Agama  

Menghargai Kebaikan Sesama

banner 120x600

Hidup sering kali mempertemukan kita dengan berbagai keadaan yang tidak selalu sesuai dengan keinginan. Ada saatnya kita menerima perlakuan yang menyenangkan, ada pula saatnya menghadapi sesuatu yang tidak sesuai harapan. Namun seorang mukmin diajarkan untuk menjaga akhlak, menghargai kebaikan orang lain, serta tidak membalas sesuatu berdasarkan prasangka dan emosi semata. Kemuliaan seseorang tidak diukur dari kemampuannya melampiaskan amarah, melainkan dari kemampuannya mengendalikan diri dan berbuat baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering terjadi seseorang merasa kecewa kepada orang lain karena dugaan, prasangka, atau penilaian yang dibangun oleh pikirannya sendiri. Akibatnya, ketika ada orang yang telah menunjukkan perhatian, memberikan bantuan, menyampaikan ucapan terima kasih, atau mengungkapkan apresiasi, kebaikan tersebut justru tidak dihargai sebagaimana mestinya. Hati yang dipenuhi prasangka sering kali sulit melihat cahaya kebaikan yang sebenarnya telah hadir di hadapannya. Padahal Islam mengajarkan agar seorang mukmin memiliki hati yang lapang, pikiran yang jernih, dan kemampuan untuk menempatkan sesuatu secara proporsional.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Ayat ini menjadi peringatan bahwa tidak semua yang ada dalam pikiran kita adalah kebenaran. Terkadang seseorang menaruh kemarahan kepada orang lain bukan karena kesalahan nyata, melainkan karena dugaan yang belum tentu benar. Ketika prasangka dibiarkan tumbuh tanpa kendali, ia dapat merusak hubungan, menghilangkan rasa syukur, dan mematikan kemampuan untuk menghargai kebaikan sesama.

Dalam pergaulan, menghargai ucapan terima kasih dan apresiasi merupakan bagian dari akhlak mulia. Seseorang yang telah berusaha menunjukkan penghormatan kepada kita layak mendapatkan balasan yang baik. Tidak harus dengan hadiah atau sesuatu yang besar, tetapi setidaknya dengan sikap yang santun, wajah yang ramah, dan hati yang menerima. Sikap diam yang disengaja untuk menunjukkan kemarahan, padahal tidak ada kesalahan yang jelas, sering kali justru melukai hati orang lain yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

BERITA TERKAIT  Belajar Dari Surah Al-Insyirah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

Artinya: “Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” (HR. Abu Dawud).

Hadis ini mengajarkan bahwa menghargai manusia merupakan bagian dari syukur kepada Allah. Ketika seseorang mengucapkan terima kasih, memberikan penghargaan, atau menunjukkan rasa hormat, maka membalasnya dengan sikap yang baik adalah bentuk akhlak yang dicintai Allah. Sebaliknya, meremehkan kebaikan orang lain hanya karena ego dan perasaan pribadi dapat menjadi sebab hilangnya keberkahan dalam hubungan sosial.

Salah satu penyakit hati yang sering muncul adalah merasa bahwa semua orang harus memahami isi pikiran kita. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, muncullah kekecewaan, kemarahan, bahkan perlakuan yang tidak adil kepada orang lain. Padahal manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui isi hati dan pikiran sesamanya. Yang tampak hanyalah ucapan dan perbuatan. Oleh karena itu Islam mengajarkan komunikasi yang baik, kejelasan sikap, dan husnuzan atau berbaik sangka.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Artinya: “Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83).

BERITA TERKAIT  Memandang Langit Menemukan Keagungan Allah

Perintah ini berlaku kepada siapa saja. Bahkan ketika kita sedang kecewa, Islam tetap mengajarkan agar lisan dan sikap dijaga. Jangan sampai kemarahan yang bersumber dari prasangka membuat kita mengabaikan kebaikan orang lain. Sebab bisa jadi orang yang kita abaikan justru sedang berusaha menghormati dan menghargai kita dengan tulus.

Kehidupan juga mengajarkan bahwa apa yang kita tanam akan kita tuai. Jika seseorang terbiasa mengabaikan kebaikan orang lain, meremehkan penghargaan yang diberikan kepadanya, dan membalas keramahan dengan sikap dingin, maka jangan heran apabila suatu hari ia merasakan perlakuan yang sama. Ketika dirinya membutuhkan perhatian, ia tidak mendapatkannya. Ketika dirinya mengharapkan penghargaan, orang lain justru bersikap acuh. Inilah sunnatullah dalam kehidupan sosial.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

Artinya: “Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Makna hadis ini sangat luas. Orang yang tidak menghargai, tidak peduli, dan tidak menunjukkan kebaikan kepada sesama akan sulit mendapatkan kebaikan yang sama dari orang lain. Karena itu seorang mukmin hendaknya menjadi pribadi yang ringan mengucapkan terima kasih, mudah menghargai jasa orang lain, serta tidak pelit memberikan apresiasi.

Lebih dari itu, seorang hamba harus menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginannya. Ada banyak hal yang berada di luar kendali manusia. Kadang harapan tidak terwujud, rencana berubah, dan kenyataan tidak sesuai dengan angan-angan. Jika setiap ketidaksesuaian dihadapi dengan kemarahan, maka hati akan selalu gelisah. Namun jika dihadapi dengan kesabaran dan keridhaan, maka hati akan menemukan ketenangan.

BERITA TERKAIT  Belajar Dari Surah Al-Insyirah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Ayat ini mengingatkan bahwa keterbatasan manusia sering kali membuatnya keliru dalam menilai keadaan. Karena itu tidak pantas seseorang terus-menerus marah hanya karena kenyataan tidak mengikuti keinginannya. Seorang mukmin sejati akan belajar menerima takdir Allah, menghargai setiap kebaikan yang datang, dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Marilah kita membiasakan diri menjadi pribadi yang lapang dada. Jika ada orang yang berbuat baik, hargailah. Jika ada yang mengucapkan terima kasih, balaslah dengan keramahan. Jika ada yang memberikan apresiasi, terimalah dengan syukur. Jangan biarkan prasangka dan ego menghalangi hati untuk melihat kebaikan yang nyata. Sebab dunia ini tidak berputar mengikuti keinginan kita, tetapi berjalan menurut ketetapan Allah Yang Maha Bijaksana. Orang yang mampu menghargai sesama akan mendapatkan penghormatan, sedangkan orang yang menebarkan kebaikan akan menuai kebaikan. Itulah salah satu jalan menuju kehidupan yang penuh keberkahan, ketenteraman, dan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penulis: Dwi TaufandiEditor: Nadir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *