Di antara tanda keikhlasan dan kesempurnaan iman seseorang bukan hanya terletak pada banyaknya amal yang ia kerjakan, tetapi juga pada besarnya perhatian terhadap nasib amal tersebut setelah selesai dilakukan. Para salafus saleh selalu berusaha menyempurnakan amal dengan penuh ketelitian, lalu mereka diliputi rasa khawatir jika amal itu tidak diterima oleh Allah. Sikap inilah yang melahirkan keikhlasan, kerendahan hati, serta menjauhkan manusia dari ujub dan merasa bangga terhadap dirinya sendiri.
Banyak manusia merasa tenang setelah melakukan suatu kebaikan. Ia merasa telah menunaikan kewajiban, merasa telah berbuat lebih baik daripada orang lain, bahkan terkadang diam-diam menganggap dirinya telah dekat dengan surga. Padahal para sahabat Nabi ﷺ dan generasi salaf yang jauh lebih mulia justru memiliki perasaan yang berbeda. Semakin besar amal mereka, semakin besar pula rasa takut mereka. Semakin tinggi ibadah mereka, semakin dalam kekhawatiran mereka akan diterima atau tidaknya amal tersebut di sisi Allah Ta’ala.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, karena mereka mengetahui bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”
(QS. Al-Mu’minun: 60)
Ayat yang agung ini menggambarkan keadaan hamba-hamba Allah yang saleh. Mereka beramal, mereka bersedekah, mereka beribadah, mereka menunaikan berbagai bentuk ketaatan, namun hati mereka tetap dipenuhi rasa takut. Bukan takut karena amal itu kurang banyak menurut manusia, melainkan takut karena amal tersebut tidak diterima oleh Allah Yang Maha Mengetahui isi hati dan rahasia setiap manusia.
Ketika ayat ini turun, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang makna orang-orang yang hatinya takut tersebut. Beliau bersabda:
هُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ
“Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan shalat, bersedekah, namun mereka takut amal-amal itu tidak diterima dari mereka.”
(HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Orang yang takut amalnya tidak diterima bukanlah pelaku maksiat yang sengaja meninggalkan ibadah. Justru mereka adalah orang-orang yang rajin berpuasa, tekun shalat, gemar bersedekah, dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi mereka memahami bahwa diterimanya amal bukan ditentukan oleh banyaknya amal semata, melainkan oleh keikhlasan, ketakwaan, dan kesesuaian dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 27)
Karena itulah para salafus saleh lebih sibuk memikirkan diterimanya amal daripada banyaknya amal. Mereka memahami bahwa satu amal yang diterima Allah jauh lebih berharga daripada ribuan amal yang ditolak. Mereka mengetahui bahwa amal yang diterima akan menjadi cahaya di dunia, teman di alam kubur, dan pemberat timbangan kebaikan pada hari kiamat.
Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa para salaf dahulu bersungguh-sungguh dalam menyempurnakan amal, kemudian setelah itu mereka memperhatikan nasib amal tersebut dan takut jika amal itu ditolak. Mereka tidak pernah tertipu oleh banyaknya ibadah yang mereka lakukan. Sebaliknya, mereka selalu memohon kepada Allah agar amal itu diterima.
Sikap ini dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam ketika selesai membangun Ka’bah. Padahal mereka sedang melakukan amal yang sangat agung. Namun setelah selesai, mereka tidak membanggakan diri. Mereka justru berdoa:
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amal ini). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 127)
Perhatikanlah, dua nabi yang mulia masih memohon agar amal mereka diterima. Lalu bagaimana dengan kita yang penuh kekurangan, sering lalai dalam ibadah, dan terkadang masih tercampuri riya, ujub, serta berbagai kelemahan hati? Sudah sepantasnya kita lebih banyak bermuhasabah daripada merasa puas dengan amal yang sedikit.
Rasa takut amal tidak diterima bukan berarti berputus asa dari rahmat Allah. Islam mengajarkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut. Seorang mukmin berharap pahala dan ampunan Allah, tetapi pada saat yang sama ia khawatir jika amalnya belum memenuhi syarat diterima. Perasaan inilah yang menjaga hati tetap hidup dan menjauhkan diri dari kesombongan.
Allah Ta’ala berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32)
Ketika seseorang merasa amalnya sudah pasti diterima, saat itulah bahaya besar mengintai. Ia bisa terjatuh ke dalam ujub, merasa lebih baik daripada orang lain, dan kehilangan keikhlasan yang menjadi ruh seluruh ibadah. Sebaliknya, ketika seseorang selalu khawatir terhadap amalnya, ia akan terus memperbaiki diri, memperbanyak istighfar, dan memohon pertolongan Allah.
Oleh karena itu, setiap selesai melaksanakan shalat, puasa, sedekah, dakwah, atau berbagai amal kebaikan lainnya, hendaknya seorang muslim tidak berhenti pada pelaksanaan amal semata. Ia perlu melanjutkannya dengan doa, istighfar, dan muhasabah. Tanyakan kepada diri sendiri: apakah amal ini dilakukan dengan ikhlas? Apakah sesuai sunnah? Apakah Allah ridha terhadapnya?
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam beramal, ikhlas dalam beribadah, rendah hati setelah melakukan kebaikan, serta selalu berharap dan takut kepada-Nya. Semoga setiap amal yang kita lakukan diterima, dilipatgandakan pahalanya, diampuni kekurangannya, dan menjadi bekal terbaik ketika kelak menghadap Allah Rabbul ‘Alamin. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.














