Menjadi Baik Dengan Bertahan

banner 120x600

Banyak orang memiliki keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Mereka membuat target, menyusun rencana, lalu memulai dengan penuh semangat. Namun tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan karena merasa berat menghadapi prosesnya. Padahal perubahan sejati tidak lahir dari langkah yang spektakuler, melainkan dari kesediaan untuk terus bertahan dalam kebaikan, meskipun perlahan, sederhana, dan sering kali tidak terlihat oleh manusia.

Di zaman yang serba cepat ini, banyak orang menginginkan hasil yang besar dalam waktu singkat. Mereka ingin hidup lebih sehat, lebih disiplin, lebih dekat kepada Allah, lebih produktif, dan lebih bermanfaat. Akan tetapi, ketika perubahan itu menuntut pengorbanan, kesabaran, dan konsistensi, tidak sedikit yang mulai kehilangan semangat. Padahal jalan menuju kebaikan memang tidak pernah dibangun dari kemudahan semata. Ia dibangun dari perjuangan yang terus menerus dilakukan, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang memberikan apresiasi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan bahwa manusia akan diuji dalam perjalanan hidupnya. Firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga serta bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 200)

Ayat ini menunjukkan bahwa keberuntungan tidak hanya diberikan kepada mereka yang memulai, tetapi kepada mereka yang mampu bersabar dan bertahan. Kesabaran bukan sekadar menahan diri dari keluh kesah, tetapi kemampuan untuk terus berada di jalan yang benar meskipun terasa berat.

Ketika seseorang mencoba berpuasa Senin dan Kamis, misalnya, ia sedang melatih dirinya untuk mengendalikan hawa nafsu. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan untuk menundukkan keinginan yang sering kali menguasai hati. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

BERITA TERKAIT  Njenang Dusun Watugel, Wujud Guyub Rukun dan Pelestarian Budaya Leluhur

تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Amal-amal diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku senang ketika amalku diperlihatkan sementara aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi)

Begitu pula ketika seseorang berusaha mengurangi atau menghentikan konsumsi gula berlebihan selama beberapa waktu. Mungkin hal itu tampak sederhana, namun sejatinya ia sedang belajar mengendalikan keinginan dirinya. Islam mengajarkan keseimbangan dan menjauhkan diri dari sikap berlebihan. Allah berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Demikian pula saat seseorang membiasakan mandi air dingin, bangun sebelum pukul lima pagi, atau berjalan kaki setiap hari. Semua itu merupakan bentuk latihan mental agar diri tidak selalu tunduk pada kenyamanan. Sebab salah satu penyebab manusia sulit berkembang adalah karena terlalu mencintai zona nyaman. Padahal kemuliaan sering lahir dari kemampuan mengalahkan rasa malas.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Doa ini menunjukkan bahwa kemalasan bukanlah keadaan yang boleh dipelihara. Ia adalah penghalang yang dapat menjauhkan manusia dari banyak kebaikan.

Membaca buku sepuluh menit setiap hari juga merupakan langkah kecil yang bernilai besar. Pengetahuan tidak selalu datang dari belajar berjam-jam. Kadang ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus menerus. Allah memuliakan orang-orang yang berilmu sebagaimana firman-Nya:

BERITA TERKAIT  SOMASI, KEKUASAAN, DAN BATAS KEBEBASAN BERPENDAPAT

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Begitu juga dengan membaca Al-Qur’an satu lembar setiap hari. Mungkin tampak sedikit, tetapi bila dilakukan terus menerus akan menjadi cahaya yang menerangi hati. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan petunjuk kehidupan. Allah berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim)

Di tengah maraknya media sosial, tantangan untuk mengurangi scrolling berlebihan menjadi sangat relevan. Banyak waktu yang hilang tanpa disadari. Berjam-jam berlalu hanya untuk melihat hal-hal yang tidak menambah manfaat. Padahal seorang mukmin diajarkan menjaga waktunya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Merenungi diri di depan cermin juga dapat menjadi sarana muhasabah. Bukan untuk mengagumi penampilan, tetapi untuk mengingat bahwa setiap hari usia berkurang dan perjalanan menuju akhirat semakin dekat. Seorang mukmin yang cerdas adalah yang sering mengevaluasi dirinya sebelum dihisab oleh Allah.

BERITA TERKAIT  Kemendikdasmen Harus Lindungi Guru Swasta

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang.”

Pada akhirnya, perubahan bukanlah perlombaan siapa yang memulai paling cepat. Perubahan adalah perjalanan panjang tentang siapa yang paling istiqamah. Sebab amal yang dicintai Allah bukan yang paling banyak dalam satu waktu, melainkan yang terus dilakukan meskipun sedikit. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling kontinu meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, jika hari ini kita ingin menjadi versi terbaik dari diri kita, jangan hanya fokus pada semangat saat memulai. Fokuslah pada kemampuan untuk bertahan. Bertahan dalam shalat yang khusyuk, bertahan dalam membaca Al-Qur’an, bertahan dalam menahan hawa nafsu, bertahan dalam menjaga kesehatan, bertahan dalam mencari ilmu, dan bertahan dalam ketaatan kepada Allah. Sebab kemuliaan tidak dibangun dalam sehari. Ia tumbuh dari ribuan langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah. Ketika manusia melihatnya sebagai kebiasaan biasa, Allah melihatnya sebagai amal yang terus bertambah nilainya di sisi-Nya. Dan sering kali, kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil memulai perubahan, melainkan ketika kita tetap berjalan meskipun godaan untuk berhenti terus datang silih berganti.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *