BuserNasional.my.id — Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, manusia sering dihadapkan pada beragam persoalan yang menuntut pengetahuan, kebijaksanaan, dan kemampuan yang berbeda-beda. Ada kalanya seseorang sangat unggul dalam satu bidang, namun belum tentu memiliki kecakapan yang sama dalam bidang lainnya. Kesadaran akan kenyataan ini merupakan bagian dari akhlak yang mulia, karena mengajarkan sikap tawadhu, menghormati keahlian orang lain, serta menjauhkan diri dari kesombongan yang dapat menyesatkan hati dan pikiran.
Ada sebuah kaidah yang sarat hikmah:
“لكل فن رجال، وليس كل من مهر في فن يكون ماهرا في سائر الفنون.”
“Setiap bidang itu ada ahlinya dan tidaklah setiap yang mahir dalam satu bidang itu juga mesti mahir dalam semua bidang yang lain.”
Kaidah ini tampak sederhana, namun mengandung pelajaran yang sangat dalam. Tidak sedikit manusia yang terjebak dalam anggapan bahwa keberhasilannya pada satu bidang menjadikannya layak berbicara dan menentukan segala hal. Bahkan terkadang seseorang yang telah mencapai kedudukan tinggi dalam suatu disiplin ilmu merasa tidak perlu lagi mendengarkan pendapat ahli lain. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan antara ilmu, adab, dan pengakuan terhadap keterbatasan diri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
“Dan di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih mengetahui.”
(QS. Yusuf: 76)
Ayat yang singkat ini mengandung pesan yang sangat kuat. Setinggi apa pun ilmu seseorang, selalu ada ilmu lain yang belum diketahuinya. Seluas apa pun wawasan yang dimiliki, tetap ada batas yang tidak mampu dijangkaunya. Oleh sebab itu, seorang mukmin sejati tidak akan mudah merasa paling benar, paling pandai, atau paling layak untuk menghakimi semua perkara.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menyaksikan kenyataan ini dengan jelas. Seorang ulama yang mendalam pemahamannya tentang fikih mungkin tidak memiliki keahlian khusus dalam bidang kesehatan. Seorang dokter yang sangat ahli dalam dunia medis belum tentu memahami secara rinci ilmu ekonomi. Seorang insinyur yang mampu membangun jembatan megah belum tentu menguasai ilmu tafsir Al-Qur’an. Demikian pula seorang ekonom yang cerdas belum tentu memahami seluk-beluk ilmu hadis.
Perbedaan kemampuan ini bukanlah kekurangan, melainkan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Allah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda agar mereka saling membutuhkan dan saling melengkapi.
Allah Ta’ala berfirman:
وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا
“Dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain.”
(QS. Az-Zukhruf: 32)
Ayat ini menjelaskan bahwa keberagaman kemampuan manusia bukan untuk melahirkan kesombongan, tetapi untuk membangun kerja sama. Tidak ada seorang pun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya sendirian. Setiap orang memerlukan bantuan orang lain yang memiliki keahlian berbeda.
Karena itu, sikap menghargai para ahli merupakan bagian dari tuntunan agama. Ketika menghadapi suatu persoalan, Islam mengajarkan agar kita merujuk kepada orang yang memiliki kompetensi pada bidang tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Perintah ini menunjukkan bahwa bertanya kepada ahlinya bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kecerdasan dan kerendahan hati. Orang yang enggan bertanya sering kali terjatuh dalam kesalahan yang sebenarnya dapat dihindari. Sebaliknya, orang yang mau belajar kepada ahlinya akan lebih mudah memperoleh kebenaran.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengingatkan tentang bahaya menyerahkan urusan kepada orang yang tidak memiliki kapasitas. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, beliau bersabda:
إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”
Hadis ini tidak hanya berbicara tentang kepemimpinan, tetapi juga menjadi prinsip umum dalam kehidupan. Ketika suatu urusan ditangani oleh orang yang tidak memiliki kompetensi, maka kerusakan sering kali menjadi akibat yang sulit dihindari. Sebaliknya, ketika suatu bidang dikelola oleh orang yang tepat, hasil yang baik akan lebih mudah diwujudkan.
Kaidah yang sedang kita renungkan juga mengajarkan pentingnya menjaga lisan. Tidak semua persoalan harus kita komentari. Tidak semua perdebatan harus kita masuki. Tidak semua bidang harus kita kuasai sebelum berbicara. Ada kalanya sikap terbaik adalah diam, mendengar, lalu belajar dari mereka yang memang memiliki ilmu dan pengalaman.
Kerendahan hati semacam ini merupakan ciri orang beriman. Semakin bertambah ilmunya, semakin ia menyadari luasnya samudra pengetahuan yang belum dijelajahi. Ia tidak merasa malu mengatakan, “Saya tidak tahu.” Bahkan para ulama besar sepanjang sejarah Islam menjadikan kalimat tersebut sebagai bagian dari kemuliaan mereka.
Imam Malik rahimahullah pernah ditanya puluhan pertanyaan, namun beliau menjawab sebagian besar dengan ungkapan bahwa beliau tidak mengetahui jawabannya. Sikap seperti ini lahir dari rasa takut kepada Allah dan kesadaran bahwa berbicara tanpa ilmu dapat menyesatkan diri sendiri maupun orang lain.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra’: 36)
Pada akhirnya, memahami bahwa setiap bidang memiliki ahlinya akan melahirkan banyak kebaikan. Kita menjadi lebih bijaksana dalam berbicara, lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, lebih mudah menerima nasihat, dan lebih lapang dalam menghargai kemampuan orang lain. Kesadaran ini juga menjaga hati dari penyakit ujub dan kesombongan yang sering menjadi penghalang datangnya hidayah.
Marilah kita belajar untuk menempatkan setiap orang sesuai keahliannya, menghormati ilmu yang dimiliki orang lain, serta menyadari keterbatasan diri sendiri. Sebab semakin seseorang mengenal hakikat ilmu, semakin ia memahami bahwa seluruh pengetahuan manusia hanyalah setetes kecil dari lautan ilmu Allah Yang Maha Luas. Dengan sikap demikian, ilmu akan melahirkan hikmah, keahlian akan melahirkan manfaat, dan kerendahan hati akan mengantarkan seorang hamba kepada kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.














