BuserNasional.my.id – Madura – Pagi itu matahari baru saja menghangatkan halaman sebuah rumah sederhana di salah satu desa di Kabupaten Pamekasan. Dinding bambu yang selama bertahun tahun menjadi pelindung keluarga itu mulai dibongkar. Atap yang bocor, lantai tanah yang lembap, dan tiang kayu yang mulai rapuh perlahan digantikan dengan bangunan yang lebih kokoh. Bagi sebagian orang, perubahan itu mungkin hanya pembangunan sebuah rumah. Namun bagi keluarga yang selama ini hidup dalam keterbatasan, rumah baru tersebut adalah awal dari kehidupan yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih bermartabat.
Di balik perubahan itu terdapat sosok Haji Khairul Umam, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Haji Her. Namanya semakin dikenal luas bukan hanya karena keberhasilannya membangun usaha di bidang tembakau, tetapi juga karena kepeduliannya terhadap masyarakat kecil. Julukan “Crazy Rich Madura” atau “Sultan Madura” yang disematkan kepadanya lahir dari perhatian publik terhadap aktivitas sosialnya. Namun apabila dicermati lebih dalam, yang sesungguhnya layak menjadi sorotan bukanlah julukan tersebut, melainkan pilihan hidupnya dalam memanfaatkan keberhasilan ekonomi untuk menghadirkan manfaat nyata bagi orang lain.
Berbagai pemberitaan media pada pertengahan tahun 2025 mengungkapkan bahwa Haji Her telah membangun lebih dari seribu rumah layak huni bagi warga miskin di Kabupaten Pamekasan. Program itu tidak lahir sebagai kegiatan seremonial sesaat, melainkan berlangsung secara bertahap hingga menjangkau berbagai kecamatan. Sasaran utamanya adalah masyarakat yang benar benar tinggal di rumah tidak layak huni. Tidak ada persyaratan rumit, tidak ada pungutan, dan tidak ada kewajiban tertentu yang harus dipenuhi penerima bantuan selain kondisi mereka memang membutuhkan uluran tangan.
Dalam berbagai kesempatan, Haji Her menegaskan bahwa seluruh pembiayaan pembangunan rumah tersebut berasal dari dana pribadinya. Ia juga menyampaikan bahwa bantuan itu diberikan secara ikhlas dan berasal dari rezeki yang diperoleh melalui usaha yang halal. Pernyataan tersebut menjadi menarik karena tidak berhenti sebagai ungkapan religius semata, melainkan diwujudkan dalam tindakan yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Ketika banyak orang berbicara tentang kepedulian sosial, ia memilih menerjemahkannya menjadi rumah rumah yang berdiri nyata di tengah permukiman warga.
Rumah memiliki makna yang jauh melampaui bentuk fisiknya. Sebuah rumah adalah tempat anak anak tumbuh, belajar, dan membangun cita cita. Rumah menjadi ruang perlindungan ketika hujan turun dan angin kencang datang. Rumah juga menjadi tempat berkumpulnya keluarga setelah menjalani aktivitas sehari hari. Karena itu, kehilangan rumah yang layak berarti kehilangan sebagian rasa aman dalam menjalani kehidupan. Sebaliknya, memperoleh rumah yang layak sering kali menjadi titik awal perubahan kualitas hidup sebuah keluarga.
Dalam kajian pembangunan sosial, rumah layak huni merupakan salah satu fondasi penting bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Lingkungan tempat tinggal yang sehat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan anggota keluarga, kenyamanan belajar anak, hingga produktivitas orang tua dalam mencari nafkah. Oleh sebab itu, pembangunan rumah bagi keluarga miskin bukan hanya menyelesaikan persoalan tempat tinggal, tetapi juga membuka peluang bagi lahirnya perubahan sosial yang lebih luas. Dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang karena menyentuh kebutuhan paling mendasar manusia.
Apa yang dilakukan Haji Her memperlihatkan bahwa filantropi dapat hadir dalam bentuk yang bersifat produktif. Bantuan yang diberikan tidak habis dalam hitungan hari sebagaimana bantuan konsumtif, melainkan terus memberikan manfaat selama rumah tersebut ditempati. Setiap dinding yang berdiri, setiap atap yang melindungi, dan setiap lantai yang menjadi pijakan keluarga menjadi investasi sosial yang nilainya terus bertambah seiring perjalanan waktu. Di sinilah letak perbedaan antara memberi untuk memenuhi kebutuhan sesaat dengan memberi untuk mengubah kualitas hidup seseorang secara berkelanjutan.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan, kisah ini juga menunjukkan bahwa peran masyarakat memiliki arti penting dalam mempercepat terwujudnya kesejahteraan. Negara memang memikul tanggung jawab utama dalam menyediakan layanan publik dan mengurangi kemiskinan. Namun ketika individu yang memiliki kemampuan ekonomi memilih ikut mengambil bagian melalui tindakan nyata, maka proses pembangunan memperoleh energi tambahan. Kolaborasi seperti inilah yang sesungguhnya menjadi kekuatan bangsa, ketika kepedulian tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi juga tumbuh dari kesadaran setiap warga yang merasa terpanggil untuk berbagi.














