BANGKALAN – Proses pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) non desil di Kecamatan Arosbaya berada di ambang kegagalan. Bukan karena petugas desa tidak bekerja, melainkan akibat aplikasi Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG) yang terus bermasalah dan sulit diakses.
Ironisnya, di saat pemerintah pusat menuntut percepatan pendataan, capaian input data dari seluruh desa di Kecamatan Arosbaya hingga saat ini masih belum menembus angka 1 persen. Kondisi tersebut membuat para operator desa frustrasi karena pekerjaan yang dilakukan berulang kali berakhir sia-sia akibat gangguan sistem.
Sejumlah operator SIKS-NG mengeluhkan aplikasi yang nyaris tak bisa diandalkan. Saat proses input berlangsung, sistem kerap mengalami error, loading tanpa akhir, gagal menyimpan data, hingga tiba-tiba keluar sendiri. Akibatnya, data yang telah dimasukkan berjam-jam hilang begitu saja.
“Sudah menginput banyak data, pas disimpan malah gagal. Kadang harus mengulang dari awal. Setiap hari yang kami hadapi bukan pendataan, tapi melawan error sistem,” keluh salah seorang operator.
Keluhan tersebut hampir dirasakan seluruh operator DTSEN non desil di Kecamatan Arosbaya. Mereka mengaku lebih banyak menghabiskan waktu menunggu aplikasi normal dibanding melakukan input data.
Padahal, DTSEN menjadi basis utama berbagai program perlindungan sosial pemerintah. Jika proses pemutakhiran data tersendat, dikhawatirkan akan berdampak pada validitas data penerima bantuan di lapangan.
Para operator menduga gangguan terjadi karena server pusat tidak mampu menampung lonjakan akses dari ribuan pengguna yang melakukan input secara bersamaan di seluruh Indonesia. Akibatnya, aplikasi menjadi lambat, sering error, bahkan tidak bisa dibuka sama sekali pada jam-jam tertentu.
“Kami setiap hari standby di depan komputer. Bukan tidak bekerja, tetapi sistemnya yang tidak berjalan. Target terus dikejar, sementara aplikasi justru menjadi hambatan utama,” ujar operator lainnya.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius. Sebab, tenggat waktu pemutakhiran DTSEN non desil terus berjalan, sedangkan progres di lapangan nyaris tidak bergerak. Jika gangguan server tidak segera dibenahi, bukan tidak mungkin target penyelesaian pendataan di Arosbaya akan meleset jauh dari jadwal yang ditetapkan.
Para operator berharap pemerintah pusat dan pengelola SIKS-NG tidak menutup mata terhadap persoalan tersebut. Mereka mendesak adanya perbaikan server dan sistem secara menyeluruh agar proses pendataan sosial tidak terus menjadi korban gangguan teknis.
“Kalau server tetap seperti sekarang, jangan salahkan operator ketika capaian rendah. Kami siap bekerja siang malam, tetapi aplikasi yang seharusnya membantu justru menjadi penghambat utama,” tegas salah seorang operator.
Dengan capaian yang masih di bawah satu persen, Arosbaya kini berpacu dengan waktu. Sementara target terus menghitung mundur, para operator hanya bisa berharap SIKS-NG segera pulih sebelum pemutakhiran DTSEN non desil benar-benar lumpuh total.













