Sore itu Kamto duduk di tepi ranjang kayu yang bunyinya selalu berderit setiap kali ia bergerak. Di tangannya ada selembar foto lama yang sudutnya sudah menguning, foto dirinya kecil berdiri di samping ayah dengan latar sebuah gedung bertuliskan nama sekolah. Ia menatap wajah ayahnya lama, seolah berharap dari foto itu keluar jawaban. Di luar, hujan turun pelan dan suara rintiknya membuat kontrakan sempit itu terasa makin sunyi.
Di meja kecil dekat jendela, sebuah kertas lusuh terlipat rapi, berisi tulisan yang pernah ia salin dari sebuah unggahan. Kamto membacanya perlahan, seperti membaca doa yang dipeluk diam diam. Waktu kamu merasa tidak akan bisa, tapi kamu mau usaha, itu namanya bisa. Waktu kamu takut, tapi kamu mau mencoba, itu namanya berani. Waktu kamu ngerasa sakit, tapi kamu ingin terlihat baik baik saja, itu namanya kuat.
Kamto ingin tertawa, tapi yang keluar justru napas panjang yang berat. Sejak ayahnya meninggal tiga tahun lalu, hidup seperti memaksanya tumbuh tanpa sempat belajar. Ia bekerja serabutan, mengantar galon, menjaga toko, kadang membantu bongkar muat di pasar. Uangnya selalu habis sebelum sempat dihitung dengan benar, sementara ibunya semakin sering batuk dan tubuhnya makin kurus. Kamto belajar menahan lapar dengan minum air putih, lalu menebar senyum agar ibunya percaya semuanya baik baik saja.
Dari balik pintu kamar, terdengar suara batuk ibunya yang tertahan, seperti sengaja disembunyikan. Kamto berdiri pelan, menempelkan telapak tangan ke daun pintu, lalu bertanya dengan suara lembut apakah ibunya baik baik saja. Jawaban ibunya terdengar lemah tapi tetap hangat, mengatakan ia hanya masuk angin dan menyuruh Kamto makan. Kamto mengangguk meski ibunya tidak melihat, lalu kembali duduk dengan dada yang terasa sempit.
Ia membuka dompetnya dan menemukan uang yang tersisa hanya cukup untuk membeli obat batuk dan sekarung kecil beras. Besok pagi ibunya harus kontrol ke puskesmas, tetapi ia belum punya ongkos untuk ojek. Kamto menatap langit langit yang kusam dan mulai membayangkan hal hal buruk yang mungkin terjadi. Ia merasa khawatirnya seperti hantu yang menempel di kepala, terus membisikkan kegagalan sebelum ia sempat mencoba.
Malam semakin larut dan listrik sempat padam beberapa kali. Kamto menyalakan lampu dari ponsel, lalu mengambil buku catatan ayahnya yang masih ia simpan. Di halaman terakhir ada tulisan tangan yang mulai pudar, seolah sengaja ditinggalkan untuk suatu hari yang tepat. Kalau kamu merasa tidak bisa, tapi tetap mau usaha, itu namanya bisa. Kamto menatap kalimat itu lama, dan tanpa sadar matanya basah.
Saat ia masih memandangi tulisan itu, ponselnya bergetar di atas kasur. Sebuah pesan masuk dari Dimas, teman lama yang dulu sering belajar bersamanya. Pesan itu singkat tapi seperti petir yang menyambar malam, ada tes kerja besok pagi di kantor logistik besar di pusat kota. Dimas menulis bahwa ini kesempatan bagus, gajinya lumayan, dan butuh orang yang tahan banting seperti Kamto.
Kamto membaca pesan itu berulang ulang, lalu menatap pintu kamar ibunya. Ia tahu besok ibunya juga harus ke puskesmas, dan ia harus memilih antara mengantar ibu atau mengejar tes kerja. Ia duduk menunduk, menggenggam lututnya sendiri seperti anak kecil yang kehilangan arah. Dalam kepalanya, ketakutan berkelahi dengan harapan, seperti dua orang yang saling menarik tubuhnya ke arah berbeda.
Ia masuk ke kamar ibunya dengan langkah pelan. Ibunya terbaring dengan selimut tipis, wajahnya pucat tapi masih memaksakan senyum. Kamto berkata bahwa besok ia harus keluar pagi untuk tes kerja, suaranya nyaris berbisik karena takut ibunya kecewa. Ibunya menatapnya lama, lalu mengangguk pelan dan berkata, pergi saja, Nak, ibu bisa naik angkot sendiri. Kalimat itu sederhana, tapi membuat dada Kamto seperti diremas.
Pagi datang dengan langit kelabu dan udara dingin yang menusuk. Kamto meminjam motor tua tetangga yang suaranya kasar seperti orang batuk, lalu melaju melewati jalan berlubang yang penuh genangan. Sepanjang perjalanan ia berdoa tanpa suara, hanya bibirnya bergerak pelan. Ia merasa takut, tetapi ia terus melaju, karena ia sadar takut tidak akan pernah hilang jika ia tidak bergerak.
Gedung kantor logistik itu tinggi dengan pintu kaca yang memantulkan bayangannya. Kamto melihat dirinya sendiri di pantulan itu, kemejanya sudah pudar dan sepatunya tampak lelah. Ia merapikan kerah baju dan menahan napas, mencoba menegakkan bahu agar tidak terlihat kalah sebelum bertanding. Di ruang tunggu, banyak orang berpenampilan rapi, dan Kamto merasa seperti datang membawa dunia yang berbeda.
Namanya dipanggil, lalu ia masuk ke ruang wawancara yang dingin oleh pendingin udara. Dua pewawancara duduk di balik meja, wajah mereka tenang tapi tajam. Mereka bertanya pengalaman kerja, kemampuan, dan alasan ia melamar. Kamto menjawab jujur, mengatakan ia tidak punya banyak sertifikat, tapi ia terbiasa bekerja keras dan tidak mudah menyerah. Ia berusaha bicara tegas meski suaranya beberapa kali bergetar.
Salah satu pewawancara bertanya apa motivasi terbesarnya. Kamto menelan ludah, lalu berkata ia ingin menyembuhkan ibunya, ingin membuat ibunya tidak lagi menangis diam diam di malam hari. Ia berkata ia sering merasa tidak mampu, tapi ia tetap berusaha karena percaya Tuhan melihat usaha hamba Nya. Ia mengucapkannya tanpa berlebihan, karena ia tahu kesedihan tidak perlu dipamerkan agar terasa nyata.
Setelah wawancara selesai, Kamto keluar dengan langkah ringan tapi pikiran berat. Ia duduk di halte dekat gedung itu, menunggu kabar sambil menatap kendaraan lalu lalang. Tangannya berkeringat, dan ia memeriksa ponsel berkali kali. Di tengah kecemasannya, ia teringat kalimat yang sering ia baca, bahwa khawatir kadang hanya ada di kepala dan belum tentu kejadian. Namun hari itu, kepala Kamto terasa terlalu ramai untuk diajak tenang.
Beberapa jam kemudian, teleponnya berdering dari nomor tak dikenal. Kamto mengangkat dengan jantung yang seperti hendak melompat keluar. Suara di seberang mengatakan bahwa ia diterima bekerja, dan ia diminta datang lusa untuk tanda tangan kontrak. Kamto memejamkan mata, lalu mengucap syukur dengan napas patah patah, seperti orang yang baru lolos dari tenggelam.
Ia menutup telepon dan segera menyalakan motor untuk pulang. Sepanjang jalan ia membayangkan wajah ibunya saat mendengar kabar ini, membayangkan ibunya tersenyum lega. Ia ingin membeli bubur hangat, ingin membelikan obat yang lebih baik, ingin memperbaiki atap kontrakan yang bocor. Di dadanya, harapan mengalir deras seperti sungai yang selama ini tertahan.
Saat tiba di rumah, pintu kontrakan tidak terkunci rapat. Kamto mendorongnya pelan dan memanggil ibunya, tetapi tidak ada jawaban. Ia masuk dengan langkah cepat, lalu melihat sandal ibunya masih tergeletak rapi di dekat kamar. Dadanya tiba tiba dingin, seperti ada sesuatu yang jatuh di dalam dirinya. Kamto mengetuk pintu kamar ibunya sambil memanggil lebih keras, tapi tetap tidak ada suara.
Ia membuka pintu kamar dan melihat ibunya terbaring, mata terpejam, tubuhnya diam. Kamto berlari mendekat, memegang tangan ibunya yang terasa dingin, lalu memanggilnya berulang ulang. Di bibir ibunya masih ada sisa senyum kecil yang tenang, seperti seseorang yang baru saja selesai berdoa. Kamto mengguncang bahunya, tetapi ibunya tidak bergerak, dan dunia Kamto runtuh tanpa suara.
Di samping bantal ibunya, ada amplop cokelat yang belum pernah ia lihat. Kamto membukanya dengan tangan gemetar, dan menemukan surat bertuliskan tangan ibunya sendiri. Surat itu pendek, tapi setiap kalimatnya seperti pisau yang menusuk pelan. Ibu tahu kamu takut, Nak, tapi ibu juga tahu kamu selalu berani mencoba. Kalau suatu hari ibu tidak ada, jangan berhenti berjalan, karena Tuhan tidak pernah meninggalkanmu.
Kamto membaca surat itu sambil menangis, dadanya terasa pecah oleh sesak yang tidak bisa ia jelaskan. Di bagian bawah surat, ada satu baris yang membuat tubuhnya membeku. Ibu menulis bahwa sejak beberapa minggu lalu ia sudah menyiapkan dirinya, karena dokter mengatakan waktunya tidak panjang. Ia menulis bahwa ia sengaja tidak memberi tahu Kamto, karena ia ingin Kamto fokus mengejar kerja dan masa depannya.
Kamto menutup surat itu, lalu menunduk di sisi ranjang ibunya. Ia merasa bersalah, merasa terlambat, merasa seolah semua usaha yang baru saja ia raih tidak lagi punya arti. Namun di tengah tangisnya, ia mendengar suara halus dari ruang tengah, suara ponselnya yang bergetar lagi. Kamto menghapus air mata, berjalan limbung, lalu melihat sebuah pesan baru dari nomor Dimas.
Pesan itu hanya satu kalimat, tetapi membuat Kamto menatap layar seperti orang kehilangan napas. Dimas menulis bahwa ia sebenarnya tidak pernah mengirim pesan lowongan kerja, karena ponselnya hilang sejak seminggu lalu. Kamto merasa darahnya berhenti mengalir, lalu menoleh ke arah kamar ibunya yang masih terbuka. Di dalam kamar itu, ia melihat kertas lusuh berisi tulisan motivasi yang dulu ia simpan, kini tergeletak di lantai seperti baru saja jatuh.
Kamto kembali masuk dan memungut kertas itu dengan tangan gemetar. Di bagian belakang kertas, ada tulisan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, tulisan yang sangat ia kenal karena itu tulisan ayahnya. Jika kamu membaca ini pada hari kamu berhasil, berarti ibu sudah pulang duluan. Jangan takut, Nak, karena doa ibu selalu menjadi jalanmu. Kamto menutup mulutnya, tubuhnya lemas, dan untuk pertama kalinya ia sadar bahwa selama ini Tuhan menjawab doanya lewat cara yang paling sunyi.
Ia duduk di lantai, memeluk kertas itu seperti memeluk dua orang yang paling ia cintai. Di luar, hujan turun lagi, tetapi kini terdengar seperti lantunan yang menenangkan. Kamto menangis sampai napasnya terputus putus, namun di sela tangis itu ia merasa ada kekuatan yang perlahan tumbuh. Ia akhirnya mengerti bahwa berani bukan berarti tidak kehilangan, melainkan tetap berjalan meski kehilangan itu membuat dunia serasa gelap.
Ketika malam datang, Kamto menyalakan lampu kecil dan menatap wajah ibunya untuk terakhir kali. Ia mencium kening ibunya dengan lembut, lalu berjanji dalam hati bahwa ia akan tetap bekerja, tetap berusaha, dan tetap berdoa. Ia tahu hidupnya tidak akan sama lagi, tetapi ia juga tahu ia tidak benar benar sendirian. Di atas meja, foto lama ayahnya berdiri tegak, seolah menyaksikan semuanya, dan Kamto merasa seperti baru saja dituntun pulang ke makna yang sebenarnya.














