OPINI  

Ketika Rezeki Menjadi Jalan Kebaikan

banner 120x600

Di balik seorang bapak yang mengendarai motor mencari penumpang, sering tersembunyi perjuangan panjang yang tidak terlihat oleh mata. Ia mungkin tampak sederhana, lelah, dan tidak banyak bicara, tetapi di dalam hatinya ada tanggung jawab besar untuk menghidupi keluarga. Karena itu, jangan pernah meremehkan perjuangan seseorang mencari rezeki halal, sebab setiap tetes keringatnya dapat bernilai ibadah di hadapan Allah.

Siang itu, sebuah pemandangan sederhana di sebuah SPBU menyimpan pelajaran kehidupan yang begitu dalam. Seorang perempuan sedang mengisi bahan bakar kendaraannya. Di hadapannya terdapat seorang bapak pengemudi ojek online yang hendak mengisi bensin. Ketika membuka jok motornya, terlihat uang yang dibawanya hanya sekitar dua belas ribu rupiah.

Percakapan singkat kemudian terjadi. Ketika ditanya hendak mengisi berapa, bapak itu hanya menunjukkan uang yang dimilikinya sambil tersenyum ramah. Tidak ada keluhan panjang, tidak ada kemarahan kepada keadaan, apalagi menyalahkan kehidupan. Ketika ditanya tentang keadaan pekerjaannya hari itu, ia menjawab bahwa sejak pagi baru memperoleh sekitar dua puluh ribu rupiah. Sudah empat jam berkeliling, tetapi orderan sepi dan bensin justru hampir habis.

Kemudian datang sebuah kalimat sederhana yang mengubah suasana. Perempuan itu mengatakan, “Ya sudah, isi full tank saja, Pak.” Bapak tersebut tidak mampu menahan air matanya. Matanya berkaca kaca, kemudian menangis. Perempuan yang mengucapkan kalimat itu pun ikut menangis.

Mengapa peristiwa sederhana seperti itu mampu menyentuh hati?

Sebab di balik uang dua belas ribu rupiah itu ada perjuangan seorang manusia. Di balik motor yang terus berkeliling terdapat tanggung jawab. Di balik wajah yang tampak biasa terdapat seseorang yang mungkin sedang berjuang membayar kebutuhan rumah tangga, memenuhi kebutuhan anak, membantu pasangan, atau sekadar memastikan bahwa hari itu keluarganya tetap dapat makan.

Kita sering hanya melihat hasil, tetapi lupa melihat perjuangan. Kita melihat seseorang menerima uang, tetapi tidak melihat berapa lama ia menunggu. Kita melihat seorang pengemudi mengantarkan penumpang, tetapi tidak mengetahui berapa liter bensin yang telah ia habiskan. Kita melihat seseorang tersenyum, tetapi tidak mengetahui berapa banyak kegelisahan yang sedang ia sembunyikan.

Islam mengajarkan bahwa mencari rezeki halal merupakan bagian dari kehormatan seorang manusia. Allah berfirman dalam Surah Al Jumu’ah ayat 10:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِي ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak banyak agar kamu beruntung.”

Ayat ini memberikan keseimbangan yang indah. Setelah menunaikan kewajiban kepada Allah, manusia diperintahkan bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia-Nya. Bekerja bukan sesuatu yang hina. Mengendarai motor mencari penumpang bukan pekerjaan yang rendah. Berdagang, bertani, mengajar, mengemudi, mengantar barang, menjadi buruh, bekerja di kantor, atau melakukan pekerjaan halal lainnya adalah bagian dari ikhtiar manusia memenuhi amanah kehidupan.

Yang menjadikan pekerjaan itu mulia bukan semata mata jabatan, seragam, kendaraan, atau besarnya pendapatan, melainkan kehalalan usaha, ketulusan niat, kejujuran, dan kesungguhan dalam menunaikan tanggung jawab.

Rasulullah ﷺ juga memberikan gambaran yang sangat kuat tentang kemuliaan mencari nafkah dengan tangan sendiri. Beliau bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada makanan hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah, Dawud عليه السلام, dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)

Karena itu, jangan memandang rendah orang yang sedang bekerja keras mencari nafkah. Bisa jadi orang yang kita anggap sederhana justru sedang melakukan amal yang sangat mulia. Bisa jadi keringatnya menjadi saksi bahwa ia tidak menyerah kepada keadaan. Bisa jadi perjalanan panjangnya di bawah panas matahari adalah bentuk tanggung jawab yang kelak bernilai ibadah di sisi Allah.

Terlebih lagi ketika perjuangan tersebut dilakukan oleh seorang ayah yang usianya tidak lagi muda.

Ada bapak yang seharusnya sudah banyak beristirahat, tetapi masih harus keluar rumah. Ada bapak yang tubuhnya sudah lelah, tetapi tetap memaksakan diri bekerja. Ada bapak yang mungkin merasakan sakit pada tubuhnya, tetapi tidak banyak bercerita kepada keluarganya. Ada bapak yang sebenarnya ingin menikmati masa tua, tetapi keadaan membuatnya kembali memutar roda kehidupan.

Tidak semua ayah pandai mengungkapkan rasa lelah. Sebagian memilih diam karena tidak ingin keluarganya ikut terbebani. Mereka mungkin tidak mengatakan, “Ayah sedang kesulitan.” Mereka hanya berkata, “Tidak apa apa.” Padahal di dalam diam itu terdapat perjuangan yang panjang.

Karena itu, bagi siapa pun yang masih memiliki ayah dan ibu, jangan menunggu kehilangan untuk memahami betapa berharganya mereka.

Allah berfirman dalam Surah Al Isra ayat 23:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Perintah berbuat baik kepada orang tua diletakkan Allah setelah perintah menyembah-Nya. Ini menunjukkan betapa agung kedudukan orang tua dalam kehidupan seorang anak.

Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan bahwa keridaan Allah berkaitan dengan keridaan orang tua. Beliau bersabda:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Keridaan Tuhan terdapat pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Tuhan terdapat pada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi)

Maka ketika kita melihat seorang ayah yang masih berjuang mencari nafkah, hendaknya hati kita tidak hanya tersentuh, tetapi juga tergerak untuk memperbaiki hubungan dengan orang tua kita sendiri.

Sebab ada orang yang baru benar benar memahami arti seorang ayah setelah ayahnya tiada. Ada yang dahulu menganggap nasihat ayah sebagai sesuatu yang biasa, lalu setelah ayah pergi, ia merindukan suara itu. Ada yang dahulu merasa terganggu ketika ayah bertanya banyak hal, lalu setelah kehilangan, ia berharap dapat mendengar satu pertanyaan sederhana lagi.

Kehilangan mengajarkan sesuatu yang sering tidak mampu diajarkan oleh nasihat: bahwa kehadiran seseorang terkadang baru terasa sangat berharga setelah ia tidak lagi berada di sisi kita.

Karena itu, bagi yang ayahnya masih hidup, muliakanlah beliau. Tanyakan kabarnya. Dengarkan ceritanya. Bantulah kebutuhannya sesuai kemampuan. Jangan pelit mengucapkan terima kasih. Jangan merasa gengsi menggandeng tangannya. Jangan menunda meminta maaf. Dan jangan menunggu hari raya untuk meneleponnya.

Bagi yang ayahnya telah meninggal, jangan menganggap hubungan itu telah berakhir. Doa seorang anak tetap menjadi salah satu bentuk bakti yang sangat berharga. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Maka jangan pernah berhenti mendoakan ayah dan ibu yang telah mendahului kita. Sebut nama mereka dalam doa. Mohonkan ampunan untuk mereka. Bersedekahlah atas nama mereka apabila mampu. Lanjutkan kebaikan yang dahulu mereka ajarkan.

Kisah di SPBU itu juga mengajarkan pelajaran lain yang sangat penting: jangan meremehkan kebaikan kecil.

Mengisi penuh tangki seorang pengemudi yang sedang kesulitan mungkin terlihat sederhana. Nilainya mungkin tidak besar bagi orang yang memberikan. Tetapi bagi orang yang menerima, pertolongan itu dapat berarti sangat besar. Bukan hanya karena bensin membuat motornya kembali berjalan, melainkan karena ia merasa bahwa di tengah sepinya orderan dan beratnya kehidupan, masih ada orang yang peduli kepadanya.

Inilah salah satu keindahan sedekah. Sedekah bukan sekadar memindahkan sebagian harta dari tangan seseorang kepada orang lain. Sedekah dapat memindahkan kesedihan menjadi harapan, kegelisahan menjadi ketenangan, dan keputusasaan menjadi semangat untuk melanjutkan perjalanan.

Allah berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 261:

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”

Kita tidak pernah tahu kebaikan kecil mana yang akan menjadi sebab datangnya pertolongan Allah. Mungkin hanya membelikan bensin. Mungkin membayar makanan seseorang. Mungkin memberikan ongkos. Mungkin membantu membawa barang. Mungkin menyapa dengan ramah. Mungkin mendengarkan keluh kesah seseorang tanpa menghakimi.

Jangan menunggu menjadi kaya untuk berbuat baik. Jangan menunggu memiliki banyak uang untuk bersedekah. Jangan menunggu mampu menyelesaikan semua persoalan seseorang untuk menolongnya.

Kadang seseorang tidak membutuhkan kita menyelesaikan seluruh masalahnya. Ia hanya membutuhkan sedikit bantuan agar mampu melanjutkan perjalanan.

Dan satu hal yang tidak kalah penting, jangan pula merasa rendah ketika sedang berada dalam kesulitan. Seorang manusia tetap mulia selama ia berusaha dengan cara yang halal dan tidak kehilangan kejujuran. Rezeki yang sedikit tetapi halal lebih baik daripada kelimpahan yang diperoleh dengan cara yang haram.

Allah berfirman dalam Surah At Talaq ayat 2 dan 3:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُۥ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka sangkanya. Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”

Ayat ini bukan alasan untuk berhenti berusaha. Tawakal bukan berarti duduk menunggu rezeki datang. Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah manusia melakukan ikhtiar yang benar.

Bapak pengemudi itu telah melakukan bagiannya. Ia keluar rumah, mengendarai motor, berkeliling mencari orderan, menanggung panas, menunggu pelanggan, dan tetap tersenyum meskipun pendapatannya belum sesuai harapan. Bisa jadi hari itu Allah belum memberikan rezeki yang besar kepadanya. Tetapi siapa tahu, justru sebuah pertemuan sederhana di SPBU menjadi jalan rezeki dan penguat hatinya.

Begitulah kehidupan. Kita sering mengira bahwa rezeki hanya berbentuk uang. Padahal rezeki bisa berupa kesehatan, keluarga yang menyayangi, teman yang peduli, orang yang menolong, hati yang sabar, kesempatan bekerja, keselamatan dalam perjalanan, dan kemampuan untuk tetap bersyukur ketika keadaan belum sesuai harapan.

Semoga kita menjadi manusia yang tidak hanya pandai mencari rezeki, tetapi juga pandai menjadi jalan rezeki bagi orang lain. Tidak hanya meminta pertolongan Allah, tetapi juga ringan tangan menolong sesama. Tidak hanya menangisi kisah perjuangan seorang ayah, tetapi juga menghargai ayah yang masih ada dan mendoakan ayah yang telah tiada.

Sebab boleh jadi, suatu hari nanti, ketika kita sedang berada dalam keadaan paling sulit, Allah mengirimkan pertolongan melalui seseorang yang sebelumnya tidak pernah kita kenal.

Dan boleh jadi pula, pertolongan yang kita berikan hari ini kepada orang lain adalah salah satu cara Allah menyiapkan pertolongan untuk kita pada hari yang akan datang.

Maka teruslah bekerja dengan jujur. Teruslah berikhtiar dengan sabar. Jangan malu mencari rezeki halal. Jangan meremehkan pekerjaan sederhana. Jangan menilai manusia hanya dari penampilan dan penghasilannya. Jangan menunda berbuat baik hanya karena merasa bantuan kita terlalu kecil.

Karena di hadapan Allah, yang dinilai bukan sekadar besar kecilnya pemberian, melainkan keikhlasan dan ketakwaan yang menyertainya.

Dan untuk para ayah yang hari ini masih berjuang mencari nafkah, mungkin tidak banyak orang mengetahui lelahmu. Mungkin tidak semua orang memahami beratnya perjalananmu. Tetapi yakinlah, Allah mengetahui setiap langkahmu, setiap tetes keringatmu, setiap kesabaranmu, dan setiap pengorbananmu.

Semoga Allah melapangkan rezekimu, menguatkan tubuhmu, menjaga perjalananmu, mencukupkan kebutuhan keluargamu, mengangkat kesulitanmu, dan mengganti setiap lelahmu dengan keberkahan.

Untuk ayah yang masih bersama kita, semoga Allah panjangkan usia dalam kebaikan. Untuk ayah yang telah lebih dahulu kembali kepada Allah, semoga Allah mengampuni dosa dosanya, melapangkan kuburnya, menerima amal baiknya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Pada akhirnya, kisah sederhana di SPBU itu mengingatkan kita bahwa manusia tidak pernah tahu seberapa berat perjuangan orang lain. Maka jangan mudah menghakimi. Jangan mudah merendahkan. Jangan pelit berbuat baik.

Sebab mungkin seseorang sedang berjuang sekuat tenaga hanya untuk bertahan sampai hari esok.

Dan mungkin, melalui tangan kita, Allah sedang mengajarkan kepadanya satu pesan sederhana: “Kamu tidak sendirian. Masih ada manusia yang peduli. Dan pertolongan Allah dapat datang melalui siapa saja, bahkan melalui sebuah kebaikan kecil yang dilakukan dengan tulus.”

Penulis: Dwi Taufan HidayatEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *