Terminal kecil itu selalu ramai menjelang sore. Klakson angkutan bersahutan, pedagang gorengan berteriak menawarkan dagangannya, dan para penumpang berlalu-lalang tanpa sempat memperhatikan satu sama lain.
Di salah satu bangku tunggu, Rendra duduk sambil memeriksa catatan pembelian hasil bumi miliknya. Usahanya sedang berkembang. Ia memiliki beberapa truk pengangkut sayur dan buah yang memasok pasar-pasar di kota sekitar.
Dari kejauhan ia melihat seseorang berjalan melewati terminal.
Rudi.
Guru yang hampir seluruh warga kota hormati.
Seperti biasa, beberapa orang menyapanya. Rudi membalas dengan senyum sederhana lalu melanjutkan langkahnya.
Rendra memalingkan wajah.
Ia tidak pernah menyukai laki-laki itu.
Bukan karena pernah disakiti.
Bukan karena pernah ditipu.
Ia hanya merasa terganggu melihat bagaimana semua orang selalu memuji Rudi.
Menurutnya, tidak ada manusia yang sebaik itu.
Pasti ada sesuatu yang disembunyikan.
Keyakinan itu terus hidup bertahun-tahun tanpa pernah benar-benar diuji.
Sementara itu kehidupan berjalan seperti biasa.
Rudi mengajar di sekolah negeri satu-satunya di kota tersebut. Ia dikenal dekat dengan murid-muridnya. Namun sebenarnya ia bukan sosok sempurna yang dibayangkan banyak orang.
Ia pernah salah menghukum murid.
Pernah gagal membantu seorang siswa yang akhirnya putus sekolah.
Pernah pula bertengkar dengan kepala sekolah karena perbedaan pendapat.
Tetapi setiap kali melakukan kesalahan, ia berusaha memperbaikinya.
Karena itulah banyak orang menghormatinya.
Suatu ketika banjir besar melanda beberapa desa di pinggir sungai.
Rumah-rumah terendam.
Gudang hasil bumi rusak.
Jalan utama terputus.
Rendra kehilangan banyak stok dagangan.
Selama berhari-hari warga bekerja membersihkan lumpur dan memperbaiki kerusakan.
Di tengah kesibukan itu, Rudi terlihat ikut mengangkut karung bantuan, membersihkan rumah warga, bahkan tidur hanya beberapa jam setiap malam.
Orang-orang kembali memujinya.
Dan seperti biasa, pujian itu justru membuat Rendra semakin kesal.
“Kenapa semua orang selalu menganggap dia paling berjasa?” keluhnya kepada seorang teman.
Temannya hanya mengangkat bahu.
“Karena memang dia bekerja keras.”
Jawaban sederhana itu tidak memuaskan Rendra.
Beberapa bulan kemudian sebuah persoalan muncul.
Dana pembangunan jembatan desa mengalami kekurangan cukup besar.
Pemerintah desa melakukan pemeriksaan.
Nama beberapa orang disebut.
Salah satunya Rudi.
Tidak ada bukti.
Tidak ada saksi.
Hanya dugaan.
Namun bagi Rendra, dugaan itu sudah cukup.
“Sudah kuduga,” katanya kepada beberapa warga.
Kabar tersebut menyebar cepat.
Orang-orang mulai berbisik.
Sebagian mulai menjaga jarak.
Meski begitu Rudi tidak membela diri secara berlebihan.
Ia hanya menyerahkan seluruh dokumen yang diminta pemeriksa.
Dua bulan kemudian hasil audit keluar.
Tidak ada uang yang hilang.
Kesalahan terjadi karena pencatatan administrasi yang berantakan.
Nama Rudi bersih sepenuhnya.
Sebagian warga merasa malu.
Mereka meminta maaf.
Tetapi tidak dengan Rendra.
Entah mengapa ia tetap merasa tidak percaya.
Tahun-tahun berlalu.
Hubungan mereka tidak pernah membaik.
Mereka hidup di kota yang sama, menghadiri acara yang sama, bahkan beberapa kali duduk dalam rapat yang sama.
Namun selalu ada jarak yang tidak terlihat.
Sampai suatu hari Rudi jatuh sakit.
Penyakit ginjal yang dideritanya semakin parah.
Ia harus bolak-balik menjalani perawatan.
Warga banyak membantu biaya pengobatan.
Termasuk beberapa murid lamanya yang kini telah sukses.
Rendra mendengar kabar itu.
Tetapi ia memilih tidak peduli.
Baginya, hidup setiap orang adalah urusannya masing-masing.
Beberapa bulan kemudian Rudi meninggal dunia.
Kota kecil itu kehilangan salah satu orang yang paling dihormati.
Sekolah diliburkan sehari.
Ratusan pelayat datang.
Banyak mantan murid menangis.
Ada yang datang dari luar kota hanya untuk mengantarkan doa terakhir.
Rendra hadir sebentar.
Ia berdiri di bagian belakang.
Lalu pulang sebelum acara selesai.
Seminggu kemudian seorang pengacara datang ke kantornya.
“Ada sesuatu yang harus saya serahkan.”
Rendra mengernyit.
“Apa?”
Pengacara itu memberikan sebuah map tebal.
“Ini amanat almarhum Rudi.”
Dengan bingung ia membuka isinya.
Puluhan lembar dokumen tersusun rapi.
Semakin lama membaca, wajahnya semakin pucat.
Dokumen pertama berisi pembayaran biaya sekolah menengahnya.
Dokumen kedua menunjukkan pelunasan tunggakan rumah ibunya bertahun-tahun lalu.
Dokumen ketiga berisi bantuan modal usaha pertama yang pernah diterimanya melalui sebuah yayasan.
Semuanya menggunakan nama perantara.
Namun sumber dananya sama.
Rudi.
Tangan Rendra mulai gemetar.
Ia terus membuka halaman demi halaman.
Ada catatan rumah sakit ketika ibunya dirawat.
Ada bukti pembayaran kuliah adiknya.
Ada surat-surat bantuan yang selama ini tidak pernah diketahui keluarganya.
Semua berasal dari orang yang selama bertahun-tahun ia benci.
“Kenapa?” bisiknya.
Pengacara itu menghela napas.
“Karena beliau meminta semuanya dirahasiakan.”
“Kenapa dirahasiakan?”
“Karena beliau tidak ingin keluarga Anda merasa berutang budi.”
Rendra terdiam.
Lalu untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia mengetahui kenyataan yang selama ini tersembunyi.
Rudi adalah kakak kandung yang terpisah sejak kecil akibat konflik keluarga.
Ia menemukan keluarganya bertahun-tahun kemudian.
Tetapi memilih membantu dari jauh.
Tanpa memperkenalkan diri.
Tanpa meminta pengakuan.
Tanpa berharap balasan.
Rendra duduk lemas.
Semua kebencian yang selama ini ia pelihara tiba-tiba terasa memalukan.
Ia mengingat kembali setiap prasangka.
Setiap tuduhan.
Setiap cibiran yang pernah ia lontarkan.
Dan semuanya kini berbalik menghantam dirinya sendiri.
Malam itu ia mendatangi makam Rudi seorang diri.
Tidak ada kerumunan.
Tidak ada upacara.
Tidak ada pidato.
Hanya suara jangkrik dan angin yang bergerak pelan di antara pepohonan.
Ia berdiri lama di depan pusara sederhana itu.
Tidak tahu harus berkata apa.
Karena semua kata maaf yang dimilikinya terasa terlambat.
Pada akhirnya ia hanya berbisik pelan.
“Kak… aku baru mengerti sekarang.”
Namun tidak ada jawaban.
Yang tersisa hanyalah kesadaran pahit bahwa seseorang bisa hidup sangat dekat dengan kebenaran, tetapi tetap gagal melihatnya karena terlalu sibuk memelihara prasangka.
Dan kadang-kadang, penyesalan terbesar bukanlah kehilangan seseorang.
Melainkan terlambat mengenali besarnya kasih sayang yang selama ini diam-diam diberikan kepadanya.














