Jangan Hanya Pandai Membaca Angka

banner 120x600

Negeri ini sedang berbicara
tentang kesejahteraan rakyat

Tentang buruh
tentang upah
tentang keluarga kecil
yang setiap hari
menghitung kebutuhan
dengan sisa penghasilan

Lalu sebuah angka disebut

Tujuh ratus ribu rupiah
untuk satu kilogram
bawang yang dikupas

Angka itu terdengar besar

Terlalu besar
bagi telinga buruh
yang terbiasa menghitung
seribu demi seribu
untuk membeli beras
membayar listrik
membiayai sekolah
dan menyambung hidup

Kemudian rakyat bertanya

Benarkah?

Benarkah angka itu
upah yang diterima buruh?

Benarkah satu kilogram bawang
dihargai tujuh ratus ribu?

Ataukah ada angka
yang keliru dibaca
keliru dicatat
atau keliru dipahami?

Pertanyaan itu bukan dosa

Sebab ketika sebuah angka
disebut dari mimbar kekuasaan
angka itu bukan lagi
sekadar angka

Ia menjadi kabar
menjadi harapan
menjadi ukuran
bahkan bisa menjadi
cermin wajah negara

Tetapi ketika Istana berkata,

“Nanti kita cek.”

Rakyat pun kembali bertanya

Mengapa harus dicek
setelah disampaikan?

Mengapa kebenaran angka
baru ditelusuri
setelah menjadi perbincangan?

Mengapa data
tidak lebih dahulu diperiksa
sebelum dibacakan
di hadapan bangsa?

Kita tidak sedang
mencari kesalahan seseorang

Kita sedang mencari
kebenaran sebuah angka

Sebab angka yang salah
bisa melahirkan
kesimpulan yang salah

Angka yang salah
bisa membuat rakyat kecil
terlihat jauh lebih sejahtera
daripada kenyataan

Angka yang salah
bisa membuat penderitaan
terlihat seperti keberhasilan

Dan angka yang salah
bisa membuat kebijakan
berdiri di atas
tanah yang keliru

BERITA TERKAIT  Dari Penjahit Kain Majun ke Pengupas Bawang

Buruh tidak membutuhkan
angka yang indah

Buruh membutuhkan
upah yang benar

Bukan cerita tentang
betapa sejahteranya mereka

Tetapi kepastian
bahwa mereka benar benar
mampu hidup sejahtera

Bukan sekadar disebut
dalam pidato

Tetapi dirasakan
di dapur rumah

Di meja makan

Di biaya sekolah anak

Di harga kebutuhan pokok

Di ongkos berobat

Di sisa uang
yang masih ada
ketika akhir bulan datang

Jangan jadikan rakyat kecil
sekadar nama
untuk memperindah pidato

Jangan jadikan buruh
sekadar wajah
untuk menunjukkan
bahwa negara memperhatikan rakyat

Sebab rakyat kecil
bukan dekorasi kekuasaan

Mereka manusia

Mereka bekerja

Mereka berkeringat

Mereka memiliki keluarga

Mereka memiliki
harapan yang sederhana:

bisa makan

bisa sekolah

bisa sehat

bisa membayar kebutuhan

dan bisa pulang
tanpa membawa kecemasan
tentang hari esok

Jika benar upahnya
tujuh ratus ribu rupiah per kilogram

jelaskan kepada rakyat
bagaimana mekanismenya

Berapa kilogram
yang mampu dikupas
dalam sehari?

Berapa penghasilan
yang benar benar diterima?

Siapa pemberi upahnya?

Bagaimana sistem pembayarannya?

Apakah angka itu
upah bersih?

Ataukah angka borongan?

Jangan biarkan rakyat
menebak nebak
di antara kata kata

Sebab transparansi
tidak akan mengurangi
kehormatan pemerintah

Justru membuat pemerintah
semakin dipercaya

Kalau ternyata angka itu benar
tunjukkan datanya

Kalau ternyata angka itu keliru
katakan dengan jujur

BERITA TERKAIT  Rapat Paripurna DPRD Kota Depok, Agendakan Isi pidato Kenegaraan Presiden RI

Tidak ada kehormatan
yang runtuh
karena mengakui kekeliruan

Yang berbahaya
adalah mempertahankan
sesuatu yang belum pasti
hanya demi menjaga
wibawa

Negara yang besar
bukan negara
yang tidak pernah salah

Negara yang besar
adalah negara
yang berani memeriksa
ketika ada yang salah

Berani mengoreksi
ketika ada yang keliru

Berani mengatakan
“kami perlu memperbaikinya”

Itulah wibawa

Bukan kerasnya suara

Bukan tingginya podium

Bukan megahnya ruangan

Tetapi keberanian
berdiri di hadapan rakyat
dengan data yang benar

Sebab rakyat
tidak membutuhkan
pidato yang sempurna

Rakyat membutuhkan
kenyataan yang benar

Tidak membutuhkan
angka yang mengagumkan

Tetapi penghasilan
yang benar benar
mencukupi kehidupan

Jangan hanya pandai
membaca angka

Bacalah pula
kehidupan rakyat

Bacalah tangan buruh
yang kasar karena bekerja

Bacalah wajah ibu
yang setiap malam
menghitung uang belanja

Bacalah mata anak
yang menunggu
uang sekolah

Bacalah dapur
yang kadang mengepul
kadang tidak

Bacalah kenyataan
sebelum membaca pidato

Sebab di negeri ini
rakyat tidak hidup
dari angka

Rakyat hidup
dari kenyataan

Dan kenyataan itu
tidak bisa disunting
dengan kata kata

Tidak bisa diperindah
dengan tepuk tangan

Tidak bisa ditutupi
dengan panggung

Tidak bisa dibesarkan
dengan pidato

Jika angka itu benar
pastikan rakyat
merasakan kebenarannya

Jika angka itu salah
perbaiki tanpa malu

Karena yang harus dijaga
bukan gengsi kekuasaan

BERITA TERKAIT  Ormas Madas Nusantara dan Organisasi Dibawah Kepemimpinan Jusuf Rizal, Solid Dukung Prabowo Subianto

Yang harus dijaga
adalah kepercayaan rakyat

Jangan hanya pandai
menyebut kesejahteraan

Bangunlah kesejahteraan

Jangan hanya pandai
mengangkat kisah buruh

Angkatlah pula
kehidupan buruh

Jangan hanya pandai
menyebut angka

Pastikan angka itu
berpijak pada kenyataan

Sebab rakyat
tidak membutuhkan
angka yang tinggi

Rakyat membutuhkan
kehidupan yang layak

Dan pemerintah
tidak cukup hanya
pandai berkata:

“Kami peduli.”

Rakyat menunggu
pemerintah berkata:

“Ini datanya.”

“Ini kenyataannya.”

“Ini tanggung jawab kami.”

Karena pada akhirnya

sebuah angka
bisa saja salah

sebuah pidato
bisa saja keliru

sebuah pernyataan
bisa saja perlu dikoreksi

Tetapi kejujuran
tidak boleh salah

Data
tidak boleh dipermainkan

Dan rakyat kecil
tidak boleh dijadikan
sekadar angka
dalam pidato kekuasaan

Jangan hanya membaca angka.

Bacalah kenyataan.

Sebab di balik setiap angka
ada manusia

Dan di balik setiap manusia
ada kehidupan

Yang tidak boleh
dipoles oleh kata kata.

Yang harus diperjuangkan
dengan kebenaran.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *