SOESILO TOER: GELAR, SAMPAH, DAN MARTABAT

banner 120x600

Seusai Isya, ketika sebagian warga Blora menutup hari, Soesilo Toer justru menghidupkan sepeda motor tuanya. Botol plastik, kardus, koran dan barang bekas menjadi buruannya hingga tengah malam, kadang menjelang subuh. Lelaki itu bukan pemulung biasa. Di belakang namanya tersimpan gelar doktor ekonomi-politik dari Uni Soviet, puluhan karya tulis, dan sejarah panjang seorang intelektual yang pernah digilas perubahan politik Indonesia.

Pemandangan itu mudah mengundang rasa iba. Seorang doktor lulusan luar negeri, adik Pramoedya Ananta Toer, mengais barang yang telah dibuang orang lain. Tetapi membaca kehidupan Soesilo sebatas ironi “doktor menjadi pemulung” justru berisiko salah memahami dirinya. Soesilo tidak melihat memulung sebagai kehinaan. Kepada detikNews, 2 Juni 2018, ia mengatakan pekerjaan seseorang seharusnya dinilai dari nilai lebih yang dihasilkannya, bukan pangkat yang disandang.

Perjalanan hidupnya memang penuh kontras. Sebelum berangkat ke Uni Soviet, Soesilo pernah belajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ia memperoleh kesempatan belajar di Moskow melalui beasiswa setelah mengikuti seleksi. Kumparan, 22 Juni 2018, mencatat ia menyelesaikan pendidikan master pada 1967, kemudian meneruskan pendidikan hingga meraih doktor di Institut Plekhanov. Karena itu, menyebutnya sekadar “orang pilihan Soekarno” terlalu menyederhanakan sejarah. Ia lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari generasi mahasiswa Indonesia yang memperoleh kesempatan belajar di Uni Soviet pada era pemerintahan Soekarno.

Namun pendidikan tinggi tidak memberinya jalan pulang yang lapang. Ketika kembali ke Indonesia pada 1973, situasi politik telah berubah. Soekarno telah jatuh, Orde Baru berdiri, dan hubungan dengan komunisme menjadi perkara sensitif. Kumparan, 22 Juni 2018, melaporkan Soesilo ditahan segera setelah kembali ke Indonesia karena dicurigai terkait PKI. Dalam kesaksiannya, ia mengatakan menjalani penahanan hingga 1979. Tuduhan itu dibantahnya.

BERITA TERKAIT  DZIKIR DI TENGAH KELALAIAN

Kisah tersebut tidak berhenti di penjara. Setelah bebas, Soesilo masih berusaha memasuki dunia akademik. detikNews, 4 Oktober 2020, mencatat ia pernah mengajar di perguruan tinggi di Jakarta, menjadi rektor sebuah perguruan tinggi di Bekasi, lalu bekerja di Litbang Perguruan Rakyat pada 1991–2004. Ia mengaku stigma politik terus mengikuti perjalanan pekerjaannya. Fakta ini penting karena kehidupan Soesilo tidak sesederhana doktor yang pulang dari luar negeri kemudian langsung menjadi pemulung.

Pada 2004 ia kembali ke Blora. Di rumah keluarga Toer, kehidupan intelektualnya tidak berhenti. Siang hari ia menulis, sementara malam hari ia dapat berkeliling mencari barang bekas. Ketika ditemui detikNews pada 2018, sedikitnya 20 bukunya telah terbit dan sekitar 30 naskah lain disebut masih menunggu penerbitan. Salah satu karyanya adalah Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer.

Soesilo juga mengelola warisan literasi keluarga melalui Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer atau Pataba. SINDOnews, 4 Agustus 2024, mencatat perpustakaan di rumah masa kecil Pramoedya itu menyimpan sekitar 10 ribu buku. Soesilo juga menjalankan Pataba Press. Maka pada dirinya, barang bekas dan buku bukan dua dunia yang saling meniadakan: yang satu memberinya nilai ekonomi, yang lain menjaga kehidupan intelektual.

Kapasitas akademiknya pun tidak hilang bersama pakaian sederhana dan motor yang digunakannya memulung. SINDOnews mencatat ia menguasai enam bahasa: Indonesia, Jawa, Rusia, Inggris, Belanda, dan Jerman. Fakta itu membuat paradoks kehidupannya semakin kuat, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa kecerdasan tidak selalu berakhir pada jabatan, ruang kantor, atau kemapanan ekonomi.

BERITA TERKAIT  MBG dan Kopdes Diuji Amanat Konstitusi

Memulung sendiri bukan aktivitas yang baru dikenalnya pada usia tua. Kepada Kumparan, 22 Juni 2018, Soesilo mengaku telah menyukai kegiatan itu sejak kecil dan bahkan melakukannya ketika belajar di luar negeri. Di Blora, kebiasaan tersebut sekaligus membantu memenuhi kebutuhan keluarga. detikNews mencatat ia berkeliling selepas Isya hingga tengah malam, terkadang sampai subuh, dengan penghasilan ketika itu rata-rata sekitar Rp25 ribu sehari.

Di titik inilah kisah Soesilo menjadi lebih besar daripada cerita tentang kemiskinan. Ia memaksa kita mempertanyakan ukuran keberhasilan yang telanjur dianggap normal. Jika seorang doktor menjadi pejabat, profesor atau eksekutif, masyarakat tidak merasa perlu bertanya. Tetapi ketika seorang doktor mengumpulkan kardus dan botol plastik, pertanyaan segera bermunculan: mengapa sekolah begitu tinggi jika akhirnya menjadi pemulung?

Pertanyaan itu mungkin justru salah alamat.

Pendidikan tidak pernah menjanjikan bahwa semua manusia harus berakhir pada kelas sosial tertentu. Gelar akademik menunjukkan proses pendidikan, bukan kasta kehidupan. Sebaliknya, pekerjaan kasar tidak otomatis menunjukkan rendahnya kualitas manusia. Dalam kehidupan Soesilo, doktor, penulis, mantan tahanan politik, pengelola perpustakaan, peternak dan pemulung dapat berada dalam satu tubuh tanpa harus saling menyangkal.

Karena itu, kisahnya juga tidak layak dirayakan secara romantis sebagai bukti bahwa kemiskinan itu indah. Tidak ada yang romantis dari ketidakpastian ekonomi ataupun sejarah seseorang yang pernah kehilangan kebebasan akibat pergolakan politik. Yang patut dibaca adalah daya hidupnya: setelah gelar, penjara, stigma dan perubahan zaman, ia tetap menulis, mengurus buku dan bekerja dengan tangannya sendiri.

BERITA TERKAIT  AMEENA BLAKE, DARI PENCARIAN MENUJU PENGABDIAN

Soesilo seperti membalik cara masyarakat membaca nilai. Barang yang dianggap sampah masih dapat dipungut dan diberi harga. Manusia yang pernah disingkirkan sejarah pun belum tentu kehilangan daya cipta. Gelar doktor tidak membuat tangannya terlalu tinggi untuk menyentuh kardus, sementara pekerjaan memulung tidak menghapus pengetahuan yang pernah dibawanya pulang dari Moskow.

Mungkin bukan pilihan Soesilo menjadi pemulung yang paling layak dipersoalkan. Yang lebih menarik justru mengapa masyarakat begitu terkejut melihat seorang doktor melakukannya. Kita terbiasa mengukur pendidikan melalui pekerjaan, pekerjaan melalui penghasilan, lalu penghasilan melalui kehormatan. Soesilo mengacaukan seluruh ukuran itu.

Dan ketika malam kembali turun di Blora, seorang doktor dapat kembali menyusuri jalan mencari botol, kardus dan benda-benda yang telah dibuang orang lain. Pada siang berikutnya, tangan yang sama kembali menulis dan merawat buku. Di antara sampah dan pustaka itu, Soesilo Toer meninggalkan pertanyaan yang lebih sulit daripada riwayat gelarnya: apakah martabat manusia ditentukan oleh pekerjaan yang dilakukannya, atau oleh nilai yang diciptakannya?

Penulis: Dwi Taufan Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *