Cerpen  

Cerpen: Menunggu Janji Dari Empat Generasi

banner 120x600

Malam itu angin dari arah sungai membawa aroma tanah yang masih lembap setelah seharian udara terasa sejuk. Di bawah lampu gardu ronda yang berkedip lemah, Eddi duduk sendirian dengan sebuah buku bekas di pangkuannya. Jemarinya yang kasar dan pecah pecah akibat mengangkut pasir sejak pagi membalik halaman demi halaman dengan hati hati. Dari kejauhan terdengar suara tonggeret bersahutan dengan derit sepeda tua yang melintas di jalan desa.

Tidak banyak orang yang percaya bahwa pemuda dua puluh tiga tahun itu memiliki cita cita besar. Sejak kecil, Eddi tumbuh di keluarga yang hidup pas pasan seperti kebanyakan warga desa. Ayahnya bekerja serabutan, sedangkan ibunya membantu tetangga membuat kerupuk untuk menambah penghasilan. Kemiskinan seolah menjadi cerita turun temurun yang diterima begitu saja oleh banyak orang di kampung itu.

Setelah matahari terbit, Eddi biasa berangkat ke sungai bersama beberapa lelaki lain. Mereka mengangkut pasir ke atas truk sambil bercanda untuk mengusir rasa lelah. Menjelang siang, keringat membasahi seluruh tubuhnya dan telapak tangannya terasa seperti terbakar. Namun setiap kali pekerjaan selesai, yang pertama ia pikirkan bukanlah tidur, melainkan buku apa yang akan dibaca malam nanti.

Ibunya sering memperhatikan kebiasaan itu dengan rasa cemas. Berkali kali perempuan itu menyuruh anaknya beristirahat karena tubuhnya sudah terlalu lelah. Ia takut Eddi jatuh sakit karena kurang tidur dan terlalu banyak memaksakan diri. Akan tetapi, setiap kali mendengar nasihat itu, Eddi hanya tersenyum dan mengatakan bahwa lelah bisa hilang, tetapi kesempatan untuk belajar belum tentu datang dua kali.

Ayahnya memiliki pandangan yang jauh berbeda. Baginya, kehidupan sudah digariskan dan manusia hanya perlu menjalaninya dengan pasrah. Suatu malam, ketika melihat Eddi masih membaca di bawah lampu minyak, lelaki tua itu menggeleng pelan. Dengan suara berat, ia berkata bahwa kakek mereka meninggal sebagai orang miskin, dirinya pun hidup miskin, dan tidak ada alasan untuk percaya bahwa nasib keluarga mereka akan berubah.

Kalimat itu menancap kuat di kepala Eddi. Ia tidak marah, tetapi ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya. Sejak malam itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyerah sebelum benar benar mencoba. Ia tidak ingin mewariskan keputusasaan yang sama kepada anak cucunya kelak.

Suatu sore yang teduh, pekerjaan di sungai dihentikan lebih cepat karena arus air sedang tinggi. Eddi kemudian beristirahat di warung kopi dekat terminal dan duduk di meja paling ujung. Di sana, ia mendengar percakapan beberapa mahasiswa yang sedang membahas pelatihan daring dan perpustakaan digital gratis. Tanpa mereka sadari, Eddi diam diam mencatat nama nama yang disebutkan dalam percakapan itu pada secarik kertas bekas bungkus rokok.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Langkah Sunyi Di Balik Kebaikan

Hari hari berikutnya menjadi semakin berat. Pagi ia bekerja di sungai, siang membantu pamannya di kebun singkong, dan malam digunakan untuk belajar. Lampu gardu yang redup sering menjadi saksi matanya yang memerah karena menahan kantuk. Akan tetapi, ia merasa lebih takut pada kebodohan dibandingkan rasa lelah yang datang setiap hari.

Tidak semua orang memahami apa yang sedang ia lakukan. Suatu malam, beberapa pemuda yang sedang bermain kartu tertawa ketika melihat Eddi membawa buku tebal. Wawan, teman masa kecilnya, bersiul sambil terkekeh dan bertanya apakah Eddi sedang bersiap menjadi menteri. Gelak tawa mereka memenuhi gardu ronda, tetapi Eddi hanya tersenyum dan kembali membuka halaman yang tadi sempat terlipat.

Ejekan itu semakin sering terdengar dari hari ke hari. Ada yang mengatakan bahwa orang miskin sebaiknya tahu diri dan tidak terlalu banyak bermimpi. Ada pula yang menuduh Eddi hanya mencari perhatian. Meski begitu, ia memilih diam dan membiarkan waktu yang menjawab semuanya.

Pada suatu malam yang dingin, seorang lelaki tua menghampirinya di gardu ronda. Rambut pria itu sudah memutih seluruhnya, tetapi sorot matanya terlihat tajam. Namanya Pak Harun, seorang pensiunan guru yang tinggal seorang diri di ujung desa. Ia mengaku telah beberapa kali memperhatikan kebiasaan Eddi membaca hingga larut malam.

Pak Harun kemudian mengundang Eddi ke rumahnya. Rumah sederhana itu dipenuhi rak kayu yang dipenuhi buku tua dengan aroma khas kertas yang mulai menguning. Di ruang tamunya tergantung sebuah foto hitam putih yang menunjukkan seorang pria muda berpakaian sangat rapi, tetapi Pak Harun tidak pernah menjelaskan siapa orang dalam foto itu. Eddi pun tidak pernah bertanya lebih jauh.

Sejak saat itu, hubungan mereka berubah menjadi seperti guru dan murid. Pak Harun tidak pernah memberikan uang ataupun janji kesuksesan. Sebaliknya, lelaki tua itu sering memberi tugas membaca dan meminta Eddi menjelaskan kembali isi buku yang telah dipelajarinya. Jika jawaban Eddi kurang tepat, Pak Harun akan memarahinya dengan suara keras hingga membuat pemuda itu tertunduk malu.

Meski demikian, Eddi tahu bahwa di balik ketegasan itu tersimpan kasih sayang yang tulus. Mereka sering berbincang hingga tengah malam sambil ditemani suara jangkrik dari halaman belakang. Dari Pak Harun, Eddi belajar bahwa manusia yang berhenti belajar sebenarnya sedang mempersiapkan dirinya untuk dikalahkan oleh keadaan. Kalimat itu terus tersimpan dalam ingatannya.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Botol Sambal dan Arti Sebuah Aman

Suatu hari, ibunya jatuh sakit dan harus dirawat selama beberapa minggu. Penghasilan keluarga semakin berkurang, sedangkan biaya pengobatan terus bertambah. Eddi mulai berpikir untuk berhenti belajar dan mencari pekerjaan tambahan di kota. Ia merasa semua yang selama ini diperjuangkan mungkin hanyalah mimpi yang terlalu tinggi.

Malam itu, ia datang ke rumah Pak Harun dengan wajah murung. Setelah mendengar cerita Eddi, lelaki tua itu justru marah besar. Dengan nada tinggi, ia mengatakan bahwa menyerah adalah pilihan yang paling mudah bagi siapa pun. Ia lalu mengusir Eddi pulang sambil berkata bahwa orang yang takut pada kesulitan tidak pantas membicarakan masa depan.

Ucapan itu membuat hati Eddi terluka. Selama beberapa hari, ia tidak lagi datang ke rumah Pak Harun. Namun pada malam kelima, lelaki tua itu justru datang ke rumahnya sambil membawa beberapa buku dan sekeranjang buah. Dengan mata berkaca kaca, Pak Harun meminta maaf karena terlalu keras dan mengaku takut melihat Eddi menyerah seperti seseorang yang pernah sangat ia cintai.

Untuk pertama kalinya, Eddi melihat lelaki tua itu menangis. Pak Harun bercerita bahwa ia pernah gagal membimbing anak kandungnya sendiri yang memilih meninggalkan rumah dan tidak pernah kembali. Penyesalan itulah yang selama bertahun tahun menghantuinya. Karena alasan itu pula, ia tidak ingin melihat Eddi kehilangan harapan.

Waktu berjalan perlahan dan musim terus berganti. Kehidupan Eddi memang belum berubah menjadi mewah, tetapi pemikirannya semakin matang. Anak anak muda desa mulai berkumpul di gardu ronda untuk membaca atau sekadar mendengarkan cerita dari Pak Harun. Tempat yang dahulu hanya digunakan bermain kartu kini berubah menjadi ruang belajar sederhana.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Pak Harun mulai jatuh sakit dan lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur. Tubuhnya semakin kurus dan napasnya terdengar berat. Meski demikian, ia masih sempat tersenyum ketika melihat Eddi datang membawa buku.

Suatu sore yang cerah, Pak Harun menggenggam tangan Eddi dengan erat. Dengan suara pelan, ia meminta pemuda itu untuk tidak berhenti belajar dan tidak berhenti mengajak orang lain membuka jalan pengetahuan. Setelah mengucapkan pesan itu, lelaki tua tersebut memejamkan mata dan tidak pernah bangun lagi.

Seluruh warga desa datang melayat. Banyak yang mengenang Pak Harun sebagai sosok sederhana yang senang membantu orang lain. Di tengah suasana duka itu, seorang pengacara dari kota datang dan menyerahkan sebuah kotak kayu kecil kepada Eddi. Ia mengatakan bahwa kotak tersebut adalah pesan terakhir yang ditinggalkan Pak Harun.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Menunggu Janji Dari Empat Generasi

Malam harinya, dengan tangan gemetar, Eddi membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat beberapa buku tua, sebuah amplop, dan sebuah buku harian yang sudah lusuh. Saat membaca halaman demi halaman, ia menemukan banyak catatan yang selama ini tidak pernah diketahui siapa pun. Nafasnya mulai memburu ketika sampai pada bagian terakhir.

Di sana tertulis bahwa Pak Harun sebenarnya berasal dari keluarga kaya di kota besar. Ia meninggalkan semua kenyamanan karena memilih menjalani hidup yang sederhana setelah berselisih dengan keluarganya. Namun yang membuat Eddi semakin terkejut adalah keberadaan sebuah surat yang ditujukan khusus untuk dirinya.

Dengan jantung berdebar, ia membuka amplop itu perlahan. Tulisan tangan Pak Harun terlihat mulai memudar, tetapi masih dapat dibaca dengan jelas. Setiap kalimat yang terbaca membuat mata Eddi semakin basah.

Pak Harun menulis bahwa ia sebenarnya telah mengenal keluarga Eddi sejak puluhan tahun silam. Lelaki tua itu adalah sahabat dekat mendiang kakek Eddi. Sebelum meninggal, kakeknya pernah menitipkan sebuah permintaan yang aneh kepadanya.

Permintaan itu bukan agar cucunya menjadi kaya atau memiliki jabatan tinggi. Kakek Eddi hanya meminta satu hal. Jika suatu hari ada keturunannya yang tetap memilih belajar meski hidup dalam kemiskinan, maka Pak Harun diminta mendampinginya sampai akhir hayat.

Air mata Eddi jatuh ketika membaca kalimat terakhir dalam surat tersebut. Selama ini ia mengira semua pertemuan itu hanyalah kebetulan yang indah. Ternyata, seseorang telah menunggu selama puluhan tahun untuk menepati sebuah janji.

Pada bagian paling bawah surat itu, Pak Harun menulis satu kalimat yang membuat Eddi memejamkan mata sambil menangis.

“Aku tidak datang untuk mengubah hidupmu, Eddi. Aku hanya menjaga janji seorang sahabat yang percaya bahwa pada generasi keempat keluarganya akan lahir seorang anak yang berani melawan keputusasaan.”

Di tengah kesunyian malam dan suara angin yang berembus pelan di luar jendela, Eddi akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari. Perjuangan yang sedang ia jalani ternyata tidak dimulai dari dirinya. Jauh sebelum ia lahir, harapan itu sudah ditanam oleh orang orang yang bahkan tidak sempat melihatnya tumbuh menjadi dewasa.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *