Di tengah pelemahan rupiah terhadap sejumlah mata uang asing, permintaan dollar Singapura di berbagai money changer Jakarta justru meningkat tajam. Fenomena itu memperlihatkan bagaimana sebagian masyarakat mulai mencari rasa aman melalui mata uang negara lain. Situasi ini bukan sekadar tren membeli valuta asing, melainkan sinyal kegelisahan publik terhadap daya beli, stabilitas ekonomi, dan kemampuan rupiah menjaga nilai tabungan masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi.
Peningkatan permintaan dollar Singapura terjadi di sejumlah money changer Jakarta ketika nilai rupiah terus mengalami tekanan. CNBC Indonesia dalam artikel berjudul “Rupiah Terburuk Hadapi Dolar Singapura, Money Changer Jual Rp14.000” yang dipublikasikan 29 Mei 2026 melaporkan bahwa masyarakat mulai banyak membeli dollar Singapura karena dianggap lebih stabil dibanding rupiah. Dalam laporan itu, staf PT Daffa Indo Valuta, Aris, menyebut masyarakat menjadikan dollar Singapura sebagai alternatif penyimpanan nilai.
Fenomena tersebut tidak muncul tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, nilai tukar dollar Singapura terus menguat terhadap rupiah. Mata uang Singapura dipandang memiliki stabilitas tinggi karena didukung tata kelola ekonomi yang disiplin, cadangan devisa besar, serta kepercayaan internasional terhadap sistem keuangannya. Kondisi itu membuat sebagian masyarakat Indonesia memandang SGD sebagai instrumen perlindungan nilai ketika rupiah melemah. Data kurs Bank Indonesia menunjukkan tren penguatan dollar Singapura terhadap rupiah terus berlangsung dalam jangka panjang.
Di sisi lain, fenomena ini memperlihatkan munculnya kecemasan ekonomi di tengah masyarakat. Ketika warga mulai menukarkan tabungan rupiah ke mata uang asing, persoalannya tidak lagi sekadar transaksi valas biasa. Ada rasa khawatir terhadap penurunan daya beli, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan ketidakpastian ekonomi ke depan. Dalam konteks seperti ini, dollar Singapura dianggap mampu memberikan rasa aman yang tidak sepenuhnya ditemukan pada rupiah.
Situasi tersebut juga memperlihatkan bahwa stabilitas mata uang tidak hanya ditentukan kebijakan bank sentral, tetapi juga kepercayaan publik. Bank Indonesia selama ini terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan suku bunga, pengendalian inflasi, dan stabilisasi pasar keuangan. Namun tekanan eksternal seperti penguatan dolar Amerika Serikat, ketidakpastian ekonomi global, dan arus modal asing tetap mempengaruhi nilai tukar rupiah. Pernyataan mengenai langkah stabilisasi rupiah beberapa kali disampaikan Bank Indonesia dalam siaran resmi sepanjang Mei 2026.
Fenomena meningkatnya pembelian dollar Singapura juga dipengaruhi faktor psikologi massa. Ketika media memberitakan pelemahan rupiah dan ramainya pembelian valas, masyarakat lain ikut terdorong melakukan hal yang sama. Media sosial mempercepat penyebaran kekhawatiran ekonomi sehingga keputusan membeli valuta asing sering dilakukan karena rasa takut tertinggal atau takut kondisi ekonomi akan semakin buruk. Dalam dunia ekonomi perilaku, kondisi seperti ini dikenal sebagai herd behavior atau perilaku mengikuti arus mayoritas.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai masyarakat perlu lebih rasional dalam menyikapi gejolak kurs. Membeli dollar Singapura ketika nilai tukarnya sudah tinggi tidak selalu menguntungkan jika tujuan utamanya investasi jangka pendek. Banyak masyarakat membeli valas bukan berdasarkan analisis ekonomi matang, melainkan karena dorongan psikologis akibat ketidakpastian. Dalam situasi seperti itu, keputusan ekonomi sering dipengaruhi rasa cemas dibanding pertimbangan keuntungan rasional.
Fenomena perburuan dollar Singapura juga menunjukkan perubahan cara masyarakat menjaga nilai kekayaan. Sebagian orang tidak lagi hanya mengandalkan tabungan rupiah, tetapi mulai mencari instrumen lain seperti emas, properti, dan mata uang asing. Dollar Singapura dipilih karena relatif dekat dengan Indonesia, mudah diperoleh di money changer, serta memiliki reputasi stabil di kawasan Asia Tenggara. Kontan dalam beberapa laporannya sepanjang 2025 dan 2026 mencatat meningkatnya minat masyarakat terhadap instrumen lindung nilai di tengah tekanan ekonomi global.
Kondisi ini seharusnya menjadi peringatan penting bagi pemerintah dan otoritas moneter. Sebab pelemahan kepercayaan terhadap mata uang nasional dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi dalam jangka panjang. Jika masyarakat terus merasa nilai tabungan mereka terancam, maka kecenderungan mencari perlindungan dalam aset asing akan semakin besar. Dalam banyak kasus di negara berkembang, tekanan terhadap mata uang nasional sering diawali oleh menurunnya kepercayaan publik terhadap kondisi ekonomi domestik.
Pemerintah sebenarnya terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi melalui pengendalian inflasi, subsidi energi, dan penguatan cadangan devisa. Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita Mei 2026 menyatakan fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat di tengah ketidakpastian global. Namun bagi masyarakat kecil dan kelas menengah, ukuran stabilitas sering kali lebih sederhana, yakni apakah harga kebutuhan pokok tetap terjangkau dan tabungan mereka masih memiliki nilai yang aman.
Pada akhirnya, ramainya pembelian dollar Singapura di Jakarta bukan sekadar fenomena pasar valuta asing. Peristiwa itu mencerminkan meningkatnya kegelisahan ekonomi masyarakat perkotaan yang khawatir terhadap masa depan daya beli mereka. Orang membeli mata uang asing bukan hanya untuk transaksi bisnis atau perjalanan luar negeri, tetapi juga untuk mencari rasa aman di tengah ketidakpastian ekonomi. Dalam situasi seperti ini, tantangan terbesar pemerintah bukan hanya menjaga kurs rupiah tetap stabil, melainkan juga memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan ekonomi nasional dan masa depan rupiah itu sendiri.














