Sering kali manusia mengira bahwa tujuan akhir perjalanan ruhani adalah banyaknya bacaan, panjangnya zikir, atau derasnya air mata. Padahal semua itu hanyalah jalan menuju perjumpaan dengan Allah. Ketika hati telah dipenuhi cahaya-Nya, ibadah tidak berhenti, justru semakin hidup. Yang berubah bukan amalnya, melainkan cara memandang, merasakan, dan menghayatinya dalam setiap detik kehidupan.
Kata “mungkinkah” pada untaian kalimat di atas bukanlah sebuah keraguan terhadap agama, melainkan sebuah pertanyaan yang mengajak hati merenung lebih dalam. Mungkinkah seseorang yang telah khatam tidak lagi membaca? Mungkinkah orang yang selalu mengingat Allah tidak lagi mengulang zikir dengan lisannya? Mungkinkah mereka yang telah berjumpa dengan Tuhannya tidak lagi diliputi kerinduan? Atau mungkinkah semua kalimat itu sedang berbicara tentang sebuah keadaan batin yang tidak mudah dipahami oleh akal yang hanya melihat kulit kehidupan?
Dalam Islam, membaca Al-Qur’an bukanlah sekadar menyelesaikan tiga puluh juz. Khatam bukanlah garis akhir. Justru setelah khatam dimulailah perjalanan baru, yaitu menghidupkan isi Al-Qur’an dalam perilaku sehari-hari. Seorang mukmin sejati tidak pernah merasa cukup hanya karena telah berkali-kali menamatkan bacaan Al-Qur’an. Ia sadar bahwa dirinya belum pernah selesai memahami firman Allah.
Allah berfirman:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq: 1)
Perintah pertama yang turun bukanlah menguasai dunia, melainkan membaca. Membaca wahyu, membaca diri, membaca kehidupan, dan membaca tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di seluruh alam semesta. Maka orang yang benar-benar khatam adalah mereka yang terus membaca kehidupan dengan cahaya Al-Qur’an. Bukan berhenti membaca, melainkan setiap langkahnya menjadi tafsir dari ayat-ayat yang telah dibacanya.
Begitu pula dengan mengingat Allah. Ada zikir yang keluar dari lisan, ada pula zikir yang hidup di dalam hati. Lisan boleh saja diam karena sedang bekerja, mengajar, berdagang, atau menolong sesama, tetapi hati tidak pernah lalai mengingat-Nya.
Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan zikir bukanlah banyaknya ucapan, tetapi hadirnya ketenteraman. Ketika hati telah dipenuhi kesadaran akan kehadiran Allah, seluruh hidup berubah menjadi zikir. Mata yang memandang dengan kasih sayang adalah zikir. Tangan yang menolong sesama adalah zikir. Lisan yang menjaga kejujuran adalah zikir. Langkah yang menghindari maksiat juga merupakan zikir.
Namun demikian, seorang mukmin tidak pernah meninggalkan zikir lisan hanya karena merasa telah sampai pada zikir hati. Rasulullah ﷺ justru memperbanyak zikir meskipun beliau adalah manusia yang paling dekat dengan Allah.
Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan mengingat Allah.”
(HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini menjadi penegas bahwa kedekatan kepada Allah tidak membuat seseorang meninggalkan ibadah. Semakin dekat seorang hamba kepada Rabb-nya, semakin besar kerinduannya untuk terus berzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, dan memperbaiki amal.
Kalimat, “Mereka yang berjumpa tidak ada lagi rindu,” dapat dimaknai secara batiniah bahwa ketika hati benar-benar merasakan kedekatan dengan Allah, kegelisahan akibat merasa jauh mulai sirna. Namun kerinduan kepada Allah tidak pernah benar-benar berakhir. Bahkan para nabi dan orang-orang saleh semakin rindu kepada-Nya.
Allah berfirman:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27-30)
Ayat ini menggambarkan puncak perjalanan seorang mukmin. Ia kembali kepada Allah dengan hati yang damai, bukan karena perjalanan telah selesai, melainkan karena Allah menerima seluruh perjuangannya.
Kalimat, “Mereka yang melihat tidak lagi memanggil,” juga mengandung makna mendalam. Ketika seseorang merasakan pertolongan Allah begitu nyata dalam hidupnya, ia tidak lagi memanggil Allah hanya ketika berada dalam kesulitan. Ia hidup dalam kesadaran bahwa Allah selalu bersamanya. Namun kesadaran ini tidak berarti meninggalkan doa. Justru doa menjadi napas kehidupannya.
Allah berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Tuhanmu berfirman, berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan memperkenankan bagimu.”
(QS. Ghafir: 60)
Doa adalah bukti kehambaan. Semakin mengenal Allah, semakin sering seseorang mengetuk pintu rahmat-Nya.
Kemudian kalimat terakhir, “Mereka yang sadar diri lenyap tak berbekas,” mengingatkan kita pada hancurnya kesombongan. Yang lenyap bukanlah keberadaan manusia, melainkan keakuannya. Ia tidak lagi membanggakan amal, ilmu, jabatan, maupun hartanya. Semua dikembalikan kepada Allah sebagai Pemilik segala karunia.
Allah berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Segala nikmat yang ada pada kamu, maka semuanya berasal dari Allah.”
(QS. An-Nahl: 53)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar zarah.”
(HR. Muslim)
Inilah hakikat perjalanan seorang hamba. Semakin tinggi ilmu agamanya, semakin rendah hatinya. Semakin banyak ibadahnya, semakin sedikit ia merasa memiliki jasa. Semakin dekat kepada Allah, semakin lembut tutur katanya, semakin luas kasih sayangnya, dan semakin besar rasa takutnya kepada dosa.
Karena itu, janganlah memahami untaian kata tersebut sebagai ajakan meninggalkan membaca Al-Qur’an, zikir, doa, atau ibadah. Justru semuanya mengingatkan bahwa ibadah sejati bukan hanya tampak pada gerak tubuh, melainkan meresap ke dalam jiwa hingga membentuk akhlak yang mulia. Orang yang benar-benar telah merasakan manisnya iman akan semakin mencintai Al-Qur’an, semakin menikmati zikir, semakin tekun berdoa, dan semakin haus akan ilmu. Sebab perjalanan menuju Allah tidak pernah mengenal kata selesai. Selama napas masih berembus, selama mata masih memandang dunia, selama hati masih berdenyut, seorang mukmin akan terus membaca, mengingat, merindu, memanggil, dan menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang setiap saat membutuhkan rahmat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.














