BANGKALAN, BUSERNASIONAL.MY.ID — Arogansi pejabat publik di Kabupaten Bangkalan kembali menuai sorotan tajam. Kali ini, Gerakan Bangkalan Bersih (GBB) secara terbuka meluapkan kekecewaan mendalam terhadap sikap Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kabupaten Bangkalan yang dinilai “alergi” terhadap kontrol sosial.
Pasalnya, surat permohonan audiensi yang dilayangkan secara resmi oleh GBB terkait kemelut eks Terminal Kamal justru diabaikan begitu saja. Sang kepala dinas kompak bersembunyi dan mangkir dari kewajiban menemui perwakilan massa yang sudah datang menagih kejelasan di kantor.
Usut punya usut, ketakutan dan keengganan pihak Dishub untuk menghadapi GBB bukan tanpa alasan. Secara logika matang, berbagai pertanyaan kritis, data bobrok, serta tuntutan konkret yang dibawa oleh GBB memang tidak akan pernah bisa dijawab dan diputuskan seketika dalam pertemuan tersebut.
Bagi birokrat yang diduga “masuk angin” atau tidak punya solusi konkret, menghadapi cecaran argumen tajam GBB ibarat menelan buah simalakama: mengaku salah berisiko, mengelak pun sudah terjepit fakta lapangan.
“Kalau memang bersih, kenapa risih? Kalau memang punya dasar hukum dan kebijakan yang beres, hadapi dan jelaskan secara jantan. Jangan malah lari dari tanggung jawab dan bersembunyi di balik meja kerja saat rakyat menagih transparansi,” kecam perwakilan GBB dengan nada geram.
Polemik eks Terminal Kamal sendiri bukan sekadar urusan sepele, melainkan menyangkut hajat hidup orang banyak dan potensi pembiaran aset daerah yang mangkrak tanpa kejelasan fungsi. Sikap antipati Kadishub Bangkalan ini justru semakin memperkuat dugaan publik bahwa ada “bangkai” yang sengaja ditutupi di balik carut-marut pengelolaan aset tersebut.
GBB memastikan aksi bungkam ini tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja. Dalam waktu dekat, gelombang tekanan yang lebih besar akan digalang untuk menyeret instansi terkait agar terbuka dan tidak terus-menerus berlindung di balik tembok birokrasi yang kaku.














