OPINI  

Menghitung Kehadiran Yang Hilang

banner 120x600

Banyak orang bekerja keras demi keluarga yang dicintainya. Mereka berangkat pagi dan pulang malam dengan harapan dapat memberikan kehidupan yang lebih baik. Namun sering kali, tanpa disadari, perhatian tertuju pada memenuhi kebutuhan materi semata, sementara kebutuhan hati, kasih sayang, kebersamaan, dan kehadiran justru perlahan terabaikan. Kisah sederhana tentang seorang ayah yang menemukan coretan merah di kalender rumahnya mengingatkan kita bahwa keluarga tidak hanya membutuhkan nafkah, tetapi juga membutuhkan kehadiran, perhatian, dan cinta yang nyata setiap hari.

Kisah seorang ayah yang hampir selalu lembur demi keluarganya adalah gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang. Ia bekerja keras, mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya demi memastikan keluarganya hidup berkecukupan. Setiap gajian, uang lembur diberikan kepada keluarga. Sesekali ia membawa pulang hadiah dan mainan untuk anak-anaknya. Dalam pikirannya, itulah bentuk cinta dan tanggung jawab yang sedang ia tunaikan.

Namun pada suatu malam, ketika rapat yang biasa menyita waktunya dibatalkan, ia pulang lebih cepat dengan niat memberi kejutan kepada keluarga. Betapa terkejutnya ketika rumah terasa sepi. Anak-anak telah tertidur. Di atas meja makan terdapat kalender kecil dengan beberapa tanggal yang dicoret menggunakan spidol merah. Ketika ia bertanya kepada istrinya tentang arti tanda-tanda tersebut, sang istri menjawab dengan kalimat sederhana tetapi sangat menghentak hati:

“Itu adalah hari-hari ketika kamu berjanji pulang cepat, tetapi tidak jadi.”

Kalimat itu mungkin tidak panjang, tetapi mampu mengguncang kesadaran. Ternyata yang dihitung oleh keluarga bukan hanya jumlah uang yang dibawa pulang, melainkan juga jumlah janji yang ditepati, waktu yang diluangkan, dan kebersamaan yang dirasakan.

Islam adalah agama yang sangat menekankan keseimbangan. Seorang muslim diperintahkan untuk bekerja dan mencari nafkah, tetapi juga diperintahkan untuk menjaga keluarga dengan sebaik-baiknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab seorang kepala keluarga tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga menjaga, membimbing, mendidik, dan membersamai keluarganya dalam perjalanan menuju ridha Allah. Menyelamatkan keluarga dari api neraka tentu membutuhkan kehadiran, keteladanan, komunikasi, perhatian, dan kasih sayang yang terus menerus.

Banyak orang tua mengira bahwa cinta dapat digantikan dengan hadiah. Mereka merasa telah cukup membahagiakan anak dengan membelikan mainan, gawai, pakaian, atau berbagai fasilitas lainnya. Padahal hati anak sering kali memiliki kebutuhan yang jauh lebih sederhana. Mereka ingin didengar, diajak berbicara, ditemani belajar, didampingi bermain, dan dipeluk oleh orang tuanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan terbaik dalam hal memberikan perhatian kepada keluarga. Beliau adalah pemimpin umat, kepala negara, panglima perang, sekaligus seorang suami dan ayah yang penuh kasih sayang. Meski memiliki tanggung jawab yang sangat besar, beliau tetap menyediakan waktu untuk keluarganya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kebaikan seseorang di sisi Allah bukan hanya dilihat dari kesuksesan karier, banyaknya harta, atau tingginya jabatan, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya. Kebaikan yang paling dekat dan paling nyata justru terlihat dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari.

Sering kali seseorang dikenal ramah di kantor, dermawan di masyarakat, dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Namun keluarganya sendiri merasa jauh darinya. Anak-anak tumbuh tanpa kehangatan seorang ayah. Istri menjalani hari-hari dengan kesepian. Padahal keluarga adalah amanah pertama yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang ayah adalah pemimpin dalam keluarganya. Ia tidak hanya bertanggung jawab terhadap kebutuhan fisik anggota keluarganya, tetapi juga terhadap kebahagiaan, pendidikan, akhlak, dan kondisi spiritual mereka.

Kalender dengan coretan merah dalam kisah tersebut sesungguhnya adalah simbol yang sangat mendalam. Setiap coretan mungkin mewakili harapan seorang anak yang menunggu ayahnya pulang. Setiap tanda merah mungkin menyimpan kekecewaan seorang istri yang telah menyiapkan makan malam bersama. Setiap tanggal yang dicoret mungkin merupakan kesempatan yang hilang untuk menciptakan kenangan indah bersama keluarga.

Waktu adalah nikmat yang tidak bisa dibeli kembali. Ketika anak masih kecil, mereka menunggu kehadiran orang tuanya. Namun ketika mereka dewasa, kesempatan itu mungkin telah berlalu. Masa kecil yang hilang tidak dapat diulang. Pelukan yang tertunda tidak dapat dikembalikan. Janji yang terlalu sering diingkari dapat mengikis kepercayaan dan kedekatan hati.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Surah yang sangat pendek ini mengingatkan bahwa waktu adalah modal kehidupan yang sangat berharga. Kerugian terbesar bukan hanya kehilangan uang atau jabatan, tetapi kehilangan waktu yang tidak pernah kembali.

Karena itu, bekerja keras adalah ibadah. Mencari nafkah yang halal adalah kewajiban. Namun jangan sampai kesibukan mencari rezeki membuat seseorang kehilangan alasan mengapa ia mencari rezeki itu sendiri. Jangan sampai rumah yang ingin dibahagiakan justru menjadi tempat yang merasa paling kehilangan dirinya.

Luangkan waktu untuk berbincang dengan pasangan. Dengarkan cerita anak-anak. Duduk bersama saat makan malam. Shalat berjamaah di rumah ketika memungkinkan. Bacakan kisah para nabi kepada keluarga. Hadirkan senyum, perhatian, dan pelukan yang tulus. Semua itu mungkin tampak sederhana, tetapi sering kali jauh lebih berharga daripada hadiah yang mahal.

Pada akhirnya, keluarga tidak akan selalu mengingat berapa banyak uang yang kita hasilkan. Mereka akan lebih mengingat berapa banyak waktu yang kita berikan. Mereka tidak akan menghitung berapa kali kita lembur, tetapi mereka akan mengingat berapa kali kita hadir ketika mereka membutuhkan. Sebab cinta sejati bukan hanya tentang pengorbanan mencari nafkah, melainkan juga tentang kesediaan meluangkan waktu, menjaga janji, dan menghadirkan diri untuk orang-orang yang Allah titipkan kepada kita. Ketika kelak kita berdiri di hadapan Allah, semoga kita tidak hanya membawa catatan keberhasilan dunia, tetapi juga membawa kesaksian dari keluarga bahwa kita telah menjadi ayah, ibu, suami, atau istri yang benar-benar hadir dalam kehidupan mereka.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *