Cerpen  

Cerpen: Jemuran Yang Tak Pernah Benar Benar Pergi

banner 120x600

Pagi itu, seperti pagi pagi sebelumnya, aku membuka pintu rumah dengan harapan melihat halaman yang rapi dan tenang. Namun yang menyambut pandanganku justru deretan pakaian berwarna warni yang bergoyang pelan di depan pagar. Handuk, daster, dan beberapa potong pakaian lain menutupi sebagian pandangan ke jalan. Jemuran itu bukan milikku, melainkan milik seorang tetangga yang tinggal beberapa rumah dari tempatku.

Aku termasuk orang yang menyukai keteraturan. Pot bunga yang bergeser sedikit saja sering membuatku memperhatikannya sepanjang hari. Bukan karena aku perfeksionis, melainkan karena rumah adalah satu satunya tempat yang membuatku merasa nyaman setelah menghadapi berbagai kesibukan. Karena itulah keberadaan jemuran asing di depan rumah perlahan menjadi gangguan yang terus mengusik pikiranku.

Awalnya aku tidak pernah keberatan. Beberapa minggu sebelumnya, suamiku mengizinkan seorang ibu tetangga menjemur pakaian di depan rumah kami. Saat itu cuaca sedang sangat terik dan ia mengaku halaman rumahnya kotor karena sering menjadi tempat kucing liar buang kotoran. Aku merasa kasihan dan menganggap bantuan kecil seperti itu tidak akan menimbulkan masalah.

Ibu itu tinggal seorang diri sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu. Anak anaknya, menurut cerita warga, bekerja di luar kota dan jarang pulang. Ia dikenal pendiam dan tidak banyak bergaul dengan tetangga sekitar. Karena itulah aku sempat berpikir bahwa sedikit kebaikan mungkin akan membuat hidupnya terasa lebih ringan.

Namun hari demi hari berlalu dan jemuran itu terus muncul. Mula mula hanya satu rak kecil yang dipasang beberapa jam. Lama kelamaan jumlah pakaian yang dijemur semakin banyak dan waktunya semakin panjang. Bahkan terkadang sejak pagi hingga menjelang malam, halaman rumahku seolah menjadi perpanjangan halaman rumahnya.

Aku berusaha mengabaikannya. Setiap kali melihat pakaian yang bergantung di depan pagar, aku berkata pada diri sendiri bahwa mungkin hari ini adalah yang terakhir. Namun harapan itu selalu pupus ketika keesokan paginya rak jemuran yang sama kembali berdiri di tempat yang sama. Seolah olah keberadaannya telah menjadi kebiasaan yang dianggap wajar.

Yang membuatku semakin bingung, pakaian yang dijemurnya sering terlihat sudah setengah kering. Aku bahkan beberapa kali melihatnya membawa cucian yang tampaknya baru keluar dari mesin pengering. Jika memang halaman rumahnya tidak memungkinkan, mengapa ia tidak menjemurnya di teras sendiri yang masih cukup luas. Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku tanpa jawaban.

Suatu sore aku dan suami pulang dari luar kota. Ketika mobil berhenti di depan rumah, aku melihat ibu itu sedang merapikan jemurannya. Ia tersenyum sambil mengatakan bahwa ia sudah meminta izin kepada suamiku beberapa waktu lalu. Aku hanya membalas senyum tipis, meskipun dalam hati mulai muncul rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.

Sejak saat itu, aku mulai memperhatikan hal hal kecil yang sebelumnya luput dari perhatian. Anehnya, aku tidak pernah melihat tamu datang ke rumahnya. Lampu terasnya jarang menyala pada malam hari. Kadang jendelanya terbuka sedikit, tetapi bagian dalam rumah selalu tampak gelap dan sunyi. Meski demikian, hampir setiap pagi jemuran itu tetap muncul.

Pernah suatu hari seorang kurir mengantarkan paket ke rumahku. Saat melihat jemuran di depan pagar, ia bertanya apakah rumah tersebut milik dua keluarga. Ketika aku menjelaskan bahwa itu jemuran tetangga, wajahnya terlihat bingung. Ia mengatakan tidak pernah melihat siapa pun berada di halaman saat mengantarkan paket beberapa kali sebelumnya.

Aku tidak terlalu memikirkan ucapan itu. Namun entah mengapa, kata katanya terus teringat dalam benakku. Ada perasaan aneh yang perlahan tumbuh, seperti bayangan samar yang tidak bisa kujelaskan. Meski begitu, rasa kesal masih jauh lebih besar daripada rasa penasaran.

Puncaknya terjadi pada suatu pagi ketika aku sedang mengambil paket di dekat kolam kecil depan rumah. Kebetulan ibu itu sedang mengangkat jemurannya. Kesempatan itu tidak ingin kusia siakan. Aku sudah terlalu lama memendam kekesalan dan merasa harus menyampaikannya secara langsung.

Dengan suara pelan yang sedikit bergetar, aku berkata, “Bu, maaf ya. Kalau bisa jangan jemur pakaian di depan rumah saya lagi. Saya sendiri tidak pernah menjemur di depan rumah karena jadi terlihat berantakan.”

Perempuan itu berhenti sejenak. Senyum tipis yang semula menghiasi wajahnya perlahan memudar. Ia menatapku cukup lama hingga membuatku merasa tidak nyaman. Ada kesedihan yang aneh dalam sorot matanya.

“Iya, Teh. Maaf ya. Ini baru pertama kali. Ada kotoran kucing di sana,” jawabnya pelan.

Aku terdiam.

Kalimat itu persis sama seperti alasan yang pernah ia ucapkan sebelumnya. Bahkan intonasinya terdengar hampir serupa. Padahal aku sangat yakin sudah beberapa kali melihatnya menjemur pakaian di tempat yang sama.

Ia kembali mengulang bahwa itu baru pertama kali. Berkali kali. Sampai akhirnya aku hanya mengangguk dan masuk ke rumah. Anehnya, saat menoleh sekilas ke belakang, aku melihat wajahnya berubah muram. Seolah olah bukan aku yang terganggu, melainkan dirinya yang terluka karena teguranku.

Beberapa hari setelah kejadian itu, jemuran di depan rumah benar benar menghilang.

Aku seharusnya merasa lega.

Namun yang kurasakan justru sebaliknya.

Halaman depan memang kembali rapi, tetapi suasananya terasa berbeda. Ada kekosongan yang tidak biasa. Setiap pagi aku tanpa sadar masih menoleh ke arah tempat rak jemuran itu biasa berdiri. Dan setiap kali tidak menemukannya, muncul perasaan ganjil yang sulit dijelaskan.

Rasa penasaran itu semakin besar ketika aku menyadari rumah tetangga tersebut selalu tertutup rapat. Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara sapu. Tidak ada tanda tanda kehidupan. Padahal sebelumnya aku selalu mengira ia tinggal sendirian di sana.

Suatu sore aku berbincang dengan seorang ibu yang rumahnya berada di ujung gang. Kami mengobrol tentang lingkungan sekitar dan berbagai hal sepele. Tanpa sengaja aku menyinggung soal tetangga yang sering menjemur pakaian di depan rumahku.

Mendengar nama yang kusebutkan, wajah ibu itu langsung berubah.

“Memangnya kamu masih sering lihat beliau?” tanyanya perlahan.

“Tentu saja. Bahkan minggu lalu saya sempat menegurnya,” jawabku.

Perempuan itu menatapku dengan ekspresi tidak percaya.

Lalu dengan suara pelan ia berkata, “Tapi beliau sudah meninggal hampir dua bulan lalu.”

Aku tertawa kecil karena mengira ia sedang bercanda. Namun tidak ada sedikit pun tanda gurauan di wajahnya. Ia kemudian menunjukkan arsip pesan di grup warga yang berisi kabar duka, foto almarhumah, dan tanggal pemakamannya.

Jantungku seperti berhenti berdetak.

Nama dan wajah pada foto itu adalah perempuan yang selama ini kulihat hampir setiap hari.

Aku pulang dengan langkah lemas.

Sesampainya di rumah, aku langsung membuka galeri ponsel. Selama ini aku beberapa kali memotret halaman depan karena kesal melihat jemuran yang terus muncul. Dengan tangan gemetar, aku memeriksa satu per satu foto tersebut.

Pada foto pertama terlihat rak jemuran berdiri di depan pagar.

Pada foto kedua terlihat pakaian yang bergantung tertiup angin.

Namun pada foto ketiga, napasku tercekat.

Rak jemuran itu tampak jelas.

Pakaian pakaian itu juga terlihat jelas.

Tetapi tidak ada seorang pun di sana.

Tidak ada sosok perempuan yang selama ini kulihat membawa keranjang cucian. Tidak ada bayangan tubuh. Tidak ada wajah. Hanya rak jemuran yang berdiri sendiri.

Aku memperbesar gambar berkali kali.

Hasilnya tetap sama.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, wajah perempuan tua itu muncul kembali dalam ingatanku. Senyum tipisnya. Tatapan matanya. Dan kalimat yang terus diulang ulangnya.

Menjelang dini hari, ketika suasana begitu sunyi, terdengar suara berdecit dari luar rumah.

Kriet…

Kriet…

Kriet…

Suara roda rak jemuran yang bergerak di atas permukaan semen.

Dadaku berdegup keras.

Dengan keberanian yang tersisa, aku mengintip dari balik tirai jendela.

Di bawah cahaya lampu jalan yang pucat, sebuah rak jemuran perlahan bergerak sendiri menuju depan rumahku. Pakaian pakaian yang tergantung di sana bergoyang pelan meski tidak ada angin yang bertiup. Lalu di antara lipatan kain yang bergerak perlahan, muncul wajah perempuan tua itu.

Ia menatap lurus ke arah jendelaku.

Senyumnya terlihat lebih sedih daripada menyeramkan.

Kemudian bibirnya bergerak pelan.

“Maaf ya, Teh…”

Ia berhenti sesaat.

Matanya tampak berkaca kaca.

“Besok saya tidak akan jemur di sini lagi.”

Keesokan paginya, kabar mengejutkan datang dari warga sekitar. Anak anak almarhumah akhirnya pulang untuk mengosongkan rumah peninggalan ibunya. Dari mereka aku mengetahui sebuah kenyataan yang membuat tenggorokanku terasa tercekat.

Ternyata selama hidupnya, perempuan itu selalu menjemur pakaian di depan rumahnya sendiri. Tempat yang selama ini kukira miliknya ternyata adalah bagian tanah kosong yang dahulu pernah menjadi halaman rumah keluarganya sebelum batas lahan berubah akibat pembangunan jalan.

Di usia senjanya, ingatannya perlahan memudar. Ia terus mengira tempat di depan rumahku masih merupakan halaman rumahnya sendiri.

Aku terduduk diam mendengar penjelasan itu.

Saat teringat kembali wajah sedihnya malam itu, rasa kesal yang selama ini kusimpan berubah menjadi penyesalan yang tidak pernah benar benar hilang.

Dan sejak hari itu, setiap kali melihat halaman depan rumah yang kosong, aku selalu merasa ada sesuatu yang telah pergi untuk selamanya, meninggalkan jejak yang tidak terlihat, tetapi tetap tinggal di dalam hati.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *