BuserNasional// Aku tidak tahu seberapa berat hidup yang sedang jenengan jalani hari ini. Aku hanya melihat sekilas raut wajah pada foto itu, mata yang seperti menyimpan beban bertahun tahun. Ada gurat letih yang tidak bisa disembunyikan meski bibir berusaha tersenyum. Di tengah dunia yang ramai, kadang orang terlihat baik baik saja padahal hatinya remuk. Aku paham, karena aku juga manusia biasa yang punya perjuangan sendiri.
Di layar ponselku, teks itu kubaca berulang kali seperti sedang menenangkan diriku sendiri. “Saya nggak tau seberapa berat hidup yang sedang jenengan jalani…” kalimat itu sederhana, tapi seperti mengetuk sisi paling rapuh dalam dadaku. Aku menelan ludah, mencoba menahan air mata yang tiba tiba naik tanpa izin. Ada masa ketika aku juga ingin sekali didengar, tapi tidak punya keberanian untuk bercerita. Dan anehnya, tulisan itu terasa seperti datang tepat pada waktunya.
Hari itu hujan turun pelan, membasahi jalanan dan kaca jendela kos yang kusam. Di luar, suara motor lalu lalang seperti bergema jauh, seolah hidup orang lain terus berjalan tanpa peduli siapa yang sedang patah. Aku duduk di tepi ranjang, memegang ponsel dengan tangan dingin. Satu pesan masuk dari ibu, singkat saja, menanyakan kabar dan apakah aku sudah makan. Aku mengetik balasan cepat, berbohong kecil bahwa semuanya baik baik saja.
Padahal kenyataannya, aku baru saja kehilangan pekerjaan dari percetakan kecil tempatku bekerja. Pemiliknya bilang omzet turun, pesanan sepi, dan ia tidak sanggup menggaji lagi. Tagihan kos sudah menunggu, belum lagi utang kecil yang mulai mengejar seperti bayangan. Semalam aku dihina oleh seseorang yang dulu mengaku teman, hanya karena aku meminjam uang untuk bertahan hidup. Kata katanya menancap seperti paku, membuat tidurku gelisah. Aku mencoba kuat, tapi ternyata menjadi kuat setiap hari juga melelahkan.
Aku menatap foto itu lebih lama, memperhatikan detail yang sebelumnya luput. Ada latar sederhana, mungkin di depan warung kecil, dengan cahaya senja yang redup. Orang dalam foto itu tampak menunduk, seperti menyimpan sesuatu yang tidak ingin dilihat siapa pun. Wajahnya tidak jelas, tapi ada kesan bahwa ia sedang memikul beban berat. Entah kenapa, aku merasa foto itu seperti memotret diriku sendiri. Aku seperti sedang melihat seseorang yang diam diam hampir tenggelam.
Aku membuka kolom komentar, membaca satu per satu doa dari orang orang yang tidak saling kenal. Ada yang menulis tentang kehilangan pekerjaan, ada yang bercerita tentang orang tua sakit, ada yang diam saja tapi meninggalkan emotikon tangan berdoa. Dunia memang keras, tapi di sela sela retaknya masih ada orang yang berusaha baik. Aku terdiam, lalu menarik napas panjang. Mungkin benar, aku tidak bisa membantu semua orang, tapi aku masih bisa mendoakan mereka.
Aku menyalin teks doa itu dan mengirimkannya ke beberapa teman yang belakangan jarang aktif. Ada satu nama yang paling lama kupandangi sebelum akhirnya kukirim juga, namanya Farhan. Ia dulu teman dekatku, tapi akhir akhir ini menghilang tanpa kabar, tidak membalas pesan, tidak mengangkat telepon. Dalam hati aku merasa bersalah, karena terlalu sibuk dengan masalahku sendiri hingga lupa menanyakan keadaannya. Setelah kukirim doa itu, aku meletakkan ponsel dan menatap langit langit kamar yang lembab. Aku berharap ia membaca dan merasa tidak sendirian.
Tak lama kemudian, aku teringat status Farhan beberapa hari lalu yang sempat kulihat sekilas. Tulisannya pendek, hanya satu kalimat, tapi kini terasa seperti isyarat yang terlambat kupahami. “Kalau suatu saat aku hilang, jangan cari aku, cukup doakan saja.” Saat itu aku mengira ia hanya sedang galau atau ingin mencari perhatian. Sekarang kalimat itu seperti suara yang menggema di kepalaku, membuat dadaku mendadak sesak. Aku menyesal, karena aku membacanya tanpa menanyakan apa apa.
Malam semakin larut, hujan berubah menjadi gerimis tipis. Aku memutuskan keluar sebentar membeli kopi sachet di warung dekat gang, sekadar mengusir dingin dan menenangkan pikiran. Jalanan sempit itu licin, lampu rumah rumah redup, dan suara televisi dari tetangga terdengar sayup. Aku berjalan pelan, menahan jaket agar tidak basah. Di depan warung, seorang ibu tua sedang merapikan barang dagangan dengan tangan gemetar. Ia menyapaku seperti sudah hafal wajah orang orang yang datang saat malam.
“Mas, kopi ya?” tanyanya sambil tersenyum kecil. Aku mengangguk, lalu membayar dengan uang receh yang tersisa. Saat ibu itu mengambilkan kopi, mataku menangkap sebuah papan kecil di samping warung. Di sana tertempel foto yang sama persis seperti di ponselku, lengkap dengan teks doa yang tadi kubaca. Aku tercekat, karena rasanya seperti bertemu sesuatu yang tidak mungkin. Aku mendekat, membaca tulisan itu lagi pelan pelan, seolah takut hurufnya berubah jika kupandangi terlalu lama.
Ibu warung memperhatikanku yang berdiri mematung. Ia menatapku dengan mata lembut, lalu berkata bahwa papan itu sudah lama dipasang. Katanya, ada seorang anak muda yang dulu sering duduk di warung itu dan menempelkan tulisan tersebut sebelum menghilang. Aku bertanya siapa anak muda itu, dan ibu warung menghela napas panjang. “Namanya Farhan,” jawabnya pelan, seolah menyebut nama yang sudah lama disimpan dalam hati. Aku merasakan lututku lemas, seakan tanah di bawahku tiba tiba hilang.
Aku menelan ludah, mencoba menahan gemetar di tangan. Ibu warung bercerita bahwa Farhan belakangan sering datang tengah malam, menunduk diam, dan matanya tampak kosong. Ia jarang berbicara, tapi selalu memesan kopi hitam tanpa gula, lalu duduk lama seperti menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang. Ibu warung pernah bertanya ada masalah apa, tetapi Farhan hanya tersenyum kecil. Ia berkata, kadang manusia tidak butuh nasihat, hanya butuh didoakan. Ia mengucapkannya dengan suara yang tenang, tetapi mata itu seperti orang yang sedang menahan runtuh.
Ibu warung lalu menunjuk secarik kertas yang dilaminasi di bawah papan foto. Itu tulisan tangan, hurufnya rapi tapi ada bagian yang tampak seperti basah oleh sesuatu. “Ini yang ia titipkan,” kata ibu itu lirih. Aku membaca tulisan itu, dan jantungku seperti diremas. “Kalau aku tidak kuat, tolong jangan salahkan siapa siapa. Aku hanya ingin ada yang mendoakan aku seperti aku mendoakan orang lain.” Di ujungnya ada tanda tangan kecil, Farhan.
Aku pulang dengan langkah berat, membawa kopi yang bahkan tidak sempat kuminum. Di kamar, aku membuka chat Farhan lagi, membaca pesan pesan lama yang penuh candaan. Aku mengetik panjang, meminta maaf karena terlambat menyadari, meminta ia menjawab apa pun, bahkan sekadar satu kata. Tanganku berkeringat saat menekan tombol kirim. Aku menunggu dengan dada berdebar, berharap notifikasi muncul. Tetapi layar tetap sunyi, seperti kuburan yang menolak suara.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku menatap ponsel sambil terus memikirkan cerita ibu warung, memikirkan Farhan yang mungkin sedang berada di ujung rapuhnya. Aku membayangkan ia duduk sendirian di sudut gelap, memandangi hidup seperti lorong tanpa pintu keluar. Aku ingin segera mencarinya, tapi aku bahkan tidak tahu di mana ia tinggal sekarang. Dalam kepanikan itu, aku hanya bisa berdoa lirih, meminta Allah melapangkan dadanya dan menguatkan bahunya. Aku menggenggam ponsel seolah benda itu bisa menjadi jembatan menuju dirinya.
Sekitar pukul dua dini hari, ponselku akhirnya bergetar. Ada pesan masuk, bukan dari Farhan, melainkan dari nomor tak dikenal. Pesannya singkat, tapi membuat tubuhku terasa dingin dari ujung kepala sampai kaki. “Terima kasih sudah mengirim doa itu. Farhan sudah tidak bisa membalas.” Aku membaca kalimat itu berkali kali, berharap itu hanya salah paham. Lalu pesan kedua masuk, “Saya kakaknya. Farhan wafat sore tadi.” Mataku panas, dan napasku seolah tertahan di tenggorokan.
Aku terpaku, ruangan terasa menyempit seperti menelan seluruh udara. Di kepalaku berputar pertanyaan yang tidak punya jawaban. Aku ingin menjerit, tapi suaraku hilang. Aku menggenggam ponsel erat erat, seolah jika kulepas, kenyataan akan benar benar jatuh menimpa. Air mata yang kutahan sejak siang akhirnya pecah, menetes tanpa bisa dikendalikan. Dadaku sesak, seperti ada batu besar yang mendadak diletakkan di sana.
Aku membalas dengan tangan gemetar, menanyakan bagaimana bisa, menanyakan di mana, menanyakan semuanya seperti orang bodoh yang baru sadar. Kakaknya menjawab bahwa Farhan sudah lama berjuang dengan depresi, dan hari itu ia menyerah. Ia ditemukan dengan ponsel masih menyala, membuka pesan terakhir yang baru saja kukirim. Kakaknya berkata Farhan sempat tersenyum kecil, lalu memejamkan mata untuk selamanya. Aku menggigit bibir, menahan rasa bersalah yang menyesakkan. Aku merasa seperti orang yang datang ke rumah saat pesta sudah selesai, membawa hadiah yang tidak lagi berguna.
Aku terdiam lama, sampai akhirnya aku membuka lagi teks doa yang tadi kubaca. Tiba tiba aku sadar sesuatu yang lebih menyayat. Foto yang tersebar itu bukan foto orang asing, bukan foto acak yang dibuat untuk motivasi. Foto itu adalah Farhan sendiri, yang diam diam menulis doa untuk orang lain, padahal dirinya sendiri sedang tenggelam. Ia mengunggahnya agar orang lain kuat, sementara ia sendiri tidak sanggup menahan luka yang sama. Ia menempelkan tulisan itu di warung, seolah menitipkan dirinya pada dunia yang tak sempat ia selamatkan.
Di situlah kenyataan menghantamku seperti palu yang memecahkan dada. Selama ini aku mengira doa itu ditulis untuk menolong orang orang yang sedang berjuang. Ternyata doa itu juga adalah permintaan diam diam Farhan kepada semesta, agar ada yang mengingat namanya dalam doa. Dan ketika aku akhirnya mengirim doa itu, ia sudah berada di batas akhir, menunggu kalimat sederhana yang datang terlambat beberapa jam. Aku menyadari, orang yang paling sering menguatkan justru sering tidak punya tempat untuk mengadu. Mereka tertawa keras agar orang lain tidak mendengar suara tangisnya sendiri.
Aku memejamkan mata, lalu berbisik pelan di kamar yang sunyi. “Ya Allah, lapangkan hatinya, kuatkan bahunya, mudahkan jalannya menuju Mu.” Suaraku patah, tapi aku memaksakan doa itu keluar, seolah sedang menebus sesuatu yang tidak mungkin kembali. Di luar, hujan berhenti, menyisakan bau tanah basah yang dingin. Dalam gelap, aku merasa dunia tidak berubah, hanya aku yang mendadak kehilangan satu nama yang dulu selalu ada. Dan aku akhirnya mengerti, doa yang paling tulus kadang datang dari orang yang diam diam sudah kehabisan alasan untuk hidup.














