Cerpen  

Cerpen: Nakhoda Yang Kehilangan Arah Di Tengah

banner 120x600

Banyak orang mengira Darma Kusuma adalah pemimpin yang tenang. Dalam setiap krisis ia selalu tersenyum, berbicara santai, dan tampil seolah semua masalah berada dalam kendalinya. Warga Kota Sagara sempat mengagumi ketenangan itu, sampai mereka menyadari bahwa yang mereka lihat bukanlah kebijaksanaan, melainkan ketidakmampuan membaca kenyataan yang berubah di sekelilingnya. Ketika kesadaran itu datang, kota sudah terlanjur hanyut dalam arus ketidakpercayaan yang sulit dibendung.

Kota Sagara berdiri di tepi laut yang luas. Sejak dahulu masyarakatnya hidup dari pelabuhan, perdagangan, dan perikanan. Di ruang kerja wali kota tergantung sebuah lukisan besar bergambar kapal layar tua yang sedang menembus badai. Lukisan itu merupakan hadiah dari ayah Darma pada hari pelantikannya sebagai pemimpin kota.

Di bagian bawah lukisan terdapat kalimat yang ditulis tangan.

“Seorang nakhoda tidak cukup pandai membaca peta. Ia harus mampu membaca gelombang.”

Kalimat itu dahulu sangat berarti bagi Darma. Ketika pertama kali menjabat, ia dikenal sebagai pemimpin yang rajin turun ke lapangan. Ia sering berbincang dengan nelayan di dermaga, duduk bersama pedagang pasar, dan mendengarkan keluhan warga hingga larut malam. Banyak orang menyukai kesederhanaannya karena ia tampak dekat dengan kehidupan rakyat.

Namun kekuasaan sering mengubah arah seseorang secara perlahan.

Keberhasilan pembangunan pada masa awal kepemimpinannya membuat namanya semakin dikenal. Berbagai penghargaan datang silih berganti. Media lokal memujinya sebagai pemimpin muda yang menjanjikan. Setiap pidato disambut tepuk tangan meriah. Setiap kebijakan mendapat sanjungan dari orang orang di sekitarnya.

Tanpa disadari, pujian mulai terdengar lebih merdu daripada kritik.

Tahun demi tahun berlalu. Lingkaran orang di sekelilingnya berubah. Mereka yang dulu berani berbeda pendapat satu per satu tersingkir. Posisi mereka digantikan orang orang yang selalu mengangguk dan menyetujui apa pun yang dikatakan pemimpinnya. Ruang rapat yang dahulu penuh perdebatan perlahan berubah menjadi ruang gema yang hanya memantulkan suara yang sama.

Saat itulah masalah mulai tumbuh.

Jalan jalan utama kota rusak karena anggaran perawatan berkurang. Pasar Bahari yang menjadi pusat perdagangan rakyat kehilangan pembeli akibat pengelolaan yang buruk. Sejumlah proyek pembangunan mangkrak tanpa kepastian. Nelayan mengeluh karena fasilitas pelabuhan semakin tidak terurus.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Ketika Aku Masih Hidup

Keluhan datang dari berbagai arah.

Media sosial dipenuhi kritik. Surat pembaca di koran lokal semakin tajam. Forum warga yang dahulu ramai oleh apresiasi kini berubah menjadi ruang kemarahan. Namun laporan yang sampai ke meja Darma selalu berbeda dari kenyataan.

“Situasi terkendali, Pak.”

“Itu hanya keluhan segelintir orang.”

“Masyarakat tetap mendukung Bapak.”

Kalimat kalimat itu terus diulang oleh para bawahannya.

Darma mempercayainya.

Ketika popularitas media sosial mulai meningkat, para staf menyarankan agar ia lebih aktif tampil di depan kamera. Awalnya hanya dokumentasi kegiatan resmi. Lama kelamaan berubah menjadi video hiburan yang menampilkan dirinya bernyanyi, bercanda, dan mengikuti berbagai tren yang sedang populer.

Jumlah penonton meningkat pesat.

Setiap video ditonton ratusan ribu orang. Angka itu membuat Darma yakin bahwa rakyat mencintainya. Ia tidak pernah memperhatikan isi komentar yang sebagian besar berisi sindiran dan ejekan. Baginya, banyaknya penonton adalah ukuran keberhasilan.

Pada suatu sore, hujan deras mengguyur sebagian wilayah kota. Sungai meluap dan merendam ratusan rumah. Warga sibuk menyelamatkan barang barang mereka. Relawan bekerja tanpa henti membantu korban banjir.

Pada malam yang sama, akun resmi wali kota mengunggah video tantangan menyanyi bersama sejumlah pejabat.

Video itu langsung menjadi perbincangan.

Bukan karena menghibur, melainkan karena dianggap tidak peka terhadap penderitaan masyarakat.

Keesokan harinya seorang wartawan muda bernama Reza mendapat kesempatan bertanya dalam konferensi pers. Ia dikenal sebagai jurnalis yang kritis dan berani menyampaikan pertanyaan yang sering dihindari orang lain.

“Pak Wali Kota, apakah Bapak menyadari bahwa sebagian masyarakat menganggap pemerintah tidak lagi memahami keadaan mereka?”

Ruangan mendadak hening.

Semua mata tertuju kepada Darma.

Alih alih merenung, ia justru tersenyum.

“Kalau masyarakat tidak percaya, mengapa mereka selalu menonton setiap unggahan saya?”

Beberapa pejabat tertawa kecil.

Namun tidak seorang pun wartawan ikut tertawa.

Reza memandang wajah wali kota itu cukup lama. Ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bukan kemarahan atau kesombongan, melainkan keyakinan yang lahir dari informasi yang keliru dan terus menerus dipelihara.

Hari hari berikutnya menjadi semakin sulit.

Demonstrasi mulai bermunculan di berbagai tempat. Para pedagang mengeluh. Nelayan mengeluh. Guru mengeluh. Bahkan sebagian aparatur pemerintahan mulai kehilangan semangat bekerja. Namun setiap kritik dianggap sebagai gangguan yang tidak perlu ditanggapi.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Menunggu Janji Dari Empat Generasi

Sementara itu, para pejabat tetap memuji.

Mereka memuji pidatonya.

Mereka memuji kebijakannya.

Mereka memuji penampilannya.

Mereka memuji segala sesuatu yang dilakukan pemimpinnya.

Lama kelamaan pujian itu berubah menjadi candu.

Darma semakin jarang turun ke lapangan. Ia lebih sering melihat laporan yang sudah disaring oleh bawahannya. Ia tidak lagi mendengar suara rakyat secara langsung. Jarak antara pemimpin dan masyarakat semakin lebar, seperti kapal yang perlahan menjauh dari mercusuar penunjuk arah.

Suatu malam, seorang sekretaris senior yang akan pensiun mencoba berbicara jujur.

“Bapak harus lebih sering melihat keadaan sebenarnya.”

Darma tersenyum.

“Saya tahu keadaan kota ini lebih baik daripada siapa pun.”

Sekretaris itu tidak melanjutkan pembicaraan.

Ia hanya menatap lukisan kapal yang tergantung di dinding.

Beberapa bulan kemudian masa kampanye pemilihan wali kota dimulai. Darma tetap yakin akan menang. Para staf menunjukkan grafik popularitas media sosial yang sangat tinggi. Mereka memperlihatkan angka angka fantastis yang membuatnya semakin percaya diri.

Tak seorang pun membahas kenyataan di lapangan.

Hari pemungutan suara tiba.

Masyarakat datang ke tempat pemilihan dengan tenang. Tidak ada keributan. Tidak ada tanda tanda mencolok yang menunjukkan hasil besar akan terjadi. Semua berjalan seperti hari biasa.

Malamnya hasil penghitungan mulai diumumkan.

Perlahan wajah para pendukung berubah pucat.

Angka demi angka menunjukkan kekalahan telak.

Bukan kekalahan tipis.

Bukan kekalahan yang masih bisa diperdebatkan.

Melainkan kekalahan yang menghancurkan seluruh keyakinannya.

Ruang kemenangan yang telah dipersiapkan jauh hari mendadak terasa kosong. Musik berhenti. Para tamu pergi satu per satu. Orang orang yang selama bertahun tahun selalu berada di sisinya menghilang tanpa pamit.

Menjelang tengah malam, Darma duduk sendirian di ruang kerjanya.

Pandangannya jatuh pada sebuah laci tua yang jarang dibuka. Di dalamnya tersimpan dokumen dokumen lama yang belum pernah ia baca. Sebagian besar berasal dari sekretaris senior yang telah pensiun beberapa bulan sebelumnya.

Dengan perasaan berat ia mulai membuka berkas demi berkas.

BERITA TERKAIT  Cerpen: Menunggu Janji Dari Empat Generasi

Isinya membuat napasnya tercekat.

Laporan kerusakan jalan.

Laporan kemiskinan.

Laporan pengangguran.

Laporan ketidakpuasan masyarakat.

Semuanya ada.

Semuanya lengkap.

Semuanya telah dikirim kepadanya bertahun tahun sebelumnya.

Di halaman terakhir terdapat sebuah surat tertutup.

Tangannya bergetar ketika membukanya.

Tulisan itu berasal dari sekretaris senior yang selama ini ia abaikan.

“Pak Darma, jika suatu hari Bapak membaca surat ini, berarti semuanya sudah terlambat. Bapak selalu mengira rakyat menjauh karena mereka tidak memahami Bapak. Kenyataannya berbeda. Mereka menjauh karena Bapak tidak lagi mendengar mereka. Namun ada hal yang lebih penting untuk Bapak ketahui.”

Darma melanjutkan membaca.

Wajahnya perlahan memucat.

“Orang orang yang selama ini paling sering memuji Bapak bukanlah pendukung setia. Mereka sengaja menjaga Bapak tetap berada dalam ruang yang sempit. Selama Bapak sibuk menikmati tepuk tangan, mereka menggunakan nama dan kekuasaan Bapak untuk kepentingan mereka sendiri. Bapak tidak sedang memimpin mereka. Bapak sedang dimanfaatkan oleh mereka.”

Mata Darma membelalak.

Tiba tiba banyak peristiwa selama bertahun tahun terakhir tersusun menjadi satu gambaran yang utuh. Ia teringat rapat rapat yang selalu penuh pujian. Ia teringat laporan yang tidak pernah sampai. Ia teringat kritik yang selalu disebut sebagai gangguan.

Ia akhirnya memahami semuanya.

Masalah terbesar bukan hanya karena ia gagal membaca sinyal sosial.

Masalah terbesar adalah karena ia membiarkan dirinya berhenti mendengar.

Darma berdiri dan menatap lukisan kapal peninggalan ayahnya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun, ia benar benar memahami makna kalimat yang tertulis di bawahnya.

Seorang nakhoda memang harus mampu membaca gelombang.

Dan selama ini ia mengira kapalnya sedang berlayar menuju kemenangan.

Padahal tanpa pernah ia sadari, orang orang yang berdiri di belakangnya telah lebih dahulu mencuri kompas, memadamkan mercusuar, lalu membiarkannya mengarahkan kapal itu pelan pelan menuju karang hingga tenggelam bersama seluruh kehormatannya.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *