Telepon itu berdering saat langit masih hitam. Suaranya pelan, tetapi cukup membuat dada saya menegang. Ada kabar kematian, ada panggilan yang tidak bisa ditolak. Di tengah sunyi, saya bangun sebelum subuh, berdoa, membaca ayat Allah, makan yang baik, lalu berjalan pelan menjemput takdir. Tidak semua orang perlu mengerti hidup saya.
Telepon itu bergetar di atas meja kayu ketika jam menunjukkan pukul tiga lewat sedikit. Saya terbangun dengan napas pendek, seolah suara dering itu sudah lama menunggu di ambang mimpi. Nama saya disebut pelan dari seberang, diikuti kalimat yang membuat tubuh saya mendadak dingin. Ada yang meninggal, dan saya diminta datang sebelum subuh.
Saya duduk beberapa detik, memandangi langit kamar yang gelap. Dalam dada, ada rasa yang sulit dijelaskan, antara pasrah dan takut yang tidak pernah benar benar hilang. Saya tidak langsung berdiri, karena saya tahu panggilan seperti ini bukan panggilan biasa. Ia selalu membawa saya pada satu kenyataan yang paling jujur, bahwa hidup bisa selesai tanpa aba aba.
Saya bangun perlahan, membasuh wajah, lalu mengambil air wudu. Air dingin menampar kesadaran saya, seakan mengingatkan bahwa saya harus tetap kuat. Di ruang kecil dekat jendela, saya bentangkan sajadah dan berdiri menghadap kiblat. Saya mulai salat dengan suara yang nyaris tak terdengar, tetapi hati saya terasa berteriak.
Sesudah salam, saya tidak segera bangkit. Saya menunduk, menahan gelombang perasaan yang datang seperti ombak. Lalu saya membuka mushaf dan membaca beberapa ayat yang sudah sering saya ulang, bukan karena hafal, tetapi karena saya butuh pegangan. Setiap huruf seperti menenangkan luka yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Di luar, kampung masih sunyi, tetapi saya tahu di suatu rumah ada keluarga yang sedang menahan tangis. Saya menarik napas panjang dan berdoa, memohon agar Allah menjaga hati saya dari rasa sombong. Mengurus kematian bukan tentang keberanian, melainkan tentang keikhlasan yang diuji berkali kali. Saya tidak ingin menjadi orang yang terlihat kuat, tetapi rapuh di dalam.
Setelah itu saya menuju dapur dan menyiapkan sarapan yang sederhana. Sepotong roti, sedikit buah, dan segelas air hangat saya minum perlahan. Saya makan bukan karena lapar, melainkan karena tubuh saya harus cukup tenaga. Saya sudah belajar bahwa kerja seperti ini tidak boleh dilakukan dengan badan lemah dan pikiran kosong.
Di sudut dapur, ada tas hitam yang selalu saya siapkan. Saya memeriksa isinya satu per satu dengan teliti, sarung tangan, kain lap, sabun, masker, dan botol kecil berisi minyak wangi. Di bagian paling bawah, ada kapur barus yang aromanya khas, tajam, dan sulit dilupakan. Bau itu selalu menempel di ingatan, seperti jejak yang tidak bisa dihapus.
Saya mengenakan jaket tipis dan keluar rumah. Udara subuh menyentuh kulit dengan dingin yang lembut, membuat jalan kampung terasa seperti lorong panjang menuju sesuatu yang tak bisa diprediksi. Saya berjalan kaki karena saya ingin kepala saya tenang sebelum menghadapi rumah duka. Langkah saya pelan, tetapi setiap langkah membawa beban yang semakin terasa nyata.
Di ujung gang, saya melihat lampu rumah tetangga masih menyala. Ada dua orang perempuan duduk di teras, mereka berhenti bicara ketika saya lewat. Saya mendengar nama saya disebut pelan, lalu suara tawa kecil yang cepat dipotong. Mereka menatap saya seperti menatap sesuatu yang tidak mereka pahami, lalu salah satu dari mereka berbisik bahwa saya semakin aneh sejak beberapa bulan terakhir.
Saya pura pura tidak mendengar. Saya sudah terbiasa dengan pandangan seperti itu, seolah saya membawa sesuatu yang gelap. Ada yang bilang saya berubah karena dosa besar, ada yang menuduh saya sedang menyembunyikan aib, dan ada yang yakin saya sedang terkena kutukan. Padahal yang mereka lihat hanya seorang lelaki yang bangun sebelum subuh dan sering keluar saat kampung masih tidur.
Di dekat warung kecil, seorang bapak menyapa saya dengan nada yang ragu. Ia menanyakan apakah saya masih sering membantu di masjid, lalu matanya menatap tas hitam yang saya bawa. Saya mengangguk sambil tersenyum tipis, tetapi saya tahu ia ingin bertanya lebih jauh. Ia tidak jadi bertanya, mungkin karena takut jawabannya membuatnya tidak nyaman.
Saya melanjutkan langkah sampai suara azan subuh terdengar dari kejauhan. Suara itu merambat di antara pepohonan, mengisi jalan dengan rasa yang suci. Saya berhenti sejenak, menundukkan kepala, lalu mengucap istighfar. Dalam hati saya berkata, bahagia itu kadang sederhana, cukup salat, cukup doa, cukup berjalan pelan, cukup pulang dengan hati yang tidak gaduh.
Ketika sampai di masjid, saya melihat imam sudah menunggu di serambi. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menyimpan kelelahan yang sama seperti milik saya. Ia mengangguk pelan, lalu mendekat dan berkata bahwa keluarga yang berduka sudah menunggu. Saya merasakan jantung saya berdegup lebih cepat, seolah tubuh saya selalu tahu apa yang akan saya hadapi.
Kami masuk ke dalam masjid untuk salat subuh terlebih dahulu. Saya berdiri di saf belakang, menahan pikiran yang berkecamuk. Setiap kali imam membaca ayat, dada saya terasa dipukul lembut oleh kebenaran. Hidup ini pendek, dan saya terlalu sering lupa bahwa napas adalah pinjaman.
Selesai salat, imam menatap saya lama. Ia tidak banyak bicara, hanya menepuk bahu saya dengan pelan. Lalu ia berkata dengan suara rendah, seolah takut didengar orang lain, bahwa hari ini akan berat. Saya tidak bertanya siapa yang meninggal, tetapi perasaan saya seperti sudah mencium sesuatu yang tidak baik.
Kami berjalan menuju rumah duka yang letaknya tidak jauh dari masjid. Di sepanjang jalan, beberapa orang menatap saya, sebagian memberi salam, sebagian hanya diam. Saya melihat seorang anak kecil berlari lalu ditarik ibunya ketika mendekat ke arah saya. Anak itu menoleh sambil kebingungan, seakan saya adalah orang yang harus dihindari.
Saya tidak marah, hanya merasa sedih. Kampung ini tempat saya tumbuh, tetapi belakangan saya seperti orang asing. Saya tidak pernah merasa lebih suci dari siapa pun, tetapi mereka tetap melihat saya sebagai orang yang berbeda. Mereka tidak tahu bahwa yang saya lakukan justru sering membuat saya takut pada diri sendiri.
Di depan rumah duka, suara tangis terdengar tertahan. Pintu terbuka, beberapa lelaki duduk dengan wajah muram. Ketika saya melangkah masuk, percakapan mendadak berhenti, dan udara terasa berubah. Seorang lelaki menatap saya tajam, lalu menunduk tanpa menyapa.
Saya mengenali rumah itu. Saya mengenali pagar besinya, pohon mangga di halaman, dan batu kecil di sudut teras yang dulu sering saya duduki. Dada saya mendadak sesak, karena saya tahu siapa pemilik rumah ini. Dan saya tahu, orang yang meninggal di dalam sana bukan orang asing bagi saya.
Seorang ibu tua keluar dari dalam kamar sambil memegang kain. Matanya bengkak, suaranya serak, tetapi ia tetap memaksa tersenyum. Ia memanggil nama saya pelan, lalu berkata bahwa ia tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi. Saya mengangguk tanpa mampu berkata banyak, karena tenggorokan saya terasa terkunci.
Saya melangkah menuju ruangan belakang tempat jenazah disemayamkan. Di sana ada beberapa orang yang menunggu, termasuk imam masjid. Mereka memberi ruang ketika saya datang, tetapi saya bisa merasakan ketegangan di udara. Saya membuka tas hitam saya perlahan, menata perlengkapan seperti seseorang yang sedang menata keberanian.
Saat kain penutup dibuka sedikit, saya melihat wajah itu. Wajah yang pernah saya kenal, wajah yang pernah menatap saya dengan keras, wajah yang dulu sering membuat saya merasa kecil. Ia adalah lelaki yang paling sering membicarakan saya di kampung ini, lelaki yang paling lantang menuduh saya menyembunyikan dosa. Ia adalah orang yang beberapa kali mengusir saya dari halaman rumahnya karena katanya saya membawa kesialan.
Saya memejamkan mata beberapa detik. Ada amarah yang ingin muncul, tetapi lebih besar dari itu adalah rasa hampa. Saya tidak menyangka Allah mempertemukan kami seperti ini, dalam keadaan yang tidak bisa lagi diperdebatkan. Di hadapan kematian, semua kata tajam berubah menjadi debu.
Imam menatap saya dan bertanya dengan suara pelan apakah saya sanggup. Saya mengangguk, meski tangan saya bergetar. Di kepala saya terlintas semua bisikan tetangga yang selama ini menyakitkan, semua tatapan yang membuat saya merasa najis. Saya menghela napas panjang, lalu berkata dalam hati bahwa ini bukan tentang mereka, ini tentang Allah.
Saya mulai bekerja dengan hati hati, membasuh tubuh yang sudah kaku itu dengan air bersih. Setiap gerakan terasa berat, bukan karena tubuhnya, tetapi karena kenangan yang ikut terbawa. Bau kapur barus mulai memenuhi ruangan, menyatu dengan udara dan tangis yang tertahan. Saya menahan air mata, tetapi ia tetap jatuh tanpa izin.
Di luar ruangan, beberapa orang berbisik. Saya mendengar kata kata yang masih sama, bahwa saya memang aneh, bahwa saya terlalu dekat dengan kematian, bahwa saya seperti tidak takut apa pun. Mereka tidak tahu bahwa justru saya adalah orang yang paling takut, karena setiap jenazah mengingatkan saya pada diri saya sendiri. Setiap tubuh yang saya mandikan adalah cermin, bahwa suatu hari saya akan berada di posisi yang sama.
Setelah selesai, kami mengkafani jenazah itu dengan kain putih. Saya melipat ujung kain perlahan, seperti melipat kesombongan manusia. Dalam benak saya, muncul kalimat yang selama ini selalu saya pegang, bahwa tidak semua harus mengerti hidup kita. Cukup Allah yang tahu, dan cukup Allah yang menilai.
Ketika semuanya selesai, saya berdiri di sudut ruangan, memandang wajah jenazah yang kini tenang. Untuk pertama kalinya, saya melihat wajah itu tanpa amarah, tanpa kata kata kasar, tanpa kecurigaan. Ia tampak seperti manusia biasa yang lelah. Dan saya sadar, selama ini ia juga mungkin menyimpan luka yang tidak pernah ia ceritakan.
Sebelum jenazah dibawa ke masjid, seorang lelaki mendekati saya. Ia adalah anak almarhum, wajahnya keras dan matanya merah. Dengan suara yang berat, ia berkata bahwa ayahnya pernah meninggalkan pesan, tetapi tidak sempat disampaikan ketika masih hidup. Saya menatapnya bingung, karena saya tidak pernah membayangkan ada pesan untuk saya.
Lelaki itu mengeluarkan secarik kertas yang sudah kusut. Ia berkata ayahnya menulisnya beberapa hari sebelum meninggal, saat sakitnya semakin parah. Ia menyerahkan kertas itu kepada saya tanpa banyak kata, lalu menunduk seperti orang yang sedang menahan sesuatu. Saya menerima kertas itu dengan tangan yang dingin.
Di atas kertas itu, tulisan tangan almarhum terlihat tidak rapi, seperti dibuat dengan tenaga yang tersisa. Saya membaca perlahan, dan dada saya seperti runtuh. Ia menulis bahwa ia selama ini salah menilai saya, salah mengira saya menyembunyikan dosa, dan salah menganggap saya membawa kesialan. Ia menulis bahwa ia diam diam melihat saya sering berjalan subuh, dan ia merasa iri karena ia tidak punya keberanian untuk mendekat kepada Allah.
Kalimat terakhir membuat napas saya terhenti. Ia menulis bahwa ia ingin saya yang memandikan jenazahnya, karena ia percaya tangan yang sering dipakai untuk ibadah adalah tangan yang lebih pantas menyentuh tubuhnya di akhir hidup. Ia meminta maaf, dan ia meminta saya mendoakannya. Di ujung tulisan, ada satu kata yang membuat mata saya basah, ia menulis nama saya lengkap dengan panggilan masa kecil yang sudah lama tidak ada yang gunakan.
Saya menutup kertas itu perlahan. Di saat itu saya mengerti, bahwa bahagia yang sederhana kadang datang dalam bentuk yang tidak kita duga. Bukan berupa pujian, bukan berupa tepuk tangan, tetapi berupa pengakuan diam diam yang terlambat. Saya menunduk dan menangis, bukan karena sakit hati, tetapi karena Allah menunjukkan bahwa bahkan fitnah pun bisa berakhir dengan ampunan.
Ketika jenazah diangkat menuju masjid, saya ikut berjalan di belakangnya. Langit pagi sudah mulai terang, tetapi udara masih dingin. Orang orang mulai berdatangan, dan sebagian dari mereka menatap saya dengan cara yang berbeda. Tidak ada lagi tawa kecil yang mengejek, tidak ada lagi bisikan yang tajam, hanya wajah wajah yang tiba tiba tampak malu.
Saya melangkah pelan, mendengar suara langkah orang banyak, mendengar bacaan tasbih, dan mendengar tangis yang tidak lagi disembunyikan. Di dalam dada, ada ketenangan yang turun perlahan, seperti embun yang jatuh tanpa suara. Saya merasa seolah beban bertahun tahun yang menekan pundak saya akhirnya dilepas oleh Allah.
Saya menatap langit dan tersenyum kecil. Saya tahu, tidak semua orang akan mengerti hidup saya, dan saya tidak lagi memaksakan mereka untuk paham. Sebab yang saya cari bukan pembenaran manusia, melainkan ridha Allah. Saya terus berjalan mengikuti iring iringan jenazah, sambil berdoa agar kelak, ketika giliran saya dipanggil, saya juga dipulangkan dalam keadaan tenang.
Dan pagi itu saya akhirnya sadar, bahwa rutinitas subuh yang selama ini saya jaga bukan hanya untuk membuat hati saya damai. Semua doa, ayat, makanan yang baik, dan langkah pagi itu ternyata adalah latihan agar saya tidak gemetar saat menghadapi kematian. Bukan kematian orang lain, tetapi kematian saya sendiri yang suatu hari pasti datang.
Ketika saya kembali pulang, bau kapur barus masih menempel di tangan saya. Saya mencucinya berkali kali, tetapi aroma itu tetap samar tertinggal, seperti pengingat yang tidak mau pergi. Saya menatap telapak tangan saya lama, lalu mengucap syukur dalam hati. Bahagia itu kadang sederhana, cukup pulang dengan hati yang tenang, dan cukup Allah yang tahu seluruh cerita hidup saya.














