BuserNasional – Siang itu panas Jakarta terasa lengket di kulit seperti asap knalpot yang tidak mau pergi. Orang orang keluar masuk warteg kecil di pinggir PGC dengan langkah tergesa dan wajah lelah, seolah makan siang hanyalah jeda pendek sebelum kembali dihimpit pekerjaan. Di antara bunyi piring beradu dan suara kendaraan dari jalan raya, aku duduk dekat jendela sambil menunggu hujan yang sejak pagi menggantung di langit. Tidak ada yang menyangka bahwa siang biasa itu akan menjadi kenangan yang terus hidup bertahun tahun kemudian.
Warteg Bu Tatik selalu ramai saat jam makan siang. Aroma kuah sayur bercampur gorengan memenuhi ruangan sempit yang dindingnya mulai kusam dimakan waktu. Kipas angin tua berputar lambat sambil mengeluarkan bunyi berdecit yang terdengar seperti keluhan panjang. Para pegawai kantor makan cepat sambil menatap layar ponsel mereka, lalu pergi tanpa benar benar melihat orang lain di sekitarnya.
Di tengah keramaian itulah seorang anak muda masuk dengan langkah ragu. Kemeja birunya rapi tetapi bagian pergelangan tangan sudah memudar warnanya. Tas hitam di pundaknya tampak berat dan map cokelat yang dibawanya sedikit basah di bagian sudut seperti terlalu sering terkena hujan. Ia berdiri cukup lama di depan etalase lauk sebelum akhirnya bertanya pelan kepada Bu Tatik.
“Bu, nasi telur berapa?”
“Sepuluh ribu,” jawab Bu Tatik sambil tetap membungkus pesanan pelanggan lain.
Anak muda itu mengangguk kecil lalu bertanya lagi apakah kalau ditambah kuah harganya tetap sama. Nada suaranya hati hati, seperti orang yang sedang menghitung sisa uang di kepala. Setelah Bu Tatik mengiyakan, pegawai warteg itu bertanya mau minum apa. Anak muda tersebut tersenyum tipis lalu membuka kantong plastik lusuh yang dibawanya.
“Saya bawa sendiri, Bu.”
Dua gelas air mineral muncul dari dalam kantong itu. Ia duduk di pojok dekat pintu sambil meletakkan map cokelatnya pelan pelan agar tidak jatuh. Dari tempat dudukku, aku sempat melihat tulisan beberapa nama perusahaan di map tersebut. Di sela lipatan map, tampak secarik kertas hasil cetak email dengan beberapa kalimat pendek yang sekilas terbaca samar.
Maaf, Anda belum lolos tahap seleksi.
Anak muda itu mulai makan perlahan. Ia menuang kuah sedikit demi sedikit, lalu mengaduk nasi agar terlihat lebih banyak. Sesekali ia meminum air dari gelas yang dibawanya sendiri sambil menatap kosong ke arah jalan. Cara makannya bukan seperti orang yang menikmati makanan, melainkan seperti seseorang yang sedang berusaha membuat rasa kenyang bertahan lebih lama.
Di meja sebelahnya duduk seorang bapak berusia sekitar lima puluhan. Kemeja putihnya bersih dan rambutnya dipenuhi uban halus di bagian pelipis. Ia makan tenang tanpa banyak bicara sambil sesekali memperhatikan anak muda itu. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya, meski aku tidak tahu apa.
Kursinya nyaris tidak bersuara saat ia bergerak. Padahal lantai warteg yang sempit itu biasanya penuh bunyi gesekan kursi dan langkah kaki pelanggan. Bahkan ketika pelayan warteg lewat membawa ember cucian piring, perempuan itu seperti tidak benar benar menyadari keberadaan si bapak sampai ia memanggil pelan untuk meminta tambahan sambal.
Anak muda di pojok terus makan perlahan sambil sesekali membuka layar ponselnya. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan masuk. Wajahnya tampak lelah seperti orang yang sudah terlalu lama menunggu kabar baik yang tidak pernah datang.
Sementara itu si bapak menyelesaikan makannya lebih dulu. Ia berdiri pelan lalu berjalan menuju meja kasir sambil mengambil dompet tipis dari saku belakang celananya. Aku melihat layar QRIS menyala ketika ia membayar makanannya. Semua tampak biasa sampai kemudian ia menunjuk pelan ke arah anak muda di pojok ruangan.
“Sekalian yang itu ya, Bu.”
Bu Tatik mengangkat wajahnya sebentar. “Yang dekat pintu, Pak?”
“Iya.”
Suara si bapak sangat tenang dan pendek. Tidak ada nada ingin dipuji atau ingin terlihat baik hati. Setelah membayar, ia berjalan melewati meja anak muda tadi lalu menepuk pundaknya perlahan.
“Mas udah ya.”
Anak muda itu terdiam beberapa detik. Sendok di tangannya berhenti di udara sementara matanya membesar seperti tidak percaya. Ia buru buru berdiri sambil menundukkan kepala.
“Aduh, makasih Pak. Makasih banyak.”
Namun si bapak hanya tersenyum tipis lalu melangkah keluar warteg. Tidak ada ceramah panjang. Tidak ada pertanyaan tentang pekerjaan atau kehidupan. Ia pergi begitu saja, menembus keramaian trotoar Jakarta yang mulai diguyur hujan.
Aku memperhatikan anak muda itu duduk kembali dengan mata sedikit merah. Kali ini ia makan lebih cepat, seolah ada sesuatu yang menghangatkan dadanya. Bu Tatik diam diam menambahkan orek tempe ke piringnya tanpa meminta bayaran tambahan. Anak muda itu terlihat ingin berkata sesuatu, tetapi akhirnya hanya tersenyum kecil.
Hujan turun semakin deras ketika ia selesai makan. Sebelum pergi, ia menghampiri kasir untuk memastikan bahwa makanannya memang sudah dibayar. Setelah Bu Tatik mengangguk, ia menggenggam map cokelatnya erat erat lalu berkata pelan.
“Semoga bapaknya sehat terus ya, Bu.”
Bu Tatik hanya tersenyum sambil mengusap meja dengan kain lap lusuh.
Waktu berjalan begitu cepat setelah hari itu. Aku pindah kerja ke luar kota dan nyaris melupakan kejadian kecil di warteg tersebut. Namun setiap kali melihat seseorang makan sendirian di tempat sederhana, entah kenapa aku selalu teringat pada anak muda yang membawa dua gelas air sendiri dari rumah.
Lima tahun kemudian aku kembali ke Jakarta untuk urusan pekerjaan. Sore itu hujan baru saja reda ketika aku sengaja mampir lagi ke warteg Bu Tatik. Tempatnya masih sama meski cat dindingnya kini lebih cerah dan kipas anginnya sudah diganti baru. Aroma kuah sayur masih terasa akrab seperti masa lalu yang belum benar benar pergi.
Bu Tatik langsung mengenaliku. Kami mengobrol cukup lama tentang pelanggan lama dan perubahan kawasan PGC yang semakin padat. Sampai akhirnya aku teringat lagi pada kejadian siang bertahun tahun lalu.
“Bu, anak muda yang pernah dibayarin makan sama bapak bapak itu masih pernah datang ke sini?”
Bu Tatik tertawa kecil lalu mengangguk. “Masih.”
“Sekarang kerja di mana?”
“Katanya sih sudah kerja bagus. Kadang masih makan di sini kalau lewat.”
Aku ikut tersenyum mendengarnya. Ada rasa lega yang sulit dijelaskan ketika mengetahui seseorang akhirnya berhasil keluar dari masa sulitnya. Namun Bu Tatik kembali melanjutkan ceritanya dengan nada lebih pelan.
“Sekarang dia sering ninggalin uang di warteg.”
“Buat apa?”
“Buat bayarin makan orang yang kelihatannya lagi susah.”
Aku terdiam beberapa saat. Di luar warteg, kendaraan kembali memenuhi jalan seperti arus yang tidak pernah berhenti. Orang orang berjalan cepat sambil sibuk dengan hidup masing masing. Tetapi rupanya, ada kebaikan kecil yang terus berpindah dari satu orang ke orang lain tanpa banyak suara.
“Dia selalu bilang jangan kasih tahu siapa yang bayarin,” lanjut Bu Tatik sambil tersenyum tipis. “Persis seperti bapak dulu.”
Aku mengangguk pelan sambil memandangi hujan yang kembali turun rintik rintik di luar jendela. Untuk sesaat warteg itu terasa hangat sekali di tengah Jakarta yang dingin oleh kesibukan.
Namun beberapa detik kemudian Bu Tatik berkata lagi dengan suara nyaris berbisik.
“Sebetulnya ada hal yang baru saya sadari belakangan.”
“Apa, Bu?”
Bu Tatik menatap foto lama yang tergantung dekat rak minuman. Foto itu mulai pudar dimakan usia, tetapi wajah lelaki di dalamnya masih terlihat jelas.
“Itu foto suami saya,” katanya lirih.
Dadaku mendadak terasa sesak.
“Beliau meninggal seminggu sebelum kejadian di warteg waktu itu.”
Aku menoleh cepat ke arah foto tersebut. Wajahnya sama persis dengan bapak yang membayar makan siang anak muda itu bertahun tahun lalu. Senyum tipisnya bahkan masih terlihat sama.
Tanganku mendadak dingin.
Lalu perlahan aku teringat satu hal yang selama ini terasa aneh tetapi tidak pernah benar benar kupikirkan. Saat hujan deras mengguyur jalan di depan warteg hari itu, lantai dekat pintu tetap kering setelah si bapak melangkah keluar.
Tidak ada jejak air sedikit pun tertinggal di sana.














