Harga Diri Di Mata Allah

banner 120x600

BuserNasional — Banyak orang memandang keberhasilan dari apa yang tampak di mata manusia. Jabatan yang tinggi, ruang kerja yang nyaman, pakaian yang rapi, serta posisi yang dihormati sering dianggap sebagai ukuran kemuliaan seseorang. Namun kehidupan mengajarkan bahwa tidak semua yang terlihat mulia di hadapan manusia bernilai mulia di sisi Allah. Ada orang yang bekerja di tempat sederhana, melakukan pekerjaan yang dianggap rendah oleh sebagian orang, tetapi justru memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Rabbnya karena keikhlasan, kesabaran, dan kejujurannya dalam mencari nafkah yang halal. Ketika seseorang berani memulai dari nol demi keluarganya, tanpa mengeluh dan tanpa kehilangan kehormatan dirinya, di situlah tampak kematangan iman yang sesungguhnya.

Ada kalanya kehidupan membawa seseorang pada jalan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Dulu mungkin ia duduk di kursi rapat, berbicara di depan banyak orang, memiliki jabatan yang membuat orang lain segan. Namun keadaan berubah. Kini ia membersihkan lantai, mengelap kaca, mengangkat sampah, atau melakukan pekerjaan yang dianggap sederhana. Sebagian orang mungkin memandang rendah. Sebagian lagi mungkin bertanya dengan nada meremehkan, “Untuk apa jauh-jauh merantau kalau hanya melakukan pekerjaan seperti itu?”

Padahal sesungguhnya yang perlu dipertanyakan bukanlah jenis pekerjaannya, melainkan bagaimana cara seseorang memperoleh rezekinya. Sebab dalam pandangan Islam, kemuliaan manusia tidak diukur dari profesi, melainkan dari ketakwaannya. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS. Al Hujurat: 13)

BERITA TERKAIT  Jejak Keberanian Siti Manggopoh Melawan Kolonialisme

Ayat ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah jabatan, kekayaan, keturunan, maupun profesi. Ukuran kemuliaan adalah ketakwaan. Bisa jadi seorang direktur memiliki kedudukan tinggi di dunia tetapi rendah di sisi Allah karena kesombongannya. Sebaliknya, bisa jadi seorang petugas kebersihan memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah karena keikhlasan dan ketakwaannya.

Rasulullah SAW juga mengingatkan agar manusia tidak tertipu oleh penampilan lahiriah. Beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Betapa banyak manusia yang sibuk mempercantik penampilan tetapi lupa memperbaiki hati. Betapa banyak yang mengejar pujian manusia tetapi lalai mencari ridha Allah. Padahal yang akan ditimbang pada Hari Kiamat bukanlah kartu nama jabatan, melainkan amal saleh dan keikhlasan.

Mencari nafkah halal adalah ibadah yang sangat mulia. Ketika seseorang bangun pagi untuk bekerja, meninggalkan kenyamanan demi memenuhi kebutuhan keluarga, sesungguhnya ia sedang menjalankan amanah yang besar. Keringat yang keluar dalam pekerjaan halal lebih mulia daripada kemewahan yang diperoleh dari jalan haram.

Rasulullah SAW bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Artinya:

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada makanan yang diperoleh dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)

BERITA TERKAIT  Rudi Margono dan Ujian Integritas Kejaksaan

Hadis ini mengajarkan bahwa bekerja dengan tangan sendiri, dengan usaha sendiri, adalah kemuliaan. Tidak ada pekerjaan halal yang hina. Yang hina adalah kemalasan. Yang hina adalah meminta-minta padahal mampu bekerja. Yang hina adalah merasa terlalu tinggi untuk bekerja namun terlalu mudah merendahkan orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita melihat orang yang cepat menghakimi profesi orang lain. Mereka menilai seseorang hanya dari seragam yang dipakai atau pekerjaan yang dilakukan. Padahal belum tentu mereka memiliki ketulusan dan keberanian yang sama. Tidak semua orang sanggup menelan gengsi demi keluarga. Tidak semua orang mampu memulai kembali dari bawah setelah pernah berada di atas.

Sikap rendah hati seperti inilah yang sebenarnya menjadi tanda kedewasaan iman. Seseorang yang memahami hakikat kehidupan tidak lagi sibuk mengejar pengakuan manusia. Ia lebih fokus mencari ridha Allah. Ia menyadari bahwa komentar manusia tidak akan memberi makan keluarganya. Pujian manusia tidak akan membayar biaya pendidikan anak-anaknya. Yang memberikan ketenangan adalah rezeki yang halal dan keberkahan dari Allah SWT.

Allah berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Artinya:

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah.” (QS. Hud: 6)

Jaminan rezeki dari Allah bukan berarti manusia boleh bermalas-malasan. Justru Allah memerintahkan manusia untuk berusaha dan bekerja. Hasil akhirnya diserahkan kepada-Nya, tetapi ikhtiar tetap menjadi kewajiban.

Orang yang rela bekerja keras demi keluarganya sedang menjalankan salah satu bentuk jihad yang mulia. Rasulullah SAW bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

BERITA TERKAIT  Bambang Utoyo, Keteguhan Seorang Patriot Tanpa Menyerah

Artinya:

“Cukuplah seseorang dianggap berdosa apabila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud)

Karena itu, ketika seseorang rela mengesampingkan gengsi demi menafkahi keluarga, sesungguhnya ia sedang menjaga amanah yang diperintahkan Allah. Ia mungkin tidak mendapatkan tepuk tangan manusia. Ia mungkin tidak mendapatkan pujian dari banyak orang. Namun Allah mengetahui setiap tetes keringatnya, setiap langkah perjuangannya, dan setiap doa yang ia panjatkan untuk keluarganya.

Pada akhirnya, jabatan hanyalah bagian kecil dari perjalanan hidup. Pangkat akan ditinggalkan. Kedudukan akan berakhir. Nama besar perlahan akan dilupakan. Namun amal saleh akan tetap tercatat di sisi Allah. Anak-anak mungkin suatu hari lupa jabatan yang pernah dimiliki ayahnya, tetapi mereka tidak akan lupa pengorbanan, kerja keras, dan kasih sayang yang diberikan untuk mereka.

Karena itu, jangan pernah merasa rendah hanya karena pekerjaan yang sederhana. Selama pekerjaan itu halal, dilakukan dengan jujur, dan menjadi sarana menafkahi keluarga, maka pekerjaan tersebut adalah kemuliaan. Yang terpenting bukan bagaimana manusia memandang kita, melainkan bagaimana Allah memandang kita. Sebab ketika Allah ridha kepada seorang hamba, maka itulah keberhasilan yang sesungguhnya. Dan ketika seorang hamba pulang membawa rezeki yang halal untuk keluarganya, dengan hati yang bersih dan penuh syukur, maka ia sedang berjalan di jalan kemuliaan yang diridhai Allah SWT.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *