Cerpen  

Cerpen: Terminal Malam Dan Lelaki Tanpa Bayangan

banner 120x600

Hujan turun tipis sejak magrib ketika Salim duduk sendirian di warung kopi dekat terminal kota. Di hadapannya tergeletak koran kusam yang sebagian tintanya sudah luntur terkena air. Ia sebenarnya hanya ingin menghangatkan tubuh sebelum pulang, tetapi suasana malam itu terasa berbeda dari biasanya. Lampu terminal berkedip pelan, sementara orang orang berlalu dengan wajah lelah dan mata sibuk menatap layar ponsel masing masing.

Warung kecil itu mulai sepi ketika jam mendekati tengah malam. Suara televisi bercampur dengan denting sendok dan bau minyak goreng yang mengendap di udara. Salim memperhatikan seorang pemuda yang sejak tadi duduk di sudut ruangan tanpa menyentuh kopi pesanannya. Wajahnya pucat dan matanya terlihat seperti orang yang sudah terlalu lama tidak tidur.

Ketika pelanggan terakhir pergi, pemuda itu perlahan mendekat ke meja Salim. Ia duduk tanpa banyak suara sambil memandang hujan di luar kaca warung. Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Salim merasa tidak nyaman, seolah pemuda itu membawa kesedihan yang terlalu berat untuk ditanggung sendiri. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia membuka suara.

“Aku pernah hidup di zaman yang ditakuti orang orang tua,” katanya lirih.

Salim mengernyit pelan. Pemuda itu tampak masih sangat muda, mungkin belum genap tiga puluh tahun. Namun cara bicaranya terdengar seperti seseorang yang telah kehilangan terlalu banyak hal dalam hidup. Di luar sana, suara petir menggulung pelan di atas terminal yang semakin lengang.

Pemuda itu memperkenalkan dirinya sebagai Farhan. Dulu ia bekerja di perusahaan investasi digital yang pernah sangat terkenal di kota itu. Hidupnya berubah cepat setelah pindah dari kampung kecil tempat ia dibesarkan ibunya seorang diri. Kota memberinya uang, pakaian mahal, apartemen tinggi, dan pergaulan yang membuatnya lupa pulang.

Awalnya Farhan hanya ingin memperbaiki hidup. Ia bekerja keras dari pagi sampai malam demi membantu ibunya yang hidup sederhana di pinggir sungai. Namun di kantor barunya, semua orang berbicara tentang uang seperti sedang membicarakan Tuhan. Orang yang paling dihormati bukan yang paling jujur, melainkan yang paling kaya.

Setiap hari Farhan melihat rekan rekan sekantornya berlomba membeli mobil baru dan memamerkan gaya hidup mahal di media sosial. Mereka tertawa keras saat membahas bonus, investasi, dan perempuan perempuan cantik yang datang mendekat karena uang. Lama kelamaan Farhan ikut menikmati semuanya. Ia mulai percaya bahwa harga diri manusia memang ditentukan oleh isi rekeningnya.

Suatu malam perusahaan mengadakan pesta di hotel mewah. Lampu kristal memantul di gelas gelas mahal dan musik berdentum sampai dini hari. Di sanalah Farhan bertemu Nadira, perempuan yang senyumnya membuat hampir semua lelaki di ruangan itu kehilangan fokus. Nadira berbicara lembut, tertawa manis, dan tahu persis bagaimana membuat seseorang merasa penting.

Sejak malam itu Farhan semakin tenggelam dalam kehidupan baru yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia mulai pulang menjelang pagi, melewatkan salat, dan jarang menghubungi ibunya. Kadang ibunya menelepon hanya untuk menanyakan apakah ia sudah makan atau belum. Namun Farhan sering mematikan panggilan itu karena sedang sibuk rapat atau berpesta.

Di apartemen lantai dua puluh dua miliknya, Farhan sering berdiri lama memandangi kota yang penuh cahaya. Dari atas sana semuanya terlihat indah dan megah. Akan tetapi setiap kali musik pesta berhenti dan teman temannya pulang, apartemen itu terasa sangat sunyi. Ia memiliki hampir semua yang dulu diimpikannya, tetapi tidak pernah benar benar merasa tenang.

Suatu malam telepon dari kampung datang ketika Farhan sedang bermain kartu bersama relasi bisnis perusahaan. Tetangganya memberi kabar bahwa ibunya jatuh sakit dan harus segera dibawa ke rumah sakit kota. Farhan terdiam beberapa saat sambil memandangi tumpukan uang di atas meja judi. Setelah menarik napas panjang, ia hanya mengirim sejumlah uang lalu kembali duduk bermain.

Hari demi hari berlalu begitu cepat. Proyek besar perusahaan membuat Farhan semakin sibuk mengejar keuntungan. Ia terus menunda pulang karena takut kehilangan kesempatan naik jabatan. Sampai akhirnya suatu malam, ketika pesta kemenangan sedang berlangsung di vila pegunungan, telepon itu datang lagi.

Ibunya meninggal beberapa jam sebelumnya.

Farhan keluar dari ruangan pesta sambil membawa gelas minuman yang belum habis. Dari dalam vila masih terdengar suara musik dan tawa orang orang mabuk. Ia berdiri sendiri di balkon sambil memandangi kabut gunung yang bergerak perlahan. Anehnya, ia tidak langsung menangis. Dadanya hanya terasa kosong seperti rumah yang seluruh isinya telah diangkut pergi.

Dua hari kemudian Farhan pulang ke kampung. Rumah kecil ibunya tampak lembap dan sunyi. Di kamar dekat dapur ia menemukan sajadah usang yang masih terlipat rapi serta buku catatan kecil penuh tulisan tangan ibunya. Hampir semua halaman berisi doa untuk dirinya.

Farhan membaca halaman terakhir dengan tangan gemetar.

“Aku takut anakku hidup di zaman ketika manusia menyembah uang dan melupakan Tuhan.”

Kalimat itu terasa lebih berat daripada batu. Farhan duduk di lantai sambil memegang buku itu lama sekali. Untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun, ia menangis tanpa bisa menghentikan dirinya sendiri. Namun penyesalan selalu datang terlambat kepada orang yang terlalu sibuk mengejar dunia.

Ketika kembali ke kota, hidup Farhan mulai runtuh sedikit demi sedikit. Perusahaan tempatnya bekerja terseret kasus penipuan investasi besar besaran. Ribuan nasabah kehilangan tabungan mereka. Nama Farhan ikut tersebar di media sosial karena tanda tangannya tercantum dalam banyak dokumen perusahaan.

Orang orang yang dulu memujinya kini menghina dan meludah saat melihat wajahnya di berita. Nadira menghilang tanpa kabar. Teman teman pesta yang dulu mengelilinginya pura pura tidak mengenal dirinya lagi. Mobil dan apartemennya disita, sementara rekeningnya diblokir untuk penyelidikan.

Farhan mulai hidup berpindah pindah kos murah di sudut kota. Ia mencoba mencari pekerjaan baru, tetapi semua pintu tertutup rapat. Di jalanan ia sering melihat wajah wajah lapar yang dulu tidak pernah ia pedulikan. Saat itulah ia mulai sadar bahwa selama ini dirinya hidup tanpa benar benar memahami arti hidup.

Pada suatu malam yang dingin, Farhan berjalan tanpa tujuan di pinggir sungai kota. Perutnya lapar dan tubuhnya lemas karena seharian belum makan. Di bawah jembatan ia melihat seorang pengemis tua membagi roti kepada beberapa anak jalanan. Wajah lelaki tua itu tampak damai meski pakaiannya lusuh dan basah oleh hujan.

Farhan memperhatikan mereka dari jauh sampai pengemis itu menghampirinya. Lelaki tua tersebut memberikan sepotong roti kecil tanpa bertanya siapa dirinya. Saat menggigit roti itu, Farhan tiba tiba teringat ibunya yang dulu selalu menyisihkan makanan terakhir untuk dirinya. Kenangan itu menghantam dadanya begitu keras sampai ia hampir tidak mampu menelan.

Pengemis tua itu tersenyum pelan.

“Kadang manusia bukan kekurangan uang,” katanya lirih. “Mereka cuma kehilangan arah pulang.”

Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepala Farhan selama berhari hari. Sejak malam itu ia mulai mencoba memperbaiki hidupnya sedikit demi sedikit. Ia membantu membersihkan masjid, bekerja serabutan di pasar, dan berhenti mengejar kemewahan yang dulu membuatnya buta. Hidupnya tetap sulit, tetapi setidaknya ia mulai bisa tidur tanpa membenci dirinya sendiri.

Namun masa lalu tidak pernah benar benar pergi.

Beberapa bulan kemudian polisi menemukan keberadaan Farhan dan membawanya sebagai saksi utama kasus investasi tersebut. Orang orang berteriak marah ketika ia keluar dari rumah kontrakan sempit di pinggir kota. Seorang ibu melempar botol plastik sambil menangis karena kehilangan seluruh tabungan untuk biaya sekolah anaknya.

Farhan tidak melawan sedikit pun. Ia hanya menunduk dan membiarkan semua hinaan itu menghantam dirinya. Di ruang tahanan yang dingin dan lembap, ia sering teringat kembali pada wajah ibunya serta kehidupan lama yang pernah begitu dibanggakannya. Kini ia sadar bahwa dirinya pernah hidup hanya untuk perut, uang, dan nafsu.

Salim mendengarkan semua cerita itu tanpa menyela. Jam dinding warung menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Terminal sudah benar benar sepi dan hujan tinggal menyisakan suara tetesan dari atap seng. Lampu gantung di atas meja mereka bergoyang pelan tertiup angin malam.

“Aku dibebaskan beberapa bulan lalu,” kata Farhan sambil menatap kosong ke arah jalan. “Tapi hidupku tidak pernah benar benar selesai.”

Salim terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bertanya mengapa Farhan mau menceritakan semua itu kepada orang asing seperti dirinya. Pemuda itu tersenyum tipis lalu mengeluarkan potongan koran lusuh dari saku jaketnya. Di sana terdapat kutipan yang sama seperti tulisan terakhir ibunya.

“Akan datang zaman ketika manusia tidak puas dengan sedikit dan tidak kenyang dengan banyak.”

Belum sempat Salim berkata apa apa, listrik warung tiba tiba padam. Suasana langsung gelap dan sunyi selama beberapa detik. Ketika lampu kembali menyala, kursi di depan Salim sudah kosong.

Farhan menghilang.

Tidak ada suara langkah kaki. Pintu warung masih tertutup rapat seperti tidak pernah dibuka siapa pun. Pemilik warung yang sejak tadi menghitung uang di dekat kasir memandang Salim dengan wajah pucat.

“Bapak bicara sendiri dari tadi?” tanyanya pelan.

Salim berdiri dengan napas memburu. Tangannya gemetar saat membuka koran lusuh yang tertinggal di atas meja. Di halaman utama terdapat berita lama tentang seorang mantan pegawai investasi bodong bernama Farhan yang ditemukan meninggal di bawah jembatan kota setahun sebelumnya.

Foto di koran itu sama persis dengan wajah pemuda yang menemaninya sepanjang malam.

Di bawah foto terdapat kutipan terakhir dari buku catatan ibunya.

“Perhatian mereka hanya urusan perut, agama mereka uang, dan kiblat mereka perempuan.”

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *