Simulasi Malam Paling Sunyi Negara

banner 120x600

Malam itu turun seperti tirai raksasa yang dijatuhkan mendadak ke atas kota. Tidak ada hujan, tidak ada petir, tidak ada suara ledakan. Lampu hanya mati begitu saja, serentak, lalu seluruh sudut kota berubah menjadi ruang hitam yang asing bagi penghuninya sendiri. Dalam beberapa menit, listrik padam, sinyal menghilang, air berhenti mengalir, dan manusia modern mendadak kehilangan hampir semua hal yang selama ini mereka anggap pasti.

Di lantai tiga kantor berita tempatnya bekerja, Raka sedang menulis laporan ekonomi ketika layar komputernya berkedip lalu mati. Pendingin ruangan berhenti berdengung, lampu neon di langit langit kantor padam bersamaan, dan ruangan mendadak dipenuhi suara kursi bergeser serta umpatan pelan. Untuk beberapa detik, semua orang masih tenang karena percaya listrik akan kembali menyala. Namun ketika waktu bergerak melewati dua puluh menit dan telepon genggam hanya menampilkan tulisan “tidak ada layanan”, suasana mulai berubah menjadi kegelisahan yang sulit dijelaskan.

“Aneh sekali. Biasanya kalau listrik mati, sinyal masih hidup,” kata Sinta, editor berita nasional, sambil mengangkat ponselnya tinggi tinggi seperti berharap langit mengirim belas kasihan.

Raka mencoba menyalakan modem cadangan redaksi, tetapi lampunya bahkan tidak berkedip. Ia berjalan ke jendela dan melihat jalan utama kota yang biasanya terang kini tampak seperti sungai hitam tanpa ujung. Klakson kendaraan terdengar bersahutan di kejauhan, sementara suara manusia mulai bercampur dengan teriakan pedagang yang buru buru menutup toko mereka sebelum keadaan menjadi lebih kacau.

Ketika akhirnya turun ke jalan bersama beberapa rekan kerja, Raka mulai melihat sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Orang orang berdiri di depan minimarket dengan wajah bingung karena pembayaran digital lumpuh total. Seorang ibu muda menangis di dekat kasir sambil memeluk anak kecil yang demam karena ia tidak membawa uang tunai untuk membeli obat. Di depan ATM, antrean manusia mengular panjang meski layar mesin semuanya gelap dan tidak berfungsi.

Di trotoar dekat halte bus, seorang lelaki tua memegang radio kecil bertenaga baterai sambil mendengarkan siaran yang putus putus. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk situasi seburuk itu.

“Ini bukan sekadar mati lampu,” katanya pelan ketika melihat kerumunan orang mulai panik. “Kalau semuanya mati bersamaan, berarti ada yang sengaja memutusnya.”

Ucapan itu menempel di kepala Raka seperti paku dingin. Ia tiba tiba teringat ayahnya di rumah, seorang pensiunan pegawai pemerintah yang selalu menyimpan radio tua, lampu minyak, dan persediaan air di gudang belakang rumah. Sejak kecil, Raka sering menganggap kebiasaan ayahnya berlebihan dan kuno. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang tidak pernah benar benar ia pahami dari lelaki tua tersebut.

BERITA TERKAIT  Jejak Sunyi Di Balik Wasiat Senja

Semakin malam, kota semakin berubah menjadi ruang yang dipenuhi ketidakpercayaan. Orang orang mulai saling menuduh dan menyebarkan dugaan tanpa dasar. Ada yang berkata negara sedang diserang, ada yang yakin pusat data nasional diretas, sementara sebagian lain percaya ini pertanda perang besar akan dimulai. Tanpa internet dan informasi resmi, manusia mulai memproduksi ketakutannya sendiri.

Di sebuah SPBU yang masih bertahan dengan genset darurat, antrean kendaraan memanjang hingga ke jalan raya. Seorang pria berbaju kantor berteriak marah karena jatah bensin dibatasi, sementara pengemudi lain hampir baku hantam akibat saling serobot antrean. Tidak jauh dari sana, dua remaja memecahkan kaca toko elektronik yang sudah ditinggal pemiliknya. Dalam gelap dan kekacauan, batas antara warga biasa dan penjarah ternyata sangat tipis.

Raka berjalan pulang dengan perasaan yang semakin tidak nyaman. Kota yang selama ini tampak modern mendadak terlihat rapuh seperti bangunan tua yang menunggu runtuh. Semua hal yang dianggap canggih ternyata hanya berdiri di atas aliran listrik dan jaringan data yang tidak pernah benar benar dipikirkan orang. Begitu dua hal itu hilang, manusia berubah menjadi makhluk yang mudah takut dan saling curiga.

Sesampainya di rumah kontrakan sederhana mereka, Raka menemukan ayahnya duduk tenang di teras dengan lampu minyak menyala di samping kursi kayu. Di meja kecil sudah tersedia teh hangat dan beberapa lilin cadangan. Tidak ada kepanikan di wajah lelaki tua itu. Bahkan napasnya terdengar stabil, seolah ia sudah mengetahui malam seperti ini akan datang sejak lama.

“Air di bak mandi sudah penuh sejak kemarin,” kata ayahnya tanpa ditanya. “Baterai radio juga sudah aku ganti sore tadi.”

Raka menatap ayahnya dengan bingung. “Bapak tahu listrik bakal mati?”

Ayahnya tidak langsung menjawab. Lelaki tua itu hanya menyeruput teh pelan sambil memandang jalanan gelap di depan rumah. Di kejauhan terdengar suara sirene ambulans yang meraung panjang, lalu menghilang ditelan malam.

“Kadang negara lebih takut pada kepanikan rakyat dibanding bencana itu sendiri,” ucapnya lirih.

Kalimat itu membuat dada Raka terasa sesak. Ada sesuatu dalam nada bicara ayahnya yang terdengar terlalu memahami situasi. Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, terdengar ketukan keras dari rumah sebelah. Bu Mira, tetangga mereka, datang sambil menangis panik karena anaknya sesak napas sementara nomor darurat tidak bisa dihubungi.

BERITA TERKAIT  Jejak Sunyi Di Balik Wasiat Senja

Raka dan beberapa warga segera membawa anak itu ke rumah sakit menggunakan mobil tua milik tetangga. Sepanjang perjalanan, jalanan dipenuhi kendaraan yang bergerak kacau tanpa lampu lalu lintas. Di beberapa titik, warga terlihat berdebat karena kecelakaan kecil yang tidak bisa diselesaikan cepat. Kota besar yang biasanya tertib ternyata hanya membutuhkan beberapa jam tanpa listrik untuk berubah menjadi tempat yang dipenuhi kemarahan.

Rumah sakit tujuan mereka lebih menyerupai lokasi pengungsian. Generator darurat menyala tersendat, lorong dipenuhi pasien, dan tenaga medis kewalahan mencatat data secara manual karena sistem komputer mati total. Seorang dokter muda tampak memarahi petugas administrasi karena data pasien ICU hilang dari server yang tidak bisa diakses. Di sudut lorong, seorang perempuan lanjut usia duduk lemas sambil memegangi tabung oksigen portabel yang hampir habis.

Saat membantu memindahkan pasien, perhatian Raka tertarik pada seorang pria berseragam perusahaan telekomunikasi yang berdiri di dekat ruang kepala rumah sakit. Lelaki itu menyerahkan sebuah map hitam kepada petugas keamanan sambil berbicara sangat pelan. Wajahnya tampak tegang seperti orang yang takut dikenali.

Raka mencoba mendekat, tetapi lelaki itu buru buru pergi menuju mobil gelap tanpa plat depan. Sebelum pintu mobil tertutup, Raka sempat melihat lambang kecil berbentuk burung garuda di sudut map hitam yang dibawanya.

Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Naluri jurnalistiknya mengatakan ada sesuatu yang tidak wajar dalam blackout malam itu. Terlalu banyak sistem yang lumpuh bersamaan. Listrik, komunikasi, air, pembayaran digital, hingga jaringan rumah sakit semuanya berhenti hampir dalam waktu yang sama. Itu bukan kegagalan biasa.

Menjelang pagi, listrik akhirnya kembali menyala sedikit demi sedikit. Lampu rumah berkedip sebelum stabil, disusul suara notifikasi telepon yang masuk bersamaan seperti hujan deras. Media sosial langsung penuh dengan kemarahan dan teori konspirasi. Sebagian orang menuntut penjelasan pemerintah, sebagian lain mulai menyebarkan rumor tentang sabotase nasional.

Ketika tiba di kantor, Raka mendapati seluruh redaksi sedang berkumpul mengelilingi komputer utama. Sinta memanggilnya dengan wajah pucat lalu membuka sebuah surat elektronik anonim yang baru masuk beberapa menit sebelumnya.

Isi pesannya sangat pendek.

“Blackout semalam hanyalah simulasi.”

Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah lampiran video berdurasi dua menit. Dalam rekaman itu terlihat ruang rapat besar dengan layar penuh peta jaringan listrik dan komunikasi nasional. Beberapa pria berpakaian formal sedang berdiskusi serius sambil memperhatikan grafik kepanikan sosial yang terus bergerak naik.

BERITA TERKAIT  Jejak Sunyi Di Balik Wasiat Senja

“Tujuan utama simulasi adalah mengukur kecepatan runtuhnya stabilitas sipil,” kata salah satu suara dalam video.

Ruang redaksi mendadak sunyi. Tidak ada yang berbicara ketika video terus berjalan menampilkan potongan rekaman antrean bensin, penjarahan minimarket, dan kepanikan rumah sakit yang diambil dari berbagai kamera pengawas kota.

Lalu terdengar kalimat lain yang membuat tengkuk Raka dingin.

“Hasil simulasi menunjukkan masyarakat perkotaan hanya membutuhkan waktu kurang dari enam jam untuk kehilangan kepercayaan terhadap sistem negara.”

Video berhenti mendadak. Tidak ada penjelasan lanjutan. Namun bagi Raka, satu hal mulai terasa jelas. Blackout semalam bukan sekadar kegagalan jaringan. Ada seseorang yang memang ingin melihat bagaimana manusia bereaksi ketika seluruh rasa aman mereka dicabut bersamaan.

Dengan tangan gemetar, Raka pulang untuk menemui ayahnya. Namun rumah itu kosong ketika ia tiba. Kursi kayu di teras masih bergoyang pelan seperti baru saja ditinggalkan seseorang. Di atas meja terdapat secarik kertas kecil.

“Jangan mencari lebih jauh.”

Raka langsung masuk ke kamar ayahnya dan membuka lemari tua yang selama ini selalu terkunci. Di dalamnya terdapat radio militer lama, beberapa map kusam, serta kartu identitas berlogo lembaga negara yang sudah dibubarkan bertahun tahun lalu.

Napas Raka tercekat ketika membaca tulisan pada bagian jabatan.

“Divisi Simulasi Krisis Nasional.”

Tangannya bergetar hebat. Ingatan tentang sikap tenang ayahnya, persediaan air, radio baterai, hingga ucapan ucapan aneh semalam mendadak tersusun menjadi satu gambaran utuh yang menakutkan.

Di balik lemari itu, Raka juga menemukan sebuah foto lama. Dalam gambar hitam putih tersebut, ayahnya berdiri bersama beberapa pria berseragam di depan layar besar bertuliskan “Proyek Ketahanan Sipil Nasional”. Pada sudut bawah foto, ada tanggal yang membuat jantung Raka berhenti sesaat.

Tanggal itu adalah dua hari sebelum ibunya meninggal dua puluh tahun lalu dalam kerusuhan besar yang sampai hari ini tidak pernah dijelaskan negara secara terbuka.

Mata Raka perlahan membesar. Selama ini ia percaya ibunya hanya korban keadaan.

Namun kini ia mulai memahami kemungkinan yang jauh lebih mengerikan.

Mungkin ibunya bukan korban dari kekacauan.

Mungkin ibunya adalah bagian dari simulasi pertama yang pernah dijalankan ayahnya sendiri.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *