Lampu lima watt itu tetap menyala meski matahari sudah tinggi. Di gang selebar satu meter di RW 03 Jembatan Besi, Tambora, cahaya siang gagal masuk menembus rapatnya atap seng, jemuran pakaian, dan dinding rumah yang saling berhimpitan. Lorong itu lebih menyerupai terowongan lembap daripada permukiman manusia.
Fina menaruh gelas kopi di lantai dekat pintu. Perempuan berusia tiga puluh lima tahun itu tersenyum kecil ketika seorang tamu bertanya bagaimana rasanya tinggal di rumah tanpa matahari.
“Yang penting rumah sendiri,” katanya pelan.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi matanya menyimpan kelelahan panjang yang sulit disembunyikan.
Rumah Fina hanya terdiri dari satu ruangan sempit. Triplek kusam membatasi tempat tidur dari dapur kecil yang pengap. Pada malam hari, ruangan itu diisi dua keluarga sekaligus. Anak anak tidur lebih dulu, lalu orang dewasa bergantian beristirahat setelah sebagian lain bekerja malam atau menjaga warung kecil di ujung gang.
Tidak ada ruang privat di rumah itu. Suara batuk tetangga terdengar jelas dari balik dinding tipis. Bau masakan, asap rokok, dan udara lembap bercampur menjadi satu.
Namun Fina tetap bersyukur.
Ia pernah mencoba mengontrak rumah yang sedikit lebih layak di pinggir Jakarta. Hanya bertahan tiga bulan sebelum menyerah pada biaya sewa dan ongkos transportasi yang menghabiskan penghasilan suaminya sebagai buruh harian.
“Kalau ngontrak terus, kapan punya rumah?” katanya.
Maka rumah gelap itu dipertahankan seperti benteng terakhir.
Di luar gang, Jakarta terus tumbuh menjulang. Gedung kaca berdiri megah, apartemen mewah dipasarkan dengan kolam renang dan taman langit, sementara di bawah bayangannya ribuan warga hidup tanpa cahaya matahari yang cukup.
Anak anak di RW 03 bermain bola hingga larut malam di jalan sempit dekat selokan. Mereka tertawa setiap kali motor lewat dan permainan harus berhenti sejenak. Tidak ada taman. Tidak ada lapangan. Jalanan menjadi ruang bermain sekaligus ruang tumbuh mereka.
Seorang bocah kecil menunjuk lampu yang menyala di siang hari.
“Kalau dimatiin gelap,” katanya polos.
Kalimat itu membuat tamu yang datang terdiam cukup lama.
Di beberapa rumah, toilet masih digunakan bersama. Air limbah mengalir melalui saluran kecil berwarna hitam pekat. Ketika hujan turun deras, bau menyengat naik memenuhi lorong. Sebagian warga sebenarnya ingin memperbaiki rumah mereka, tetapi ada ketakutan yang diam diam dipelihara.
Mereka khawatir dianggap tidak miskin lagi.
Bantuan sosial menjadi penyangga hidup yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan. Memiliki WC baru atau dinding lebih bagus kadang terasa mengancam daripada menenangkan.
Kemiskinan perlahan berubah menjadi keadaan yang harus dipertahankan agar tetap bisa bertahan hidup.
Malam datang lebih cepat di gang itu. Cahaya matahari tenggelam bahkan sebelum sore benar benar tiba. Lampu lampu kecil kembali menyala di sepanjang lorong sempit, menggantikan matahari yang tak pernah benar benar hadir.
Fina duduk di depan rumah sambil mengipasi anaknya yang tertidur kepanasan. Dari kejauhan samar terdengar suara kereta dan deru kendaraan kota besar yang terus bergerak tanpa henti.
Jakarta tetap bercahaya.
Tetapi di sudut sudut sempit seperti RW 03 Jembatan Besi, sebagian warganya hidup dalam gelap yang panjang. Mereka bekerja, bertahan, dan membesarkan keluarga di ruang sempit yang nyaris tak memberi udara.
Kota ini membutuhkan tenaga mereka setiap hari, tetapi belum benar benar menyediakan kehidupan yang layak bagi mereka.
Dan mungkin pertanyaan paling sunyi dari lorong gelap itu bukanlah bagaimana warga bisa bertahan hidup, melainkan sampai kapan mereka harus terbiasa hidup tanpa cahaya.














