Hidup tidak selalu menempatkan kita di taman yang indah. Ada masa ketika jalan terasa sempit, keadaan menghimpit, harapan seperti menjauh, dan hati seakan berada di tempat yang rendah. Namun iman mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh tempat ia sedang berdiri, melainkan oleh arah pandang hatinya kepada Allah, sumber pertolongan, harapan, dan segala kemungkinan.
“Kita semua berada di selokan, tetapi sebagian dari kita menengadah menatap bintang.” Ungkapan ini mengandung pelajaran yang dekat dengan kehidupan ruhani. Dua orang dapat menghadapi kesulitan yang sama, tetapi memperoleh akibat batin yang berbeda. Yang satu terus memandangi lumpur hingga hidupnya dipenuhi keluhan, sedangkan yang lain menengadah kepada langit, mencari cahaya dan pertolongan Allah.
Al-Qur’an mengajarkan agar kesulitan tidak memutus harapan seorang hamba. Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)
Perhatikanlah, Allah tidak mengatakan bahwa kemudahan baru datang setelah seluruh kesulitan berakhir. Allah menggunakan kata مَعَ, “bersama”. Artinya, di dalam perjalanan yang sulit itu sendiri Allah dapat menghadirkan jalan keluar, kekuatan, pelajaran, sahabat yang menolong, pintu rezeki, bahkan kedewasaan jiwa yang sebelumnya tidak kita miliki.
Karena itu, jangan terlalu lama menatap “lumpur” kehidupan. Lumpur itu mungkin kegagalan, kehilangan, kekurangan ekonomi, sakit, kekecewaan, atau rencana yang belum terwujud. Semuanya nyata dan tidak perlu diingkari. Tetapi orang beriman mengetahui bahwa kenyataan yang terlihat bukanlah seluruh kenyataan. Di atas segala sebab ada Allah Yang Mahakuasa.
Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 3)
Menengadah kepada langit bukan berarti berpangku tangan. Tawakal bukan menyerah tanpa ikhtiar. Kita tetap bekerja, berobat ketika sakit, memperbaiki kesalahan, mencari jalan keluar, mengetuk pintu rezeki dan berusaha sebaik mungkin. Namun hati tidak menggantungkan keselamatannya kepada usaha itu. Tangan bekerja di bumi, tetapi hati bergantung kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika memperoleh kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Inilah rahasia orang beriman. Ia mungkin berada di tempat yang rendah, tetapi jiwanya tidak harus ikut menjadi rendah. Ia mungkin menangis, tetapi tidak kehilangan Allah. Ia mungkin gagal, tetapi tidak kehilangan harapan. Ia mungkin belum menemukan jalan keluar, tetapi tetap yakin bahwa Allah mengetahui jalan yang belum mampu dilihatnya.
Allah bahkan melarang hamba-Nya berputus asa:
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
Maka ketika kehidupan membawa kita ke tempat yang tidak kita inginkan, jagalah arah pandang hati. Jangan hanya bertanya, “Mengapa aku berada di sini?” Bertanyalah pula, “Ya Allah, apa yang hendak Engkau ajarkan kepadaku melalui keadaan ini?”
Boleh jadi kita belum mampu keluar dari selokan hari ini. Tetapi kita masih dapat menengadah. Kita masih dapat berdoa. Kita masih dapat bersujud. Kita masih dapat memperbaiki diri dan melangkah. Selama hati masih mengenal Allah, tidak ada kegelapan yang benar-benar tanpa cahaya.
Jangan biarkan keadaan menentukan ke mana mata hati kita memandang. Bila bumi terasa sempit, tengadahkan hati kepada Pemilik langit. Sebab harapan seorang mukmin bukanlah keyakinan bahwa semua akan terjadi sesuai keinginannya, melainkan keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, Allah tidak pernah kehilangan kuasa untuk menuntunnya menuju kebaikan.













