SURABAYA, BUSERNASIONAL – Aksi unjuk rasa ratusan juru parkir yang tergabung dalam Paguyuban Jukir Surabaya (PJS) di depan Kantor Balai Kota Surabaya, Senin (31/8/2026), diwarnai kekecewaan mendalam. Pasalnya, massa aksi gagal menemui secara langsung Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, guna menyampaikan aspirasi terkait keresahan penerapan sistem parkir digital di Kota Pahlawan.
Meski sejumlah pejabat tinggi di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya—di antaranya Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Trio Wahyu Bowo, Kepala Bakesbangpol Tundjung Iswandaru, serta Asisten 1 Achmad Zaini—hadir menemui perwakilan jukir, pertemuan tersebut dinilai belum menjawab tuntutan utama mereka.
Ketua PJS, Izul Fiqri, secara tegas mengungkapkan kekecewaannya di hadapan awak media usai mediasi. Menurutnya, pihak PJS telah berulang kali melayangkan surat permohonan audiensi secara resmi, namun selalu diabaikan tanpa respons yang jelas dari orang nomor satu di Surabaya tersebut.
”Kami PJS sangat kecewa karena kami sebenarnya pengin ketemu Pak Eri secara langsung. Kami sudah mengirim surat audiensi berkali-kali tidak pernah direspons, diabaikan. Maka sangat terpaksa kami turun jalan hari ini,” ujar Izul di Balai Kota Surabaya.
Izul juga mengingatkan kembali rekam jejak dukungan politik para juru parkir terhadap kepemimpinan Eri Cahyadi pada periode sebelumnya. Ia menyayangkan sikap pemkot yang terkesan menutup ruang dialog langsung dengan para pekerja lapangan yang selama ini turut ambil bagian dalam dinamika sosial kota.
”Walaupun surat pemberitahuan aksi ini kami sampaikan jauh hari, ternyata tidak ada iktikad baik dari wali kota untuk menemui kami. Padahal kalau di-search di Google, juga mengantarkan Pak Wali daftar ke KPU, deklarasi dukungan, semua jukir Kota Surabaya ini mendukung Pak Wali untuk periode kali kedua,” tegasnya.
Terkait langkah lanjutan, PJS masih mengkaji opsi mendirikan posko atau bertahan di lokasi hingga Wali Kota berkenan menemui mereka. Namun, Izul memastikan bahwa pihaknya saat ini tengah mengkonsolidasikan kekuatan dari berbagai titik kantong parkir strategis di Surabaya untuk menggelar aksi susulan dengan skala yang jauh lebih besar jika tuntutan audiensi tetap diabaikan.
”Kami ada beberapa titik crowded, tidak mungkin mogok kerja hari ini. Misalnya hari ini Pak Wali tidak menemui, maka titik-titik yang lain akan juga ikut bergabung dengan kami menyampaikan aspirasi-aspirasi kami begitu,” ungkapnya.
”Bisa jadi besok. Kami menginginkan Pak Wali hari ini benar-benar melunakkan pikirannya ya, apa namanya, kami pengin benar-benar ‘Ayo Pak Wali kita ngobrol’. Ayo kita ngobrol, apa yang tidak selesai?,” pungkas Izul.














