“Pak, untungnya berapa dari satu porsi?”
Pak Darmo tidak langsung menjawab. Tangannya tetap mengaduk nasi di atas wajan yang mengeluarkan bunyi berdesis. Api memantul di wajahnya yang dipenuhi garis usia, sementara asap tipis melayang ke udara malam. Setelah beberapa detik, ia tersenyum kecil dan berkata, “Kadang tidak sampai seribu rupiah, Mas.”
Jawaban itu membuatku tertawa karena mengira ia sedang bercanda. Di zaman ketika harga kebutuhan pokok terus naik, mustahil rasanya seseorang masih bertahan berjualan dengan keuntungan sekecil itu. Namun Pak Darmo tidak ikut tertawa. Ia hanya kembali mengaduk nasi goreng pesananku sambil sesekali menambahkan irisan daun bawang dan kecap.
Malam itu jalanan cukup ramai. Deru sepeda motor bersahutan dengan suara klakson angkutan kota yang melintas di persimpangan. Di antara hiruk pikuk itu, gerobak nasi goreng milik Pak Darmo berdiri seperti benda tua yang tertinggal dari masa lalu. Catnya telah memudar, sudut sudut kayunya mulai aus, dan tulisan Nasi Goreng Spesial di bagian depan nyaris tidak terbaca karena sering diguyur hujan.
Gerobak itu sudah ada sejak aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat banyak warung berganti pemilik dan bangunan lama berubah menjadi ruko modern, Pak Darmo tetap berada di tempat yang sama. Anehnya, pelanggan tidak pernah benar benar sepi. Selalu ada orang yang datang membeli nasi gorengnya, bahkan ketika malam sudah lewat pukul sepuluh.
Sebagian besar pelanggannya adalah orang orang biasa. Ada tukang ojek yang menunggu pesanan daring sambil mengisi perut. Ada mahasiswa yang menghitung lembar uang terakhir sebelum akhir bulan. Ada buruh bangunan yang pulang dengan wajah kusam setelah bekerja seharian di bawah terik matahari. Mereka datang bukan hanya karena rasa nasi gorengnya enak, tetapi juga karena harganya masih masuk akal.
Ketika pesananku hampir selesai dimasak, aku memperhatikan secarik kertas baru yang ditempel di gerobaknya. Di sana tertulis harga terbaru. Aku baru sadar angka itu berubah.
“Harganya naik ya, Pak?” tanyaku.
Pak Darmo mengangguk pelan. “Baru kemarin.”
“Naiknya berapa?”
“Seribu rupiah.”
“Dari berapa ke berapa?”
“Dari tiga belas ribu jadi empat belas ribu.”
Aku mengerutkan kening. Harga telur naik cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Harga minyak goreng juga tidak stabil. Belum lagi bawang, cabai, gas, dan berbagai kebutuhan lain yang terus merangkak naik. Kenaikan seribu rupiah terasa terlalu kecil untuk menutupi semua itu.
“Itu sedikit sekali, Pak.”
Pak Darmo tersenyum tipis. Senyum yang tampak lebih dekat kepada penerimaan daripada kebahagiaan. Ia meletakkan spatula sebentar lalu menatap antrean pelanggan yang masih menunggu.
“Kalau saya naikkan banyak, mereka makan apa, Mas?” katanya pelan. “Yang beli di sini kebanyakan orang yang lagi berhemat. Saya tahu rasanya menghitung uang sebelum membeli makan malam.”
Aku tidak menjawab. Kata katanya terasa sederhana, tetapi entah mengapa sulit dibantah. Malam itu aku pulang sambil membawa sebungkus nasi goreng dan pikiran yang terus mengganggu. Untuk mendapatkan keuntungan yang mungkin tidak sampai seribu rupiah, Pak Darmo harus bangun sejak subuh membeli bahan, menyiapkan bumbu, membersihkan gerobak, lalu berdiri berjam jam di depan kompor panas sampai larut malam.
Beberapa hari kemudian aku kembali datang. Kali ini antrean lebih sepi karena hujan turun sejak sore. Air menetes dari atap terpal yang dipasang seadanya di atas gerobak. Pak Darmo tampak sedang membereskan bahan masakan ketika aku menghampirinya.
“Kalau hujan begini pasti rugi ya, Pak?” tanyaku.
Ia tertawa kecil. “Kadang rugi, kadang tidak. Sudah biasa.”
Namun malam itu aku melihat sesuatu yang berbeda. Ketika seorang pelanggan pergi tanpa membayar karena dompetnya tertinggal di rumah, Pak Darmo justru mempersilahkannya membawa makanan lebih dulu. Ia bahkan menolak ketika pelanggan itu hendak meninggalkan telepon genggam sebagai jaminan.
Setelah orang itu pergi, aku bertanya mengapa ia begitu mudah percaya.
“Kalau saya salah percaya satu orang, paling kehilangan satu porsi nasi goreng,” jawabnya. “Tapi kalau saya berhenti percaya kepada semua orang, yang hilang lebih banyak.”
Jawaban itu membuatku terdiam cukup lama.
Sejak malam itu, aku mulai memperhatikan banyak hal yang sebelumnya luput dari pandangan. Kadang ada pelanggan yang membayar kurang dan Pak Darmo pura pura tidak melihat. Kadang ada anak sekolah yang diberi tambahan telur tanpa biaya. Bahkan beberapa kali aku melihat ia menyelipkan uang ke tangan pengemudi ojek yang sedang kesulitan tanpa ingin diketahui orang lain.
Namun hidup tidak selalu ramah kepada orang baik.
Suatu malam terdengar kabar bahwa gerobak Pak Darmo ditabrak truk saat sedang diparkir. Bagian sampingnya rusak cukup parah. Banyak warga mengira ia akan berhenti berjualan karena biaya perbaikan tidak sedikit. Usianya juga tidak lagi muda untuk memulai dari awal.
Ketika aku datang beberapa hari kemudian, gerobak itu memang tidak ada. Yang tersisa hanya bekas roda di pinggir jalan dan perasaan kehilangan yang aneh. Aku baru menyadari bahwa selama bertahun tahun, kehadiran gerobak itu telah menjadi bagian dari hidup kami.
Sebulan kemudian, gerobak itu muncul kembali.
Bentuknya masih sama. Catnya tetap kusam. Tulisan di depannya bahkan tidak diperbaiki. Hanya bagian yang rusak diganti dengan papan kayu baru yang dicat seadanya.
“Kenapa tidak sekalian beli gerobak baru, Pak?” tanyaku.
Pak Darmo tersenyum.
“Yang datang ke sini bukan buat lihat gerobaknya.”
Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi kali ini aku merasa ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya.
Tahun demi tahun berlalu. Aku kemudian pindah ke kota lain karena pekerjaan. Kesibukan membuatku jarang pulang. Sesekali aku masih mengingat Pak Darmo ketika membeli nasi goreng di tempat lain, tetapi kehidupan berjalan terlalu cepat untuk memberi ruang bagi nostalgia.
Sampai suatu hari, hampir satu dekade kemudian, aku pulang ke kampung halaman.
Hal pertama yang kucari adalah gerobak itu.
Namun tempat biasa Pak Darmo mangkal telah kosong. Tidak ada aroma bawang goreng. Tidak ada suara spatula beradu dengan wajan. Tidak ada lagi cahaya lampu kecil yang dahulu selalu menyala hingga tengah malam.
Dari warga sekitar aku mengetahui bahwa Pak Darmo telah meninggal enam bulan sebelumnya.
Entah mengapa dadaku terasa sesak mendengar kabar itu.
Keesokan harinya aku mendatangi rumah keluarganya untuk menyampaikan belasungkawa. Rumah itu sederhana, bahkan lebih sederhana daripada yang kubayangkan. Di sana aku bertemu seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai anak Pak Darmo.
Kami berbincang cukup lama. Sebelum aku pulang, ia berkata bahwa ayahnya pernah meninggalkan sebuah pesan jika suatu hari aku datang berkunjung.
Pria itu lalu menyerahkan sebuah kotak kayu tua.
Di dalamnya terdapat beberapa foto, buku catatan lusuh, dan puluhan kuitansi yang sudah menguning dimakan usia. Aku membuka satu demi satu dengan rasa penasaran yang semakin besar.
Semakin banyak halaman yang kubaca, semakin sulit aku mempercayai apa yang kulihat.
Selama lebih dari dua puluh tahun, Pak Darmo ternyata mencatat setiap bantuan yang ia berikan kepada orang lain. Ada biaya sekolah, uang kuliah, biaya pengobatan, bantuan modal usaha, hingga biaya hidup untuk keluarga yang mengalami musibah. Nominalnya tidak besar dalam satu waktu, tetapi jumlah keseluruhannya mencapai angka yang mencengangkan.
Aku memandang anaknya dengan bingung.
“Dari mana semua uang itu?” tanyaku.
Pria itu tersenyum tipis.
“Laba usaha ayah.”
Aku menggeleng. “Tidak mungkin.”
Ia lalu mengeluarkan dokumen lain.
Ternyata yang selama ini kami kenal sebagai gerobak sederhana bukanlah sumber utama penghasilan Pak Darmo. Puluhan tahun sebelumnya ia pernah memiliki saham di sebuah perusahaan kecil yang kemudian berkembang menjadi salah satu perusahaan besar di negeri ini. Nilai kepemilikannya terus bertambah selama bertahun tahun.
Aku terdiam.
Semua dugaan yang pernah kususun tentang hidupnya runtuh dalam sekejap.
Namun kejutan terbesar belum selesai.
Di antara tumpukan dokumen itu terdapat sebuah surat yang ditulis tangan oleh Pak Darmo beberapa bulan sebelum meninggal.
Tulisan tangannya tidak terlalu rapi, tetapi masih mudah dibaca.
Di bagian akhir surat terdapat kalimat yang membuatku membeku.
“Aku tidak pernah berjualan nasi goreng untuk mencari uang. Aku berjualan supaya tidak lupa wajah orang orang yang sedang berjuang.”
Mataku berhenti pada kalimat berikutnya.
“Tidak ada investasi yang lebih berharga daripada tetap mengenal kehidupan dari dekat.”
Aku menutup surat itu perlahan.
Tiba tiba aku teringat malam ketika ia menaikkan harga nasi goreng hanya seribu rupiah. Aku teringat gerobak kusam yang terus bertahan di tengah perubahan zaman. Aku teringat senyumnya yang tenang setiap kali berbicara tentang kesulitan hidup.
Selama bertahun tahun kami mengira sedang melihat seorang lelaki tua yang berusaha bertahan dengan keuntungan tidak sampai seribu rupiah per porsi.
Padahal sesungguhnya, yang berdiri di balik gerobak itu adalah seseorang yang sengaja menempatkan dirinya di antara orang orang biasa agar tetap memahami arti cukup, arti syukur, dan arti menjadi manusia.
Dan untuk pertama kalinya aku sadar, nilai empat belas ribu rupiah yang dibayar pelanggan setiap malam tidak pernah benar benar ditukar dengan seporsi nasi goreng.
Yang mereka bawa pulang sebenarnya adalah sepotong kepedulian dari seorang lelaki yang memilih hidup sederhana ketika ia memiliki semua alasan untuk hidup mewah.














