosong. Salim memandangku dengan wajah heran dan bertanya poster apa yang sedang kubicarakan.

Aku menyebut tentang gambar bibit ikan, pakan, dan kolam terpal yang kusimpan semalaman. Lelaki tua itu justru terdiam lama, lalu mengajakku masuk ke dalam rumah. Dari sebuah peti kayu tua ia mengeluarkan buku harian istrinya yang telah meninggal dunia.

Pada halaman terakhir tertulis sebuah kalimat yang membuat tengkukku merinding.

“Suamiku tidak pernah membawa pulang poster apa pun. Sejak hari ia pulang dari kecamatan, ia hanya berkata bahwa seseorang telah mengajarinya satu hal, manusia yang menunggu pertolongan akan hidup dari belas kasihan, tetapi manusia yang menolong sesamanya akan menjadi pertolongan itu sendiri.”

Aku bergegas membuka tas untuk menunjukkan poster yang kubawa. Tanganku gemetar ketika mendapati isinya hanya selembar kertas putih tanpa gambar dan tanpa tulisan. Tidak ada bekas tinta, tidak ada lipatan warna, dan tidak ada apa pun selain permukaan kosong yang bersih.

Salim memandang kertas itu dengan tenang. Senyum tipis muncul di wajahnya, seolah ia sudah mengetahui apa yang sedang terjadi. Dengan suara pelan ia berkata bahwa selama ini seluruh desa percaya perubahan mereka dimulai oleh sebuah poster bantuan budidaya ikan.

Padahal, menurut pengakuannya, satu satunya bantuan yang benar benar datang adalah keberanian seorang lelaki miskin untuk tidak percaya pada jalan yang mudah.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *