OPINI  

Meniti Hidup Dengan Keteguhan Hati

banner 120x600

Busernasional.my.id – Dalam perjalanan hidup, manusia sering menggantungkan harapan kepada sesama. Ketika dipuji ia merasa berharga, ketika dicela ia merasa tidak berguna. Padahal hati yang bergantung kepada manusia akan mudah kecewa. Islam mengajarkan agar hati hanya bergantung kepada Allah, sementara kepada manusia kita tetap berbuat baik tanpa mengikatkan kebahagiaan pada penilaian mereka. Dengan demikian, jiwa menjadi kokoh, tenang, dan istiqamah menghadapi berbagai keadaan.

Hidup adalah perjalanan panjang yang penuh dengan ujian. Tidak semua orang yang datang dalam kehidupan kita hadir karena ketulusan. Ada yang mendekat karena melihat manfaat yang bisa diperoleh. Ada pula yang menjauh ketika merasa keberadaan kita tidak lagi menguntungkan. Fenomena ini merupakan bagian dari tabiat manusia yang telah ada sejak dahulu. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh menggantungkan harga dirinya pada penilaian manusia yang selalu berubah.

Allah Swt. mengingatkan agar manusia hanya bersandar kepada-Nya, karena hanya Dia Yang Maha Kekal dan tidak pernah mengecewakan hamba-Nya.

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah: 23)

Ayat ini mengajarkan bahwa kekuatan seorang mukmin bukan terletak pada banyaknya orang yang mendukungnya, melainkan pada kokohnya tawakal kepada Allah. Dukungan manusia dapat berubah karena kepentingan, sedangkan pertolongan Allah tidak pernah berubah bagi orang yang beriman dan bertakwa.

Betapa sering seseorang merasa kecewa karena berharap terlalu tinggi kepada manusia. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, lahirlah rasa sakit, marah, bahkan putus asa. Padahal Rasulullah saw. telah mengajarkan agar hati tidak diperbudak oleh makhluk, tetapi diarahkan sepenuhnya kepada Sang Pencipta.

BERITA TERKAIT  Lemahnya Penegakan Hukum Narkoba, Jangan Biarkan Generasi Muda Menjadi Korban Mafia

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadis yang agung ini menjadi fondasi kehidupan seorang mukmin. Ketika hati hanya berharap kepada Allah, maka pujian manusia tidak membuatnya sombong dan celaan manusia tidak membuatnya terpuruk. Ia tetap berjalan di atas prinsip yang benar karena ridha Allah jauh lebih penting daripada tepuk tangan manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali seseorang hanya melihat senyum yang kita tampilkan. Mereka menyangka hidup kita selalu bahagia. Padahal di balik senyum itu tersimpan perjuangan panjang, air mata yang tak pernah terlihat, doa-doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, dan luka yang harus disembuhkan seorang diri. Tidak semua perjuangan harus diceritakan kepada manusia, sebab Allah telah mengetahui seluruh isi hati hamba-Nya.

Allah Swt. berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

BERITA TERKAIT  Lemahnya Penegakan Hukum Narkoba, Jangan Biarkan Generasi Muda Menjadi Korban Mafia

Pengulangan ayat tersebut bukanlah tanpa makna. Allah ingin menanamkan keyakinan bahwa setiap kesulitan selalu disertai jalan keluar. Tidak ada luka yang abadi, tidak ada kesedihan yang berlangsung selamanya. Semua akan berlalu sesuai kehendak Allah. Karena itu, jangan pernah menyerah hanya karena merasa berjalan sendirian.

Seorang mukmin juga diajarkan untuk tetap berbuat baik, meskipun kebaikannya tidak selalu dihargai. Jangan berhenti menolong hanya karena pernah dikhianati. Jangan berhenti tersenyum hanya karena pernah disakiti. Jangan berhenti berbuat benar hanya karena pernah difitnah. Nilai amal tidak ditentukan oleh penghargaan manusia, tetapi oleh penilaian Allah.

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengingatkan bahwa orientasi amal seorang mukmin bukanlah pujian manusia. Selama niatnya lurus karena Allah, maka sekecil apa pun amal itu akan bernilai besar di sisi-Nya. Sebaliknya, amal yang besar sekalipun akan kehilangan nilainya jika hanya mencari pengakuan manusia.

Ketika ada orang yang menjauh karena menganggap kita membawa mudarat, jangan terburu-buru membenci mereka. Mungkin mereka belum memahami keadaan kita. Ketika ada orang yang mendekat karena menganggap kita bermanfaat, jangan pula cepat merasa bangga. Bisa jadi suatu hari mereka akan pergi ketika manfaat itu tidak lagi mereka rasakan. Oleh sebab itu, jadikan Allah sebagai tujuan utama, bukan manusia.

BERITA TERKAIT  Lemahnya Penegakan Hukum Narkoba, Jangan Biarkan Generasi Muda Menjadi Korban Mafia

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan tidak diukur dari banyaknya pengikut, pujian, atau popularitas. Kemuliaan sejati adalah ketakwaan yang hanya diketahui secara sempurna oleh Allah. Maka jangan habiskan energi untuk mengejar penilaian manusia, tetapi gunakan seluruh kemampuan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.

Tetaplah melangkah dengan kuat. Jadikan setiap luka sebagai pelajaran, setiap kegagalan sebagai pengalaman, setiap air mata sebagai pengingat bahwa hanya Allah tempat bergantung. Ketika hati telah dipenuhi iman, seseorang akan tetap tegar meskipun berjalan sendirian. Ia sadar bahwa selama Allah bersamanya, tidak ada kesendirian yang perlu ditakuti.

Semoga Allah meneguhkan hati kita agar tidak mudah goyah oleh pujian maupun celaan manusia. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ikhlas, sabar, tawakal, dan istiqamah dalam menempuh jalan kebenaran hingga akhir hayat. Sebab pada akhirnya bukan manusia yang menentukan nilai hidup kita, melainkan Allah Yang Maha Mengetahui seluruh isi hati dan amal perbuatan hamba-hamba-Nya.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *