Malam itu hujan turun pelan di atas terminal kecil Kota Randugunting. Lampu jalan memantulkan genangan air seperti serpihan kaca di aspal tua. Di sudut warung kopi yang hampir tutup, Bayu duduk memeluk ranselnya sambil menatap jalan raya yang lengang. Jaket lusuhnya masih basah oleh hujan, sementara matanya tampak lelah seperti orang yang terlalu lama melawan hidup.
Tiga hari sebelumnya, Bayu kehilangan pekerjaannya di kota. Tunangannya pergi tanpa banyak penjelasan. Tabungan yang selama ini ia banggakan habis untuk membayar utang kontrakan dan cicilan motor. Kini ia harus pulang ke kampung dengan tangan kosong, membawa kegagalan yang selama bertahun tahun ia sembunyikan dari ibunya.
Bayu dikenal sebagai lelaki yang mudah marah. Sedikit masalah sering berubah menjadi pertengkaran panjang. Di tempat kerja ia pernah membanting kursi karena merasa diremehkan atasannya. Saat kecewa, rahangnya selalu mengeras dan suaranya meninggi tanpa bisa dikendalikan. Ia terbiasa melawan hidup dengan kemarahan, seolah dunia hanya bisa ditaklukkan dengan keras kepala.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa lelah memelihara api di dalam dadanya sendiri.
Warung kopi itu hanya dijaga seorang pria tua berkemeja lusuh. Rambutnya memutih seluruhnya, tetapi wajahnya terlihat teduh. Sesekali ia menyapu lantai sambil mendengarkan radio kecil yang memutar lagu lama dengan suara berdesis.
“Dari jauh, Mas?” tanyanya ramah.
Bayu hanya mengangguk pelan lalu memesan kopi paling murah.
Tak lama kemudian, pria tua itu menyodorkan semangkuk mi rebus hangat.
“Saya gak pesan, Pak,” kata Bayu pelan.
“Makan aja. Orang capek biasanya pikirannya makin gelap kalau perut kosong.”
Bayu ragu sesaat sebelum akhirnya menerima. Entah kenapa, suasana warung itu terasa hangat di tengah dinginnya hujan dan kekacauan hidupnya.
Suara hujan mengetuk seng pelan. Dari kejauhan terdengar suara bus malam memasuki terminal. Seorang kernet sempat membeli rokok lalu pergi lagi sambil bercanda dengan sopir angkot di depan warung. Suasana itu membuat tempat kecil tersebut terasa hidup dan biasa saja.
Pria tua itu duduk di depan Bayu sambil meniup kopi hitamnya perlahan.
“Hidup kadang berat bukan karena masalahnya,” katanya pelan, “tapi karena hati kita terlalu penuh marah.”
Bayu terdiam. Kalimat itu terasa menampar sesuatu di dalam dirinya.
Pria tua itu lalu bercerita tentang anak laki lakinya yang keras kepala. Anak itu mudah tersinggung, merasa paling benar, dan sering melukai keluarganya dengan ucapan kasar. Suatu malam mereka bertengkar hebat. Anak itu pergi meninggalkan rumah dan tak pernah kembali.
“Bapak masih nunggu dia pulang?” tanya Bayu lirih.
Pria tua itu tersenyum kecil.
“Orang tua itu aneh. Disakiti berkali kali pun tetap berharap anaknya pulang.”
Dada Bayu mendadak terasa sesak.
Tiga tahun lalu ia juga pergi meninggalkan rumah setelah membentak ibunya karena persoalan sepele. Ia marah ketika ibunya menyuruhnya pulang kampung dan berhenti bekerja di kota. Dalam emosi, Bayu bahkan sempat berkata bahwa ia muak hidup miskin bersama keluarganya.
Kalimat itu terus menghantuinya sampai sekarang.
Hujan mulai reda ketika jam dinding menunjukkan hampir tengah malam. Terminal semakin sepi. Bayu memandangi pria tua di depannya lebih lama. Ada sesuatu dalam sorot mata lelaki itu yang terasa akrab, meski ia tak mampu menjelaskan kenapa.
Sebelum bus menuju desa datang, pria tua itu memberikan sebungkus nasi untuk perjalanan Bayu.
“Simpan buat nanti subuh,” katanya.
Bayu menolak halus karena malu menerima terlalu banyak bantuan.
Pria tua itu tertawa kecil.
“Hidup jangan kebanyakan hitung untung rugi dalam berbuat baik.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Bayu tersenyum tipis.
Saat bus datang, pria tua itu menepuk bahunya perlahan.
“Kalau sampai rumah nanti, jangan gengsi minta maaf.”
Kalimat sederhana itu membuat mata Bayu terasa panas.
Perjalanan menuju kampung berlangsung panjang. Dari balik kaca bus yang buram, Bayu memandangi sawah gelap dan lampu rumah penduduk yang sesekali muncul di kejauhan. Ia teringat banyak hal yang selama ini ia kubur dalam pikirannya. Wajah ibunya. Tangisan perempuan itu saat ia pergi. Dan panggilan telepon yang tak pernah ia jawab selama bertahun tahun.
Fajar mulai muncul ketika bus tiba di desa kecil tempat Bayu dilahirkan.
Udara pagi terasa dingin. Aroma tanah basah memenuhi jalan setapak menuju rumah ibunya. Bayu berjalan pelan sambil membawa ransel dan sebungkus nasi pemberian pria tua di terminal.
Rumah itu masih sama. Pagar bambu yang mulai rapuh. Pohon mangga tua di halaman depan. Dinding bercat kusam yang dulu sering ia keluhkan karena dianggap memalukan.
Bayu berdiri cukup lama di depan pintu sebelum akhirnya mengetuk perlahan.
Tak lama kemudian pintu terbuka.
Ibunya berdiri mematung beberapa detik sebelum memeluk Bayu erat tanpa sepatah kata pun. Tubuh perempuan itu kini jauh lebih kurus dibanding terakhir kali mereka bertemu.
Bayu tak mampu berkata apa apa. Semua kesombongan yang selama ini ia pelihara runtuh begitu saja dalam pelukan itu.
Mereka duduk di ruang tamu sederhana sambil minum teh hangat. Ibunya tidak banyak bertanya tentang kegagalan Bayu di kota. Ia justru sibuk menggoreng tempe dan menyiapkan sarapan seadanya.
Sikap itu membuat hati Bayu semakin hancur.
Dengan suara bergetar, ia akhirnya meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah ia lakukan. Ia mengakui bahwa selama ini terlalu egois dan mudah marah.
Ibunya mendengarkan sambil mengusap air mata di pipinya sendiri.
“Seorang ibu gak pernah benar benar berhenti memaafkan anaknya,” ucap perempuan itu pelan.
Hari hari berikutnya dilalui Bayu dengan membantu ibunya dan bekerja serabutan di desa. Ia mulai belajar menahan emosi dalam hal hal kecil. Ketika upahnya terlambat dibayar, ia memilih berbicara baik baik. Saat tetangga lupa mengembalikan alat kerja pinjamannya, ia tidak lagi meledak seperti dulu.
Perlahan hidup Bayu berubah.
Orang orang yang dulu menjauh mulai kembali dekat dengannya. Kepala desa bahkan memberinya pekerjaan tetap di gudang pertanian milik koperasi. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Bayu merasa damai tanpa perlu berpura pura kuat.
Meski begitu, ia sering teringat pada pria tua penjaga warung kopi di terminal. Nasihat lelaki itu terus terngiang di kepalanya.
Beberapa bulan kemudian, setelah menerima gaji pertamanya sebagai pegawai tetap koperasi, Bayu memutuskan pergi ke terminal kota untuk menemui pria tua tersebut. Ia membawa jaket hangat dan beberapa bahan makanan sebagai tanda terima kasih.
Namun ketika tiba di terminal, Bayu mendapati warung kopi itu tertutup rapat. Kursi kursi kayunya disusun terbalik di atas meja, sementara cat dindingnya tampak kusam dimakan waktu.
Bayu bertanya kepada seorang sopir angkot yang sedang merokok di dekat sana.
“Warung itu udah lama tutup, Mas,” kata sopir itu.
“Pemiliknya meninggal hampir setahun lalu.”
Jantung Bayu langsung berdegup keras.
“Tapi beberapa bulan lalu saya masih ngobrol sama beliau di sini,” ucap Bayu bingung.
Sopir angkot itu mengernyit heran.
“Sejak beliau meninggal, gak pernah ada yang buka warung itu lagi.”
Tubuh Bayu mendadak dingin.
Ingatan tentang malam hujan itu kembali satu per satu. Radio tua yang berdesis. Kopi hangat di meja kayu. Tatapan mata lelaki tua yang terasa begitu dekat.
Dengan langkah gemetar, Bayu mendekati pintu warung yang lapuk. Di sampingnya tergantung sebuah foto usang berdebu.
Dalam foto itu tampak pria tua penjaga warung berdiri di samping seorang anak laki laki kecil.
Napas Bayu tercekat.
Anak kecil dalam foto itu adalah dirinya.
Tangannya bergetar ketika membaca tulisan di bawah bingkai foto.
“Sutrisno. Ayah Bayu.”
Kaki Bayu langsung lemas.
Ia baru teringat bahwa ayahnya memang pernah membuka warung kopi di terminal sebelum meninggal bertahun tahun lalu. Karena terlalu lama pergi dan sibuk membenci hidupnya sendiri, Bayu perlahan melupakan banyak kenangan tentang ayahnya. Bahkan wajah lelaki itu pun mulai samar dalam ingatannya.
Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan.
Kini Bayu sadar, malam hujan itu ayahnya telah datang menuntunnya pulang. Bukan hanya pulang ke rumah, tetapi juga pulang kepada dirinya sendiri.
Bayu duduk bersandar di depan warung sambil menangis dalam diam. Langit senja perlahan turun di atas terminal tua yang sunyi.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia benar benar memahami bahwa hati yang dipenuhi amarah hanya akan membuat manusia tersesat semakin jauh.
Sebelum pergi, Bayu menatap sekali lagi warung kopi milik ayahnya.
Lalu ia melangkah pulang dengan dada yang jauh lebih ringan.














