Musim gugur 1992, di sebuah bangunan bekas gereja di Nether Edge, Sheffield, Inggris, seorang perempuan muda mengambil keputusan yang akan mengubah arah hidupnya. Ameena Blake mengucapkan syahadat. Perjalanan itu kelak membawanya jauh: dari seorang perempuan Inggris yang sedang mencari jawaban tentang keyakinan menjadi pendidik, aktivis sosial, dan pendamping kehidupan spiritual Muslim di sebuah universitas Inggris.
Keputusan itu tidak lahir dari perjalanan yang sederhana. Ameena tumbuh dalam lingkungan Inggris dan menjalani masa muda yang jauh berbeda dari kehidupan religius yang kemudian dipilihnya. Dalam sebuah kisah autobiografis yang dikreditkan kepadanya dan diterbitkan kembali pada 14 Mei 2019, ia menggambarkan dirinya sebagai perempuan muda Inggris kelas menengah yang pernah akrab dengan kehidupan klub malam.
Namun manusia tidak selalu dapat dibaca dari satu fase kehidupannya. Di balik perjalanan masa muda itu berlangsung pencarian yang lebih dalam. Ada pertanyaan tentang kehidupan, Tuhan dan keyakinan yang tidak mudah selesai. Islam kemudian hadir bukan sekadar sebagai identitas baru, tetapi sebagai sesuatu yang perlahan dipelajari dan dipertimbangkan.
Pada musim gugur 1992, pencarian itu mencapai sebuah titik penting. Ameena mengenang dirinya mengucapkan syahadat di sebuah bangunan bekas gereja di Nether Edge, Sheffield. Ia juga menceritakan reaksi ayahnya ketika mengetahui keputusan tersebut. Sang ayah menduga Islam mungkin hanya sebuah fase yang sedang dijalani putrinya.
Waktu kemudian memberikan jawabannya. Lebih dari tiga dekade berlalu dan Islam ternyata bukan sekadar persinggahan dalam kehidupan Ameena. Keyakinan itu justru berkembang menjadi jalan panjang pendidikan, pelayanan sosial dan pengabdian kepada masyarakat.
Ameena memilih memperkuat keyakinannya dengan ilmu. Ia menempuh pendidikan hingga memperoleh BA dalam English Studies, Postgraduate Certificate in Education, MSc Leadership and Management of Education dari Sheffield Hallam University, serta MA Islamic Studies dari Markfield Institute of Higher Education. Perjalanan akademik tersebut memperlihatkan sisi penting transformasinya: keyakinan tidak dibiarkan berhenti pada pengalaman spiritual, tetapi dipertemukan dengan pendidikan dan proses belajar yang serius.
Kariernya pun bergerak melalui jalan yang tidak biasa. University of Sheffield mencatat Ameena pernah menjalani beragam pekerjaan, antara lain sebagai mekanik, pengemudi bus jarak jauh atau coach driver, hingga dosen universitas. Pengalaman yang beragam itu kemudian bertemu dengan perhatian yang semakin besar terhadap pendidikan dan pelayanan komunitas Muslim.
Di Sheffield, Ameena terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk mendirikan Fatima Community Centre. Ia juga menggalang dana dan ikut membangun sebuah proyek untuk perempuan. Menurut University of Sheffield, proyek tersebut berkembang dari cabang pertamanya di Birmingham menjadi empat pusat operasional yang secara kolektif telah memberikan dukungan kepada lebih dari 400 perempuan dan anak melalui pendidikan, nasihat dan tempat tinggal yang aman.
Di sinilah kisah Ameena menjadi lebih menarik daripada sekadar cerita tentang seseorang yang berpindah agama. Transformasi pribadi itu perlahan berubah menjadi transformasi sosial. Pengalaman hidup yang dahulu berpusat pada pencarian dirinya sendiri berkembang menjadi kemampuan mendampingi mereka yang menghadapi persoalan kehidupan.
Perhatian terhadap para mualaf menjadi salah satu bagian penting dari kiprahnya. Dalam materi berjudul Converts – A Mentor is a Must! yang diterbitkan About Islam pada 18 Juli 2022, Ameena membicarakan pentingnya seorang Muslim baru mempunyai mentor. Menurutnya, memeluk Islam bukan akhir perjalanan. Seseorang masih harus menghadapi berbagai pertanyaan, ketakutan, ketidakpastian dan proses panjang untuk memahami kehidupan barunya.
Pandangan itu terasa relevan dengan perjalanan Ameena sendiri. Seseorang dapat mengucapkan syahadat dalam hitungan menit, tetapi membangun pengetahuan, karakter dan kehidupan setelahnya membutuhkan waktu bertahun-tahun. Pengalaman personal seorang mualaf dengan demikian dapat menjadi modal penting untuk memahami kegelisahan mualaf lainnya, bukan dari kejauhan, tetapi dari pengalaman yang pernah dijalani.
Perjalanan tersebut akhirnya membawanya kembali ke lingkungan universitas dalam peran yang berbeda. University of Sheffield saat ini mencantumkan Ustadha Ameena Blake dalam Muslim Chaplaincy Team sebagai Chaplain and Muslim Scholar. Ia terlibat dalam pendampingan kehidupan keagamaan mahasiswa Muslim dan menjadi salah satu pengajar dalam program Roots Academy di universitas tersebut.
Ada lingkaran kehidupan yang menarik di sini. Perempuan yang pada 1992 berdiri di sebuah bekas gereja di Sheffield untuk mengucapkan syahadat itu, puluhan tahun kemudian berada di kota yang sama untuk membantu orang lain menjalani kehidupan spiritual mereka. Bahkan dalam sebuah tulisan tentang pengalamannya sebagai chaplain, Ameena mengungkapkan bahwa ayahnya dahulu merupakan profesor di University of Sheffield. Ketika pada 2022 ia mulai bekerja di universitas itu sebagai Muslim chaplain, ia merasa seperti pulang ke rumah.
Kisah Ameena sekaligus mengingatkan kita agar berhati-hati menilai manusia hanya dari satu potongan masa kehidupannya. Masa muda bukanlah vonis atas masa depan. Keraguan pun tidak selalu berakhir pada penolakan. Dalam keadaan tertentu, pertanyaan justru dapat mendorong seseorang membaca, belajar dan membangun keyakinan dengan kesadaran yang lebih matang.
Karena itu, bagian paling bernilai dari perjalanan Ameena Blake mungkin bukan perubahan penampilannya, bukan pula kontras dramatis antara kehidupan sebelum dan sesudah memeluk Islam. Hal yang lebih penting adalah apa yang kemudian dilakukannya setelah menemukan keyakinan: belajar, mendidik, membangun lembaga, mendampingi mualaf, serta membantu perempuan dan anak yang membutuhkan perlindungan.
Lebih dari tiga dekade setelah syahadatnya pada 1992, perjalanan Ameena menunjukkan bahwa pencarian hidup dapat memperoleh makna baru ketika pengalaman pribadi diubah menjadi manfaat bagi orang lain. Dahulu ia berada di sisi seseorang yang mencari arah. Kini, di Sheffield, ia berada di sisi mereka yang membutuhkan pendamping dalam perjalanan mereka sendiri.
Barangkali itulah bentuk transformasi yang paling bernilai. Bukan sekadar berpindah dari satu fase kehidupan menuju fase lainnya, melainkan tumbuh dari seorang pencari menjadi seseorang yang bersedia menemani pencarian orang lain. Perjalanan Ameena Blake pada akhirnya bukan hanya cerita tentang menemukan sebuah keyakinan. Ia adalah cerita tentang apa yang dilakukan seseorang setelah keyakinan itu ditemukan.













