BANGKALAN, BUSERNASIONAL— Dunia pelayanan kesehatan di Kabupaten Bangkalan, Madura, kembali tercoreng oleh dugaan buruknya penanganan pasien darurat. Sebuah insiden memilukan terjadi di Puskesmas Sepulu, di mana seorang pasien lanjut usia (lansia) yang mengalami sesak napas parah justru harus menghadapi birokrasi kaku dan minimnya fasilitas darurat medis.
Berdasarkan data dan keterangan yang dihimpun tim redaksi dari laporan keluarga korban, peristiwa bermula ketika pasien lansia tersebut tiba di Puskesmas Sepulu dalam kondisi darurat dan membutuhkan pertolongan cepat.
Alih-alih mendapatkan tindakan penyelamatan nyawa (emergency response), keluarga justru dikejutkan dengan informasi dari pihak puskesmas bahwa kondisi ruang pelayanan sudah penuh. Tidak sampai di situ, saat keluarga memohon bantuan tabung oksigen untuk meringankan sesak napas pasien, petugas justru menyampaikan bahwa persediaan oksigen tidak tersedia.
Situasi sempat memanas dan memicu perdebatan sengit antara pihak keluarga yang panik dengan petugas Puskesmas Sepulu. Desakan keras dari keluarga akhirnya membuat pihak puskesmas baru memberikan tabung oksigen setelah perdebatan panjang terjadi.
Ironisnya lagi, ketika keluarga meminta agar pasien segera dirujuk ke rumah sakit di Bangkalan guna mendapatkan penanganan intensif, pihak keluarga kembali dihadapkan pada alasan klasik: sopir ambulans tidak tersedia.
Keluhan ini sengaja diviralkan dan disampaikan oleh keluarga ke publik semata-mata untuk mempertanyakan komitmen, profesionalisme, serta standar operasional prosedur (SOP) pelayanan dan penanganan pasien dalam kondisi darurat di fasilitas kesehatan milik pemerintah.
Masyarakat dan pemerhati publik mendesak Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan untuk segera turun tangan melakukan audit investigatif terhadap manajemen Puskesmas Sepulu, guna memastikan tidak ada lagi nyawa pasien yang terancam akibat buruknya fasilitas dan keteledoran petugas.














