Agama  

Belajar Menjaga Lisan Dan Diri

banner 120x600

Busernasional.my.id – Ada saatnya nasihat telah disampaikan dengan baik, tetapi tidak diterima. Pada keadaan demikian, seorang muslim tidak perlu memaksa, mengejar pengakuan, atau memperpanjang perdebatan. Tugas kita adalah menyampaikan kebaikan dengan hikmah, menjaga adab, lalu menyerahkan hati manusia kepada Allah. Keteguhan menjaga lisan menjadi tanda kematangan iman dan penghormatan kepada diri sendiri. Dalam menghadapi penolakan, kita perlu selalu tenang, sabar, dan beradab.

Tidak semua penjelasan didengar, dan tidak semua kebenaran segera dipahami. Setelah menyampaikan dengan baik, kita perlu tahu kapan harus berhenti. Diam kadang merupakan kebijaksanaan.

Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Artinya: “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan siapa yang mendapat petunjuk.”

BERITA TERKAIT  Usai Sudah Perayaan Houl Solo, tinggal kenangan serta berkah Barokahnya Houl bagi para jamaah.

Ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan harus disampaikan dengan hikmah. Kita berusaha menerangkan, tetapi tidak memaksa hati orang lain. Hidayah berada dalam kehendak Allah; kita menyampaikan dengan adab dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Artinya: “Aku menjamin sebuah rumah di sekitar surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun berada di pihak yang benar, sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun bercanda, dan sebuah rumah di bagian tertinggi surga bagi orang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud)

BERITA TERKAIT  Pintu Rezeki Dari Allah

Hadis ini tidak berarti kebenaran disembunyikan. Mempertahankan kebenaran tidak selalu membutuhkan pertengkaran; terkadang penjelasan cukup disampaikan, lalu kita memberi ruang untuk berpikir.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, cukup sekali menjelaskan apabila pesan telah disampaikan. Jika tidak didengarkan, kita boleh diam. Jika tidak dipahami, kita boleh memberi waktu. Jika perdebatan berubah menjadi saling merendahkan, kita boleh meninggalkannya dengan tenang.

Hargailah dirimu dengan menjaga lisan, waktu, hati, dan martabat. Jangan memaksa orang menerima sesuatu. Kadang jawaban terbaik adalah akhlak yang baik, langkah yang tenang, dan hati yang bersandar kepada Allah.

BERITA TERKAIT  Usai Sudah Perayaan Houl Solo, tinggal kenangan serta berkah Barokahnya Houl bagi para jamaah.

Semoga Allah menjadikan kita mampu berbicara ketika membawa maslahat, diam ketika lebih menyelamatkan, dan meninggalkan perdebatan tanpa kebencian. Kemuliaan seorang muslim tampak ketika ia menjaga akhlak saat diuji!

Penulis: DwEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *