Mulai 1 Juli 2026, dua raksasa layanan transportasi daring di Indonesia, Gojek melalui induk usaha GoTo dan Grab Indonesia, menyatakan akan menurunkan komisi bagi mitra pengemudi ojek online roda dua menjadi 8 persen. Kebijakan ini disampaikan dalam pertemuan dengan Dewan Perwakilan Rakyat yang membahas implementasi kebijakan ekonomi platform digital. Pemerintah menyebut kebijakan ini sebagai tindak lanjut dari regulasi baru yang mengubah batas maksimal komisi aplikator.
Dalam penelusuran terhadap sumber yang disebut dalam narasi awal, sejumlah rujukan media seperti Reuters dengan tanggal 23 Juni 2026, Okezone dengan tanggal yang sama, serta beberapa klaim lain tidak dapat diverifikasi secara spesifik karena tidak ditemukan judul artikel resmi yang dapat dipastikan. Oleh karena itu, seluruh penyebutan detail judul dan tanggal yang tidak memiliki jejak publikasi yang jelas dihapus dari narasi ini. Narasi ini hanya mempertahankan fakta kebijakan yang telah disampaikan dalam pernyataan resmi perusahaan dan pembahasan legislatif yang dilaporkan secara umum oleh media arus utama Indonesia seperti ANTARA dan beberapa media ekonomi nasional pada periode pengumuman kebijakan tersebut.
Wakil Direktur Utama GoTo, Catherine Hindra, menyatakan bahwa penyesuaian komisi ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi. Sementara itu, Grab Indonesia melalui CEO Neneng Goenadi menegaskan bahwa kebijakan serupa juga akan diterapkan pada layanan GrabBike sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi baru pemerintah. Pernyataan kedua perusahaan ini muncul setelah pemerintah menetapkan perubahan batas komisi melalui Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 yang diumumkan pada peringatan Hari Buruh.
Regulasi tersebut menjadi titik balik penting dalam tata kelola ekonomi platform di Indonesia. Pemerintah sebelumnya menetapkan batas komisi aplikator yang dapat mencapai sekitar 20 persen, namun melalui kebijakan baru, porsi yang diterima mitra pengemudi diperbesar dengan skema pembagian yang lebih ketat. Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan memperbaiki struktur pendapatan pekerja sektor informal digital yang selama ini bergantung pada sistem algoritma dan insentif platform.
Namun demikian, penurunan komisi tidak secara otomatis mencerminkan peningkatan pendapatan bersih pengemudi. Dalam model bisnis platform digital, komisi hanyalah satu komponen dari struktur pendapatan yang lebih kompleks. Perusahaan masih memiliki ruang penyesuaian melalui biaya layanan kepada konsumen, perubahan skema insentif, serta pengaturan distribusi order melalui algoritma. Dengan demikian, dampak riil terhadap pendapatan pengemudi sangat bergantung pada bagaimana seluruh komponen tersebut disesuaikan setelah kebijakan diberlakukan.
Sejumlah pengamat ekonomi digital menilai bahwa perubahan komisi ini perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, yaitu relasi antara platform, pengemudi, dan konsumen. Dalam praktiknya, pengemudi masih menanggung biaya operasional seperti bahan bakar, perawatan kendaraan, paket data, serta risiko kerja harian yang tidak sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan platform. Oleh karena itu, penurunan komisi menjadi 8 persen belum tentu serta merta meningkatkan kesejahteraan jika tidak disertai perbaikan pada struktur insentif dan perlindungan kerja.
Di sisi lain, pemerintah memandang kebijakan ini sebagai langkah korektif terhadap ketimpangan dalam ekonomi platform. Negara berupaya memperkuat posisi tawar pengemudi yang selama ini berada dalam posisi bergantung pada sistem aplikasi. Namun tantangan terbesar terletak pada implementasi, terutama dalam memastikan bahwa perubahan komisi benar benar berdampak pada pendapatan bersih pengemudi di lapangan, bukan sekadar perubahan angka dalam skema pembagian.
Dari perspektif industri, penyesuaian komisi juga berimplikasi pada strategi bisnis perusahaan. Dengan margin yang lebih kecil dari komisi layanan roda dua, perusahaan diperkirakan akan melakukan penyesuaian pada aspek lain seperti efisiensi operasional, strategi promosi, dan struktur insentif. Dalam industri yang sangat bergantung pada skala dan subsidi harga, perubahan kecil pada satu variabel dapat memicu penyesuaian berantai pada seluruh ekosistem layanan.
Selain itu, terdapat potensi pergeseran beban biaya yang perlu diawasi. Jika perusahaan mengurangi subsidi atau insentif untuk menjaga keseimbangan bisnis, maka pengemudi dapat terdorong untuk bekerja lebih lama demi mencapai pendapatan yang sama seperti sebelumnya. Di sisi lain, konsumen juga berpotensi menghadapi penyesuaian tarif layanan apabila perusahaan memilih untuk menutup penurunan pendapatan dari sisi pengguna jasa.
Isu yang lebih mendasar dari kebijakan ini adalah belum tuntasnya pembahasan mengenai status hubungan kerja pengemudi ojek online. Selama ini, pengemudi dikategorikan sebagai mitra, bukan pekerja formal, sehingga tidak memperoleh perlindungan ketenagakerjaan penuh seperti upah minimum, jaminan kerja tetap, atau perlindungan sosial yang komprehensif. Perubahan komisi tidak serta merta mengubah posisi struktural ini, sehingga ketergantungan pengemudi terhadap platform tetap tinggi.
Karena itu, kebijakan penurunan komisi ini lebih tepat dipahami sebagai satu tahap dalam proses panjang penataan ekonomi platform digital di Indonesia, bukan sebagai solusi final. Dampaknya baru dapat dievaluasi secara objektif setelah implementasi berjalan dan data pendapatan pengemudi, biaya konsumen, serta strategi perusahaan dapat dianalisis secara terbuka. Tanpa transparansi data yang memadai, kebijakan ini berisiko hanya menjadi perubahan angka tanpa kepastian peningkatan kesejahteraan yang nyata.
Perubahan komisi menjadi 8 persen membuka ruang harapan sekaligus ruang kehati hatian. Harapan bahwa pendapatan pengemudi dapat lebih adil, dan kehati hatian bahwa struktur ekonomi platform dapat menyesuaikan diri dengan cara yang tidak selalu terlihat di permukaan. Tantangan utama kebijakan ini bukan hanya pada penetapan angka, tetapi pada bagaimana memastikan bahwa perubahan tersebut benar benar sampai pada mereka yang paling terdampak di jalanan setiap hari.














