Cerpen  

Cerpen: Jejak Doa Di Balik Malam Panjang

banner 120x600

Hujan turun perlahan membasahi jalan kampung yang lengang. Dari teras rumah kayu yang mulai rapuh dimakan usia, Rahman duduk memandangi genangan air yang memantulkan cahaya lampu jalan. Di tangannya tergenggam sebuah tasbih tua peninggalan ayahnya yang sudah wafat bertahun tahun lalu. Setiap butir yang disentuh seakan membawa kenangan tentang nasihat sederhana yang selalu diucapkan sang ayah, bahwa manusia boleh kehilangan banyak hal, tetapi jangan pernah kehilangan jalan menuju Tuhan.

Rahman hanyalah penjual sayur keliling. Setiap pagi sebelum matahari terbit, ia mengayuh sepeda tuanya menyusuri desa demi desa. Penghasilannya tidak pernah pasti, kadang cukup untuk makan sehari, kadang bahkan tidak cukup membeli beras untuk keluarganya. Namun selama bertahun tahun, ia selalu berusaha menyimpan kegelisahan itu sendiri agar istrinya, Siti, dan anak mereka, Faris, tidak ikut memikul beban yang sama.

Kehidupan yang sederhana itu berubah ketika Faris jatuh sakit. Awalnya hanya demam yang datang dan pergi, tetapi lama kelamaan tubuh bocah sembilan tahun itu semakin kurus dan lemah. Rumah sakit di kota menjadi tempat yang lebih sering mereka datangi daripada pasar tempat Rahman biasa berjualan. Biaya pengobatan perlahan menggerogoti seluruh tabungan yang mereka miliki.

Suatu malam, Siti duduk di dapur yang remang remang sambil menghitung sisa uang di dalam kaleng bekas biskuit. Tangannya gemetar ketika menyadari jumlahnya tidak cukup untuk biaya kontrol minggu berikutnya. Dengan mata berkaca kaca, ia melepas cincin pernikahan yang selama ini tak pernah lepas dari jarinya. Benda itu adalah satu satunya perhiasan berharga yang masih mereka miliki.

“Aku akan menjualnya besok,” katanya lirih.

Rahman terdiam cukup lama. Ia tahu istrinya sedang berusaha kuat, tetapi ia juga tahu keputusan itu sangat berat.

“Kita cari cara lain dulu,” jawabnya.

Siti menggeleng pelan.

“Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Faris butuh pengobatan.”

Malam itu, setelah Siti tertidur, Rahman keluar menuju teras. Hujan baru saja reda dan udara terasa dingin menusuk tulang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar benar tidak memiliki jalan keluar.

Ia menengadahkan tangan ke langit yang gelap.

“Ya Allah, aku lelah. Aku sudah berusaha semampuku. Jika aku masih harus berjalan, tunjukkan jalannya. Jika aku harus bertahan, kuatkan aku.”

Kata kata itu keluar begitu saja. Tidak indah, tidak panjang, dan tidak disusun dengan kalimat yang sempurna. Namun setiap kata lahir dari hati yang sedang hancur.

Hari hari berikutnya tidak langsung berubah menjadi lebih baik. Faris tetap sakit. Tagihan rumah sakit terus bertambah. Bahkan suatu pagi sepeda tua Rahman patah rantainya ketika ia sedang berjualan sehingga ia harus mendorongnya sejauh beberapa kilometer. Di tengah jalan, ia sempat berhenti dan memukul setang sepeda dengan kesal.

“Kenapa semuanya harus datang bersamaan?” teriaknya.

Beberapa orang yang lewat menoleh heran. Rahman langsung menyesali ledakan emosinya. Selama ini ia selalu berusaha tampak sabar, tetapi kenyataannya ia hanyalah manusia biasa yang juga bisa rapuh.

Malam harinya, ia kembali duduk di teras.

“Maafkan aku, Ya Allah. Ternyata aku tidak sekuat yang kubayangkan.”

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Beberapa hari kemudian, seorang lelaki tua datang ke rumah mereka menjelang magrib. Rambutnya putih seluruhnya dan wajahnya dipenuhi keriput. Ia membawa tongkat kayu yang tampak sudah sangat lama digunakan.

“Maaf, Nak. Boleh aku beristirahat sebentar?” tanyanya sopan.

Rahman segera mempersilakannya masuk. Meski persediaan makanan tinggal sedikit, Siti tetap menyuguhkan teh hangat dan singkong rebus. Lelaki itu menerima dengan senyum yang hangat.

Selama hampir satu jam mereka berbincang. Anehnya, lelaki itu mengetahui banyak hal tentang kehidupan desa tersebut meskipun mengaku baru pertama kali datang. Ia juga beberapa kali memandangi tasbih tua milik Rahman dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

“Itu milik ayahmu?” tanyanya.

Rahman mengangguk.

“Iya. Peninggalan beliau.”

Lelaki tua itu tersenyum tipis.

“Ayahmu orang baik.”

Jawaban itu membuat Rahman sedikit heran, tetapi ia tidak sempat bertanya lebih jauh.

Sebelum pergi, lelaki tua tersebut menyerahkan sebuah amplop cokelat.

“Aku hanya ingin membalas kebaikan kalian.”

Rahman menolak berkali kali, tetapi lelaki itu tetap memaksa. Setelah itu ia berjalan meninggalkan rumah dan menghilang di ujung jalan yang mulai gelap.

Ketika amplop dibuka, Rahman dan Siti terkejut. Isinya uang dalam jumlah yang cukup besar, lebih dari yang mereka perlukan untuk membayar biaya pengobatan Faris selama beberapa bulan.

Siti menangis haru.

Rahman hanya mampu beristighfar berulang kali.

“Allah benar benar mendengar,” bisiknya.

Berkat bantuan itu, pengobatan Faris dapat dilanjutkan. Dokter menemukan terapi yang sebelumnya tertunda karena keterbatasan biaya. Bulan demi bulan berlalu dan kondisi Faris mulai membaik. Wajahnya yang dulu pucat perlahan kembali cerah. Tawa yang lama hilang akhirnya kembali terdengar di rumah kecil mereka.

Namun satu pertanyaan terus mengganggu pikiran Rahman.

Siapa sebenarnya lelaki tua itu?

Ia mencoba mencarinya ke berbagai desa. Setiap orang yang ditemuinya memberikan jawaban yang sama. Tidak ada yang mengenal sosok tersebut. Seolah olah ia muncul hanya sesaat lalu lenyap begitu saja.

Tahun demi tahun berlalu.

Faris tumbuh menjadi pemuda cerdas dan akhirnya berhasil menjadi dokter. Rahman dan Siti menjalani hari tua mereka dengan tenang. Meski kehidupan mereka jauh lebih baik, Rahman tidak pernah berhenti mencari jawaban tentang lelaki misterius yang pernah datang ke rumah mereka.

Suatu malam ketika usianya telah melewati tujuh puluh tahun, Rahman jatuh sakit dan harus banyak beristirahat. Saat membereskan loteng rumah, Faris menemukan sebuah peti kayu tua yang selama ini tak pernah dibuka siapa pun.

Di dalamnya terdapat foto foto lama, surat surat usang, dan sebuah buku catatan milik kakeknya.

Mereka membacanya bersama.

Halaman demi halaman berisi catatan kehidupan sang kakek. Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah tulisan yang membuat keduanya terdiam.

“Aku menitipkan tabungan ini kepada sahabatku, Hasan. Jika suatu hari anakku berada dalam kesulitan besar, berikan uang ini kepadanya. Jangan katakan dari siapa asalnya. Biarlah ia belajar bahwa pertolongan Allah sering datang melalui jalan yang tidak disangka.”

Rahman membeku.

Nama Hasan terasa sangat asing sekaligus akrab.

Mereka membuka lembar berikutnya yang berisi foto hitam putih seorang lelaki tua. Rahman merasakan dadanya berdebar kencang ketika melihat wajah dalam foto itu.

Itu wajah yang sama.

Wajah lelaki yang pernah datang ke rumahnya puluhan tahun lalu.

Tangannya gemetar saat membaca catatan kecil di bawah foto.

“Hasan wafat pada tahun 1989.”

Rahman menatap tanggal itu berkali kali.

Lelaki yang datang membawa amplop ke rumahnya hadir pada tahun 1994.

Lima tahun setelah Hasan dinyatakan meninggal dunia.

Ruangan itu mendadak sunyi.

Faris memandang ayahnya tanpa mampu berkata apa apa. Sementara Rahman hanya menatap foto tua tersebut dengan mata yang basah.

Selama puluhan tahun ia mencari seseorang yang dianggap telah menyelamatkan keluarganya. Kini ia sadar bahwa mungkin ia memang tidak akan pernah menemukan jawaban yang dapat dijelaskan oleh logika.

Ia menggenggam tasbih peninggalan ayahnya dan tersenyum pelan.

Pada malam ketika ia merasa paling putus asa, ia mengira sedang meminta pertolongan untuk masa depan. Padahal ternyata, jauh sebelum doa itu terucap, Allah telah menyiapkan jawabannya melalui sebuah rencana yang dimulai sejak generasi sebelumnya.

Untuk pertama kalinya, Rahman memahami sesuatu yang selama ini luput dari pikirannya. Doa bukan hanya tentang meminta agar pintu dibukakan. Kadang kadang doa adalah cara Allah memperlihatkan bahwa pintu itu sebenarnya telah disiapkan sejak lama, jauh sebelum seorang hamba menyadari bahwa ia akan membutuhkannya.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *