Cerpen  

Cerpen: Rumah Pulang Lewat Layar Sunyi Malam

banner 120x600

Malam selalu datang lebih cepat bagi Badrun sejak ia merantau ke kota yang berjarak ratusan kilometer dari kampung halamannya. Seusai bekerja, ia kembali ke kamar kos berukuran sempit yang hanya diisi ranjang, meja kecil, dan lemari tua. Tidak ada suara ibu yang memanggilnya makan, tidak ada gelak tawa ayah yang biasanya menyambut senja di teras rumah, dan tidak ada aroma kopi yang setiap sore memenuhi halaman. Kesunyian menjadi teman yang paling setia, sementara telepon genggam menjelma menjadi satu satunya jendela yang menghubungkannya dengan rumah.

Setiap malam Badrun membuka media sosial bukan untuk mencari hiburan, melainkan menunggu status video yang diunggah tetangganya di kampung. Ia memperhatikan setiap detik dengan saksama, berharap kamera secara tidak sengaja menangkap sebagian rumahnya. Kadang yang terlihat hanya sudut tembok yang mulai kusam, kadang pucuk pohon mangga yang bergoyang diterpa angin, dan sesekali pagar besi yang pernah dicat ayahnya bertahun tahun silam. Potongan potongan kecil itu cukup membuatnya bertahan menghadapi rindu yang tidak pernah benar benar pergi.

Suatu malam sebuah video memperlihatkan sandal lusuh berwarna cokelat yang tergeletak di teras rumah. Badrun langsung mengenalinya. Itu sandal yang selalu dipakai ayahnya setiap pagi untuk menyapu halaman dan menyiram tanaman. Ia memutar video itu berkali kali hingga baterai teleponnya hampir habis, seolah setiap putaran mampu memperpendek jarak antara dirinya dan rumah yang kini terasa begitu jauh.

Di kantor, Badrun dikenal sebagai pegawai yang pendiam. Ia bekerja dengan tekun, tetapi jarang ikut berbincang saat jam istirahat. Sebagian rekan menganggapnya sombong, sebagian lagi menyebutnya tidak pandai bergaul. Penilaian itu muncul begitu saja tanpa seorang pun berusaha mengetahui apa yang sebenarnya sedang ia rasakan.

Suatu siang, ketika Badrun kembali menonton video kampung halamannya di ruang istirahat, beberapa rekan menghampirinya. Mereka tertawa kecil melihat Badrun berkali kali memutar video yang hanya memperlihatkan tembok, pohon, dan sandal tua. Salah seorang berkata bahwa Badrun terlalu sentimentil, sementara yang lain menyuruhnya berhenti memikirkan rumah dan fokus mengejar karier. Kalimat kalimat itu terdengar ringan bagi mereka, tetapi terasa berat di telinga Badrun karena tidak lahir dari pemahaman.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Mercusuar Yang Menunggu Di Ujung Pantai

Badrun hanya menyimpan telepon genggamnya tanpa menjawab. Ia sadar, orang yang tidak pernah merasakan rindu yang sama akan mudah menganggap perasaan orang lain sebagai sesuatu yang berlebihan. Nasihat memang mudah diucapkan ketika seseorang hanya melihat permukaan hidup orang lain. Padahal setiap manusia memikul beban yang tidak selalu tampak di mata.

Hari hari berikutnya justru menjadi lebih berat. Ibunya mulai jarang mengangkat telepon. Ayahnya hanya mengirim pesan singkat yang selalu berbunyi, “Semua baik baik saja, jangan khawatir.” Kalimat itu terdengar menenangkan, tetapi entah mengapa membuat hati Badrun semakin gelisah. Ia ingin pulang, namun kondisi keuangan dan pekerjaannya belum memungkinkan.

Kegelisahan itu membuat konsentrasinya menurun. Ia beberapa kali melakukan kesalahan kecil dalam pekerjaannya. Atasannya mulai memberikan teguran karena laporan yang biasanya rapi kini dipenuhi kekeliruan. Beberapa rekan kembali berkomentar bahwa Badrun terlalu lemah menghadapi tekanan. Tidak seorang pun bertanya mengapa perubahan itu terjadi.

Sore itu Pak Hasan, pegawai senior yang dikenal tenang, menghampiri Badrun. Beliau tidak langsung memberikan petuah. Ia hanya meletakkan dua gelas teh hangat di atas meja, lalu duduk tanpa berkata apa apa. Setelah beberapa menit berlalu, beliau bertanya pelan, “Sudah berapa lama kamu tidak pulang?”

Pertanyaan sederhana itu meruntuhkan semua pertahanan Badrun. Ia menceritakan kerinduannya kepada rumah, kecemasannya terhadap kedua orang tuanya, dan kebiasaannya menunggu video dari tetangga hanya untuk melihat sepotong halaman rumah. Pak Hasan tidak menyela sedikit pun. Beliau mendengarkan hingga seluruh cerita selesai, seakan memahami bahwa hati yang penuh sesak lebih membutuhkan telinga daripada nasihat.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Mercusuar Yang Menunggu Di Ujung Pantai

Barulah setelah suasana hening beberapa saat, Pak Hasan berkata lirih, “Aku pernah berada di posisimu. Dulu aku terlalu sibuk bekerja sampai kehilangan kesempatan menemani ibuku pada hari hari terakhir hidupnya. Sejak itu aku belajar bahwa mendengar lebih penting daripada buru buru menghakimi. Tidak semua orang membutuhkan solusi saat pertama kali bercerita. Banyak yang hanya ingin diyakinkan bahwa perasaannya dimengerti.”

Kalimat itu menancap dalam hati Badrun. Ia tidak merasa dinasihati, melainkan dipahami. Untuk pertama kalinya sejak merantau, beban yang selama ini dipikul sendirian terasa sedikit lebih ringan. Empati ternyata mampu membuka ruang yang tidak pernah bisa dibuka oleh kalimat bijak yang tergesa gesa.

Beberapa minggu kemudian Badrun memutuskan mengambil cuti. Ia memilih pulang meskipun harus mengorbankan sebagian penghasilannya. Perjalanan panjang itu dipenuhi berbagai bayangan tentang rumah yang selama ini hanya ia lihat melalui layar telepon. Ia membayangkan halaman, pohon mangga, teras, dan sandal ayah yang selalu muncul dalam video.

Sesampainya di rumah, Badrun memeluk ibunya dengan erat. Tubuh perempuan itu terasa lebih kurus daripada terakhir kali mereka bertemu. Ayahnya masih tersenyum seperti biasa, tetapi rambutnya kini hampir seluruhnya memutih. Tidak ada kata kata panjang yang terucap. Keheningan di antara mereka justru dipenuhi rasa syukur yang sulit dijelaskan.

Malam harinya Badrun duduk di teras bersama ayah. Dengan tersenyum ia bercerita bahwa selama ini dirinya sering menonton status tetangga hanya demi melihat rumah. Ayah mendengarkan sambil sesekali menganggukkan kepala. Namun sebelum sempat berkata apa apa, mata ayah tiba tiba berkaca kaca. Beliau hanya menepuk pelan bahu Badrun lalu masuk ke dalam rumah.

Keesokan paginya tetangga yang sering mengunggah video datang membawa sebuah kotak kecil. Ia menyerahkan kotak itu kepada Badrun sambil berkata pelan, “Ini titipan ayahmu. Beliau memintaku memberikannya kalau suatu hari kamu pulang.”

BERITA TERKAIT  Cerpen: Mercusuar Yang Menunggu Di Ujung Pantai

Di dalam kotak terdapat buku catatan yang sudah lusuh. Pada setiap halaman tertulis tanggal dan keterangan singkat. “Hari ini sengaja merekam pohon mangga karena Badrun suka memanjatnya waktu kecil.” “Hari ini sengaja merekam sandal supaya Badrun tahu Ayah masih sehat.” “Hari ini sengaja merekam tembok depan rumah agar Badrun merasa belum kehilangan jalan pulang.”

Tangan Badrun gemetar membalik halaman demi halaman. Di bagian paling akhir terdapat sebuah tulisan yang membuat napasnya tercekat. “Kalau suatu hari Ayah sudah tidak sempat menyapa lewat telepon, semoga rumah ini masih bisa menyapamu lewat layar. Sebab kadang seorang ayah tidak pandai mengatakan rindu, tetapi selalu berusaha mencari cara agar anaknya tahu bahwa rumah tidak pernah berhenti menunggu kepulangannya.”

Badrun menutup buku itu perlahan. Air matanya jatuh tanpa mampu dibendung. Saat menoleh ke arah ruang tengah, ia melihat ayah sedang duduk diam sambil menjalani terapi pernapasan yang selama ini sengaja disembunyikan darinya karena penyakit paru paru yang telah lama diderita semakin memburuk. Seketika Badrun menyadari bahwa semua video yang selama ini ia anggap kebetulan ternyata adalah bahasa cinta seorang ayah yang diam diam sedang berpacu dengan waktu. Pada saat itulah ia memahami bahwa sebelum memberi nasihat, seseorang harus lebih dahulu menghadirkan empati, memberikan pengakuan atas perasaan orang lain, dan membangun kedekatan. Sebab hanya hati yang mau memahami yang mampu melihat kasih sayang dalam hal hal yang tampak paling sederhana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *